Melacak Komune Manusia Mata Biru di Buton (bagian-1)

Monday, 10 October 2016 0 komentar

Gadis Bermata Biru di Kaimbulawa Siompu Buton Selatan
BANGSA Portugis telah memasuki laut Nusantara jauh sebelum bangsa lain sebenuanya datang melempar sauh dan berlabuh. Merekalah manusia kulit putih Eropa yang paling mula melakukan ekspedisi ke timur untuk mencapai dan mengeksploitasi tanah kaya Nusantara terutama sesudah penaklukan atas Malaka oleh Alfonso de Albuquerque. Pendudukan Malaka mendekatkan mereka ke Maluku, daerah yang kaya hasil bumi khas negeri timur dimana segala rempah tumbuh dan berpusat.

Komune turunan Portugis kemudian kini  ditemukan jejaknya “tercecer” di Lamno, Nangroe Aceh Darussalam dan pada suku Lingon (Lingon Treble) di Halmahera Timur kepulauan Maluku. Di dua daerah itu, para turunan Portugis tampaknya berciri sama yaitu rambut pirang, kulit langsat (putih) dengan  bola mata yang biru dalam balut rupa khas Kaukasoid.  

Di Buton, para komune mata biru turunan Portugis ternyata juga ditemukan ada, mereka tinggal di daerah periveral yang jauh dari sentrum kuasa. Sumber-sumber dari tradisi lisan menyebutkan bahwa mereka itu adalah buah dari perkawanan yang menaik menjadi hubungan perkawinan antara para puteri bangsawan Buton dengan beberapa pimpinan armada Portugis yang menyinggahi Buton dalam pelayaran mereka menuju negeri rempah di Maluku.  

***

Osiy Auwalina Lentena Tana Wolio

Bhabhaana Obura
Kawa Obura Yincia Sumai A Tiy Simboo Samalo Bula Kamataana; Amembalimo Sondi
Saro Lelemangura Mangura Yitu Babaana Molentena
Apepagomea Lakina Rumu Te Lakina Makka
Pada Yincia Yitu Aumbamo Dhuka Porotugisi Sampemo Ajaganimea Yindamo Agaangia Akonimo Lakina Makka Apaumba Lakina Rumu “Yindamo Agaangia O Sondi Siy”; Alawanimo Lakina Rumu “ Daampo Ta Hikimatia”
Apotawamo Akohahamo Lakina Rumu
Oporangona Porotugisi Sarongia Bherese
Yindamo Auntoakea, Ahaha Te Tawo Soo Amale’imo Pokamatana Porotugisi Sumay
Ahelamea Labuna Apalaimo Maka Atokai Yinda Poolia
Sampe Amabhotu Jangkarana, Abholimea Jangkaramo Yitambena Lawana Lanto Yitu
Omangengena Tambena Lawa Yitu Oandala
O Lawa Yitu Mangengena Ongapa
Kawa Oporotugisi Apokawa Te Lakina Makka Yi Arabu
Akoniimo Porotugisi “ Yingkami Tapotibhaaka Sondi
Simpoo A Dhangia” Alawanimo Lakina Makka “Yingkami  Te Lakina Rumu, Bhabhana  Mokamatea”
Alawanimo Porotugisi “Yingkami Bhabhana Mokamatea, Yindapo  Akomia”
Alawanimo Dhuka Lakina Makka” Te  Yingkami Yiweitu, Maka Yindau Kamata Yingkami”
Apotagaliakamea
Akonimo Dhuka Lakina Makka “Yipalaiyaka Miu, Potawana Lakina Rumu, Porangomiu Simbou Bherese Te Tawo So Amale’imo Pokamata Miu, Sampe U Hela Labumiu Atokai Yindau Poolia ,Sampe Amabhotu Jangkaramiu U Bholimea Yiweitu”
Amatalomo Porotugisi
Jangkarana Porotugisi Rua  Mata
Samata Yi Tambena Lawana Lanto
Samatana Yi Polotaana Popalia Bea Masiga
Siytumo O Ja’afara Mangenge Yindapo Akomia Wolio Siompu

***
SEBUAH naskah anonim di Wolio menulis dengan detail perihal hubungan paling mula antara Buton dengan bangsa kulit putih Eropa dalam paruh pertama abad ke enam belas. Adalah Farantugisi atau dalam kata yang lain Parantugisi, atau juga Porotugisi, disebut sebagai bangsa kulit putih pertama yang membuang sauh berlabuh di pelabuhan Baubau dan mengunjungi pulau Buton.

Para manusia kulit putih dari Eropa itu disebut sebagai bangsa beradab dan terdidik yang datang dengan sepenuh penghormatan ke hadapan sultan Buton memohon perkawanan. Mesiu dan bedil, juga beberapa meriam dikeluarkan dari lambung kapal mereka, lalu diangkut ke  istana sebagai hadiah untuk “mengambil hati” sultan Buton. Perkawanan yang dekat itu kemudian membawa ke hubungan perkawinan, seorang puteri bangsawan dari Buton__disebutkan adalah turunannya La Ode Saumpula (Bonto pertama di Siompu) menikah dengan seorang pimpinan armada Portugis, darinyalah ini pangkal muasal turunan para mata biru di Buton.

Jejak bangsa Portugis di nusantara kini rupanya  tidak hanya ditemukan di daerah Lamno, Nanggroe Aceh Darussalam dan pada suku Lingon di pedalaman Halmahera Timur, kepulauan Maluku. Di Pulau Siompu, tepatnya di Dusun Waindawula, Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu Timur, Kabupaten Buton Selatan, beberapa orang dengan paras berciri Kaukasoid hidup dengan berkebun jeruk.

Sumber-sumber dari naskah di Buton mengisahkan bahwa Kesultanan Buton dalam paruh kedua abad ke enam belas telah membangun hubungan paling mula dengan para pelaut Eropa dari Portugis, hubungan perkawanan Buton dengan bangsa kulit putih itu bahkan kemudian menaik menjadi hubungan perkawinan dimana ceceran dan jejak tinggalannya masih terlihat hingga kini yang tersebar di beberapa daerah di Buton.

***
Jalan menuju ke Kaimbulawa
Awal Juni Tahun 2006, kali pertama saya datang di desa Kaimbulawa Kecamatan Siompu Timur, Kabupaten Buton Selatan untuk Penelitian Pemetaan Bahasa yang dilakukan oleh Pusat Bahasa (kini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) Kementerian Pendidikan Nasional. Saya bertemu gadis kecil itu dalam usianya yang masih belia, mungkin waktu itu masih enam tahun. Ia tampak pemalu dan segera menunduk  begitu ia tahu aku memerhatikannya.

Anak ini lain dari anak-anak lainnya, tampak berparas kaukasoid, tidak terlihat berwajah weddoid apalagi rupa mongoloid sebagaimana ciri  penduduk lokal di Pulau Siompu dan umumnya orang Buton. Di antara hal unik dalam dirinya adalah bola matanya yang biru dan rambutnya ikal yang pirang, sayang sekali pertemuan dengannya pada sepuluh tahun lalu itu tak terabadikan dalam gambar sebab saya tak membawa kamera. Pertemuan dengannya itu menyimpan kesan mendalam.

Awal Agustus 2016, saya kembali datang di desa Kaimbulawa untuk keperluan inventarisasi benteng dan peninggalan budaya. Tak banyak yang berubah dari desa kecil ini setelah sepuluh tahun berlalu, listrik dari negara masih belum masuk, apa lagi jaringan seluler tak sampai menjangkau desa-desa di gunung, batu-batunya masih cadas, hawanya pun masih panas, bahkan dalam kemarau begini matahari bisa melelehkan panas mencapai  48 derajat celcius.


Hawa yang panas begitu merontangkan savana dan belukar yang tumbuh rimbun di antara padang sepanjang desa Biwinapada sampai ke Kaimbulawa. Disela kerja inventarisasi peninggalan budaya itu saya menemui si gadis mata biru itu di rumahnya dengan diantar oleh seorang warga lokal bernama Umar. Sekali ini saya beruntung karena sekaligus bertemu dengan orang tuanya yang juga bermata biru, darinyalah sebagian cerita mengenai trah mereka saya dapatkan.

Orang tuanya bernama La Dala, matanya biru dengan muka serupa “bule”. Sejak saat lahirnya, kakek nya yang renta dan berpenglihatan kuat secara batin sudah memberi pesan ke ibu bapaknya: “Jaga baik-baik anak kalian ini, kasihi dan sayangi dia terus-terus sebab dalam padanya ada roh “orang jalan” (maksudnya pendatang/orang singgah/pengelana) yang menurun dari kakek nenek moyang leluhur. Karena terkait dengan roh “orang jalan” itulah anak itu dinamailah La Dala. Dalam Bahasa lokal Kaimbulawa di Siompu kata “La Dala” berarti “Orang Jalan/Berjalan, atau orang singgah/pendatang” yang merujuk kepada para pelaut Portugis. 
Saya dengan Pak La Dala
Dari kisah lisan turun temurun yang diceritakan orang tuanya, silsilah mereka bertaut menurun dari darah para pelaut Portugis yang singgah di Buton dalam pelayaran mereka mengais rempah di kepulauan Maluku. Sejak Fernando de Magelhaens—Seorang yang juga berbangsa Portugis  menemukan jalur selatan sebagai jalan pintas yang paling cepat dan aman dalam pelayaran ke Maluku, Buton yang posisinya tepat berada dalam lalulintas lajur selatan itu menjadilah daerah bandar yang ramai dilalui dan dikunjungi para pelayar dari Eropa.

Yang paling mula datang dan singgah  di Buton adalah para pelaut berbangsa Portugis dengan dipimpin oleh seorang yang oleh orang Buton menamainya Felengkonele. Sumber-sumber dalam tradisi lisan di Wolio menyebutkan bahwa Felengkonele menikahi seorang puteri bangsawan Wolio yang kemudian dari sinilah pangkal muasal turunan para mata biru di Buton.

Jika di Lamno Nangroe Aceh Darussalam dan suku Lingon di Halmahera Timur, Maluku Utara, para mata biru turunan Portugis ini adalah bekas pelarian dan tawanan perang atau sekelompok pelaut Portugis yang selamat dari kapal dagang mereka yang karam dalam ekspedisi mengangkut rempah dari Maluku ke Malaka. Di Buton, para mata biru ini adalah sebenarnya trah terhormat yang mendapatkan tempat tinggal ekslusif dalam benteng keraton. Mereka para mata biru di Buton sebenarnya adalah para “darah biru”

Pak La Dala, salah seorang mata biru di Kaimbulawa
Sampai suatu saat ketika Belanda—Buton membangun kongsi yang sangat erat dalam apa yang dinamai kerja sama selamanya sebagai “sekutu abadi”, segalanya pun dengan cepat segera berubah. Belanda yang melihat Portugis sebagai bangsa Eropa saingannya segera memaksa Buton untuk “Mengusirnya” keluar dari keraton, seluruhnya yang terkait dengan Portugis, bahkanpun juga para bangsawan lokal yang menikah dengan beberapa orang  Portugis ikut pula terkenai getah pengusiran itu.

Sesudah pengusiran itu sukses berhasil, Belanda dengan sepihak kemudian melayangkan stigma yang buruk dengan menyebar desus bahwa para mata biru merupakan kelompok orang yang “dikutuk” sehingga mereka “tidak bisa dipercaya”, tidak lagi bisa diberi amanah. Stigma dan desus buruk yang disebar Belanda itu menjadikan para mata biru kemudian tersisih dari ruang “kelas satu” dalam trah aristokrasi bangsawan di Buton, jauh lebih buruk bahkan mereka kemudian mengalami pengucilan dan marginalisasi yang membawa mereka tersuruk jatuh dalam dekadensi mental yang akut.

Stereotype pengucilan yang merendahkan dan tentu mengecilkan itu begitu sangat kuatnya berpengaruh sehingga membentuk generasi para mata biru yang lahir belakangan sebagai bermental inlander (terjajah), minder, introver, inferior, rendah diri, pemalu, dan bahkan telah avoidant, semacam gangguan akut kepribadian yang mengarah pada pola hubungan sosial yang terbatas seumur hidup dan keengganan untuk masuk ke dalam interaksi sosial.

Setelah “terusir” keluar dari keraton itu,  melanglang berkelanalah mereka dengan menyebar ke Kaimbulawa di Pulau Siompu, Tira dan Mambulu di Sampolawa, Dongkala Pasarwajo, bahkan sampai ke Liya di Wakatobi yang simpul turunannya menaut dalam darah trah Lakina Liya yang ke-29 bernama La Ode Taru yang memerintah dalam tahun 1916—1940.
Di Masjid Agung Keraton Liya Wakatobi

Bersambung.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB