Perang Wolio—Bombonawulu

Friday, 13 May 2016 0 komentar


CATATAN ini adalah mungkin akan disebut sebagai catutan bagi sebagian orang sebab tampaknya, dan memang begitulah kenyataannya mengambil seluruh data sepihak dari hanya kelompok Bombonawulu, Liya, dan Kaledupa yang kesemua itu adalah daerah di luar sentrum kuasa kesultanan Buton.

Catatan-catatan sejarah Buton belakangan umumnya memang dibangun memakai pasokan data dari sentrum kuasa, daerah di mana para elit aristokrat duduk tinggal dan bertahta. Daerah-daerah periferal  yang dinamai Kadie tampaknya belum begitu menarik, padahal di sana menyimpan informasi sejarah yang mungkin tidak akan didapatkan di daerah sentrum kuasa.

***

KETIKA Kadie yang lain tiarap tunduk sesudah takluk, Bombonawulu berani terus bangkit melawan bahkan sekalipun setelah ditekuk. Sumber-sumber lisan dari Liya dan Kaledupa menyebut Bombonawulu di Muna, Kamaru, dan Batauga di Buton sebagai tiga yang paling mula mendirikan kerajaan, jauh sebelum rombongan Mia Patamiana dari semenanjung Malaya datang mengunjungi pulau Buton dan lalu mendirikan kerajaan Buton.

Tidak ada sebuah benteng di wilayah selatan Muna yang disebut sebagai “Kota”, kecuali hanyalah benteng Bombonawulu saja. Di sana, daerah benteng yang adalah “Kota” itu disebut juga sebagai “Dadu Wali” yang oleh orang lokal setempat memaknainya sebagai tempat para Wali Aulia, tempat bermukim dan sekaligus bermakamnya orang-orang suci.

Orang-orang suci itu dinamailah mereka sebagai para “Sugi”. Dari mereka kemudian menurun trah para raja-raja di Muna dan Buton, salah seorang dari turunan para Sugi itu adalah La Kilaponto yang juga bernama alias Timba-Timbanga atau Murhum, dalam gelar kesultanannya adalah Muhammad Yisa Qaimuddin. La Kilaponto sebelum naik menjadi raja dan sultan di Buton adalah Omputo/raja di Bombonawulu.

***
BOMBONAWULU adalah duri dalam daging bagi Wolio, ia serupa Mangir bagi Mataram di Jawa. Di sana lahir para pembangkang kuat yang memberontak dengan terang-terangan. Jika Mangir ditaklukan memakai cara merangkak bermuslihat yang halus ala Jawa, Bombonawulu pun juga demikianlah diperlakukan, mereka diberangus memakai intrik licik bermuslihat. Tangan Wolio menunjuk Kaledupa sebagai eksekutor dan memakai Lakudo sebagai yang membukakan jalan masuknya. Itulah sampai kini di Kaledupa ada desa bernama Balasuna yang berarti “Batang Kemaluan”. Konon menurut kisah lisan lokal di sana dari desa itulah berasal lelaki “Mosega” yang membunuh dengan memotong kemaluan raja Bombonawulu dan kemudian naik menyerahkannya ke Laki Wolio.

Sesudah takluk itu, Bombonawulu masih tak mau tunduk, mereka ngotot dalam terus-terus membangkang dan melawan. Dalam mata mereka, daripada tunduk menghambur sembah kepada Wolio lebih terhormat memilih mati. Maka sebuah jurang terjal nan dalam yang di dasarnya telah juga ditancapi buluh yang telah diruncingkan di sisi timur benteng kota mereka dipilih sebagai tempat buang membunuh diri. Bagi mereka yang sakit, cacat, tidak bisa melarikan diri memilih menjatuhkan dirinya di jurang itu sembari melagukan kata-kata: “Oooh La Wolio mai yalakanau”.

Kata-kata dalam Bombonawulu yang dilagukan itu dapat diartikan: “Oooh La Wolio datanglah mengambil saya”. Jurang tempat mereka membuang diri di sisi timur benteng kota mereka itu dinamailah sebagai La Wolio atau Kae Woli-Wolioa. Sampai sekarang jurang di sisi timur benteng kota mereka itu masih ada, namanya pun juga tidak berubah: Lawa La Wolio atau Kae Woli-Wolioa.

***

TAK terhitung sekali Bombonawulu melakukan pembangkangan (GUA) kepada pusat kesultanan Buton di Wolio. Terakhir dan menjadi masa kejatuhannya adalah dalam zaman sultan Muhammad Umar Kaimuddin__klan Tanailandu ke-15 yang naik memerintah sebagai sultan ke-32 dalam tahun 1885—1904, dicatat oleh sejarah bagaimana pertempuran antara pasukan kesultanan dengan Bombonawulu terjadi dengan sengitnya dan memakan jatuh korban yang banyak sekali dari kedua belah pihak.

Dalam perang itu disebutkan kesultanan mengirim Bontona Wandailolo dan Bontona Melai, dibantu oleh Bontona Baaluwu untuk melakukan invasi penyerangan dan pendudukan, sedangkan dari pihak Bombonawulu dibantu oleh Raja/Lakina Wasilomata. Dalam penyerangan awal, pasukan kiriman pusat kuasa kesultanan itu dikabarkan pulang tanpa membawa kemenangan.

Bahkan salah seorang pembesar mereka menjadi korban, ia adalah pembesar kesultanan yang menjabat sebagai Bontona Baaluwu, ia terkenai tembak di kepalanya. Konon menurut cucu turunannya kini itulah sebabnya mereka bahkan sampai kini masih selalu merasai sakit di kepala. Memang sungguh mengerikan, dan banyak orang tidak tahu ilmu apa yang dipakai Umbunowulu  sehingga sakit luka tembak itu tidak hanya mengena dirasai oleh Bontona Baaluwu itu saja tetapi juga ditanggung rasanya sampai anak cucu turunannya.

“Itulah sampai sekarang kami masih selalu merasai sakit di kepala, konon sebabnya karena kakek kami Bontona Baaluwu terkenai tembak di kepalanya saat berperang melawan Umbunowulu” Demikian kata cucu turunan Bontona Baaluwu yang saya temui di Baadia.

Penyambutan kepulangan pasukan kesultanan dari berperang melawan Bombonawulu diceritakan dalam naskah yang ditulis oleh Maa Ujiza La Wunga. Naskah ini bertahun 1312 Hijriah dengan kondisi kertas kekuning-kuningan dan sobek pada satu sisinya tetapi secara umum masih baik dan tulisannya masih dengan jelas terbaca. Isi teks naskah selain penyambutan tentara kesultanan dari berperang melawan Bombonawulu juga adalah mengenai upacara adat keramaian. Berikut petikan awal teks naskah:

“Okanina I baruga ombulinamo apotimbeaka Obombonawulu. O Lakina Bombonawulu te Lakina Wasilomata, O Bontona Wandailolo te Bontona Melai. Oeona ahadi otaawimo arabaa walueo bula haji apakamatana mata”

“Telah berpulang di Baruga dari berperang melawan Bangsawan Bombonawulu dan Bangsawan Wasilomata, Menteri Wandailolo dan Menteri Melai hari Minggu takwim Arba’a delapan hari bulan haji”

Teks naskah itu diakhiri dengan kalimat: “Hijarati Nabi 1312 SAW sarewu talu atu sapulu rua tao incana zamanina sulutani Qaimuddin Muhammad Umara atau dapat dimaknai kira-kira sebagai berikut: “Tahun 1312 Hijriah pada zaman Sultan Qaimuddin Muhammad Umara”

* * *

Sultan Buton ke-32 Qaimuddin Muhammad Umar alias Oputa I Baria, alias Sangia I Baria adalah sebenarnya anak dari Muhammad Kubra Alias La Ode Guru__Dalam naskah silsilah turunan bangsawan Buton ia ditulis sebagai La Ode Goro Kapitalao Bombonawulu.

Jika silsilahnya dirunut berturut sampai ke yang paling atas, maka turunan La Ode Goro Kapitalao Bombonawulu ini akan sampai kepada Raja kesatu Buton Wa Kaa Kaa. Berikut runutan silsilahnya:
1.     La Ode Abdul Muisu Kepala Distrik Gu bersaudara dengan La Ode Muhammad Idris (Yarona Imam Bariya) dan La Ode BaE Lakina Kondowa, Bin
2.     La Ode Muhammad Umar Qaimuddin Khalifatul Khamis (Sultan Buton ke-32), Bin
3.     Muhammad Kubra alias La Ode Goro Kapitalao Bombonawulu, Bin
4.     Haji Abdul Ganiyu Kenepulu Bula, Bin
5.     La Ode Fajara Raja Wasilomata, Bin
6.     Kenepulu La Ode Abdul Rahman Yarona Burukene, Bin
7.     Lakina/Raja Batauga Panda (yang buta dan tuli), Bin
8.     La Ihi La Sadhaha Syamsuddin Kaimuddin Khalifatul khamis Sultan Buton ke-16, 1702—1709, Bin
9.     La Tumpana Ncili-Ncili Zainuddin Qaimuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton ke-12, 1678—1687, Bin
10.  La Elangi Dayanu Ikhsanuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton ke-4, 1597—1631, Bin
11.  La Siridhatu (menikah dengan Paramasuni puteri Murhum), Bin
12.  La Maindo Raja Tua Batauga, Bin
13.  La Kasituri Raja/Lakina Bhola, Bin
14.  Raja Manguntu, Bin
15.  Banca Patola Bataraguru Raja Buton ke-3, 1411—1460, Binti
16.  Bulawambona Ratu/Raja ke-2 Buton 1365—1411, Binti
17.  Wa Kaa Kaa Ratu/Raja ke-1 Buton 1332—1365 .

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB