Sultan La Sangaji dan Gerak Memotong Kuasanya 1591--1597

Monday, 10 December 2018 0 komentar

LA SANGADJI adalah putera La Kilaponto--Sultan Buton kesatu dari pernikahannya dengan perempuan Kalaotoa di Selayar. Ia adalah sultan Buton ketiga dan sekaligus terakhir bagi yang bertrah secara lurus ke Lakilaponto. Dalam selama enam tahun ia memimpin, negeri Buton terus "dalam duka"--Makengku dalam sebutan lokal. Ia memulai sebuah kerja besar: Membangun benteng pertahanan kesultanan Buton.

Dalam masanya memerintah, La Sangadji terus dirongrong oleh perangkat sara kesultanan dengan ia disebut: "menempatkan Buton dalam bahaya dan kelaparan". Kerja pembuatan benteng kesultanan dianggap sara sebagai "membuang tak hanya tenaga saja tetapi juga menghaburkan materi belaka", sesuatu yang dianggap sulit untuk diwujudkan dalam waktu yang cepat.

Proyek ambisiusnya dan mungkin sesuatu paling megah waktu itu "membelah" secara diametral para elite bangsawan Buton dalam dua kelompok besar: kelompok yang setuju dan kelompok yang menolaknya. kerja membangun benteng pertahanan itu tak hanya menyita begitu banyak manusia yang dipekerjakan, bahkanpun juga materi diambilnya begitu besar.

bagi para penolaknya, ia disebut telah membawa Buton tersuruk dalam "Kekeringan--Makengku" yang berkepanjangan. Dalam selama enam tahun ia memerintah. upaya penolakan atas kerja ambisiusnya itu bahkan telah semakin kuat dan besar, menempatkan posisinya sebagai sultan dalam bahaya yang rawan. 

Usaha mendongkelnya dari kekuasaan pun terus terus diupayakan, bahkan telah secara terang-terangan dilakukan, sara kesultanan tak sekali memintanya turun, melepas kuasanya dengan mundur dari jabatannya.

Tetapi La Sangadji adalah juga sebenarnya petarung, ia melawan dengan keras, tuntutan sara tak ia peduli, memilih mengabaikan seluruh permintaan mundur terhadapnya dengan terus bekerja membangun apa yang kini kita mengenalnya: Benteng Keraton kesultan Buton.

***

Mungkin La Sangaji membaca gelagat buruk dari lagak congkak Belanda yang hendak menguasai Buton dengan membungkusya dalam membangung kongsi bersekutu. sehingga tiada apapun dalam pikirannya yang mendesak dilakukan kecuali hanyalah membangun benteng sebagai tempat pertahanan.

Juga sikap ekspansif kerajaan Gowa yang mulai terus melakukan patroli dan bahkan memungut pajak di daerah-daerah vassal bawahan Buton telah memantik La Sangaji untuk siaga. Ia mulai berpikir untuk membangun sebuah tempat berlindung sekaligus bertahan yang kuat.  

Sekalipun kemauannya itu ditentang oleh sara kesultanan, ia tak bergeming, dimulainya proyek raksasa paling prestisius waktu itu dan dengan itu ia telah menaruhkan kuasanya, menyimpan jabatannya dalam bahaya.

Proyek raksasa yang menyita sumber daya alam dan manusia Buton dalam jumlah besar sekali itu telah menyebabkan kerontangan dan kekeringan diseluruh negeri. ribuan manusia dikerahkan dari pelosok Kadie--negeri bawahan, dipekerjakan secara sukarela dalam seharmal (sehari-semalam) dengan diberi makan sekadarnya.

Sara yang memang sebagian diam-diam tak menyukainya, menemui cela menohoknya, memakai "kerja membangun benteng itu" sebagai jalan menjatuhkannya. Tetapi La Sangadji adalah seorang yang kuat, ia terus kokoh di tahtanya, dan tampaknya mempunyai wibawa yang menaikan maruahnya. 

Terhadap Sara kesultanan ia mengirim pesan menohok: "Biarkan saya menyelesaiakan yang saya mulai kerjakan sampai mencapai selesainya barulah dengan sendirinya saya melepaskan jabatan ini".
Dia menepati janjinya, turun tahta sesudah yang dikerjakannya ia rasai telah selesai.

***

SESUDAH La Sangadji Sultan Buton ketiga turun tahta dalam tahun 1597, La Elangi naik menggantikannya sebagai Sultan Buton keempat. La Elangi adalah putera La Siridatu yang jika trahnya ditarik lurus sampai ke atas akan pangkalnya sampai ke Wa Kaa Kaa. Dalam saat La Elangi menaiki tahtanya konflik sedang tajam terjadi

Dalam suasana yang racau akibat desakan mundur terhadap La Sangadji sebelumnya, banyak orang yang menilai kenaikan La Elangi di tampuk kuasa itu adalah juga bagian dari "gerak politik" yang dilakukan secara senyap.

Gerak politik yang diinisiasi "orang dalam" itu dirasa perlu, bahkan mendesak dilakukan untuk mengembalikan kekuasaan di Buton dalam trah lurus Wa Kaa Kaa sesudah sebelumnya selama tiga generasi lamanya dalam genggam dan hegemoni kelompok "seberang" yang bertrah lurus ke La Kilaponto.

Sekalipun La Elangi adalah juga cucu La Kilaponto, tetapi kecucuannya itu berasal dari anak perempuannya: Paramasuni yang adalah anak hasil perkawinan La Kilaponto dgn Wa Sameka. Dalam sistem marital yang patrilineal seperti di Buton, garis trah kuasa dan kebangsawanan ditarik dari laki-laki, bukan pada perempuan

Sejak itu, tamatlah sebenarnya La Kilaponto beserta seluruh trah turunan dari garis lelakinya, jalur ke kekuasaan dipotong, tak lagi mereka diberi ruang untuk memasuki gelanggang kontestasi  apalagi kemudian La Elangi menandaskannya dengan mengeluarkan Undang-Undang Murtabat Tujuh yang disebut sebagai "pengembalian kuasa di jalurnya sebenarnya"

Situasi yang racau di internal kesultanan itu sebenarnya telah membiak tumbuh sesudah La Kilaponto menunjuk anaknya La Tumparasi sebagai sultan kedua 1584--1591 dan lalu diteruskan anaknya yang lain La Sangadji-1591--1597 naik memangku kuasa sebagai sultan ketiga

Ada gejolak yang kuat dari dalam istana yang disebabkan oleh resistensi pada anak-anak La Kilaponto itu sebab keduanya beribu bukan dari perempuan bangsawan Buton tetapi dari Kalaotoa dan Jampea di Selayar.

ada keinginan yang kuat--terutama dalam internal sara kesultanan-- bahwa trah La Kilaponto harus segera "diputus" dan tahta kuasa Buton dikembalikan semurninya dalam genggam tangan orang-orang Buton sendiri.

Gerakan-gerakan menyempal serupa itu sebenarnya telah ada sejak La Kilaponto berkuasa, tetapi La Kilaponto memakai "Tangan Besi", ia bersikap keras, memberangus segala apapun yang berlawanan dengannya. 

Anak raja Muna Sugi Manuru itu berlaku keras--bahkan sebagian menyebutnya kejam terhadap yang mengambil jalan berseberangan dengannya, tak segan bahkan jika harus membunuh sekalipun, dua orang dilindasnya tanpa belas kasih, korban tumbal keganasan kuasanya: Syeh Abdul Wahid yang adalah kawannya, disempalnya menjadi lawan lalu dilarung-tenggelamkan ke laut di ujung tanjung Wameo yang kemudian kita mengenalnya sebagai Batu Poaro. seorang lainnya adalah anaknya Lakina Kokalukuna, dibunuh dengan keji sebab telah "mengambil" hati Wa Tampaidongi, permaisurinya

***

Tak hanya sebenarnya kuasa diwariskan kepada La Elangi bahkan juga mengikut begitu banyak persoalan pelik yang akut: konflik yang tajam di internal para bangsawan, sedang dari luar, Belanda tengah mengamati dengan seksama, bersiap untuk juga masuk "menguasai".

Belanda yang sebelumnya tak mendapat tempat di Buton, tampaknya telah mulai melihat adanya peluang untuk juga masuk "mengambil tempat". Mula-mula memanfaatkan keracauan dalam internal bangsawan sembari terus "mengelus" sultan La Elangi, ditekenlah kemudian apa yang kita mengenalnya sebagai "Janji Baana"--Janji yang paling mula: sesuatu yang itu menjadi kunci bagi Belanda untuk masuk "mengambil tempat" dan bahkan kemudian tampak seperti hendak "menguasai"

Dalam upayanya menjaga kekuasaan terus-terus dalam trah lurus Wa Kaa Kaa, La Elangi memang memerlukan banyak "kawan" dan dukungan penyokong, bahkan dengan Belanda sekalipun ia tak sungkan mengulur tangan dan memberi jalan lapang yang lempang. Maka ketika Appolonius Schoot diutus Pieter Both--Gubernur Jenderal VOC  mengunjungi Buton pada akhir Desember 1613 ia tak memerlukan waktu yang lama meyakinkan sultan Buton agar bersedia meneken kontrak kerja sama itu.

5 Januari 1613, di tepi pantai Baubau, dalam iringan tembakan salvo kapal-kapal militer Belanda disepakatilah sebuah aliansi kerja sama "Persekutuan Abadi" yang kemudian baru diteken dan disahkan pada tanggal 29 Agustus 1613 ketika Gubernur Jenderal Pieter Both mengunjungi Buton. Sejak itu menjadilah Buton--Belanda berkawan, begitu dekat perkawanan itu sampai bahkan dengan siapa Buton berkawan diatur juga oleh Belanda.

Belanda harus menjadi pilihan utama dalam setiap urusan dagang. Dengan bangsa lain, Buton tidak dibolehkan membangun hubungan perdagangan apabila hal itu dinilai merugikan pihak Belanda. Buton berjanji untuk menghargai organisasi perdagangan Belanda yang datang berdagang di Buton dengan bebas dan leluasa tanpa ada kewajiban membayar pajak. 

dan untuk sikapnya yang mau diatur itu, dari Belanda, La Elangi mendapatkan beberapa hal: (1)  Orang-orang Belanda akan membantu melindungi negeri serta warganya terhadap penyerbuan-penyerbuan musuh, dan karena hal tersebut akan di bangun dua buah kubu pertahanan di pantai yang akan diawasi langsung oleh orang Belanda yang dipersenjatai dengan empat buah meriam. (2) Kapten Scotte berjanji akan membujuk Gubernur Both agar mengirim lebih banyak garnisun serta sebuah kapal layar. (3) Bersedia menjadi penengah dalam konflik yang terjadi antara Kesultanan Buton dengan Raja Makassar, dan seterusnya.

Kontrak "Perjanjian Abadi" Buton--Belanda itu membuat girang Pieter Both, Gubernur Jenderal VOC itu sampai harus menulis kesan mendalamnya selama kunjungannya di Buton:  “Saya merasakan hari-hari di sana tidak ada yang lebih indah, dan mereka saya anggap sebagai rakyat yang sangat ramah, yang menjamu kami semua dengan apa saja yang mereka kehendaki,” demikian kutipan sebagian isi surat Pieter Both dalam suratnya kepada pengurus VOC. Sebagai lukisan kegembiraan setelah bertemu dengan Sultan Buton. (Bouwstoffen 1886:34-35, dalam Pim Schoorl 2003).



.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB