Surat-Surat Kasim dari Penjara

Saturday, 30 April 2016 0 komentar


Dalam celku sekarang ini saya tidak
dapat melihat alam lagi, hanya
tjahaja yang masuk melalui lubang
20x30 cm. itulah yang memberikan
saya petunjuk bahwa hari sudah
siang ataupun sudah malam
malam ini saya akan lalui tidur di cel ini
sebagai malam yang pertama

***
YANG tertulis di atas adalah catatan Muh. Kasim saat ia kali pertama dijebloskan ke ruang tahanan bilik dua penjara Baubau setelah dipindahkan dari tahanan di Kendari. Dapat kita rasai bagaimana gulitanya ruang tempat ia ditahan itu. Tercatat itu ditulisnya pada tanggal 8 April 1969. Harapannya bahwa penjara Baubau yang adalah tanah asal lahirnya akan jauh lebih manusiawi memperlakukannya daripada ketika ia ditahan di Kendari ternyata jauh dari kenyataannya, bahkan di sanalah ia justru mendapatkan perlakuan buruk. Ia disiksa dan lalu berpulang, wafat dengan “tidak wajar” dalam tahanan di tanah lahirnya sendiri.
***
 
SEBUNDELAN catatan-catatan Muh. Kasim selama ia di penjara sampai ke tangan saya. Catatan-catatan yang dirupakan sebagai surat itu dan sebagianya semacam “Diary—Catatan Harian” ditulisnya dengan tangannya sendiri sejak ia kali pertama diseret ke penjara di awal Februari sampai mendekati waktu kematiannya awal Agustus 1969 di dalam tahanan penjara Baubau.

Sebagai terpelajar, ia tahu bahwa hanya dengan menulis ia melawan. Tulisan adalah senjata para tertindas. Dia tahu bahwa dirinya bakal dicelakakan dengan diakhiri hidupnya terutama justru ketika ia dipindah dari tahanan di Kendari ke penjara Baubau dalam minggu kedua bulan April 1969. Maka ia menulis, segala-gala yang dilihat, dialami, dan dirasainya. Hal apapun, dalam selama ditahan di Kendari sampai ke Baubau ditulisnya. Dengan nya, menjadilah benderang duduk kasus soalnya, tuduhan bahwa ia antek kader dan pimpinan PKI di Buton adalah sebagai hanya fitnah belaka.

Tidak mudah mendapatkan catatan-catatan itu, memerlukan sesuatu yang saya sebut sebagai: “Perjuangan”. Ibu Ainun Djaariah—Istri Muh. Kasim sebagai pemilik surat-surat itu telah cukup lama menyimpan itu sebagai disebutnya “Rahasia Keluarga”. Tetapi kepada saya, beliau dengan sepenuh rela memberikannya untuk itu saya bacai dan pelajari. Surat-surat dan catatan harian Muh. Kasim itu membuka semua tabir ‘gulita’ yang selama ini melabiri kasus tragedi PKI di Buton dalam rentang tahun 1968—1969.

Muh. Kasim melalui surat-surat dan catatannya selama di penjara menelanjangi apa yang selama ini telah disimpan sembunyikan oleh banyak orang. Jika selama ini generasi Buton menaruh sangka dan menudingkan telunjuk mereka kepada “orang luar” sebagai pangkal muasal penyebab malapetaka itu, Muh. Kasim sebagaimana tertulis dalam surat-suratnya justru menunjuk hidung “orang dalam” sendirilah sebagai yang telah dengan sengaja menjerembabkannya, dibuat tersuruk masuk dalam pusaran pelik masalah sebagai antek PKI.

Orang “orang dalam” itu disebutnya sebagai telah “lempar batu sembunyi tangan”,  “memukulnya” dari belakang dengan tanpa berbelas kasih sebagai saudara sesama orang Buton. Padahal para “pemukul” di belakangnya itu adalah mereka yang disebutnya sebagai: “Fitnahan ini datangnya dari mereka yang tadinya suka dengan saya”. Rupanya telah dari dahulu pembelotan dan pembelokan desus telah lazim dan seperti lumrah saja dilakukan di tanah yang katanya “Pomaamaasiaka” (saling mengasihi).

Meskipun ia tahu telah dengan sengaja dijerembabkan sampai tersuruk begitu, kepada mereka para penjerembabnya itu ia tak menyimpan dendam. Hatinya seluas samudera sebagaimana juga akal berpikirnya yang selapang langit cakrawala. Ia memaafkan dan dengan jiwa besar menulis: “..., Saya tidak mempersalahkan mereka itu, karena saya tahu mereka mau mencari keselamatan dirinya sekalipun orang lain dikorbankan”.

Dari itu dengan jelas kita melihat bagaimana besar jiwa kepemimpinan seorang Muh. Kasim. Sungguh falsafah Buton benar-benar ia terapkan dalam praktek. Ia rela menerima dirinya sendiri dihancurkan untuk keselamatan orang-orang yang dibawahinya. Dalam suasana kemaruk yang racau dan kacau waktu itu, ketika orang lain lari sembunyi dan mencari selamat, ia telah maju memikul beban bertanggungjawab, mengikhlaskan dirinya diambil sebagai tumbal, menjadi martir terbunuh.

***
DARI Ainun Djaariah, saya mendapatkan informasi bahwa catatan-catatan itu sampai di tangannya setelah melalui banyak aral halangan. Mungkin Tuhan lah yang memudahkan semuanya sehingga setiap kali melalui pemeriksaan oleh para sipir selalu luput dari diketahui. Setiap kali pulang dari dibawakan makanan, setiapkali itupula diselipsembunyikan carikan kertas yang dilipat kecil-kecil pada balik rantang, maka bisa dibayangkan berapa banyak catatannya.

Dari catatan dan surat-suratnya itulah saya mengetahui bahwa Beliau disengajakan hendak dijerumuskan dalam fitnah. Siapa-siapa dalang di baliknya, apa modus mereka melakukannya telah dengan gamblang Bapak hampar telanjangkan dalam surat-surat catatannya, bahkan beberapa nama ditulisnya dengan terang, jelas. Mungkin kita akan kaget sebab orang-orang yang disebutnya itu adalah orang-orang yang berkehormatan dan memiliki derajat sebagai bangsawan di Buton.

Untuk mereka itu Muh. Kasim menulis:
“Semua fitnahan ini tidak saya percaya samasekali sebab justru fitnahan ini datangnya dari mereka yang tadinya suka dengan saya. Saya tidak percaya fitnahan ini dapat dilakukan oleh mereka itu, karena saya tahu mereka itu adalah orang-orang yang ber-Tuhan dan dari keluarga yang cukup terhormat

Tidak bangga dengan kehormatan yang dimiliki selama ini telah mau dikorbankan/dihapuskan dengan suatu pernyataan fitnah pada orang lain yang samasekali tidak berdosa..” (tercatat ditulis di penjara pada tanggal 8 April 1969)
 
***
TIDAK mudah membaca dan mempelajari surat-surat dalam tulisan tangan “cakar ayam” khas tempo dulu apalagi ditambahi selipan beberapa ejaan yang tampaknya masih terpengaruh van Ophyusen dalam kertas yang juga telah kumal kekuningan dengan bekas sobekan dan lipatan di sanasini. Saya harus mengulangi membaca beberapa kalimat yang mulai samar untuk memastikan mendapat pesan makna sebagaimana yang dituliskan sebenarnya

Selain dengan runtun ia menulis mengenai kasus fitnah yang dialaminya, di antara surat-suratnya itu, ada dua tema yang menurut saya paling mengesankan dengan menguras emosi yang membikin haru: surat-suratnya ke pada istri yang amat dicintainya dan surat-suratnya kepada anak-anak yang begitu mereka sangat dikasihinya.

Kepada anak-anaknya, Muh. Kasim berulang-ulang menulis agar mereka selalu tabah dan jangan pernah mengeluh. Ia meyakinkan bahwa samasekali tak terlibat dengan hal yang dituduhkan kepadanya, maka ia meminta kepada anak-anaknya agar tetap bangga berayahkan dirinya. Untuk ini, kepada anak-anaknya itu ia menitip pesan: “Sandang sematkan nama saya pada ujung nama kalian anak-anak ku, jangan malu, banggalah!”. Lalu dilanjutkan dengan kalimat:
“Saya berpesan kepada anak-anakku, mudah-mudahan menjadi pedoman hidupmu. Saya tetap merasa di pihak yang benar, tetap merasa apa yang dikatakan orang lain itu semuanya adalah hal yang tidak benar, semuanya merupakan fitnahan bagi diri saya di mana fitnahan ini dianggap seolah suatu kebenaran

Mengapa orang mau mengatakan yang tidak benar? Mungkin ini adalah sekadar mencari keselamatan dirinya, padahal dia lupa kehidupan yang lain akan datang dengan kebenaran yang telah kita buat. Belum lagi hukum pembalasan, ataukah hukum karma
Tapi ini tidak begitu dipikirkan oleh karena memang kebenaran itu biasanya (selalu) terlambat datangnya. Menyebabkan banyak orang mau memilih kebenaran yang sebenarnya bukan kebenaran

Anak-anakku hati-hatilah dalam hidupmu, tetap berbangga bahwa bagaimanapun bapakmu tidak pernah merasa berbuat sebagaimana dikatakan oleh semua orang itu
Saya tidak mempersalahkan mereka itu, karena saya tahu mereka mau mencari keselamatan dirinya sekalipun orang lain dikorbankan.”
  
Kepada Ainun Djaariah Istrinya, Muh. Kasim menyampaikan permohonan maaf telah ikut membawanya dalam sengkarut rumit masalah. Ia minta agar istrinya itu membesarkan sabar, dan terus berdoa kepada Tuhan minta selamat dari bahaya desus yang kotor dan sangkaan fitnah manusia keji. Untuk istrinya beliau menulis:

Istriku,
Entah berapa lama nanti engkau harus menghadapai hidup ini di tengah-tengah gelombangnya hidup ini. Mudah-mudahan saja kau tahan dalam ujian. Pada principnya semuanya terserah padamu bagaimana kau akan menanggulangi hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Sekali lagi jangan putus asa, jangan terlalu pikirkan saya, kau sudah tjukup .. ..(tulisan kabur/sulit terbaca)
Saya kira itu sudah cukup banyak .. .. (tulisan kabur/sulit terbaca). Sekarang aturlah hidupmu untuk anak-anak, agar mereka itu dapat bertumbuh menjadi manusia yang baik dan berguna untuk kemanusiaan

Hanya kepadamu satu-satunya.. .. (tulisan kabur/sulit dibaca). Saya telah banyak berbuat dosa, mungkin inilah pembalasannya pada diriku, tapi mengapa akibatnya menimpah juga kau istriku? Padahal kau tetap orang-orang yang saya tahu tidak berdosa. Saya rasa ini tidak layak, tidak adil karena dosaku kalau ada itu saya sendiri yang seharusnya memikulnya

Terlepas saya salah atau tidak dalam persoalan ini tapi ini sudah merupakan takdir dari ilahi pada diriku ini.
......
(surat untuk istrinya ini cukup panjang, saya hanya menukil sebagiannya)

***

DARI surat-suratnya, saya bisa merasai bagaimana Muh. Kasim ini adalah seorang yang sentimentil, perasa, dan tentu cerdas. Selembar suratnya kepada Ainun bertanggal 6 Mei 1969 telah cukup menjadikan istri terkasihnya itu “meleleh” luluh hatinya dan lalu mengambil sikap selamanya dalam kesetiaan kepadanya bahkan sekalipun beliau telah tiada.

Ibu Ainun Djaariah tak lagi pernah berpikir mau naik menikah sejak menjanda diusia 29 tahun dalam tahun 1969, padahal ada banyak lelaki dengan pangkat di pundak dan jabatan yang diduduki melebihi yang dicapai suaminya Muh. Kasim. Dalam matanya, tak ada yang mengalahkan suaminya dalam segala-gala apapun. Cintanya kepada suaminya terus dalam nyala, tak pernah padam, bahkan sekalipun suaminya itu telah tiada. Wujud cinta kepada suaminya yang terus dalam nyala itu ditumpahkannya dengan sebaik-baik yang dibisanya merawat anak-anak mereka sebagaimana juga pesan mendiang Muh. Kasim dalam surat-suratnya.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Ibu Ainun Djaariah saat membacai selembar suratnya itu, bahkan aku saja pun sampai beberapa kali menyeka mata yang basah. Membayang dalam benak saya bagaimana kelam takdir yang dialaminya, harus terpisah dari keluarga dan lalu menjalani hukuman sampai wafat dengan tidak wajar di sana untuk sesuatu yang samasekali tidak dilakukannya.

Ketika surat itu hendak saya konfirmasi mengenai isinya ke Ibu Ainun Djaariah karena ada beberapa kalimat yang telah kabur dan sulit saya bacai, aku melihat beliau membacanya tetapi dengan tanpa bersuara. Aku memerhatikan rona muka yang seketika berubah muram, bibirnya bergetar, matanya berkaca, pada dua ujung kelopak matanya itu berkumpul menggantung bulir air yang makin lama makin membesar dan sebelum itu jatuh bergulungan menyeberangi pipinya, ia telah dahulu menyekanya.

Kebenaran memang hanya bisa sebentar disimpansembunyikan, waktu dan Tuhan akan kelak membukanya melalui tangan-tangan mereka para pecintanya. Sebagaimana ia sendiri dalam surat terakhirnya menulis: “Oleh karena memang kebenaran itu biasanya (selalu) terlambat datangnya. Menyebabkan banyak orang mau memilih kebenaran yang sebenarnya bukan kebenaran”

Berlanjut..

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB