Seteru Para Bangsawan Buton (1610--1654)

Thursday, 13 October 2016 0 komentar

INILAH negara dengan segala perkara, yang di dalamnya mengikut serta politik. Segala-gala yang diatur pasti di dalamnya sulit mengelak dari yang mengatur, dan tentu telah pasti yang mengatur itu adalah yang punya kuasa. Dan sipengatur itu tentu sulit pula menghindarkan diri dari menetapkan aturan yang tidak terkait dengan keluasan kepentingan kuasanya. Ia akan membuat aturan yang tidak hanya untuk melindungi negara tetapi juga jauh dari itu untuk melindungi diri, keluarga, dan klan turunannya sendiri.

Politik adalah memang begitu, politik adalah seni mengatur-atur, dan Buton yang adalah negara pada zamannya tentu tidak berlepas dari pelik sengkarut politik mengatur-atur itu, apalagi dalam mengatur-ngatur itu ada tangan lain dari luar yang diam-diam juga menjulur bermain mengatur-atur pula, makin runyamlah segalanya. Tangan lain dari luar yang saya maksudkan itu adalah: Belanda.

Belanda datang di Buton, dan segera kedatangannya mendapat sambutan hangat dari penguasa kesultanan Buton. itu hal yang wajar karena di saat itu Buton memang dalam keadaan tertekan dan membutuhkan kawan untuk melawan, menghalau keluar dari tekanan dan menahan ekspansi agresif kesultanan Gowa yang terus maju merangsek meluaskan pengaruh dan wilayah Palili/bawahan, mendesak dan memaksakan ketundukan Buton atas Gowa.

Juga Kesultanan Ternate, tampak begitu bernafsu hendak menganeksasi Buton. Beberapakali ekspedisi militer pasukan Ternate ke Kulisusu_wilayah utara Buton, telah cukup merepotkan dan menempatkan Buton dalam situasi sulit yang terus terancam dan "tidak aman". belum lagi kalau "melepaskan" pasukan bajak rompaknya tentu itu sangatlah mengganggu bagi Buton. Maka ketika Belanda datang mengulur tangan bersahabat, Buton girangnya bukan main, serta merta menyambutnya bahkan kemudian terus diikat dalam kontrati (kontrak) paling tersohor: "Persekutuan Abadi Buton--Belanda"

Tetapi benarkah Belanda adalah kawan yang baik? Mereka meninggalkan benua Eropa nun jauh dan ribuan mil lautan mereka layari hanya untuk berbaik-baik dan tanpa misi ekspansi yang ekploratif sebagaimana semangat di zaman itu? Bukankah pada mana-manapun yang namanya imperialis tetaplah saja adalah penjahat?

Penting dicatat bahwa justru ketika Buton menerima Belanda sebagai kawan, biak perpecahan sesama orang Buton sendiri (terutama di kalangan bangsawan) mulai perlahan tumbuh. Orang Buton sibuk berkelahi dengan sesama orang Buton sendiri sementara Belanda yang orang luar itu dengan girang memperhatikan dari jauh sembari sesekali memanasi, membangun perkubuan dan melempar desus.

***

KETIKA La Elangi naik tahta di Buton sebagai sultan keempat menggantikan La Sangaji dalam tahun 1578, ia segera dihadapkan dengan realitas politik yang racau. Ia tidak hanya mendapatkan tekanan yang kuat dari luar—Belanda tetapi juga dari dalam istananya sendiri. Perpecahan mulai tumbuh membiak dan menjalar dengan cepat di antara keluarga sesama bangsawan sendiri. Masing-masing dari mereka merasa lebih pantas dan paling layak untuk duduk memangku jabatan sultan.

Maka La Elangi dengan segera mengambil inisiasi, sebelum yang dilihatnya baru hanya gelagat itu berubah besar dan mewujud menjadi kenyataan, ia memanggil guru dan penasihat spiritualnya, ulama kharismatis bernama Firus Muhammad dan memintanya membantu menyusunkan undang-undang kesultanan yang di dalamnya mengatur kedudukan para bangsawan dan sekaligus posisi-posisi embanannya masing-masing.

Lahirlah kemudian undang-undang kesultanan Buton, karena berlandas pada tasawuf dan mengambil wahdatul wujud sebagai tamsilannya maka dinamailah undang-undang itu sebagai Undang-Undang Murtabat Tujuh. Isi pokok undang-undang itu mengatur dengan tegas dan jelas terutama mengenai hak, kewajiban, dan kedudukan masing-masing para bangsawan.

Tetapi alih-alih mengakhiri perpecahan, Lahirnya undang-undang itu justru malah makin membesarkan sekat perpecahan. Jurang pemisah direntang dihamparkan dengan terang dan makin jauh melebar. Ia justru menjadi awal mulai perpecahan secara terang-terangan yang itu malah seperti dilegitimasi oleh undang-undang kesultanan.

Undang-Undang Murtabat Tujuh tidak tampak seperti sebagai buah tangan dan hasil kerja pikiran dari seorang ulama besar yang kharismatis berwibawa. Ia justru malah terlihat nyinyir sebagai ‘hasil kerja’ politik pelanggengan kuasa yang di belakangnya tangan Belanda ikut campur bermain dalam gerak senyap dengan langkah tiarap melindap yang diam-diam.

Bagaimana tidak, undang-undang itu melegitimasi pembedaan orang-orang ke dalam lapis-lapis sosial yang sempit berdasarkan trah garis darah turunan yang di dalamnya sekat-sekat pemisah begitu jelas kelihatan, padahal semua mafum bahwa Islam tidak mengenali itu, selain yang membedakan di antara manusia adalah tingkat takwanya kepada-Nya?

Lantas bagaimana kesultanan Buton yang mengambil Islam sebagai agama negara dan dasar sumber segala hukum di sana tidak melihat dan seperti mengabaikan perintah ajaran agama itu? Jangan-jangan sebenarnya Belanda lah tokoh utama di balik semua lahirnya undang-undang itu dan lalu agama diseret sebagai hanya pelengkap pembenarannya.

Undang-undang itu mendelegitimasi pula kesertaan bangsawan Muna dalam hak mereka dipilih sebagai Sultan Buton. Setelah Murhum turun tahta, paling tidak sampai sultan ketiga jabatan itu menjadi turun temurun dan monopoli anak-anak turunan langsung Murhum yang semua mengetahui adalah bagian dari bangsawan Muna.

Tetapi ketika La Elangi naik tahta, apalagi setelah diundangkannya undang-undang murtabat tujuh jabatan sultan menjadi monopoli klan La Maindo raja tua Batauga, sesuatu yang diyakini sebagai garis langsung turunan bangsawan Buton dari raja kesatu Wa Kaa Kaa. delegitimasi itu dipertegas dengan diaturnya Sarana Bharata yang menempatkan Muna sebagai bagiannya dan para bangsawannya hanya berhak menduduki jabatan puncak di sana sebagai Lakina.

La Elangi yang adalah sultan, menasbihkan dirinya bertamsil paling tinggi sebagai apa yang dalam tasawuf disebut Murtabat Alam arwah/nutfah. Setelahnya diurutlah berturut ke bawah dimana La Singga yang diembani jabatan Sapati bertamsil Murtabat Alam Misal/Alaqah dan La Bula yang kenepulu bertamsil sebagai Murtabat Alam Ajsam/Mudgah

Kesultanan Buton kemudian bergantian dipimpin tiga klan yang oleh Sara Kesultanan dinamai mereka itu sebagai Kamboru-Mboru Talu Palena—Bangsawan elit paling tinggi dalam lapis sosial masyarakat Buton. ketiga mereka ini dalam strata adat dan sosial masyarakat Buton lazim disebut sebagai Kaomu. Tiga klan Kamboru-Mboru ini adalah Tanailandu, Kumbewaha, dan Tapi-Tapi. Untuk dalih agar disebut islamis dikuatkanlah ketiga klan bangsawan ini sebagai masing-masing bertamsil Murtabat Ahdat untuk Tanailandu, Murtabat Wahdah untuk Tapi-Tapi, dan Murtabat Wahidiyah untuk Kumbewaha

Paling tidak muasal ketiga klan Kamboru-mboru talu palena itu bisa dirunutkan sebagai sebenarnya mereka seasal dan seturunan. Mereka semua datang dari “pohon” yang sama. Dari seorang perempuan hebat bernama Wa Sameka istri La Kilaponto alias Murhum sultan Buton kesatu. Itulah kemudian oleh adat Wa Sameka disebut dengan gelar sebagai “Inana Talu Labuana” atau Ibu dari ketiga aliran bangsawan kamboru-mboru talu palena di kesultanan Buton.

Wa Sameka adalah anak dari Sangia Yi Tete, ia dinikahi Murhum dan beranak tiga perempuan jelita yang masing-masing bernama Wa Sugirumpu, Paramasuni, dan Wa Bunganila. Tidak dituliskan si sulung Wa Sugirumpu menikah dengan siapa, tetapi adiknya Paramasuni disunting oleh La Siridatu, sedangkan si bungsu Wa Bunganila dipinang oleh La Kabaura. Kedua lelaki, La Siridatu dan La kabaura ini adalah putera La Maindo Raja Tua Batauga. Paramasuni dan La Siridatu beranak delapan orang banyaknya dengan seorang berkelamin perempuan dan tujuh lainnya adalah lelaki.

Di antara ketujuh anak lelakinya itu terdapatlah nama La Elangi, seorang yang kelak naik menjadi Sultan Buton keempat dengan gelar Dayanu Ikhsanuddin dan atau “Oputa Mobolina Pauna” setelah wafatnya. Ia adalah pangkal turunan Kaomu Tanailandu. Sedangkan perkawinan Wa Bunganila dan La Kabaura putera La maindo raja Tua Batauga melahirkan dua lelaki bernama La Singga dan La Bula, kedua lelaki anak Wa Bunganila dan La Kabaura ini menjadi pangkal turunan Kaomu Kumbewaha dan Kaomu Tapi-Tapi

***


KETIKA La Elangi—Sultan Dayanu Ikhsanuddin (Sultan Buton keempat dan orang kesatu dari klan Tanailandu) mangkat dalam tahun 1615, ia mewariskan tak hanya tahta kuasa tetapi juga sejumlah besar masalah yang tidak terselesaikan. Keinginannya sebagaimana wasiatnya untuk jabatan sultan diteruskan kepada anaknya dalam wangsa klan Tanailandu tidak berjalan mulus dan justru memantik penolakan sangat keras dari klan bangsawan Kamboru-mboru lainnya.

Di sinilah ini dimulai golak dan intrik persaingan. Hanya saja karena para klan bangsawan selain Tanailandu itu merasa diri masih lemah belum punya kekuatan, maka melawanlah mereka dalam diam-diam dengan meniru langkah taktik Belanda; menghampar intrik bermuslihat dari dalam: memperkelahikan sesama klan Tanailandu sendiri sembari mengokohkan kesatuan mereka sendiri dari dalam.

Ulah memanasi dan memperkelahikan sesama klan Tanailandu yang kuat itu suskes mengambil tumbal dan memakan korban. Adalah Kapitaraja/Kapitalao—seorang kuat yang adalah kemanakan dan sekaligus pelindung La Cila diseret ke pengadilan sara atas persetujuan La Cila dengan tuduhan tidak main-main: telah berupaya melakukan makar dan berlaku mengganggu ketentraman kesultanan. Persetujuan La Cila itu makin meruncingkan perseteruan antara sesama klan Tanailandu sendiri.

Dengan tanpa mendengarkan pembelaannya dalam sidang majelis Sara kesultanan itu, Kapitalao dengan kasar telah diseret dengan paksa ke tiang penggantungan yang bertempat di daerah Mbela-mbela. Di sana ia menemui ajalnya, wafat sebagai martir korban hasut yang ditiup dihembus oleh lawan-lawan bersaing mereka dan kemudian setelah mangkatnya itu ia digelari sebagai Sangia Gogoli Mbela-mbela--Keramat yang digantung di Mbela-Mbela.

Diceritakan sebelum tali gantungan dengan kuat mengekang lehernya, ia terlebih dahulu mengangkat sumpah bahwa ujung lain dari tali yang diikatkan ke lehernya itu akan pula menjadi simpul yang kelak akan mengikat “menggogoli” La Cila. Kelak pada kenyataannya sumpahnya itu terbukti benar, oleh Sara kesultanan, La Cila dimakzulkan dan diseret pula ke tiang gantungan oleh sebab yang dituduhkan kepadanya sebagai "telah melakukan hal tidak senonoh".

Sejak itu, sepertinya mulailah La Cila mengetahui bahwa telah ia termakan hasut, diperkelahikan dengan saudara kemanakannya sendiri. Ketika di dalam klan keluarga Tanailandu sedang kacau berantakan dan tidak saling menegur sesama mereka, dua klan keluarga dari kelompok Kaomu yang lainnya Kumbewaha dan Tapi-tapi sedang sangat harmonis mesra dan tampaknya mereka telah bersiap menaiki kuasa.

***

PERLAHAN Dan pasti gelagat rebut kuasa telah dalam jalan seperti yang direncanakan. Satu-satu orang kuat Tanailandu jatuh disingkirkan dalam operasi senyap merangkak-rangkak itu, dan ketika lawan bersaing mereka dari klan Tanailandu itu perlahan lama mulai turun keropos dan lemah, mereka terutama klan Kumbewaha justru sedang terkerek menaik dan tengah di jalan menuju kuatnya.

Dua dasawarsa ini berlangsung, dan dalam dua dasawarsa itu pula klan Tanailandu sibuk berkelahi dengan sesama mereka sendiri. Sampai klan Tanailandu kesembilan naik berkuasa (memerintah), kemudian setelah itu tumbanglah segalanya karena keropos oleh gerusan intrik yang keras dari luar yang menohok terlalu lama dan intens terus-terus. Setelah Tanailandu jatuh, klan Kumbewaha dengan mulus menaiki kuasa

***

KETIKA La Cila—Orang keempat dari klan Tanailandu menaiki kuasa sebagai sultan kedelapan, ia sebenarnya hanyalah melanjutkan tampuk yang La Saparagau tinggalkan dengan sejuta masalah. Maka alih-alih melakukan perbaikan, ia sendiri justru terhisap dalam pusaran kuat masalah itu dan bahkan kemudian tersurup menjadi tumbalnya. Ia adalah korban pertama sultan terbunuh dan yang kedua bagi petinggi kesultanan, setelah sebelumnya kemenakannya sendiri Kapitaraja gogoli Mbela-Mbela diseret ke pengadilan Sara dan lalu dipaksa menemui ajalnya di tiang gantungan.

La Cila yang adalah cucu kesayangan Laelangi itu harus mendapati dirinya tercitrakan secara buruk sebagai lelaki peserong dengan banyak wanita di sampingnya. Ia dijerembabkan dengan kasar oleh konspirasi rebut kuasa yang datang seperti bah menyapunya diam-diam. Ia adalah contoh paling vulgar dari gerak norak kudeta merangkak yang dilakukan dengan diam-diam oleh kawan-kawan elit bangsawan yang berlainan klan dengannya.

Ia dipuji dan puja hanya di muka hadapannya saja, dielus disembahi dengan tunduk serata datar lantai yang dipijaknya tetapi kemudian dari belakang ia ditusuk setandasnya, “ditikam” dengan keji. Sebagaimana keponakannya sendiri Kapitaraja/Kapitalao, ia pun diseret ke pangadilan Sara, dan di sana ia menemukan orang-orang yang dahulu adalah para penyembahnya berlaku kasar terhadapnya, mencibirnya dan bahkan berbalik mendorong dan mendongkel menggulingkannya dari tahtanya. Ia dimakzulkan dan kemudian disenasibkan dengan kemanakannya: dihukum dengan digantung (gogoli).

Sumber-sumber lisan dari beberapa kadie banyak berkisah mengenainya, sebagai seorang heroik pemberani yang banyak memberi kontribusi dan berjasa besar pada kesultanan. Ia disebut tidak menjalani hukuman digantung itu melainkan budaknyalah yang diambil sebagai tumbal gantinya. Ia turun meninggalkan tahta kuasa dan lalu pergi mengasingkan diri. Beberapa menyebut ia pergi ke Kadatua tinggal menetap sampai wafat di sana, beberapa lainnya menyebut ia ke Lakudo, berganti nama sebagai Kokabawono alias Laode Gumpa dan lalu wafat di Kasaka__sebuah situs tua di daerah Kabawo dalam benteng liwu Lakudo.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB