Jalan Cinta Fariduddin Attar

Saturday, 14 May 2016 0 komentar


FARIDUDDIN Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau dikenali sebagai Fariduddin Attar (1130—1220) adalah seorang sufi sekaligus sastrawan terkemuka di Persia. Di Nisyapur kota kelahirannya, ia juga dikenali sebagai seorang ahli farmasi dan saudagar minyak wangi dengan harta materi yang berlimpah. Ia secara mengejutkan kemudian melepaskan segala kekayaan materi dan kemewahan duniawi yang melimpah itu dan memilih meniti jalan rumit ke kezuhudan.

Seorang papa yang fakir, miskin, tua dan renta menyentak nuraninya. Ia terkesiap dan segera keluar dari gelimang harta duniawi setelah pertemuan mengesankan keduanya. Si fakir yang renta dan papa itu masuk ke dalam toko minyak wanginya dengan jubah kumal dan tanpa uang se sen pun. Karena dikiranya akan mengemis, Attar berdiri dari duduknya dan menghardiknya dengan kasar, mengusirnya agar pergi dari tokonya.

Tapi si tua renta yang fakir itu dengan tenang menjawabnya: “Jangankan meninggalkan tokomu, bahkan meninggalkan dunia dan kemegahan ini bukanlah hal yang sukar bagiku, saya seorang papa yang tidak mempunyai apa-apa untuk diangkut kecuali hanyalah jubah lusuh ini. Tetapi bagaimana dengan engkau sendiri? Kau harus berpikir bagaimana caranya kau harus pergi dengan semua kemegahan yang kau miliki ini? Dapatkah kau meninggalkan kekayaanmu, tokomu, dan bahkan duniamu?

Attar terhenyak, ia seperti “ditikam” oleh kata-kata si fakir miskin yang papa itu, hatinya bergetar, nuraninya basah dan dengan seketika spontan ia menjawab: “Bagiku juga tidak sukar meninggalkan duniaku yang penuh dengan kemewahan materi berlimpah ini”. Si Fakir itu kemudian merebahkan badanya dan meninggal seketika di pangku hadapannya. Attar mengurusinya dan memakamkannya dengan sebaik-baik selayaknya.

Sesudah peristiwa mengesankan itu, melanglanglah Attar, meninggalkan segala kemegahan duniawi dan kemewahan toko wewangiannya. Ia mendatangi sebuah paguyuban tasawwuf dan bergabung dalam majelis spiritual bimbingan Syaikh Ruknuddin. Di sana ia berguru dan segera dengan cepat kecerdasannya menaik cemerlang dan bakat menyairnya terasah sampai mengilap. Segera setelah ia keluar dari kelompok perguruan tasawuf itu, popularitas menyambutnya dan ia sangat terkenal.

Attar memakai sastra tidak sebagai sarana pengungkapan eksistensi dirinya sebagaimana dilakukan oleh para seniman kontemporer dalam tradisi barat modern. Ia mengambil sastra sebagai media dan sarana pendidikan spiritual ruhuniahnya. Karya fenomenal dan paling prestisiusnya: “Mantiq al-Tayr” atau “Musyawarah Burung” telah cukup menegaskan posisinya sebagai seorang sastrais ruhuniah paling berpengaruh.

Attar berkata: “Apabila kau gemar memilih di antara segala sesuatu yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh jalan yang baik. Apabila kau suka memandang dirimu sendiri dimuliakan karena memiliki intan dan emas segudang, dan merasa dihinakan karena hanya memiliki setumpuk batu, maka Tuhan tidak akan menyertaimu. Ingatlah, jangan kau sanjung intan dan kau tolak batu, karena keduanya berasal dari Tuhan. Batu yang dilemparkan oleh kekasih yang setia dan pengasih jauh lebih baik daripada intan emas yang dijatuhkan dengan kasar oleh seorang wanita peserong yang merusak.”

Attar mengambil api yang bernyala terang sebagai tamsil lambang cinta dan mengumpamakan pikiran sebagai asap yang mengaburkannya. Dan asap pengabur itu hanya bisa disingkirkan oleh cinta yang sejati. Ia mengartikan cinta sebagai penglihatan batin yang terang, sehingga tembus pandang lalu menyingkap tabir labir sekat rahasia-rahasia terdalam dari ciptaan-Nya. Orang yang cinta tidak memandang segala sesuatu dengan mata pikiran biasa, melainkan dengan mata batin.

* * *

DARI lembah gurun Gobi di semanjung Mongolia dengan padang luas yang landai nan subur, pasukan tangguh kavaleri dan berkuda Jengis Khan menderap maju menyerbu dengan bengis tanpa terhalangi menuju Persia, kerajaan terkuat paska keruntuhan Konstantinopel Romawi di Eropa. Para serdadu tangguh bermata sipit dengan hidung pesek bermuka bulat dan kepala dilindungi tameng topeng baja bertanduk itu hendak melakukan penaklukan dan mengibarkan bendera panji kekaisaran Mongolia di tanah eks kekaisaran Sassania itu.

Tahun 1220, kaki-kaki kuda serdadu infanteri dan pasukan kavaleri tentara Jengis Khan itu telah mencapai tanah Persia. Jengis yang perkasa melalui komandan lapangannya Hulagu memerintahkan pembumihangusan dan pemenggalan tanpa belas kasih bagi siapapun yang menolak tunduk dan menyerah. Maka sejak itu terjadilah tragedi kemanusiaan paling memilukan yang dikenang umat Islam sebagai “masa kelam yang memilukan”, pembantaian yang bengis oleh pasukan Jengis Khan, ia tak berampun, semuanya yang menghalang jalannya dibunuh diratakannya.

Al Attar yang mulia telah mencapai umur seratus sepuluh tahun ketika tentara Mongol yang bengis itu datang memorandakan Persia. Dalam operasi pembersihan, Attar ikut tertangkap dan dengan kasar diseret ke gaol sebagai tawanan. Salah seorang serdadu Mongol berkata: “Jangan bunuh si tua bangka ini. Saya akan bayar seribu keping uang perak sebagai pengganti nyawanya.” Attar mengatakan: “Tunggu dulu, harga saya pasti lebih dari itu.”

Kemudian seorang serdadu Mongol lain menawarkan sejumlah jerami. “Tukarkan nyawa saya dengan jerami itu, karena memang seharga itulah saya.” Kata Attar. Serdadu pertama Mongol itu naik pitam, karena merasa diperolok ia pun marah dan memenggal kepala Attar. Attar pun menjemput maut dengan bibirnya  tersenyum dari kepala yang telah tanggal dari badannya sembari menggumamkan kalimat tauhid: “La ilaha illallah Muhammadarrasulullah.”.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB