Pelarian Arung Palakka, Para Bau, dan Baubau

Tuesday, 16 October 2018 0 komentar
Foto: La Yusrie I 2018

KETIKA koalisi kuat Gowa--Wajo melakukan penyerbuan ke Soppeng dalam tahun 1660 untuk memburu dan menghukum para pangeran dan bangsawan Bugis yang sedang dalam pelarian dari kerja paksa penggalian parit dan selokan raksasa di sepanjang Panakukang hingga Somba Opu, Karaeng Karunrung, pimpinan penyerangan ini menerima berita keberadaan Arung Palakka di Palette, daerah pantai di pesisir timur Bone.

Menurut kabar dari yang mematai dan mengintai, Arung Palakka beserta serombongan pengikutnya sedang bersiap melakukan pelarian dengan berlayar, tidak ditahu ke arah mana mereka menuju. Beberapa Bau--bangsawan Bugis turut menyertainya, setia mendampinginya dalam pelarian itu, di antara mereka ada Arung Billa, Arung Petojo, Arung Appanang, dan Arung Bello.

Sekelompok pasukan yang terdiri dari orang-orang Wajo, Gowa, dan Lamuru kemudian dibentuk dan lalu diperintah segera ke Palette Bone untuk melakukan penyergapan dan penangkapan Arung Palakka. Arung Palakka bagaimanapun sulit menangkapnya, ia harus dibawa hidup-hidup, dihadapkan ke Karaeng Gowa.

Tetapi buruan mereka rupanya bukan sembarang orang, ia cermat betul dan penuh perhitungan. Gelagat penyergapan dan penangkapan dirinya oleh pasukan Gowa--Wajo, telah diketahuinya sebelum pasukan kiriman Hasanuddin itu memasuki Palette. Dengan gerak senyap dan cepat, ia dan pengikutnya telah meninggalkan tanah Bone sebelum pasukan pimpinan Karaeng Karunrung tiba menemukan dan menangkap mereka.

Meskipun dengan susah payah keluar dari pengepungan dan menghindar dari pengintai yang mematai, Arung Palakka dan keluarga beserta pengikutnya berhasil lolos dari upaya penangkapan, sekalipun begitu, sebagian lain dari pengikutnya ditangkapi di Cempalagi--daerah di timur Bone.

lima kapal beriringan dalam arakan sebagai pelarian, berlayar menjauh dari tanah pantai Bone menuju pulau Buton. Kain layar kapal mereka mengembung busung ditiup angin barat, melajukan kapal mereka ke timur. Rombongan para bangsawan Bugis itu telah sampai di Buton hanya dalam seharmal--sehari semalam.

Mereka dengan aman berlayar ke Buton--Butung. Pelarian Arung Palakka beserta rombongan bangsawan Bugis lainnya itu dicatat oleh sumber-sumber Belanda dan Gowa terjadi dalam akhir tahun 1660--lihat Speelman, 1670: 761v, atau awal tahun 1661--Ligtvoet dalam catatan harian raja-raja Gowa dan Tallo, 1980:119.

Sultan Buton--La Awu, mengulur tangan bersahabat, menyambut datang para bangsawan Bugis pelarian yang sedang dalam buruan Gowa itu dengan tangan terbuka sebagai sepenuhnya penerimaan, memberi semua mereka perlindungan dan menjaminkan keamanan sekaligus kenyamanan selama tinggal di Buton.

Arung Palakka bahkan diberi jabatan mengepalai sebuah negeri bawahan kesultanan di timur Buton. Ia diangkat menjadi Lakina Holimombo. Tiga tahun ia memikul jabatannya itu, sebelum armada VOC Belanda singgah di Buton dari pelayarannya di Maluku dan membawanya ke Batavia untuk dikirim membantu Belanda memerangi para Paderi di Pariaman Sumatera Barat.

Belanda naik pitam karena penguasa Pariaman mengabaikan isi perjanjian Painan perihal hak monopoli dagang Belanda di sepanjang pesisir barat Sumatera, terutama pada akuisisi tambang emas Salido yang memasok dana bermiliar gulden ke kas VOC. Di tengah kebuntuan negosiasi, rakyat Minang yang hilang kesabaran nya mengamuk dengan tidak terkendali, Jacob Gruys, kepala perwakilan VOC di Padang tewas mengenaskan.

Dari Batavia, Belanda mengirim Arung Palakka beserta 400 prajurit Bugis dan Buton, 550 serdadu Belanda, dan 600-an orang Ambon dalam ekspedisi militer yang dinamai "Verspreet Expeditie". Belanda terkejut, Pariaman jatuh dalam hanya beberapa hari perang. Bangsa saingannya yang menyokong Pariaman: Aceh dan Portugis berhasil diusir, dipaksa pergi meninggalkan tanah Minang.

Maetsuycker, gubernur jenderal Hindia Belanda di Batavia, tak kuasa menahan girangnya atas berhasil dikalahkannya Pariaman. Ia melayangkan setingginya pujian dan sanjungan pada Arung Palakka. Ia bahkan memberi Arung Palakka plakat emas bertuliskan:

"Een gedencteken, vereert aen raja Palacca voor getronve oor loghsdienst ap de westrcust van Sumatera oon de camp. Gedaen anno 1666"

"Suatu tanda peringatan, penghormatan kepada raja Palakka untuk tindakan yang setia dalam peperangan di pesisir barat Sumatera. Dibuat di medan peperangan tahun 1666"

Di atas kapal perang VOC Belanda, ketika seremoni penyerahan plakat emas itu, seorang admiral kompeni berkata-kata sebagai sambutan:

"Bahwa  Belanda sangat berutang budi kepada Arung Palakka atas kemenangan yang diperolehnya di Minangkabau, sehingga kompeni Belanda memberikan tanda penghormatan berupa bintang jasa"

Arung Palakka memberi sambutan balasan: "bahwa kompeni Belanda tidak perlu merasa berat hati, karena bukankah bantuan peperangan ini hanya karena saya juga ingin dibantu menyelesaikan peperangan saya dengan Gowa?"

Peran Arung Palakka dalam perang Belanda melawan rakyat Minangkabau di Pariaman Sumatera Barat itu adalah sebenarnya ujian baginya. Belanda mulanya ragu, dapatkah Arung Palakka dipakai melawan Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin yang sulit benar dikalahkan dalam beberapa kali peperangan itu? Keraguan Belanda kemudian berganti keyakinan dan optimisme ketika Arung Palakka pulang dari perang Pariaman dengan berhasil.

Palagan peperangan bergeserlah kemudian, dari Batavia VOC Belanda melayarkan kapal-kapal perangnya ke timur, tempat asal bertahta si "Ayam Jantan dari Timur". Euforia kemenangan atas Pariaman yang disokong Aceh dan Portugis mengerek semangat  juang para serdadu yang memenuhi lambung kapal-kapal perang VOC itu: bahwa Gowa bisa juga dipariamankan: dikalahkan dengan telak.

***

Penerimaan La Awu terhadap para  Bau--bangsawan Bugis yang melarikan diri itu adalah sebenarnya declare--semacam pernyataan terang-terangan melawannya Buton terhadap Gowa, dan terhadap sikap La Awu itu, Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin bukan main marahnya, ia murka dengan mengutuk Buton sebagai telah berkhianat dan melakukan kebohongan.

Utusan karaeng Gowa memang tak sekali mengunjungi Buton, dan setiap kali kedatangan mereka, sultan Buton memberi jawaban yang sama untuk juga pertanyaan yang sama: "Adakah Arung Palakka di Buton?" Dijawabnya tegas: "Tidak ada Arung Palakka di atas tanah Buton". Utusan Gowa tentu saja mempercayai jawaban sultan La Awu itu sebab diucapkannya disertai dengan bersumpah dahulu.

Sultan La Awu tampak sebagai sebenarnya penegosiator ulung, Arung Palakka memang tidak sedang di atas tanah Buton setiap kali utusan Gowa datang mempertanyakan keberadaannya, raja Bugis itu tengah "diamankan" dalam sebuah terowongan bawah tanah rahasia. Maka sekalipun sultan La Awu selalu mengangkat sumpah setiap kali memberi jawaban, ia tak terkenai sumpahnya itu, sebab jawaban yang disampaikannya benar: Arung Palakka tidak ada di atas tanah Buton, ia adanya di bawah tanah Buton, dalam sebuah terowongan rahasia.

Ketika perang besar pecah di teluk Baubau, orang-orang Bugis pengikut Arung Palakka berdiri membela Buton, terbentuklah koalisi kuat Buton-Bugis-Ternate-Belanda melawan Gowa-Luwu-Wajo-Bima. Bahkan armada besar Bugis yang sebelumnya  tergabung dalam koalisi Gowa tiba-tiba menyempal berbalik melawan Gowa ketika melihat Arung Palakka berdiri di anjungan kepal perang VOC menghunus badiknya.

Pasukan Gowa terdesak ke utara, merapat ke tepian Wamengkoli, pimpinan armada Gowa Karaeng Bonto Marannu selamat dari maut, dengan lihai ia keluar dari kepungan, ia memerintahkan pasukannya yang tersisa mengikutinya, mundur untuk mengatur kembali taktik, menyusun kembali siasat. Berteriak ia dalam bahasa Gowa: "Waara, Waara, Waara!" Sebagai itu perintah agar seluruh pasukannya menarik diri ke Utara. Waara adalah utara dalam bahasa Gowa, konon dari sanalah nama Waara di Wamengkoli berasal.

Perang di teluk Baubau itu menjadi kekalahan Gowa paling telak, hanya setahun sela berselangnya perang kemudian berpindah ke laut Makassar dengan memperhadapkan dua koalisi yang sama. Belanda di bawah Speelman menginisiasi serangan ke jantung Makassar dengan menyertakan Buton, Bugis, dan Ternate dalam armadanya.

Belanda menyuplai amunisi, juga mesiu dan kapal perang, sedang serdadu petempur dikerahkannya dari Buton, Ternate, Bugis, dan bahkan Ambon. Dalam hikayat Kanturuna Mohelana--Pelitanya orang berlayar dikisahkan bagaimana Sapati Baaluwu La Arafani mengamuk kesetanan sampai bahkan di dalam Somba Opu, sedang Belanda hanya memerhatikan sembari sesekali menembakkan meriam dari lepas pantai Makassar.

Belanda berkepentingan terhadap jatuhnya Gowa, yang disebutnya sebagai musuhnya dalam dagang selama ini, sedangkan Buton, Bugis, dan Ternate kepentingannya adalah terbebas dari gangguan Gowa yang selama ini secara sepihak sering melayangkan klaim negeri palilinya--bawahannya pada daerah yang juga diklaim oleh Buton dan Ternate, seperti Pancana (Muna), Gowa pernah melakukan patroli dan bahkan memungut pajak di sana.

Tetapi bagi Buton, jatuhnya Gowa lebih jauh akan melepaskan mereka dari "gangguan permanen" negeri para Karaeng pimpinan sultan Hasanuddin itu yang menyebabkan Buton selalu saja was-was awas dan terus berjaga-jaga siaga setiap kali musim angin barat tiba. Kejatuhan Gowa akan menyebabkan Buton terbebas sepenuhnya dari ancaman aneksasi Gowa. Bahtera kesultanan tak lagi melulu kerepotan melepas jangkar di haluan--Labu Rope setiap kali musim barat tiba.

Ketika Somba Opu jatuh, Gowa runtuhlah, Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin dengan terpaksa meneken perjanjian yang disodorkan Belanda yang kemudian dikenal sebagai perjanjian Bungaya. Seluruh pasal dalam perjanjian itu adalah pengakuan Gowa atas kekalahannya dengan melepaskan seluruh daerah yang diklaim sebagai negeri Palili--bawahannya. Buton sejak itu barulah mulai bernafas lega.


***


Para Bau bawaan Arung Palakka sebagian  tak lagi pernah pulang sekalipun Gowa telah jatuh. Mereka betah menetap di pesisiran di sepanjang pantai Kalampa hingga Kokalukuna. Sesudah Somba Opu jatuh dan penaklukkan Gowa oleh koalisi tak terduga Belanda--Buton--Bugis--Ternate dalam tahun 1667 para pelarian bangsawan Bugis di Buton yang bergelar "Bau" tak lagi berkeinginan kembali ke tanah leluhurnya. Menetaplah mereka di sepanjang pesisiran yang sekarang kita mengenalnya sebagai Baubau.

Selamat ulang tahun ke-477 Baubau.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB