LA MBATU: Dari Penjaga BUKU ke Penjara ORBA

Wednesday, 13 September 2017 0 komentar


KUDETA Partai Komunis Indonesia (PKI) telah gagal di Jakarta, pembersihan seluruh anasirnya dengan cepat segera dilakukan, atas nama negara, gelumbang penindasan manusia oleh manusia dimulailah, arusnya seperti bah menyapu segala apapun yang sekaitan dengan partai yang mengambil ideologi Marxisme itu sebagai dasar organisasinya.

Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam sekejap bersalinlah rupa, dari awalnya orang-orang membusung dadanya karena bangga disebut sebagai bagian dan anggotanya kini menjadi momok menakutkan yang lari dihindari dan tak diingini semua orang.

Gerakan cepat dan senyap pasukan Cakrabirawa yang dipimpin Kolonel Untung rupanya tak membawa untung, justru buntunglah saja yang malah akhirnya dicapai mereka. Gerakan kup tengah malam itu telah dengan cepat dapat dipatahkan ketika fajar baru mulai naik menyingsing pada 1 Oktober 1965.

Bara api pemberontakan dengan cepat dapat dipadamkan langsung ke “jantungnya” sebagaimana waktu kasip kemunculannya yang singkat, hanya tujuh jam degup bernafasnya. Sekalipun gerakan itu singkat dan gagal, mereka berhasil membunuh paling tidak tujuh jenderal dalam hanya tujuh jam operasi, artinya para komprador lapangannya hanya memerlukan satu jam untuk membunuh satu jenderal, sesuatu yang luarbiasa.

Kudeta gagal sebagai biang penyebab dari kisruh dan kekacauan politik tahun 1965 tak hanya kemudian menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) terlarang dan dibubarkan, seluruh anggota dan simpatisan nya yang tak menahupun ditangkapi lalu ditahan sebagai TAPOL dan bahkan dengan sadis dibunuhi.

Data dari para korban komunis yang trauma menyebut ada 2 juta orang tumbal yang mati mengenaskan sebagai korban dibunuh selama setahun huruhara kekacauan 1965—1966. Benedict Andersen (1966) memperkirakan 200.000 orang telah terbunuh, tahun 1986 jumlah itu kembali direvisinya menjadi 500.000 – 1 juta jiwa orang dilayangkan nyawanya dengan dibantai.

Soekarno yang sipil jatuh, ia tampaknya terkenai juga bah dari musibah  kup naas itu. Naiklah kemudian Soeharto, seorang jenderal nyentrik yang pendiam dan murah melempar senyum, penganut kejawen yang kuat, dan konon sebenarnya dialah dalang di balik kudeta itu (lihat, Roosa: 2008). Negara dalam genggam kuasanya waktu itu kemudian menetapkan partai yang berlambang palu arit itu sebagai partai terlarang selamanya di bumi Indonesia.  


Partai pimpinan Aidit yang seporos dengan Mao Ze Dong di China dan Lenin di Soviet itu dalam seketika kehilangan banyak pendukung. Sekalipun prinsip “kesalahan kolektif” telah ditolak oleh banyak negara di dunia dalam apa yang dinamai Rule of Law, tetap saja para pimpinan PKI yang jauh di pelosok tanah air ikut terkenai getah dari kudeta gagal itu.

Mereka seperti hanya merasai pelik pulutnya getah dari buah nangka yang daging bijinya dimakan oleh orang lain. Tak menahu urusan di Jakarta, para tertangkap itu tanpa ampun disekap lalu diseret sebagai tersangka dalam apa yang kemudian oleh tentara dan penguasa mereka dilabeli sebagai TAPOL alias Tahanan Politik.

Menurut penguasa militer yang disokong dukungan militan sipil agamis—vigilante (mereka yang menegakan hukum dengan caranya sendiri/main hukum sendiri) , selain bersalah karena pengabaian, mereka bersalah karena keterkaitan; sebagai anggota/pengurus partai mereka bertanggungjawab atas segala keputusan yang diambil oleh para pimpinannya di pusat. Dalam pandangan penguasa saat itu, keputusan pimpinan otomatis mengikat seluruh anggotanya.

Apa yang dilakukan Orde Baru itu jauh berlainan dari yang dilakukan oleh Soekarno di masa orde lama. Para pejuang nasionalis dalam tahun 1945—1949 tidak membunuh orang-orang Belanda hanya Karena mereka orang Belanda. Sebelum tahun 1965, pemerintah Indonesia tidak pernah menimpakan kesalahan kepada suatu kelompok masyarakat secara keseluruhan. Soekarno mengampuni pemberontak-pemberontak Darul Islam (DI)—Orang-orang yang memang mengangkat senjata untuk melawan pemerintah, kecuali pimpinan-pimpinan puncaknya.

Setelah pemberontakan PRRI/Permesta berhasil digagalkan dalam akhir tahun 1950-an, pemerintahan Soekarno segera melarang PSI (Partai Syarikat Islam) dan Masjumi karena para pemimpin kedua partai itu mendukung pemberontakan. Tidak ada penangkapan kepada para anggota kedua partai itu kecuali hanyalah para elit pimpinannya yang bertanggungjawab secara langsung pada gerakan makar yang juga gagal itu (Lihat Roosa: 29. 2008)

***

Peristiwa 1965 telah membikin trauma mendalam, slogan sama rata sama rasa menguap serupa asap yang ditelan udara, tak lagi ada yang mau mendengungkan, segala-gala terkait komunis menjadi momok seronok yang menakutkan. Ketika tengah Oktober 1965 gelumbang penangkapan disertai pengganyangan segala hal yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) berlangsung dengan cepat, masif dan telah mencapai ujung timur pulau Jawa dan Bali, pulau Buton nan mungil di tenggara Sulawesi hanya tinggal menghitung hari dikenai pula bah arus gelumbangnya.

Dan memang betul, arus bah musibah pemberangusan itu telah mencapai Kapontori—Sebuah desa kecil di pesisir barat pulau Buton pada awal November 1965. Dua puluh orang lebih ditangkapi di sana, digiring dengan kasar bak kriminil dan lalu ditahan tanpa sekalipun pernah melalui sidang pengadilan.

Mengapa Buton harus ikut pula terkenai getah dari kudeta yang gagal di Jakarta? Perlu diketahui bahwa yang menduduki tampuk pimpinan tingkat provinsi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sulawesi Tenggara waktu itu adalah hampir seluruhnya orang-orang Buton. Generasi Buton dalam masa itu adalah kelompok paling mula dan cemerlang dalam urusan mengelola organisasi politik dan melakukan agitasi sebab memang banyak dari mereka yang terdidik dan sekolahan, itulah pada akhirnya merekapun dibidik sebagai kelompok disalahkan yang “harus diberangus”.

Buton pun tampaknya dilihat sebagai kelompok lawan yang berdiri diametral saling berhadap-hadapan dengan para kelompok elit dari “Selatan”. Selain karena dendam pada sejarah masa lalu yang belum mencapai selesai, hal lain yang paling mungkin memantik kekisruhan itu adalah peristiwa di Lantawe, Kolaka Utara yang mengambil korban banyak “gerombolan Selatan” tewas/dibunuh yang konon para pelakunya adalah orang-orang Buton.

Hal lainnya adalah, bahkan seorang Dipo Nusantara Aidit Ketua CC (Commite Center) PKI terpilih sebagai anggota di parlemen sebagai wakil dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, ini memperlihatkan bagaimana kuatnya PKI di sana dan dekatnya hubungan pengurus pusat CC PKI dengan para pengurus di daerah Sulawesi Tenggara.

***

NAMANYA La Mbatu, ia berwatak keras serupa batu, berkarakter kuat, tak mudah goyah dalam memegang prinsip. Ketika ia diseret ke tahanan dalam tahun 1965 karena disebut terlibat G30S- PKI, segala rasa siksa fisik dan psikis telah dialaminya, tapi itu bisa ditahan dan dilaluinya.

Sampai sebuah kabar buruk datang didengarnya. Pagi-pagi sekali, seorang kerabatnya datang tergopoh mengunjunginya di sel tempatnya ditahan membawakan kabar buruk itu, istrinya telah selalu “dimainkan” oleh seorang pimpinan dari pasukan tentara yang menangkapnya.

Kabar buruk itu serupa belati yang menusuknya tepat menghujam di jantungnya, sakitnya tandas sampai ke ulu hati. Tiba-tiba kakinya gemetar tak kuat menopang badannya yang bergetar oleh tangis sesenggukkan yang ditahannya, tangannya lunglai, jemarinya lemas diserang dingin, lalu seketika ia rubuh ke lantai seperti nangka masak jatuh dari pohonnya, hilang kesadarannya.

Begitu ia siuman dari pingsannya, ia kumpulkan kekuatannya, tak takut ia pada lototan mata kepala sipirnya dan berteriak selantangnya tepat di muka hadapan si sipir yang galak itu: “Siksa saja dan bahkan bunuhlah saya sekalian, jangan istri saya dirusaki!”

Tak kuat menanggung malu dan derita telah “dirusaki” itu, istri terkasihnya itu memilih pulang kepada Tuhan sang pencipta. Ia meninggal dunia dalam tahun 1967, dua tahun sejak suaminya ditangkap dan tak lagi pernah dipulangkan. Kabar duka itu segera dengan cepat melayang sampai ke sel tahanan penjara Baubau tempat suaminya “dibina” sekaligus terus dihina dan mengalami penyiksaan.

Sejak kematian istri terkasihnya itu, tak lagi ada yang ditakutinya, segala-gala enteng dalam pandangnya, ia bahkan mengharapkan kematian segera datang agar kembali bisa bertemu istri, perempuan kasihnya yang tak sempat memberinya keturunan itu. Hal lainnya yang menyebabkannya berpikir pendek begitu, hidup sehina begini ini, matilah saja lebih baik.



***

DIA kuliah di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Ujung Pandang tetapi mengambil kerja sambilan sebagai penjaga buku-buku di Perpustakaan Negara Ujung Pandang dalam tahun 1950-an. Dari tugasnya sebagai penjaga di “rumah buku” itulah ia mengenali banyak pemikir kiri. Berderetlah di sana dalam benak ingatannya nama-nama besar seperti Karl Marx, Lenin, Hegel, Tolstoy, Engels, Nietzsche,  dan banyak lagi lainnya. Ia mulai menggumuli dan melahap buku-buku karya para pemikir kiri itu, saban hari selalulah kegiatannya hanya membaca buku belaka, buku para “kiri” itu.

Maka wawasannya segera luas terbuka, cakrawala berpikirnya membentang jauh dari Moscow tempat Lenin bermakam hingga London di mana pusara Marx terbaring di sana. Ia hafal betul bagaimana gerakan revolusioner dibangkitkan, baginya tiada apapun bisa dicapai kecuali setelah semua manusia tiada berkelas, sama rata sama rasa.

Setiap kali ia usai membaca buku-buku yang disebutnya “bergizi” itu, darahnya seketika tersirap naik mendidih, tersuruplah ia ke dalam pengaruh buku-buku berpaham “kiri” itu. Melintas di benak kepalanya setiap kali ia usai membaca buku-buku itu bagaimana feodalisme masih begitu kuat di kampungnya, hal-hal ideal dalam pandangan Marx diambilnya sebagai patron mengukurnya, dengan itu ia menilai segala-gala di kampungnya begitu mundur jauh dalam pandangannya.

Ia merasai bagaimana kelas setiap orang masih dibedakan sesuai derajat tinggi kebangsawanannya, feodalisme masih begitu kuat di sana. Maka ia meninggalkan pekerjaannya “menjaga buku” di perpustakaan Negara Ujung Pandang dan memilih pulang mengabdikan diri ke kampung halamannya

mula-mula ia mengabdikan diri sebagai guru di sekolah menengah (kini sekolah itu menjadi SMPN 1 Kapontori). Dahulu anak-anak di Kapontori hanya bersekolah sampai tamat sekolah dasar, untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama mereka harus ke Baubau. Itu dirasai terlalu jauh sehingga banyak dari mereka memilih tidak meneruskan bersekolah. Sejak Lambatu dan kawan-kawannya membuka sekolah menengah pertama dan ia menjadi relawan guru “tanpa gaji” di sana, anak-anak mulai ramai bersekolah dan ia sendiri mendapatkan kehormatan dengan kerja tanpa pamrinya itu.

Ia pun dengan sukarela menyerukan dan menggalakan kampanye agar masyarakat “mengangkat arit” untuk memulai bersawah. Dialah bersama kawanannya yang terus melakukan “edukasi” agar dibuka lahan persawahan di Kapontori. Karena pergerakannya yang lihai dan aktif itu diam-diam ia mendapat perhatian dari pengurus daerah partai Komunis Indonesia Buton di Baubau, dan tanpa menunggu lama, ia telah dipilih/ditunjuk sebagai ketua Comitee Sub Seksi (semacam Ketua Kecamatan) CSS Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.

Sejak itu ia aktif melakukan agitasi dan membangun perkawanan dengan banyak orang,  bermaksud hendak melakukan pencerahan dan perbaikan bahwa setiap orang adalah sama rata sama rasa dalam segala apapun, tiada kelas-kelas apalagi gap yang memisah dalam sekat-sekat sempit yang menyesakkan.

Alih-alih maksud mulianya itu mendapatkan manfaat dan menemukan tujuan akhir yang baik, malah celakalah akhirnya yang didapatkannya. Tak disangkanya justru misi membaikannya itulah yang dengan cepat membawanya ke penjara dan kemudian mengurungnya dalam kerangkeng jeruji di bawah todong moncong senapan, poporan bokong senjata, siksa fisik dan teror psikis yang tiada berhenti dialaminya.  

Hukuman terungku itu tidak hanya memberaikannya dari keluarganya tetapi juga dari kehidupannya sebagai manusia “merdeka” bahkan hingga kini, dalam seluruh sisa kehidupannya ia tetaplah tinggal sebatangkara di rumah berlantai tanah yang kini doyong nyaris rubuh di kompleks eks Tapol PKI Nanga-Nanga kota Kendari Sulawesi Tenggara dalam cap status abadinya sebagai eks Tapol alias Tahanan Politik kasus PKI 1965.

Dilabeli sebagai eks Tapol adalah sebenarnya dikibuli, itulah tiada pernah berhenti ia melakukan protes sebagai perlawanan, sekalipun dengan cara hanya berdiam diri belaka, bukankah melawan tidak melulu hanya dengan melalui kekerasan? Melawan dengan diam adalah justru senjata paling tajam yang terbukti ampuh dapat mengalahkan penguasa paling kejam sekalipun. Mereka bisa memenjarakan raga badan saya tetapi tidak dengan rasa dan pikiran-pikiran saya.

***

TEPAT tengah malam, tanggal 10 November 1965, di hari pahlawan, sekelompok tentara  mendatangi rumahnya, istrinya yang ketakutan berdiri gemetar di muka pintu, bermaksud menghalangi para penangkap itu memasuki rumahnya, tapi tangan para penangkap itu terlalu banyak, terlalu kuat datang merubung tepat di mukanya menyuruhnya minggir.

Tak menyerah, istrinya terus coba menghadang sekalipun sesekali terkenai tendangan, dorongan atau menerima ditudingi telunjuk disertai bentakan menghardik untuk ia menjauh, tapi terus ia memohon dengan memelas minta dikasihi agar suaminya tak perlu dibawa pergi, tetapi ia tidak dikasihi, para penangkap itu rupanya memang tak berbelas mengasihi, tetap saja suaminya diringkus dan bahkan diperlakukan seperti kriminil, ia diseret dengan kasar, dibawa malam itu juga ke tahanan di penjara Baubau, ia telah ditahan tanpa pernah sekalipun melalui sidang pengadilan.

Sejak itu, buyarlah segala-gala impian yang lama dirajutnya, cita-cita idaman sebagai keyakinan ideologisnya bahwa apapun namanya, penindasan manusia atas manusia lainnya adalah seburuk-buruk tabiat manusia. Kini adagium yang dilahapnya dari membaca karya Marx itu justru jatuh menimpa dan dirasainya sendiri. Ia ditindas sampai tandas, tanpa ia kuasa melawan, bahkan sekadar hanya untuk memelaspun ia dibalas bentakan, tapi ia bertahan dalam melawan diam-diam, baginya itulah kemenangannya.

Dalam sesi wawancara dengannya, ia mengisahkan masa kelam selama menjalani tahanan penjara di Baubau. Segala siksa telah dialaminya di sana, dari yang paling sakit sampai yang paling kejam, dari siksa fisik sampai pun di siksa psikis. Seorang kawan seselnya rontok berguliran ke lantai semua gigi atas—bawahnya dihantam popor bokong senapan karena disebut telah berbohong dalam interogasi, bahkan tak puas hanya sampai di situ, kuku-kuku kaki tangan nya pun dicabuti memakai tang setelah sebelumnya ditubruki memakai kaki meja

Berkata: ”selama lima tahun di Penjara Baubau (1965—1970) aku merasai sepahit-pahitnya derita, ketika dalam tahanan itulah kerabat saya datang membawakan kabar buruk bahwa selalu istri saya “dimainkan” oleh seseorang berpangkat yang memenjarakan saya. Di situ kurasai seperti langit runtuh, aku lunglai lalu gontai ke lantai sel yang basah oleh air yang dipakai menyirami kami, aku meriut seperti keong, duduk memangku lutut di pojokan dengan gemetar sembari membayangkan wajah istri saya yang gemetar ketakutan, dengan suara yang tersisa, sekuatnya aku menarik napas dan dengan lantang berteriak dalam racau: “Mengapakah Tuhan menimpakan sebegini pahitnya derita kepada saya?”

Siksa fisik dalam penjara telah seperti makanan hari-hari, lama kelamaan tidak lagi menjadi momok. Karena telah terbiasa disiksa fisik, menjadikan kami bisa melalui hari selama lima tahun lamanya di sana, dengan itu saya jadi percaya bahwa derita sepahit apapun yang telah biasa dialami dapat menjadikan bisa dilalui dengan tiada lagi rasa takut. Rasanya telah hilang rasa takut itu.

Diakhir wawancara aku menanyainya, ketika kawan-kawan sesama tapol telah pergi meninggalkan kompleks eks tapol Nanga-Nanga yang masih dirimbuni pohonan dan berwajah serupa rimba itu, mengapakah ia masih betah tinggal sendirian di sana dalam gubuk reot berlantai tanah yang telah doyong dan nyaris rubuh itu? Aku melihat senyumnya lepas disunggingkan, dan pada wajahnya ada kedamaian. Berkata: “Aku menyukai kesunyian sebab dalam padanya ada kehidupan”.

Bersambung...

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB