Kartini

Friday, 21 April 2017 0 komentar

Foto: Dok. TEMPO.CO
“DAN biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri”. (Kartini dalam Rosa Abendanon, 1911:22)
***
DIA lahir di Jepara, tepatnya di sebuah desa kecil keresidenan di laut barat dan utara Jawa Tengah. Berayah ia seorang bangsawan yang kukuh dengan kuat memegang adat feodalisme Jawa. Maka ketika ia tamat sekolah rendah, oleh ayahnya itu ia tak lagi dibolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.

Maka serupa keong ia meriut mundur pelan-pelan, ia masuk kamar, dikurung di sana dalam apa yang dinamai pingitan. Dalam sekat sempit sumpek yang hanya seluas kamar dan taman samping rumahnya, ia menunggu lelaki jodohnya datang mengambilnya dengan hanya satu pekerjaan saja: Membaca!

Ia sebenarnya berontak dalam hatinya, ia meronta dalam diamnya. Sikap berontak dan rontanya itu bergemuruh hebat di dadanya, namun hanya di dengarnya saja sendiri, tidak ia dengan vulgar mengutarakannya.
Sebagai wanita Jawa, ia begitu segan terhadap ayahnya. Ia telan sendiri saja semua itu tanpa berani diungkapkannya pada ayahnya. Di muka hadapan ayah terkasihnya, ia hanya tunduk menunjukan muka patuh, ia sungkan, takut berdiri melawan ayahnya itu, takut melukai hati ayahnya.

Penghormatan Kartini pada ayahnya memang luarbiasa besarnya. Dalam surat-surat yang dikirimkannya kepada Abendanon dan sahabat-sahabatnya yang lain tak pernah ia mengeluhkan sikap ayahnya itu sekalipun dalam beberapa hal—bahkan dalam soal memilihkannya lelaki untuk jodohnya sekalipun, ayahnya telah bersikap sangat keras dan bahkan kasar kepadanya.

Maka karena pekerjaannya hanyalah membaca itu, bersahabatlah ia dengan buku-buku, segala-gala apapun dibacanya, bahkan kertas koran yang telah kumal teronggok dibuangan dipungutnya, dijentikbentangkan dan dibacainya pula.

Karena terus membaca itu, ia kemudian tercerahkan, cakrawala berpikirnya terluaskan, timbullah kemudian kesadarannya bahwa perempuan pribumi harus pula terdidik sebagaimana terdidiknya wanita-wanita kulit putih Eropa, sebab hanya dengan terdidiklah saja segala-gala gulita yang menggeluti dan menggelapkan akal berpikir bisa dengan segera tercerahkan.
***
SAYA baru cermat membaca mengenai Kartini ini dan dengan cepat menyadari bagaimana ia memang sangat cerdasnya. Perempuan bangsawan seperti dia memang akan dengan mudah mendapatkan akses pencerahan ilmu pengetahuan dari kaum kolonial karena di jamannya para pengelana dan penjajah dari bumi Eropa itu memang hanya mengizinkan kaum ningrat bangsawan saja yang bisa duduk merasai bangku sekolah

Di jaman kolonial segala-gala memang dikekang dibatasi dan menjadilah pula semua dalam keterbelakangan. Alih-alih mendapatkan pendidikan dan merasai duduk di bangku sekolah, bahkanpun untuk mendapatkan makan sangatlah susah.

Kemiskinan materi ditambahi kemiskinan intelektual dan keterbelakangan mental psikologis yang membentuk perasaan inferior seperti sengaja dipelihara oleh para penjajah songong itu agar seluruh pribumi terus langgeng bergantung hidup kepada mereka, semakin lama mereka dalam kebodohan semakin lama pulalah mereka terus bisa dijajah.

Hanya ada sangat sedikit wanita Jawa dalam masanya ketika feodalisme Jawa begitu kuat mengakar yang berani berdiri melepas segala predikat kebangsawanannya yang prestisius dan memilih larut merenungi nasib wanita bukan bangsawan sekaumannya yang terjajah, miskin, rendah, dan terbelakang dalam segalanya.

Begitu ia menemukan budi kemuliaan dalam setiap hikmah yang dibacanya, hatinya “basah” oleh keharuan teramat dalam, dengannya ia memperoleh kecerahan berpikir dan dengan segera pula ia melihat sekat sempit kebangsawanan yang feodal itu sebagai momok.

Itulah pada suatu kesempatan, kepada sahabatnya Abendanon ia meminta tidak dipanggil memakai Raden pada muka namanya, cukup “Panggil Aku Kartini saja” pintanya.

Sebagaimana pembuka catatan ini, sayapun akan menutupnya dengan nukilan kata-kata Kartini yang terasa sampai saat ini masih relevan dan terus hidup, begini katanya itu:

“Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya”

Selamat memperingati Hari Kartini, 21 April 2017.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB