La Karambau

Sunday, 18 November 2018 0 komentar


HANYA ada sedikit sultan Buton yang berani berseberangan Belanda, tidak hanya dalam relasi perhubungan sebagai dua bangsa, bahkan juga sampai pada kebijakan dalam politik.  di antara sultan Buton yang sedikit itu hanyalah La Karambau paling dikenang, seorang yang kemudian memilih meletakan jabatannya karena tak mau menjadi sebab pertentangan dalam Sara Kesultanan yang terpecah: sebagian mendukung sikapnya mengerasi Belanda, sebagian lain memintanya lebih kooperatif dan bersikap lembut saja pada Belanda.

Sebuah kericuhan dalam serangan diam-diam yang dilakukan Belanda memaksanya keluar dari istana, merelakan anak keluarganya yang tak sempat diselamatkannya ditawan Belanda. ia kemudian membangun benteng pertahanan di timur Buton, pada sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Siontapina.

                                                                           ***

SAYA mendaki gunung Siontapina dari jalur sebelah barat, jalur paling cepat dari banyak jalur lainnya, melalui Wasuamba dan memasuki benteng di puncak gunung itu melalui Lawana Kamaru.

Di gunung siontapina pada sisi baratnya, sebuah batu pipih yang besar menjadi tempat samadi La Karambau. batu yang disakralkan itu tepat berada di muka Lawa Lakudo.

Adakah hubungan La Karambau dengan Lakudo sehingga sisi barat dari benteng pertahanannya itu dinamai negeri dari seberang pulaunya itu?

Sejauh telusuran, La Karambau memang berketurunan di Lakudo melalui anaknya yang bernama La Ode Balano. La ode Balano adalah ayah La Ode Mongkito, seorang yang tersohor sebagai Bonto Balano paling sukses dalam masa raja La Ode Ngkumabusi di Muna (1788--1800).

La Ode Mongkito yang juga bernama lain Yaro Wakaompulu adalah cucu La Karambau. Di Lakudo ia mempunyai seorang anak bernama Lade Saila, dari Lade Saila inilah turunan trah La Karambau berpangkal di lakudo.

Lade Saila beranak empat orang, tiga lelaki dan seorang perempuan, masing-masing anak lelakinya itu berturut saya catatkan: La Nuju, Lampotaro, dan Landiede. anak turunan La Karambau di Lakudo mudah sekali dilacak kini, dan akan menjadi bagian lain dari catatan selanjutnya. 


                                                                             ***

Apakah yang disebut sebenarnya pahlawan? Dia yang lazimnya melawan kezaliman, memutus laku paling purba yang picik itu sampai pupus, diberai lepas dari akarnya, tandas sampai tak berbekas.

Kapitalao La Ode Sungkuabuso yang tersungkur memeluk mulut senapan serdadu belanda setelah mengamuk dan membunuh lebih seratusan serdadu kompeni dengan hanya bersenjata sebilah keris di tangannya.

ia rela menyerahkan nyawanya untuk selamatnya La Karambau, menghalau kompeni sendirian, melapangkan jalan La Karambau menuju pelariannya ke Siontapina, dengan begitu menjadilah ia sebenar-benarnya pahlawan.

pahlawan itu memang begitulah, untuk negeri ia berikan semua, merelakan segala gala apapun kepunyaannya, bahkan nyawa dan hidupnya sendiri sekalipun lepas diserahkannya!

atau La Karambau sendiri yang merelakan dirinya jadi buruan, atau bahkan anak keluarganya ditawan Belanda dalam penjara berpindah-pindah dari Makassar hingga Batavia.

ia mengalah, meninggalkan keraton dan tahtanya agar tak berlawan dengan siolimbona dewat adat kesultanan (sara ogena) yang tampak diantara mereka berbeda sikap dalam menghadapi dan menyikapi Belanda

Dia yang kemudian memimpin perlawanan dari dalam hutan setelah terusir dari istananya, membangun benteng pertahanan di gunung Siontapina, menjadilah Oputa yi Koo: dia yang melawan dari hutan.

melawan ia terus-terus, tak juga surut surut semangatnya sekalipun dengan jumlah pasukan pengikutnya yang sedikit , sampai tahtanya ia dapatkan kembali dengan gemilang.

Dewan Sara kesultanan memanggilnya pulang, wibawanya diperlukan untuk menaikan muruah setiap upaya negosiasi dengan belanda yang mulai tampak "nakal": mendikte Buton semau maunya.

Belanda memang segan betul terhadap sultan berbadan bongsor itu sebab tegas berpendirian dan keras dalam mengambil sikap.

barulah La Karambau yang berani berulah, terang-terangan melawan belanda yang adalah "tuan" nya, memerangi Belanda yang adalah "ayah" nya dalam relasi politik dua bangsa.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB