Rahasia di Balik Suara "Rengku-Rengku" Fildan Rahayu (bagian -1)

Sunday, 26 March 2017 0 komentar


SEBAGAIMANA pada malam setiap tampilnya, malam kemarin itu saya begitu terperanjat dan nyaris tak berkedip memelototi layar TV selama Fildan Rahayu menyanyikan lagu India: Muskurane. Melalui Fildan Rahayu Lagu itu telah menjelma kidung yang dalam padanya, setiap liriknya seperti memuat “nyawa” yang membuat hidup sanubari setiap yang mendengarnya, membuat “basah” lubuk hati terdalam para penontonnya.

Saya dan mungkin banyak penonton lainnya terpana larut lalu tenggelam dalam setiap alunan syair berpadu irama yang aduhai indah. Hetty Koes Endang menyebutnya sebagai: “lagu itu telah sampai di lubuk terdalam hatinya”. Begitulah memang adanya, apa-apa yang dari hati akan pula sampai ke hati. 

Lagu yang sebenarnya “berkelamin” dangdut itu dengan kreatif diubahnya dan dilagukannya memakai langgam Jazz dengan memukau. Para Juri sampai harus semuanya berdiri memberi aplaus sebagai ekspresi kekaguman mereka pada penyanyi asal Baubau bersuara khas “rengku-rengku” itu.

Lalu apa yang sebenarnya telah menaikan nama Fildan Rahayu terkerek setara dengan nama-nama besar penyanyi tanah air yang pula bersuara merdu hingga secuplik videonya di kanal Youtube telah ditonton sampai jutaan mata? Bisakah bakatnya itu membentuk talenta yang dengan begitu saja tiba-tiba dengan sendirinya lahir?

Tentu saja tidak, ada proses yang harus dilaluinya. Dan proses itulah yang satu-satu akan nanti berturutan kutuliskan. Proses yang oleh orang tuanya disebutnya sebagai sepahitnya kepahitan, securam berlikunya jalan terjal. Tiada yang mengetahui itu, kecuali hanyalah orang-orang terdekatnya. 


Rahasia Pertama: Penderitaan Hidup

JIKA tidak karena derita, mungkin akan tiada cerita. Apa-apa yang lahir dari gelut rengkuh derita itu, akan merasai bagaimana nikmat yang tiada berkira setelah suksesnya.

BENARLAH kata para bijak bahwa apa-apa yang lahir dalam derita dan lalu berhasil keluar dari rengkuh derita itu kelak akan membawa berita bahagia dalam cerita yang akan terus dikenang orang-orang bahkan sekalipun dirinya telah tiada. Jejaknya terus tinggal abadi, bahkan sekalipun jasadnya telah berkalang tanah kubur.

Jangan dikira suara khas “Rengku-Rengku” yang menggetarkan dari Fildan Rahayu adalah sesuatu yang ujug-ujug begitu saja lahir tanpa melalui “jalan” terjal berliku nan pahit. Talentanya yang luarbiasa itu diasah oleh derita menjadi bakat yang membuat setiap lagu yang dinyanyikannya seperti “bernyawa”, mampu sampai ke lubuk hati dan membuat bergetar sanubari siapapun yang mendengarnya.

Suara khas"rengku-rengku" nya itu pada setiap interlude lagu yang dinyanyikannya adalah khas yang tidak semua orang bisa melakukannya kecuali hanya bagi mereka yang sedari kecil terbiasa menahan tangis dalam terseduk merajuk. 

Orang-orang di kampung menyebut tangis seperti itu sebagai “dusu-dusu”. Tangis sesenggukan, biasanya dengan suara ditahan di kerongkongan lalu sesekali suara itu dilepaskan sebagai mengharapkan iba dikasihani. 

Tangis seperti itu setingkat lebih keras dari tangis rengek, biasanya disebabkan meminta sesuatu yang tak mampu orang tua memberikannya. Tangis seperti itu adalah tangis orang-orang miskin yang papa, tangis mereka yang tak berpunya.

***

Seorang penulis hebat seperti Pramoedya Ananta Toer, mungkin saja tak kan mampu melahirkan empat buku paling prestisius yang kemudian disebutnya sebagai tetralogi Buru jika saja ia tak melalui siksa dan derita dalam kamp tahanan politik orde baru di pulau penghasil minyak kayu putih terbaik itu.

Seorang Andrea Bocelli mungkin saja bakatnya sebagai penyanyi tenor bersuara keras nan lembut khas Italia akan lenyap terlindas kegirangannya pada olahraga sepakbola jika saja pada suatu kali dalam sedang bermain sepakbola kecelakaan telah datang merenggut penglihatannya sehingga menjadikannya buta permanen

Derita dalam kebutaannya itu membawanya sepenuhnya menekuni musik hingga diusianya yang ke-14 tahun ia telah memenangi lomba menyanyi “Margherita d’Oro” di Viareggio dengan lagu menakjubkan: “O Sole Mio”. Banyak lagi orang hebat lainnya yang justru memakai derita sebagai jalannya mengasah diri untuk menggapai sukses.

Seseorang yang mengambil derita sebagai “karib” nya dan bersabar di dalam menjalaninya dengan menjadikannya  sebagai “batu asah” untuk membuatnya mengilap dan tajam akan merasai kelak kilap yang berlainan dari kilap lainnya apapun. Bukankah sebuah pedang yang indah hanyalah onggok sebatang besi sebelum ia ditempa oleh para empu?

Emas harus dilebur dengan dibakar dalam api bersuhu terpanas untuk menjadikannya semurninya emas. Apa-apa yang diraih dengan derita akan dirasai akhir manisnya yang tiada berkira, tiada berbanding.

Dalam suatu wawancara mendalam dengan La Suriadi ayahanda Fildan Rahayu, ia berkata: “Segala derita sudah diriku ini merasai, sudah kukecap seluruh kepahitan hidup”. Tidak sekali orang-orang berkata nyinyir, bahkan sudah menghina dengan merendahkan. Tapi saya sabar, semua saya kembalikan kepada Tuhan, sang pengatur kehidupan. Sebab adalah hal yang mudah bagi-Nya, membalik-balik nasib orang.

Bahkan sampai sekarangpun beberapa orang penyibir itu masih tidak percaya bahwa La Fildan telah masuk TV nasional dan menyanyi dengan banyak pendukung. Orang-orang masih saja ada yang tidak percaya dan berkata seronok nyinyir bahwa: “Ah, bukan La Fildan yang di TV itu konae”.
  
***

Sudah sejak sebelum lahirnya, anak ini memang telah diniatkan sebagai penyanyi, atau paling tidak “bisa menyanyi”. Ayah dan ibunya bahkan sudah bersepakat bahwa kelak jika selamat lahirnya akan ia dinamai Rhoma. Tetapi kerabat dekatnya justru kemudian mengganti namanya itu sebagaimana kini: Fildan Rahayu. 

***

Kesulitan hidup harus memang dengan berani dihadapi. Kecenderungan untuk bersikap menghindarinya adalah justru menunjukan kelemahan yang tidak hanya itu berbahaya bagi diri sendiri tetapi juga bagi harapan akan adanya nasib baik yang mungkin menunggu di baliknya.

Pergumulan dengan kesulitan akan membuat kita lebih kuat, membangun dan mengokohkan tidak hanya iman dalam diri kita tetapi juga adalah terus terawatnya harapan akan adanya nasib baik kita kelak di hari depan. Banyak orang-orang hebat yang berlatar sengsara telah membuktikannya, salah seorangnya adalah Fildan Rahayu.

Bersambung..,

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB