La Kilaponto, Kudeta dan Stigma Buruk Atasnya.

Saturday, 10 June 2017 0 komentar

Pemukul Gendang Mangaru. Foto: La Yusrie
Pada Mulanya.

SYECH Abdul Wahid, seorang ulama dari timur tengah datang kali pertama di Buton dalam masa Mulae Sangia Yi Gola memerintah sebagai raja kelima dalam paruh pertama abad kelimabelas. Ia berlabuh di Burangasi sebuah daerah pantai di selatan pulau Buton dan mendirikan masjid di Wawoangi.

Sayangnya kedatanganya kali pertama itu mendapat penolakan, maka ia menaikan layar kapalnya, berlayar meninggalkan Buton menuju Adonara Nusa Tenggara Timur dan lalu meneruskan pelayarannya ke utara, yang ditujunya adalah Ternate, daerah pusat siar Islam di timur nusantara dalam masa itu.

Sumber-sumber Ternate mengisahkan, ulama kharismatis itu lama tinggal di istana Baabullah dan dijamu sebagai tamu kehormatan, ia bahkan pula diangkat sebagai Qadi dan penasihat sultan. Saat Syech Abdul Wahid di Ternate, La Kilaponto sedang dalam kelana di kampung nenek dari ibunya di Jampea, Kalaotoa dan Selayar setelah terusir dari tanah lahirnya di Muna akibat salah meletakan nafsunya: konon ia mengincest adik perempuannya sendiri: Waode Pogo.

Kisah berincest itu sebagaimana juga menimpa Sawerigading terhadap We Tendriabeng yang menyebabkan mereka terusir dari tanah Luwu. Anehnya, keduanya yang dituduhkan mengincest saudara perempuannya sendiri itu kemudian menjadi penguasa besar paling berpengaruh yang namanya terus dikenang sepanjang zaman: Sawerigading di Sulawesi Selatan, La Kilaponto di Sulawesi Tenggara.

Sawerigading datang di Muna sebagai pengelana yang terusir. Di negeri tempat “Kontu Kowuna__Batu Berbunga” itu ia menikahi seorang puteri nan jelita di sana. Dari pernikahannya itu lahirlah La Piikore, ayahanda Sugi Laende dan kakek Sugi Manuru yang adalah berarti buyutnya La Kilaponto.

Ketika Sugi Manuru mengusir La Kilaponto dari Muna, kata-kata yang diucapkannya adalah: “Pergilah kau ke Buton dan perbaiki silsilahmu di sana”. Demikianlah ia mengatakan itu sebagai titah yang terus dicamkan La Kilaponto selama dalam pengelanaannya. 

Titah ayahandanya itu terus melecutnya dan seperti cambuk yang tiada henti tandas menubruk, terus datang menghantam punggungnya. Di saat begitu itu, ia merasai dirinya menjadi seperti kuda penarik kereta yang berjingkrak meloncat, lari seketika saat sais pengendaranya melecutkan cambuk ke bokongnya.

***

KONGSI Ternate-Pantjana (Muna) telah terbangun dengan sangat dekat jauh sebelum Buton memvassalkan Pantjana (Muna) sebagai negeri bawahan dalam apa yang dinamai Bharata. Sebelum dibawahi oleh Buton, Pantjana (Muna) adalah bawahan Ternate, bahkan juga sesekali Gowa melayangkan pula klaim sebagai juga membawahinya dalam apa yang mereka namai Palili. (Lihat pasal ke-17 Perjanjian Bongaya)

Dari fakta historis ini tampaknya Pantjana/Muna adalah sesuatu yang "seksi" dan menarik yang membikin silau untuk dikuasai. ia menjadi daerah buruan untuk direbut bahkan sekalipun harus dengan diributkan oleh kerajaan-kerajaan besar di sekitarnya.

Seorang kuat yang adalah turunan klan para Sugi di Pantjana/Muna mengambil dan menaiki kuasa di Buton memakai juluran tangan dan bantuan Ternate dalam apa yang dinamai “Konspirasi Bolontio”. Gerakan Islamisasi yang massif mengerek Ternate sebagai kerajaan Islam pertama di timur nusantara yang paling ambisius melakukan ekspansi dan ekspedisi siar Islam.

Dia yang dengan cerdik mengambil dan menaiki kuasa dengan menunggang memakai punggung Ternate sebagai “Kuda Troya” nya itu adalah La Kilaponto yang belakangan di Buton tersohor namanya sebagai Murhum alias Timba-Timbanga, atau gelar kesultanannya adalah Muhammad Yisa Qaimuddin Khalifatul Khamis.

Empat puluh enam tahun ia memikul kuasanya itu: dua puluh dua tahun sebagai raja dan dua puluh empat tahun sebagai sultan kesatu. Sangat sedikit informasi lisan dan tertulis mengenai situasi saat memimpinnya kecuali hanya beberapa kontroversi pernah terjadi, salah satu yang paling kontroversial yang paling diingat adalah perselisihannya dengan Syech Abdul Wahid, kawannya yang kemudian berbalik menjadi lawannya.

Perselisihan dengan kawan yang ikut mengantarnya ke singgasana kuasa itu  menyebabkan Syech Abdul Wahid terusir di Buton. Sebuah batu bertuah di ujung tanjung Wameo menjadi artefak pengabadi yang oleh orang Buton disebut itu sebagai Batu Poaro. Konon di Batu Poaro itulah Syech Abdul Wahid melarung dirinya ke laut sebelum hilang secara gaib.

Menurut beberapa sumber, La Kilaponto memang memerintah dengan tegas, bahkan memakai “tangan besi”, ia tak sungkan menyingkirkan siapapun yang ditengaranya sebagai melawannya. Ia tak segan membunuh Lakina Kokalukuna, lelaki yang dituduh telah mengganggu permaisurinya. Terlepas dari kontroversi itu, ia adalah pemimpin yang paling dikenang, terutama pada jasanya yang tiada pernah lekang: mengislamkan Buton.

Sesudah mangkatnya, kuasanya diteruskan dipikul oleh dua anak lelakinya: La Tumparasi dari istrinya seorang perempuan Jampea sebagai sultan kedua bergelar Qaimuddin Khalifatul Khamis 1584—1591 dan La Sangadji sebagai sultan ketiga yang juga digelari sebagai Sangia Makengkuna 1591—1597. Digelari sebagai “Sangia Makengkuna” yang berarti keramat yang “kering” itu sebab dalam masanyalah kesultanan mengalami petaka kelaparan yang memiriskan.

Konon sebab malapetaka kelaparan itu tak lain karena La Sangadji tengah membangun Benteng Kesultan Buton, sebuah proyek yang disebut sebagai paling ambisius waktu itu karena seluruh sumber daya habis  dikerahkan untuk penyelesaiannya. 

Sekalipun proyek itu ditentang keras oleh Sara Kesultanan, ia tak bergeming bahkan sekalipun para anggota legislatif yang duduk di dewan Sara Kesultanan itu mengecamnya dengan mengancam hendak menurunkannya/memakzulkannya.

***

PASAL ke-17 perjanjian Bongaya yang diteken Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin dan pimpinan armada VOC Belanda, Cornelis Janszoon Speelman dalam tahun 1669 telah dengan jelas mengungkap status dan posisi Muna (Pantjana) dalam dinamika pergolakan kerajaan-kerajaan  di timur nusantara.

Disebutkan di sana bahwa Pantjana (Muna) adalah milik Sultan Ternate. Penegasan kepemilikan Ternate atas Pantjana/Muna dalam perjanjian Bongaya itu memang penting dilakukan sebab Gowa pun pernah menganeksasi Pantjana/Muna sebagai apa yang mereka sebut negeri Palili/bawahannya dan lalu secara sepihak melakukan penarikan pajak di sana, (lihat Stapel dalam Andaya, 2006)

Pernah beberapa kali Gowa secara sepihak mengklaim dan mencaplok Pantjana (Muna) sebagai negeri Palili nya—semacam daerah vassal bawahan, menempatkan pasukan dan memungut pajak di sana. Hal yang itu membuat Ternate murka dan kemudian secara terang menunjukan ketidaksukaannya kepada Gowa.

Hal inilah yang kemudian membuat kita mafum, mengapa Ternate dan Buton lebih memilih masuk dalam koalisi Belanda yang “kafir” ketimbang seporos dengan Gowa yang sesama muslim dalam perang mahadahsyat antara tahun 1666—1669 yang menyebabkan kejatuhan Gowa.

Orang-orang Pantjana/Muna memang mengakui diri sangat dekat dengan Ternate dibanding daerah lainnya bahkan dengan Buton sekalipun. Pantjana/Muna telah menjadi sekutu dekat Ternate jauh sebelum Buton berkawan akrab dengan negeri Baabullah itu.

Kedekatan itu diikat dalam simpul tali persaudaraan melalui pernikahan Sugi Manuru dengan seorang puteri bangsawan Ternate yang kemudian melahirkan beberapa putera-puteri yang menjadi simpul dari bagian turunan klan para Sugi di Pantjana (Muna).

***

LA KILAPONTO adalah putera Sugi Manuru dari pernikahannya dengan Wa Tubapala. Wa Tubapala sendiri adalah puteri Kiyjula Lakina Tiworo, sedangkan Kiyjula adalah putera Bataraguru Raja ketiga di Buton dari seorang perempuan selirnya di Kalaotoa, daerah di Sulawesi Selatan.

Kelak pertaruhan dan pertarungan para elit di Buton memperhadapkan secara diametral berlawanan anak-anak turunan raja ketiga Bataraguru. Satu sisi dari kelompok istri permaisuri dan sisi yang lain dari kelompok selirnya. 

Tajam benar pertaruhan ini bahkan sekalipun harus secara norak intrik diumbar secara vulgar, konflik ditebar terang-terangan, desus disebar massif sekali, tujuan akhir dari semuanya itu adalah mengambil sepenuhnya kuasa, merengkuh sebesarnya pengaruh untuk mengamankan kuasa terus langgeng dalam genggam trah masing-masing.

Dari istri permaisuri, Bataraguru melahirkan tiga anak lelaki, masing-masing adalah Tua Rade, Raja Manguntu, dan Tua Marudju. Ketika Tua Rade naik menggantikan Bataraguru sebagai raja Buton keempat, ia memerintah dengan bijaksana. Ia mencoba membangun kembali relasi marital antara Buton—Majapahit/Jawa.

Ia mengunjungi tanah Jawa, daerah yang menjadi tanah asal buyut leluhurnya: Sibhatara. Kepada penguasa Jawa ia mengenalkan diri sebagai juga berdarah bangsawan Jawa tetapi konon tak mendapatkan pengakuan. Bahkan raja Jawa yang dihadapinya berang menuduhnya berdusta lalu secara terang mengusirnya dengan kasar serupa gelandangan.

Sampai ia mengangkat sumpah dengan kata-kata sebagai berikut: Jika benar darah saya bukanlah sedarah para bangsawan Majapahit biarlah tanah yang kupijak ini terbelah lalu menghisap menguburku, tetapi jika benar darahku adalah sedarah para bangsawan Majapahit maka tanah yang kupijak ini biarlah naik meninggi sampai setara singgasana paduka yang mulia raja Majapahit. Maka konon seketika itu menaiklah tanah yang dipijaknya hingga setara singgasana raja.

Sepulangnya dari tanah Majapahit itu oleh penguasa tanah Jawa ia dihadiahi sebuah payung kebesaran, sepasang keris berlekuk tigabelas beserta seperangkat lengkap alat musik gamelan. Itulah Tua Rade di Buton diberi gelar sebagai Sangia Yi Sara Jawa

Karena Tua Rade tak berketurunan, maka ia menunjuk Mulae sebagai suksesor yang naik menggantikan untuk meneruskan kuasanya.  Mulae adalah anak Tua Marudju, saudara bungsu sekandungan Tua Rade, dengan begitu, Mulae adalah kemanakan Tua Rade sendiri.

Mulae memulai memerintah sebagai raja Buton kelima dengan sangat bijaknya, rakyat senang betul terhadapnya. Ia serupa gula dengan rakyatnya adalah semutnya. Tak ada ruang berjarak dirinya dengan rakyatnya, sebagaimana dimana gula berada disitulah juga semut datang merubung.

Begitulah Mulae digambarkan, menempatkan segala kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya. Ia rela bersusah diri asal rakyatnya selalu dalam senang dan bahagia, ia tak mau bersenang dalam sukacita sebelum memastikan rakyatnya telah dahulu bersenang dalam keriangan

Sebagaimana gula dalam rubungan semut, ia direbutkan bahkan sesekalipun juga kadang diributkan sebagai terus mengharapkannya memimpin, karena tabiat baik dalam memimpinnya itu ia betul-betul dipuja rakyatnya setinggi langit. Itulah saat mangkatnya, oleh rakyatnya ia diberi gelar sebagai Sangia Yi Gola.

Mulae hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kejelitaannya tersohor seantero negeri. Gadis sematawayangnya itu disebut berleher panjang dengan tampak berlekuk serupa riak ombak kecil-kecil pada batang penopang kepalanya itu. Ia namai anak gadisnya itu Wa Tampaidhongi dengan panggilan kesayangannya Wa Bhorokomalanga.

Wa Tampaidhongi lah ini yang ditaruhkannya dalam sayembara pembunuhan pimpinan armada bajak rompak Tobelo La Bolontio. ketika La Kilaponto berhasil membunuh La Bolontio di tanjung Kapoluka Boneatiro, putra raja Muna Sugi Manuru itu tak hanya mendapatkan kuasa tetapi juga merengkuh wanita lembut nan cantik itu.

Tetapi sepertinya ia hanya bisa memiliki raganya, tapi tak mampu mendapatkan hatinya. Rumah tangga La Kilaponto dan Wa Tampaidhongi tak menghasilkan keturunan, dan malah menjadi biang dari sengkarut retaknya hubungan La Kilaponto dan Syhech Abdul Wahid yang dari kawan menjadi lawan.

***

LA KILAPONTO mewakili kelompok selir mengambil dan menaiki kuasa dengan intrik kudeta yang merangkak memakai La Bolontio dan Ternate sebagai kereta kendaranya. Dalam menaiki kuasa di Buton La Kilaponto menumpang di kereta Ternate yang disaisi oleh La Bolontio.

Ia dengan cerdik menggusur La Kasituri anak raja Manguntu yang seharusnya adalah paling berhak meneruskan tahta sesudah raja Mulae turun tahta yang adalah sepupu sekalinya dari trah langsung turunan raja kesatu Buton, Wa Kaa Kaa.

Sekalipun La Kasituri digusur dari perebutan tahta, ia tak bergeser dari tujuannya mengambil kembali kuasa itu. Ia terus memelihara semangatnya itu dan baru berhasil membalas dalam hanya segenerasi melalui anaknya yang bernama La Maindo raja Batauga dalam kudeta yang tampaknya juga “merangkak”.

La Maindo, raja Batauga yang cerdik ini mengirim dua anak lelakinya mempersunting para puteri Murhum (La Kilaponto) dari ibu mereka yang bernama Wa Sameka puteri La Nganjiraja saudara Mulae yang adalah putera Tua Marudju bin Bataraguru.

Putera sulung La Maindo bernama La Siridatu mendapatkan Paramasuni, sedangkan La Kabhaura dinikahkan dengan Wa Bunganila alias Walambencugi. Perkawinan La Siridatu dengan Paramasuni melahirkan Laelangi, kelak ia menjadi Sultan Buton keempat yang bergelar Dayanu Ikhsanuddin dan menjadi pangkal klan Kaomu Tanailandu.

Perkawinan La Kabhaura dengan Wa Bunganila melahirkan dua anak lelaki, masing-masing adalah La Singga dan La Bula. La Singga kelak diberi kuasa sebagai Sapati, orang kedua di bawah sultan, ia menjadi pangkal klan Kaomu Tapi-Tapi, sedang La Bula mengemban jabatan Kenepulu, orang ketiga di bawah sultan, ia adalah pangkal dari klan Kaomu Kumbewaha.

Dalam selama La Elangi__Sultan Dayanu Ikhsanuddin (sultan keempat: 1597--1631) memerintah, tampaknya pemurnian kuasa dilakukannya dengan tegas, keras dan tak berkompromi. Ia memutus sepenuhnya trah turunan La Kilaponto dengan menyempalnya keluar dari jalur menuju kuasa. Ia mengembalikan kekuasan di Buton hanya menjadi hak bagi mereka yang menjadi trah turunan langsung Wa Kaa Kaa, raja kesatu di Buton.

Sejak itu tamatlah riwayat kuasa La Kilaponto (Murhum) dan turunannya di Buton. Kekuasaan diambil dalam alih dan genggam sepenuhnya oleh trah turunan langsung Wa Kaa Kaa melalui putera-putera dan cucu-cucu La Maindo bin La Kasituri, bin Bataraguru, binti Bulawambona, binti Wa Kaa Kaa, dalam apa yang oleh adat kemudian menyebut mereka sebagai Kamboru-mboru Talu Palena.

***

Stigma Buruk Terhadap La Kilaponto

PADA sebagian kelompok orang, terutama klan bangsawan tertentu di Buton, La Kilaponto alias Murhum diperolok sebagai ia “makandi__nakal" dan perebut kuasa dengan serakah yang besar. Kenakalannya itu bukanlah hal yang main-main: nakalnya pada perempuan, bahkan kepada adiknya sendiri ia ambil sebagai korban kejumudan nafsu birahinya dengan mengincestnya.

Mengalirlah cerita dari para pendeki yang memusuhinya bahwa dari bericenst itu ia telah menghamili Wa Ode Pogo, adik sedarahnya sendiri. tetapi buah dari katanya hubungan sedarah yang mereka lakukan itu justru lahir dua kembar manusia keramat yang bahkan sampai kini dimuliakan: La Ode Wuna dan Sangia Yi Rape.

Laode Wuna menjadi legenda yang bahkan kini sebagian orang mempercayainya masih hidup. Banyak kisah mitos mengenainya. Saat kerusuhan Ambon dan Maluku dalam rentang antara tahun 1999—2002 orang-orang Buton—Muna yang menyimpan gambarnya di saku atau dompetnya bisa menemui selamat, atau secara misterius terselamatkan dari bahaya yang telah di depan mata-hidungnya.

Entah apakah itu kebetulan saja, tetapi para pengagumnya meyakini sebagai itu tuah dari karamahnya. Para pegiat dan pengkaji tasawuf di Buton sungguh tak asing pada manusia yang konon berbadan setengah ular ini yang dalam gambarnya yang tersebar itu tampak sedang memegang dua buah kelapa.

Di Namlea, pulau Buru, seorang imam masjid asal Buton tak kaget ketika anak-anak dan tetangganya dengan wajah ketakutan datang menemuinya di masjid memberitahukan seekor ular besar tiba-tiba muncul dalam rumahnya dan duduk melingkar melilitkan badannya di atas meja makan.

Si imam itu dengan tersenyum memberitahu anak-anaknya agar tidak takut sebab ular itu adalah kakek mereka bernama Laode Wuna yang datang mengunjunginya. Tampaknya pada sebagian kalangan tertentu, Laode Wuna begitu sangat istimewa, beberapa orang bahkan menyebutnya sebaga Wali yang kini memilih berdiam tinggal di pulau Seram Maluku.     

Jika memakai terminologi tasawuf yang menyebar dipahami para tua di Buton, saya ingin bertanya dan mohon sekiranya dijawab dengan nurani sejujurnya tanpa pretensi apalagi tendensi, tanpa sekat dendam politik kepadanya, lepas dulu subjektifitas karena berbeda asal klan: bisakah lahir seorang keramat suci dari proses yang dilakukan secara berzina kotor dengan saudara sekandungan sendiri pula?

Para Tua, dan semoga saja juga para muda yang dengan baik telah mempelajari dan memahami tasawuf di Buton tentu akan sangat keberatan menerima bahwa sesuatu yang baik bisa pula dilahirkan dari proses yang buruk dan kotor.

Bagi para pemaham tasawuf yang benar dengan sangat yakin akan pasti mengatakan bahwa yang baik hanya akan lahir dari proses yang baik, yang suci hanya akan lahir dari yang suci, yang keramat hanya lahir dari sulbi mereka yang juga memiliki keramat,

***

Di Luwu, sejak kejatuhan kuasanya oleh ekspansi dari koalisi besar To Ugi atau yang belakangan kemudian disebut Bugis bersama Gowa dan Tallo, segalanya juga runtuh diubah. Cerita mengenai kebusukan para raja lamanya dibuat-buatkan, dicari-carikan apapun asal itu merusak dan mencoreng citra kemuliaan mereka.

Lahirlah kemudian cerita mengenai Sawerigading putra To Manurung raja Luwu yang katanya telah melakukan incest dengan saudara sekandungannya sendiri: We Tendriabeng.

Karena tuduhan telah berincest itu, melanglanglah mereka mengarungi lautan sebagai katanya diusir dari tanah Luwu. Dari banyak kronik di Luwu disebutkan bahwa memang benar mereka terusir, tetapi sebab terusirnya itu adalah karena kalah dalam berperang, bukan karena salah dalam melanggar adat dengan melakukan incest itu.

Kalah dan Salah ini bedanya tipis hanya sekulit bawang, mudah saja dibalik-balikan. Pada akhirnya yang kalahlah selalu di salahkan dan sejarah ditulis sesuai mau dan kepentingan pemenang.

Maka kita dengan mudah mafum mengapa bahasa Wolio berkerabat sangat dekat dengan bahasa Wotu yang adalah sebuah kampung tua di pedalaman Luwu? dari mana jalan hubung keduanya? Jalan hubung keduanya dapat dimungkinkan oleh pengelanaan Sawerigading di Buton sesudah kejatuhannya di Luwu.

Ketika Luwu jatuh, segalanya juga jatuh. Sawerigading menaikan layar kapalnya melarungi lautan menjauh dari tanah lahirnya dan sampailah ia di Buton. Di sana ia menitipkan anaknya Dhatu Bhalue atau orang Buton mengenalnya sebagai La Bhaaluwu.

We Tendriabeng adiknya yang oleh Gowa dan Bugis dituduhkan sebagai pasangan berincestnya di bawanya ke Muna dan lalu dikenal di sana sebagai “Sangke Palangga” seorang perempuan jelita yang ditemukan terdampar di muka teluk Lohia. Karena padanya ditemukan tanda kemuliaan, ia diambil dan diperistri oleh Kaghua Bongkano Fotu, lalu kemudian menjadilah ia ibu dari para sugi di Muna

Dhatu Bhalue atau La Bhaaluwu menikahi Bulawambona puteri Wa Kaa Kaa raja kesatu di Buton, menyatulah kemudian dua kelompok besar bangsawan paling berpengaruh ini. Bulawambona sebagai Peropa dan La Bhaaluwu sebagai Bhaaluwu.

Begitu kuat dan berpengaruhnya penyatuan dua kelompok ini sehingga harus disebut dalam setiap bhatata menutup doa agar konon dapat bertuah, harus disebut sebagai telah merestui setiap yang naik berkuasa di Buton. Tidak ada raja/sultan yang naik berkuasa tanpa melalui restu kedua mereka (Bhaaluwu-Peropa) ini.

***

Pada Akhirnya

Kembalilah kita pada La Kilaponto/Murhum, melihat objektif dengan melepas seluruh pretensi dan tendensi subjektifitas terhadapnya, benarkah benar-benar benar yang dituduhkan ia telah melakukan incest dengan saudara sekandungannya sebagaimana cerita yang berseliweran menyebar dari mulut ke mulut ini?

Jika kita bisa melihat keburukannya seharusnya kita juga musti berbesar hati dengan memberi ruang pada melihatnya dari sisi lainnya yang mungkin baik dengan juga membuka diri untuk mendengar kisah mengenainya yang bersumber dari daerah asal ia datang.

Lalu identifikasi sumber cerita incest itu perlu bahkan penting juga dilihat darimana datangnya, sebab itu akan sangat menentukan akhir simpulannya: objektif ataukah subjektif? Dari kawannya ataukah dari lawannya? Dengan jeli dan cermat melihat duduk soalnya itu maka akan dengan mudah pula menilai kadar kebenaran cerita yang telah dengan cepat menyebar sebagai berita itu.

hanya saja memang yang menjadi pangkal persoalannya adalah dalam cerita sejarah Buton yang sengkarutnya berantakan begini kita akan sangat kesulitan menemukan kebenaran yang sebenarnya.

Di Buton, informasi sejarah yang didapatkan bisa berbeda saling bertolak tergantung darimana sumber datangnya. Ironisnya masing-masing dari sumber itu melakukan klaim sebagai paling otoritatif  dan yang paling benar. Ketika misalnya bertanya ke Kaomu Tanailandu maka akan menemukan keterangan berbeda dari yang disampaikan klan Kaomu selainnya.

Pada kelompok di luar klan Kaomu pun, informasi temuan yang didapatkan bisa  cenderung subjektif, terkesan hanya membaikan klan kelompoknya saja masing-masing dan mengabaikan kelompok yang tidak seklan dengannya

Maka kisah mengenai La Kilaponto/Murhum, bagaimana dengan yakin kita telah mendapatkan/mengetahui cerita sebenarnya mengenainya jika ia sendiri telah dengan terang-terangan “ditendang” sesudah anaknya La Sangadji  dirongrong oleh dewan sara dan kelompok La Maindo dalam apa yang dinamai intrik “Pembuatan Benteng”  yang katanya disebut oleh mereka itu telah merugikan dan tidak membawa manfaat yang maslahat bagi kesultanan sehingga ia harus segera lengser?.

Tetapi La Sangadji adalah seorang yang kuat pada prinsip, ia tidak mau tunduk apalagi patuh didikte oleh dewan sara. Ia mengangkat sumpah bahwa tidak akan mundur kecuali benteng yang dikerjakannya telah rampung selesai. Ia menepati janjinya itu, mundur setelah benteng selesai, tentu itu adalah sifat seorang kesatria

Intrik itu pada akhirnya memang sukses berhasil dan membawa La Elangi Dayanu Ikhsanuddin dengan mulus menaiki kuasa. Tahu apa hal paling mula yang dilakukan La Elangi setelah ia menduduki kuasa? Seluruh yang terkait dan berbau La Kilaponto/Murhum disapu-buang dibereskannya.

Lalu bagaimana kini kita begitu mudah mau begitu saja mempercayai seluruh cerita “miring” mengenainya sesudah ia sendiri “diminggirkan” dan mendapatkan perlakuan buruk begitu itu? Mungkinkah stigma buruk terhadapnya itu dibangun oleh para kawan yang seketika bersalin rupa menjadi lawan sesudah kejatuhannya dari tahta kuasa?

Bersambung.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB