Orang Buton dan Perburuan Budak Abad ke-16

Sunday, 15 May 2016 0 komentar


MASA dahulu adalah masa dimana kekuasaan sangat ditentukan oleh kekuatan fisik dan psikis, siapa yang kuat dia yang kuasa, siapa yang kuasa tentu dan pasti dialah yang terkuat. Hegemoni dibangun dari seberapa kuat dan perkasanya sebuah klan, suku, bangsa. Maka apa yang sekarang mungkin tampak mengerikan, dahulu itu adalah sebuah hal berprestise, sesuatu yang membanggakan.

Membunuh musuh dengan menebas batang lehernya sampai terpenggal tanggal kepalanya dari badannya atau menusuk nya sampai sedalam ujung gagang pedang adalah sebuah kehormatan tidak hanya bagi para musuh yang dibunuh itu tetapi juga bagi penusuk pembunuhnya.

Maka kemudian menghamparlah tragedi, pembantaian, perang yang tak berkesudahan, huruhara yang tak menemui ujung selesainya. Setelah Majapahit tumbang di Jawa oleh luka dari dalam badan sendiri karena rebut kuasa yang massif dan penghianatan para pangerannya sendiri serta ditambahi invasi kesultanan Islam Demak Bintoro yang dengan cepat masuk merangsek, di Timur Nusantara tumbuh membiak pula dua kerajaan besar yang saling berebut kuat pengaruh dan hegemoni: Gowa di Selatan Sulawesi dan Ternate di Utara Maluku.

Dan Buton berada di tengah dua kerajaan besar itu. Dalam posisi yang sulit itu, Buton telah seperti karet yang melar ditarik-tarik semaunya oleh dua kerajaan besar itu. Jika musim angin Barat, Gowa memakai angin itu mengerek naikkan layar kapal-kapalnya ke Buton. Gowa pernah melakukan operasi memungut pajak hingga ke Pulau Tobea dan pulau-pulau di Timur Buton sebagai bentuk klaim dan kontrol kuasa atas wilayah itu.

Ternate memakai angin musim Timur membawa kapal-kapal mereka mencapai tanah Buton. Tak terhitung kali Labolontio seorang yang dibawah otoritas Sultan Baabullah yang oleh Buton disebut sebagai bajak rompak yang bengis menggasak tanah-tanah pantai sepanjang pesisir pulau Buton. Ulah Labolontio itu memaksa penduduk Buton lari mencari selamat melindungkan diri ke gunung-gunung dan membangun benteng bertahan di sana, maka tidak mengherankan kalau kini dengan mudah masih disaksikan banyaknya benteng di kampung pegunungan pulau Buton.

Ternate juga pernah mencaplok dan menganeksasi Muna sebagai diklaim masuk dalam wilayah kuasanya. Itulah oleh Buton, Muna kemudian pernah dinamai sebagai “Pancana”—tanah yang dicaplok, Belanda pun kemudian ikut-ikutan menyebut Muna sebagai diidentitasi Buton itu sesuai logat lidah mereka dengan “Pansiano” (Lihat Couvreur, 2001)

***

PADA akhir abad ke-16, seorang penguasa Gowa bernama Tunipasuluq turun tahta sepertinya tidak dengan wajar dan kemudian diasingkan ke sebuah pulau yang oleh mereka disebut sebagai “Pulau Terjauh”. Belakangan dari sumber-sumber lisan dan tertulis diketahui bahwa yang dimaksud oleh mereka sebagai  “Pulau Terjauh” itu adalah Pulau Buton.

Bagi Kesultanan Gowa, Buton adalah tempat pengasingan, tempat untuk mengirim orang-orang yang tidak dikehendaki kehadirannya sebab berpotensi membahayakan tahta kesultanan. Dalam mata Gowa, Buton adalah tempat pembuangan bagi musuh kesultanan, tempat untuk ditaklukkan, dan tempat terpencil dimana tak seorangpun mau menghabiskan selamanya waktu di sana.

Maka ketika Buton membangun kongsi dan koalisi bersama Bugis, Ternate, dan Belanda melawan Gowa, Sultan Gowa I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe atau Sultan Hasanuddin, murka luarbiasa. Ia tak menyangka bahwa kerajaan yang selama ini dilihatnya sebagai kecil seperti hanya secuil taik di kukunya itu tiba-tiba berubah garang dan berani berdiri menantang melawannya. Dua puluh ribu pasukan kemudian ia perintahkan menginvasi Buton dalam misi yang dinamai Ekspedisi ke Butung. Seorang panglima terbaik dipilihnya untuk memimpin operasi penaklukkan itu. Dia yang di kenal sebagai Panglima Angkatan Laut Kesultanan Gowa, Karaeng Bontomarannu.
 




Dalam sebuah epos Sejarah Kerajaan Gowa yang ditulis Sekretaris Kesultanan Gowa Encik Muhammad diceritakan sebuah perang di muka teluk Baubau yang berkobar dahsyat dengan para prajurit bertarung sepenuh heroik. Dikisahkan dalam perang itu ribuan orang Buton mati terbunuh oleh tebasan pedang dan hujaman tombak pasukan Gowa yang kesatria. Kepala-kepala para korban terbunuh itu jatuh bergulingan terlepas dari badannya ke tanah bak buah kelapa yang menggelinding jatuh terlepas dari pohonnya. Pasir pantai teluk Baubau berubah merah karena banyaknya darah yang tumpah. Ini penggambaran perang GowaButon dari teropong amatan orang-orang Gowa.


Tetapi sejarah mencatat Sultan Hasanuddin sebagai yang terkalah. Ribuan pasukannya digiring sebagai tawanan ke sebuah pulau kecil di muka teluk Baubau. Tidak ada pengampunan dalam amuk meluapkan murka dalam sebuah perang, maka ribuan orang tanpa belas kasih dieksekusi mati di sana. Sisanya dibiarkan terus hidup dengan tanpa diberi makan. Sultan Buton kemudian bermurah hati dengan memberi pengampunan kepada mereka semua itu setelah perjanjian Bongaya diteken dan Speelman meninggalkan Buton, meneruskan berlayar ke Maluku dan memerintahkan pasukannya untuk berlayar pulang kembali ke Batavia.

***

CORNELIS Janszoon Speelman melaporkan soal Buton kepada pimpinannya di Batavia. Begini kata-kata dalam laporan nya: Itu sajalah perdagangan mereka, mengambil budak dan menjualnya. Orang-orang Buton dipandang sebagai pejuang paling tangguh (dalam Reid, 1983: 170). Dalam sebuah perintah dari VOC pada tanggal 18 Mei 1688 dikatakan “Orang Bugis, Bali, Makassar, Buton, Bima dan yang lain-lainnya dari Sulawesi dinyatakan sebagai orang yang “Tempramennya Berbahaya”.

Itulah sebabnya mengapa pada suatu waktu Buton hanya dapat mengirim budak dalam jumlah terbatas ke Pulau Jawa. Dalam sebuah perintah pada tanggal 8 Februari 1701 Sultan Buton hanya dapat mengirim 50—60 budak muda ke Batavia. (Lihat Coppenger, 2012: 41).

Budak-budak di Batavia paling banyak didatangkan dari Sulawesi Selatan. Dari antara sepuluh ribu budak yang dikirim ke Batavia dalam kurun waktu dua dekade, yaitu dari tahun 1661—1682, Schulte Nordholt menghitung bahwa 42% (4110 budak) didatangkan dari Sulawesi Selatan, 24% dari Bali dan hanya 12% dari Buton. Pola perdagangan budak biasanya berangkat dari daerah-daerah kecil yang terpecah-pecah menuju daerah-daerah yang lebih makmur, dan dari masyarakat non Muslim ke masayarakat Muslim. 

Beberapa daerah menjadi penting dan makmur dikarenakan perdagangan jual beli budak. Dari antara budak-budak itu banyak yang diculik oleh mereka yang melakukan ekspedisi dan penyerbuan di daerah pesisir Filipina Tengah, Indonesia Timur, Papua New Guinea, Arekan atau Delta Mekong. Dalam abad ke-17, orang-orang Sulu, Buton, dan Tidore paling terkenal dalam kerja-kerja ekspedisi dan perburuan budak seperti itu. (lihat Reid, 1983: 29—31) 

***

SANGAT mengejutkan mengetahui bagaimana karakter orang-orang Buton di mata Belanda. Orang-orang Buton yang direkrut oleh Belanda sebagai prajurit digambarkan justru sebagai pemburu kepala yang piawai, suka berperang, dan pekerja keras. Paling tidak ini berdasarkan laporan pemimpin milter Belanda dalam misi menaklukan kaum paderi di Minangkabau dalam tahun 1817—1838. 

Banyak orang Eropa zaman dahulu, melihat Buton sebagai “Kasar dari luar tetapi halus dari dalam”. Masa-masa eksplorasi bangsa-bangsa Eropa di Timur nusantara yang oleh Pram disebutnya mereka itu sebagai “Negeri Atas-Atas Angin(Lihat Pramoedya A. T. dalam Arus Balik, 1995) telah membuka ruang baru kolonialisme setelah sebelumnya Nusantara lebih banyak bersentuhan dengan saudagar-saudagar dan pelayar dari Arab, China, India dan Persia, oleh Pram mereka ini disebut sebagai orang-orang “Negeri Atas Angin”.
                                                                                   
Seorang Eropa, Giles Milton dalam "Nathaniel’s Nutmeg", 2000: 149—150 menulis bagaimana interaksi terjadi antara raja Butung (Buton) yang mendampingi beberapa pelaut dari perusahaan Hindia Timur Britania. Ia menyebut Raja itu sebagai berperilaku ‘aneh’ karena menjamu para tamu dari Eropa itu dengan sajian daging mentah yang dimaniskan. Di rumahnya ia mempunyai sebuah kamar khusus yang dipenuhi dengan jejeran tengkorak manusia. Meskipun tampak sangar dan menyeramkan begitu, disebutkan raja itu sangat baik dan bertatakrama.

***

JIKA tidak karena dengan kekuatan bagaimana mau mempertahankan kekuasaan? tidak mungkin Buton yang majemuk dan tersekat dalam beragam budaya, bahasa, suku yang plural bisa bertahan dalam ratusan tahun lamanya sebagai kerajaan dan kesultanan yang masa itu berjalan dalam dinamika penuh intrik, konflik dan seteru. Hanya kekuatanlah yang bisa membuat segalanya bertahan.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB