Al-Hujwiri dan Tafsir Cinta Sejati

Wednesday, 11 May 2016 0 komentar


SIAPA yang tidak mengenali Al-Hujwiri? Seorang sufi besar yang pemikiran-pemikirannya membuka labir-labir yang menghalangi dari ‘melihat’ Tuhan?. Beliau lahir di Hujwer, sebuah desa padang pasir terpencil di dekat Ghazna Afghanistan. Ia menulis “Risalah” sesuatu yang kemudian disebut sebagai pencapaian paling tinggi dalam lapis-lapis pengkajian ilmu Tasawuf. Ia melakukan pengembaraan sampai ke tempat-tempat terjauh di Arabia sebelum kemudian pulang ke Lahore Pakistan dan wafat dengan damai di sana.

Saya membaca Al-Hujwiri dalam risalah Persia tertua tentang Tasawuf berjudul Kasyful Mahjub. Segera setelah menyelami sisi sisi dalam pemikirannya saya sungguh dibuat takjub oleh olah pemikirannya yang mendalam dan tafsirnya yang gamblang akan cinta. Cinta yang seutuhnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Saya merasai buku itu sangat berat, memerlukan membacanya berulang-ulang dengan dahi mengernyit kisut sebagai upaya bisa memahami dan menangkap setiap makna pesan yang disampaikannya. Maka paling tidak saya memerlukan waktu seminggu menggumuli kitabnya itu membacanya hingga tuntas.

Cinta yang ia lepaskan dari sungsang rumit tafsirnya, memberaikannya dari kerunyaman sengkarut pemaknaannya sebelum kemudian menariknya dalam ujung simpul pengertian yang sederhana, gamblang dan tidak ambigu. Ia membawa cinta dalam pengertian sebagai kepatuhan dan penyerahan diri total sepenuhnya kepada Tuhan tanpa kita merasa keberatan dengan itu. Ketika cinta telah bersemayam tinggal di hati maka segalanya tak berbeban. Jika kau cinta Tuhan, maka telah bisa dipastikan bahwa Tuhan juga cinta kau. Tak ada bunyi dari tangan yang bertepuk sebelah saja, begitu kata Jalaluddin Rumi seorang Sufi tersohor lainnya. 

Tak ada seorangpun dapat berbakti kepada Tuhan dengan iklas kecuali ia menyangkal semua kepentingan diri. Bilamana seseorang mengakui keesaan Tuhan. Ia pasti akan merasa dirinya dikuasai oleh kemahakuasaan Tuhan. Orang yang dikuasai oleh yang mahakuasa begitu akan lenyap dalam kuasa penguasanya, dan bilamana pelenyapannya benar-benar terjadi pada dirinya, ia akan mengakui kelemahannya dan tak melihat sumber daya kecuali mengabdi kepada Tuhan. Penyangkalan diri dan pengakuan itu hanya bisa dilakukan dalam sebenar-benarnya mencinta. 

Cinta menghapus dari hati segala sesuatu kecuali yang dicintai. Seorang pecinta dengan suka hati menerima apa saja yang dilakukan kekasihnya terhadapnya, apakah itu penghormatan atau yang tidak berkenan di hati, susah ataukah senang, belaian hati ataukah kekasaran. Cinta adalah luapan hati yang merindukan persatuan dengan sang kekasih. Sebagaimana badan hidup karena ruh, begitupula hati hidup karena cinta, dan cinta hidup karena melihat dan bersatu dengan sang kekasih. 
 
Cinta adalah peniadaan sifat-sifat sang pencinta dan pengukuhan esensi yang dicintai. Cinta menuntut agar sang pencinta membuat kelanggengan senang yang dicintai menjadi mutlak dengan menafikan kesenangan dirinya sendiri, dan ia tidak dapat menafikan sifat-sifat sendiri itu kecuali dengan mengukuhkan esensi yang dicintainya. Cinta itu adalah menganggap milikmu yang banyak sebagai sedikit, dan yang sedikit dari yang kau cintai sebagai yang banyak.

Cinta sejati tidaklah berkurang karena ketidakbaikan dan tidak bertambah karena kemurahan hati. karena di dalam cinta kebaikan dan ketidakbaikan adalah sebab-sebab, dan sebab dari sesuatu itu tidak lagi ada bilamana sesuatu itu sendiri benar-benar telah ada mewujud. Seorang pencinta senang dalam penderitaan yang penderitaan itu ditimbulkan oleh yang dicintainya. Cintalah yang menjadi sebab kebaikan dan ketidakbaikan tampak sebagai sama saja. Cintalah yang menjadi sebab kekurangan dan kelebihan sebagai tak berbeda, maka itu iya dikatai buta!

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB