Melacak Komune Manusia Mata Biru di Buton (bagian-2)

Thursday, 16 March 2017 0 komentar



SEORANG bocah yang dibanyak hari telah menghirup udara dan hembuskan napasnya di kedamaian pesisir pantai Barat pulau Buton, di naungan bayangan bebukitan Lambelu dan juntaian semilir bayu kudus gunung Siontapina, yang tidak jauh dari geguguran dedaunan hutan lindung Lambusango yang percikan tirtanya temukan Teluk Kapontori yang tenang sebelum menjulur ke Selat Buton yang menyerong pulau Muna yang terberkati. 

Ia adalah serpihan gen dari orang-orang Wolio yang terpinggirkan di masa silam karena suatu dalih yang sublim nan rumit sebagaimana Ariska yang berpupil mata biru di Selatan pulau Buton, dan entah berapa lagi yang terpencar dari kluster seasal dan sejenis mereka di penjuru Nusantara. (dikutip dari Edy Ismail Aizavie)

***



MEREKA tersisih dalam kontestasi kuasa di pusat kuasa, lalu keluar terusir sebagai pengelana di negeri-negeri tarjauh. Dalam perjalanan keluar itu mereka membawa pula stigma sebagai manusia terkutuk yang tidak bisa dipercaya.

Mereka memikul stigma buruk sebagai manusia terkutuk dan tidak bisa dipercaya itu terus-terus dalam sepanjang kehidupan mereka, menyebabkan lahirnya generasi mereka dengan sakit mental yang akut: introver, inferior, minderan, rendah diri, bahkan telah avoidan: semacam gangguan kepribadian akut yang menjadikan pengidapnya enggan masuk dalam interaksi sosial dalam selamanya hidupnya.

Padahal sesungguhnya mereka itu adalah klan aristokrat yang berderajat kelas satu di Buton, mereka adalah klan Kaomu yang karena sebab pertentangan Belanda—Portugis yang berebut pengaruh di kesultanan Buton mereka ikut pula terkenai getir getahnya.

Dalam palagan panas kontestasi itu, Belanda sukses memenangkan pertarungannya dengan Portugis setelah negeri asal VOC itu bisa mengambil hati Sultan Buton, dan sejak itu mereka berhasil mengambil pengaruh di Buton.

Portugis tersisih dan Belanda memulai menaiki anak tangga untuk ikut menggandeng dalam “ikut” berkuasa. Pengukuhannnya kemudian diundangkan agar memiliki legalitas yang absah sebagai yang kemudian kita kenal dalam slogan “sekutu abadi”

Nampaknya peristiwa itu dimanfaatkan dengan cerdik oleh para bangsawan lokal untuk juga melakukan manuver “menyingkirkan” kelompok para mata biru sebagai yang berpotensi menjadi lawan saingan dalam jalan mencapai kuasa.

Dengan dibantu Belanda yang berakal bulus dan memang menyimpan dendam kepada segala yang terkait Portugis, dibuatlah satu propaganda licik yang menyebut bahwa semua yang terkait Portugis harus keluar dari keraton, bahkanpun juga sekalipun para bangsawan sendiri yang membangun hubungan marital kawin mawin dengan bangsa sebenuanya itu.

Tak cukup mempan propaganda itu, dilayangkanlah stigma menohok bahwa sesiapa saja yang bermata biru adalah termasuk dalam orang-orang yang “dikutuk” tuhan, kepada mereka tidak bisa dipikulkan amanah dan tanggung jawab, mereka adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya sehingga diharuskan keluar keraton.

***



PARUH pertama abad keenam belas pasak kolonialisme bangsa Eropa telah dialih oleh Belanda dari dominasi dan hegemoni bangsa Portugis. Sejak Malaka jatuh oleh ekspansi militer Alberqueque, nyaris seluruh tanah pantai nusantara telah dalam genggam kuasa bangsa Portugis.

Penguasaan Malaka oleh Portugis telah dengan cepat mengubah konstelasi persaingan “dunia dagang” di Semenanjung selat Malaka. Portugis begitu dominan di sana, mereka menguasai dan mengatur perdagangan rempah dalam monopoli mereka saja. Tak puas hanya sebagai pemasok, mereka kemudian menaikan layar kapal menuju negeri asal rempah di timur nusantara: Maluku.

Dan Buton tepat berada dalam lajur jalur rute pelayaran paling ambisius itu. Sejak jalur selatan menuju Maluku ditemukan, Buton tak lagi pernah sepi pelintas lautan. Dari mana-manapun bangsa yang menggilai rempah pasti akan menyinggahi Buton sebab jalur yang melaluinya disebut sebagai yang paling aman dan memperpendek waktu tempuh empat belas hari lamanya dibanding jika melalui jalur utara Sulawesi yang selain mengambil waktu yang lama juga terkenal tidak aman oleh gangguan para bajak laut dari Moro, Sulu, dan Mindanao.

***


Adalah Fardhan Ramadhan, anak desa Boneatiro kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Usianya empat tahun tujuh bulan. Dia menjadi bagian berai serpih ceceran dari perkawanan yang menaik menjadi perkawinan antara aristokrat Wolio dengan seorang pimpinan armada Portugis yang menyinggahi Buton dalam sekira paruh pertama abad keenam belas.

Perkawanan yang dibawa ke perkawinan adalah pertanda bagaimana hubungan itu sangat dekatnya. Ketika Belanda menjaga jarak dan enggan melakukan marital kawin mawin dengan wanita pribumi, Portugis justru melepas sekat itu. Sekalipun kemudian mereka tersisih dalam berebut pengaruh dengan Belanda di Buton, jejak genetis mereka terus tinggal dan tercecer di banyak desa terpencil di pulau Buton

Sebagai kesultanan, Buton yang dalam jalur pelayaran ke negeri rempah di Maluku tentu menjadi Bandar ramai yang lalu membangun hubungan dengan banyak negara yang mengunjunginya. Banyak negara dari benua Eropa melayari laut Buton, bahkan beberapa diantaranya melakukan persinggahan untuk sekadar beristirahat dan mengisi perbekalan.

Tetapi hanya dengan Portugis itulah terjadi marital kawin mawin, sebelum kemudian menyusul dengan Belanda dimana di sana hanya seorang wanita muda nan cantik bernama Maria, puteri terkasih Speelman dari pernikahan (mungkin) dengan selirnya, dinikahi sebagai tanda bersahabat oleh Sapati Baaluwu yang turunannya kemudian bersebaran sampai pula di Muna.

Seorang Portugis yang namanya tinggal terkenang di Buton sampai kini adalah yang bernama Felengkonele. Tinggalan lainnya dari persekutuan marital kawin-mawin itu adalah Alifiri—pasukan pengawal sultan yang oleh beberapa ahli bahasa disebut kata itu sebagai kata yang berasal dari Bahasa Portugis: Alperes.

Juga ada kadera (Bahasa Wolio) untuk kursi yang juga berasal dari Bahasa Portugis: Kaldera. Topi khas pasukan kesultanan yang pada ujungnya seperti berekor dengan juntaian bulu-bulu itu adalah topi khas pasukan Portugis, di Buton ia dinamai Songko Poopoongku.

Banyak lagi kosakata lainnya sebagai terkenai pengaruh dari Portugis, bahkan saya pun menemukan informasi bahwa pembangunan benteng Keraton Buton yang dimulai sampai akhirnya dalam masa La Sangadji—Sultan Buton ketiga tak lepas dari ulur dan gerak tangan para arsitek dan pekerja Portugis.

Bastion-bastion benteng—dalam Bahasa Wolio: Baluara, sangat terlihat Portugis sekali, meriam-meriam dan bedil yang sampai kini tinggalan nya masih dapat kita lihat itu adalah hadiah dan sumbangan sukarela para pimpinan armada Portugis kepada paduka yang mulia sultan Buton.

Kecuali beberapa lainnya adalah sitaan dari beberapa kali insiden merompak kapal Belanda di perairan pulau Sagori Kabaena, Labuan Belanda di utara pulau Buton setelah koalisi Ternate—Buton menyerang habis armada Belanda, juga bekas dari para armada Gowa yang kalah perang di teluk Baubau dalam tahun 1669.

***

Bocah Mata Biru bersama Ayah Ibunya

Ayah Fardhan Ramadhan adalah seorang Bugis, Faisal Ambo Dalle namanya. Sekalipun Faisal Ambo Dalle berayah Bugis yang darinyalah itu silsilah kebugisannya ditarik turun, ibunya sebenarnya adalah seorang bangsawan/aristokrat dari Buton.

Menurut Faisal Ambo Dalle, dari ibunyalah yang adalah nenek anaknya itu trah darah mata biru menurun pada dua anaknya. Dia masih mengingat betul bagaimana pesan-pesan dari ibunya yang adalah nenek anak-anaknya itu: “Anak-anak mu itu adalah anak-anak ku juga, dalam diri mereka, tinggal roh “orang-orang jauh” yang adalah buyutmu sendiri”

Masih ada beberapa orang keluarga dari pihak ibunya yang adalah orang Buton itu di Sulawesi Tengah yang bermata biru. Sama sebagaimana di Kaimbulawa Siompu, oleh nenek leluhur mereka dibuatkan satu kisah tradisi lisan turun temurun yang menyebutkan keberadaan mereka adalah sebagai pertautan silang dari kawinnya orang-orang lokal dengan “orang-orang jauh”.

“orang-orang jauh” itu tidak samasekali awalnya mereka mengerti, tetapi berdasarkan kronik dan naskah-naskah tercatat yang masih tersimpan di Wolio sangat jelas yang dimaksud sebagai “orang-orang jauh” itu adalah para pelaut dari bangsa Portugis sebagai yang paling mula tercatat mengunjungi pulau Buton.

Sebuah kronik anonim mengisahkan dengan detail bagaimana bangsa Portugis sebagai yang paling mula membuang sauh dan melabuhkan kapal-kapal nya di pulau Buton sebelum armada lain dari bangsa sebenuanya beramai dalam gerombol datang menyerbu nusantara.

Sebuah jangkar raksasa yang kini berdiri dipajang tepat di hadapan tiang bendera kasulana tombi adalah sebenarnya jangkar dari sebuah kapal Portugis yang sebelumnya terkait tinggal di Lawana Lanto. Berita mengenai itu sebagaimana tercatat dalam naskah anonim yang mengisahkan kedatangan bangsa Portugis di Buton dalam kira-kira akhir abad kelima belas. 


Masih ada beberapa titik yang menjadi daerah hunian para mata biru di pulau Buton, seusai Boneatiro, kampung lainnya itu akan nanti menyusul kami datangi dan kisah mengenainya menjadi bagian dari isi catatan selanjutnya sebelum kemudian simpul titik-titik tinggal mereka itu akan dipertautkan bahwa sebenarnya mereka adalah satu kelurga dari "pohon" kerabat sama yang pangkal bermula dari semuanya adalah relasi marital Wolio--Portugis.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB