Posuo, Ritual Menguji Kesucian Gadis Buton

Saturday, 6 October 2018 1 komentar

Foto: La Yusrie I 2018

GADIS Kalambe itu merunduk tunduk, mengulaikan kepala pada atas dadanya. Dalam duduk bersila, ia khusyu memelas meratapi lantai, tangannya meremasi jemarinya sendiri, tampaknya ia terseduk dalam tangis sembunyi yang diam-diam.

Tak lama berselang, tangis diam-diam yang tertahan itu menaiklah sesenggukan, dan  terus tak tertahan, menjadilah kemudian tangis ronta yang meraung tak terkendali.

Diselangi oleh selingan bunyi gong dan gendang yang bertalu seikut seirama, bertangis-tangisanlah semua mereka para Kalambe itu karena mengingat banyaknya dosa telah dibuat, mengingat banyaknya salah telah dilakukan.

“Kalian para Kabua-bua--gadis remaja yang sebentar lagi akan memasuki status baru sebagai Kalambe--gadis dewasa sudah harus memiliki rasa malu yang besar, sudah harus bisa membedakan laku baik dan buruk, sudah harus bisa memilah mana laku yang buruk dan memilih laku yang baik"

"Kalian semua harus melalui waktu dengan berbuat hal bermanfaat, jangan melewatkan waktu dengan percuma berbuat yang tak maslahat, Sayangi ibu bapak kalian dalam selamanya hidup kalian, pada mereka keduanyalah letak kebaikan dunia akhirat, segala-gala kesuksesan bermula dan pangkalnya dari restu doa keduanya, maka muliakan selalu mereka berdua itu”

Seorang Bhisa menitah dengan tegasnya sampai tandas,  sebagai memang itu tugasnya. Semua gadis yang diposuo menyimak dalam tunduk dengan sepenuh hikmat penghayatan, mata mereka semua sebak lalu sembap karena basah berkaca-kaca.

Inilah Malona Tangia--Malam Isak Tangis dalam ritual Posuo, malam ketika tangis diluapkan sejadi-jadi yang dimau, malam ketika airmata ditumpah sebanyak laku dosa yang telah dibuat.

Biasanya tangis bermula dengan sesenggukan, lalu terseduk dalam ceguk  yang diam-diam sebelum kemudian menaik menjadi rengek ronta meraung yang memilukan.

Bahkan beberapa di antara mereka ada yang menggulingkan diri ke lantai karena merasai sesal yang mendalam, membantingi badannya sendiri, atau menumbuki papan lantai memakai tumit ujung kaki sebagai melampiaskan penyesalan mendalam karena merasa telah banyak melakukan dosa.

Karena tangis itu, muka para gadis posuo yang dibedaki tampak bergaris-garis,  seperti lelehan lava merapi, tercoreng belepotan oleh bedak dari beras tumbuk dihaluskan yang luruh meleleh karena dikenai air mata yang bergulungan jatuh.

Malona Tangia atau malam isak tangis adalah malam mengingat dosa, malam ketika seluruh laku berbuat selama umur hidup dibentang ditelanjangkan seterangnya.

Di situlah segala-gala dosa yang pernah dibuat datang membayang, seliweran memenuhi kepala seluruh gadis yang diposuo. Banyak dari mereka kemudian tak kuasa mengendalikan diri, sesak dada mereka oleh sesal karena merasa telah melakukan dosa yang banyak.

Dalam tangis merengek bak anak kecil  itu mereka memanggili ibu bapak mereka sebagai pengakuan telah bersalah dan memohon pengampunan dosa.


* * *

Foto: La Yusrie I 2018
Asap dupa masih mengepul bergulungan, meliuk berkelok menaiki langit-langit kamar Suo. Bau kemenyan yang semerbak menyebar harum memenuhi ruang Suo. Pun gendang yang dipukul para Bhisa masih pula bertalu, ditabuh mengiring ritual dengan henti, terus-terus.

Malam mendekati suntuk, angin telah bisa didengar desis hembusnya. Para gadis dalam gulitanya ruang Suo sedang khusyu dalam tapa berzikir mengeja nama yang Maha Suci melalui lingkar biji-biji tasbih, mereka semua larut dalam mengeja nama Tuhan pencipta.

Mereka saban malam berlaku begitu, melakukan doa tirakat bertafakur diri setelah ditinggal Bhisanya pergi, pulang beristirahat ke rumah kediamannya.

Ketika Bhisa mereka telah "diambil"  lelap dalam buai tidur nyenyak yang melenakan, mereka semua gadis yang diposuo itu justru larut menghikmati lekuk liku makna kehidupan duniawi, meluruhinya dan lalu mengambil hikmah sari daripadanya.

Para Kalambe memakai kesepian malam yang gelap dalam kamar Suo yang juga gulita untuk memasuki rahasia Tuhan dan kehidupan, mereka mengkhidmati hakikat kehidupan, menyelaminya sampai di lapis paling dalamnya

Di tengah sunyi gulitanya malam, di tengah senyap gelapnya ruang kamar Suo, mereka semua itu larut dalam ibadah, menggumuli rahasia yang maha kuasa, memesrai yang maha pengasih, mereka ‘mengencani’ Tuhan.

Maka ketika pagi harinya Bhisa datang ke Suo--Kamar khusus tempat dimana mereka menjalani ritual itu, mereka semua telah dirasai "Suci", bersih dari segala noda dosa, siap ‘disuapi’ dan menerima wejangan adat terkait tatahidup yang baik sebagai yang telah Kalambe—gadis dewasa Buton.

Bagaimana mereka berlaku di masyarakat, menjaga kesucian kehormatan diri, keluarganya, dan negeri. Bagi Kalambe—Gadis dewasa yang hendak menikah bahkan ia diajarkan cara merawat alat genital kewanitaannya, juga bagaimana melayani yang "membetahkan" suami.

Isi syair kabhanti Kaluku Panda--Kelapa Pendek karangan nya Lakobu yang berisi mengenai ajaran rahasia ‘berhubungan’ seksual yang baik dibeber seterangnya, dibentang setelanjangnya di sana.

Maka itulah ada ungkapan bahwa perempuan Buton yang telah menikah dan mengetahui rahasia adat selalulah ia akan terus "perawan" belaka.

Ia dirupakan seperti kembang bunga Wijaya Kusuma yang mengatup menutup rapat kembali setelah mekar untuk melepas kan wewangian semerbaknya.

Dalam ritual Posuo pula keperawanan seorang gadis Buton diuji kesuciannya melalui talu bunyi gendang yang dipukul memakai mistis yang magis.

Jika salah satu gendang yang dipukul itu sobek kulit dindingnya maka bisa dipastikan telah ada yang tidak beres--secara seksual--di dalam sana.

Bhisa membaca itu sebagai tanda bahwa ada di antara gadis yang diposuo tidak lagi perawan, tidak lagi suci. Informasi mengenai ketidaksucian ini hanya memang menjadi rahasia para Bhisa saja dan tidak dibawa diumumkan keluar.

Bagi perempuan Buton, kesucian memang menjadi syarat mutlak menerima seluruh rahasia pengetahuan adat dan makrifat. Banyak dari mereka yang tidak suci hanya punya kemampuan menggamit kulit luar saja tanpa kuat menyelami dan menerima seluruhnya rahasia sampai isi dalamnya.

Maka itu tampak bagi mereka ritual ini hanya seperti seremoni pengenangan belaka, mereka malas-malasan mengikuti setiap sesi ritualnya dan merasai seluruh prosesinya sebagai pengekangan yang menyiksa dan membosankan.

Bagi seorang yang suci, ritual Posuo justru dilihat baik sekali dan memanglah dirasai sebagai media menggumuli ‘memesrai’ Tuhan dan wadah yang dipakai sebagai media untuk membukai labir rahasia yang menabiri substansi isi adat terutama terkait laku hidup yang baik bagi para wanita dewasa.

Tampaknya pesan ajaran tasawuf yang kuat di Buton ikut juga masuk dalam ritual ini, bahwa segala-segala rahasia paling dalam hanya mampu diselami oleh hati suci yang bersih.

Ilmu adat dan makrifat terdalam hanya jatuh diterima oleh tangan-tangan mereka yang juga memiliki kesucian hati  dalam berperilaku, tidak oleh tangan yang berlumur kotor dosa, pernah mengambil yang bukan haknya misalnya.

Maka ketika kita menoleh menelisik, melihat jauh ke zaman dahulu bagaimana tanah Buton di bangun memakai fondasi adat agama yang kuat dengan tradisi berbudaya yang kokoh, ada nilai sakralitas religius mistis yang positif terbangun di sana, sesuatu yang kini itu tak terlihat lagi.

* * *

Foto: La Yusrie I 2018

Dan kini ritual ini teronggok abai dan dilaksanakan sebagai hanya seremoni pengenangan belaka saja. Banyak Kabua-bua—Gadis Remaja beranjak naik jadi Kalambe—Gadis Dewasa tanpa lagi melalui ritual ini, mereka tak lagi berminat mengikuti ritual ini karena merasa selama prosesinya dikekang kebebasan mereka, dikungkung kreatifitas mereka.

Juga arus kuat modernisme yang datang seperti bah menggerus kecintaan pada budaya daerah sendiri. Banyak kemudian kaum muda mudi melihat ini dengan nyinyir dan menyebutnya sebagai hal kolot yang katro, tidak lagi zamannya.

Diperlukan kesadaran yang besar untuk menggaungkan semangat pelestarian setiap tradisi leluhur. Banyak budaya daerah yang memiliki nasib miris, tersuruk jatuh  lalu hilang dan menemui kematiannya oleh sebab keabaian dari masyarakat pendukungnya sendiri.

Padahal budaya tradisi itu adalah kekayaan tak ternilai dari setiap bangsa/daerah yang di sana identitas jati diri sebagai bangsa/daerah itu terbangun. Maka kehilangan tradisi budaya samahalnya dengan kehilangan identitas jati diri sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah daerah, sesuatu yang tentu memiriskan.  

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB