Kesaksian Ainun Djaariah dalam Kasus PKI di Buton 1969

Saturday, 2 April 2016 0 komentar

Ibu Ainun Djaariah
KUMULAI catatan ini dengan mengutipkan sebuah catatan Muh. Kasim dari balik jeruji penjara. Catatan ini sebenarnya cukup panjang, ada lebih tiga puluh halaman dalam setiap bundelnya dengan ditulis tangannya sendiri, dan saya hanya menukilkan sebagiannya saja. Ia tulis sebagai surat yang dititipsembunyikan pada balik rantang setiap kali ia dibawakan makanan. Surat-suratnya itu berisi seluruh mengenai duduk soal kasus yang menimpanya, orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan yang paling romantis adalah suratnya kepada istrinya, juga pesan-pesan penguat kepada anak-anaknya.

***

Begini nukilan dari salah satu suratnya: 
SAYA berpesan kepada anak-anakku, mudah-mudahan menjadi pedoman hidupmu. Saya tetap merasa di pihak yang benar, tetap merasa apa yang dikatakan orang lain itu semuanya adalah hal yang tidak benar, semuanya merupakan fitnahan bagi diri saya di mana fitnahan ini dianggap seolah suatu kebenaran

Mengapa orang mau mengatakan yang tidak benar? Mungkin ini adalah sekadar mencari keselamatan dirinya, padahal dia lupa kehidupan yang lain akan datang dengan kebenaran yang telah kita buat. Belum lagi hukum pembalasan, ataukah hukum karma. Tapi ini tidak begitu dipikirkan oleh karena memang kebenaran itu biasanya (selalu) terlambat datangnya. Menyebabkan banyak orang mau memilih kebenaran yang sebenarnya bukan kebenaran

Anak-anakku hati-hatilah dalam hidupmu, tetap berbangga bahwa bagaimanapun bapakmu tidak pernah merasa berbuat sebagaimana dikatakan oleh semua orang itu. Saya tidak mempersalahkan mereka itu, karena saya tahu mereka hanya mau mencari keselamatan dirinya sekalipun orang lain dikorbankan.

Hadapilah hidup ini dengan penuh kesatria sekalipun banyak orang tidak senang dengan kamu. Biarlah mereka itu mengatakan bahwa saya tidak benar karena itu adalah haknya untuk mengatakan itu. Saya tetap berbangga sampai di manapun bahwa apa yang dikatakan oleh saya itulah yang benar dan yang lain itu adalah fitnahan yang penuh dengki. Apa sebab banyak dari mereka itu dengki pada saya? Itu saya sendiri tidak tahu. Fitnahan yang menjadi tuduhan terhadap diri saya ini benar-benar berat, seakan-akan saya bermimpi

Semua fitnahan ini tidak saya percaya samasekali sebab justru fitnahan ini datangnya dari mereka yang tadinya suka dengan saya. Saya tidak percaya fitnahan ini dapat dilakukan oleh mereka itu, karena saya tahu mereka itu adalah orang-orang yang ber-Tuhan dan dari keluarga yang cukup terhormat

Tidak bangga dengan kehormatan yang dimiliki selama ini telah mau dikorbankan/dihapuskan dengan suatu pernyataan fitnah pada orang lain yang samasekali tidak berdosa.. (tercatat ditulis di penjara pada tanggal 8 April 1969)

***

AINUN Djaariah adalah istri Muh. Kasim Bupati KDH TK. II Buton tahun 1964—1969. Ia memintal nasibnya sendiri dan rela meniti takdir kelamnya yang digariskan Tuhan. Suami terkasih yang dicintainya direnggut paksa darinya, kebahagiaanya berakhir sejak itu. Dimulanya suaminya yang terpelajar dan bupati itu dituduh sebagai pimpinan PKI di Buton sebelum kemudian dengan kasar diseret ke penjara  dan lalu ditemukan wafat tergantung di sel nya. Oleh yang memenjarakannya ia disebut telah melakukan bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri. Di mata istri dan keluarganya ia telah dibunuh dengan digantung.

***

KULITNYA langsat dan putih, berbadan tinggi langsing semampai diusia mudanya. Kini diusia yang tidak lagi muda gurat kecantikan masih tersisa dan dengan jelas aku melihat pada garis muka rupanya. Dahulu saban malam ia mengalami tantri, semacam berbicara mengigau dalam tidurnya, sesekali ia berteriak dalam igaunya itu, memanggili nama suaminya yang dibawa pergi dengan paksa oleh tentara di subuh dinihari dalam bulan Maret 1969. Waktu suaminya dibawa pergi itu, ia tengah mengandung tujuh bulan anak bungsunya.

Tidak pernah sebelumnya ia bayangkan petaka naas mengenaskan itu datang merampas kehidupan bahagianya. Kehidupannya yang eksklusif sebagai istri Bupati Buton dengan segala-gala kehormatan dan prestise yang melekat dalam padanya seketika rontok dan bersalin rupa menjadi ia tak berbeda berandal pelaku kriminal. Suaminya yang Bupati tiba-tiba kehilangan kehormatan, ia diseret ke penjara dengan kasar di bawah todong moncong senapan atas tuduhan yang berdasar fitnah: Sebagai pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Buton.

Seluruh yang tertulis ini adalah apa yang semua dilisankanya, keluar dari mulutnya dengan bersemangat ia ceritakan, tidak ditambahi, kecuali sedikit imajinasi penulis sebagai penggambaran dramatisnya petaka naas itu. Sesekali dalam bercerita itu ia terdiam dengan mata berkaca jika bahasannya telah sampai menyebut anak-anaknya, napasnya dihelanya dengan panjang seperti ada yang berat membebani hatinya. Lapis-lapis ingatan masa lalu yang kelam berseliweran melintas di kepalanya.

Berkata: “Bapak sangat menyayangi anak lelakinya satu-satunya ini” Sembari ia menunjukan saya gambar lelaki kecil yang dipangkunya dalam bingkai hitam putih. “Pernah suatu kali sembari menangis, Bapak menyampaikan permohonan maafnya karena merasa belum sempat membahagiakannya”, dan kepada saya ia berkata: “Semoga yang kau kandung itu adalah juga anak lelaki sehingga ia ada nanti teman bermainnya”.

Rupanya Tuhan memberi lain dari yang diharapkannya, anak di kandunganku kelak lahir sebagai berkelamin perempuan. Saya membayangkan bagaimana rupa wajahnya jika saja ia menyaksikan persalinanku: pasti ia akan sangat berbahagia. Tetapi ia telah tiada, meninggal dengan tidak wajar di dalam sel tahanannya. Tiada dirasai hal paling menyakitkan bagi perempuan kecuali adalah saat melahirkan dengan tiada suami mendampingi.

Anak ku perempuan lahir menghirup udara bumi fana sebagai bungsu dari empat bersaudara, sedang suamiku pergi meninggalkan bumi fana dengan tidak wajar: tergantung di sel tahanan nya. Apa salah suamiku sehingga harus mendapatkan perlakuan tidak adil dan memerlukan difitnah sebagai jalan pintas pengesah menyingkirkannya dari kekuasaan?

Apakah suamiku dalam mata para penyingkirnya itu begitu menyinyirkan dan berlaku menyalahgunakan kuasanya sehingga memerlukan disingkirkan bahkan dengan harus membunuhnya sekalipun? Apa yang ada dalam kepala para penyingkir itu sehingga sampai tega memfitnahnya memakai hal paling rendah menghinakan dengan disebut sebagai orang pimpinan PKI?

Apapula yang ada dalam kepala para kerabatnya sendiri yang adalah juga orang-orang Buton yang pernah dibantu ditolongnya itu ikut-ikut menjulurkan tangan membantu para tukang fitnah penyingkir itu untuk pula turut menzaliminya? Para pezalim itu kemudian mendapatkan juga dirinya dizalimi, mereka semua mati dengan tidak wajar: meregang nyawa dengan sengsara dikubangan kotoran mereka sendiri. Tuhan tidak tidur.

Dalam suasana kalut yang memuncak di tengah musibah naas itu, lahirlah anak keempat kami sebagai bungsu. Itulah kunamai dia Sabaria. Ada doa saya dalam namanya agar ia menjadi anak yang sabar sebagaimana juga pinta suamiku dalam surat-surat yang dikirimkannya secara sembunyi-sembunyi dari penjara. Ia sungguh adalah seorang yang tegar dan berhati selapang samudera. Sekalipun mendapatkan perlakuan tidak adil dan dikenai fitnah, tak ia menyimpan dendam dalam hatinya. Kepada anak-anaknya ia menitip pesan: “Kalian tabah, sabar dan jangan pernah mengeluh”

Dalam beberapakali mengantarkan makanan dan bertemu dengannya di penjara, tak pernah ia mengatakan keluhannya di hadapanku, yang ia sampaikan adalah agar kami selalu sabar dan menghadapi musibah ini dengan tabah. Hal yang berulangkali ia sampaikan adalah meyakinkan kami bahwa benar-benar ia di pihak yang benar, tidak seperti fitnah yang dituduhkan para pendengkinya bahwa ia adalah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Buton

***

Fitnah sebagai pimpinan PKI di Buton dan meninggalnya suaminya di dalam tahanan dengan tidak wajar menimbulkan luka teramat dalam yang bahkan sampai kini masih terasa perih sakitnya. Petaka naas itu menjadikan tidak hanya dirinya tetapi juga anak-anak nya sebagai terbentuk bermental pemberontak, mudah marah, sensitif dan merasai trauma yang akut. Siapapun yang mengalami yang mereka alami pasti akan merasai yang mereka rasai dan mungkin bahkan akan jauh terpuruk lebih buruk.

Ia kukuh berpendirian melawan ketidakadilan yang dialaminya. Dalam selama peringatan kemerdekaan  sesudah tahun 1969, ia tak lagi pernah menaikan bendera di muka rumahnya, atau jika dipaksa untuk mengerek naikan bendera ia hanya menaikannya dengan setengah tiang saja. Dengan emosional berkata: “Aku masih berduka, dan terus akan begini sampai keadilan datang diberikan”

Catatan ini adalah bukan catutan, apalagi cuitan yang spontan dilayangkan, benar-benar ini adalah fakta dari seorang yang mengalami sendiri, merasai sendiri, melihat sendiri segala petaka naas itu, ia meniti dengan sabar, terus berjalan dalam melalui takdir kelamnya itu sekalipun berat dan penuh lara luka. Dengan empat anak ia meneruskan hidup sendirian, membesarkan semua keempat anaknya itu sembari terus berjuang meminta keadilan.

Ia pernah ke Jakarta, dibawa oleh sekelompok anak muda yang peduli dengan buruk nasibnya. Dihadapan para pejabat “orang pusat” ia membeber semua kepahitan yang dialaminya, perlakuan tidak adil yang didapatkannya. Seusai pertemuan para kuli tinta merubunginya, disodori ia banyak amplop berisi uang dari para jurnalis ibukota itu.

Ia dengan kalem menolak seluruh yang disodorkan itu karena mengiranya sebagai sogokan, tetapi seorang pemuda yang mendampinginya memberitahunya: “Ambil itu semua, Oma berhak atasnya, mereka para jurnalis itu bisa mendapatkan banyak uang dari seluruh kisah yang Oma sampaikan tadi”

Beberapa tanah dan rumah miliknya yang dahulu disita oleh militer tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya kecuali hanya sebuah rumah sangat sederhana yang kini ditinggalinya, itupun setelah melalui perjuangan mahaberat yang berpeluh selama berpuluh tahun lamanya. Bahkan haknya yang lain pun lalai ia dapatkan, gaji suaminya sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak ditahan sampai wafatnya tidak lagi pernah diterimanya dan itu terus berjalan hingga empatpuluh tahun lamanya. Baru di tahun 2002 setelah mengurus di sanasini dengan tekun ia mendapatkan hak nya itu, sayangnya tak ada penggantian untuk selama empat puluh tahun  gaji suaminya yang tidak diterimanya.

***


KASIM itu orang baik, aku berbicara begini bukan sebab karena saya istrinya, dia memang orang baik, nasibnya saja yang tidak baik: menjadi Bupati hanya untuk terbunuh mati. Coba anda bayangkan adakah hal menyakitkan selain dikenai fitnah dan lalu terbunuh karenanya? Suami saya difitnah untuk sesuatu hal yang tidak samasekali dilakukannya, memiriskannya adalah sebagian di antara para pemfitnah itu adalah saudara kerabatnya sendiri: mereka yang pernah ditolong dan dibantunya.

Ia memang banyak menolong orang, para nelayan miskin yang ditangkap karena membawa bom ikan dan lalu kemudian dituduh sebagai anggota/simpatisan PKI, ia tolong selamatkan, bahkan beberapa ada yang kemudian diambilnya tinggal di rumah, diangkat sebagai anak, diperlakukan seperti anak sendiri. Lama-lama ia sendiri dikenai fitnah, disebut pula sebagai bagian kawanan dari yang ditolongnya itu.

Rumah jabatan Bupati Buton yang kami tinggali sebenarnya bisa disebut sebagai rumah tinggal rakyat sebab ada banyak sekali orang yang tinggal di sana. Bapak itu suka sekali mengambil orang susah untuk disuruhnya tinggal dan makan di rumah. Dengan sifatnya yang begitu itu dipenuhilah rumah jabatan yang kami tinggali dengan anak-anak tinggal, semuanya mereka itu tentu saja orang-orang yang “susah”.

***

SAYA mengenalnya dengan sangat dekat, sebagaimana diapun mengenal saya begitu. Kami sebenarnya adalah kerabat yang dekat, kepadanya aku memanggil: Om. Ia kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lalu mengambil sebuah program yang membawanya melanglangi Amerika selama delapan bulan. Di sana ia melakukan riset dan belajar politik pemerintahan. Sepulangnya dari negeri Paman Sam, ia datang ke Baubau dan dalam perjumpaan yang tidak disengaja, bertemulah mata kami dalam saling pandang malu-malu, bertatapan mengagumi. Dalam logat Buton ia berkata: “Eh kau sudah besar mi e”

Sebagai perempuan yang menaruh segan terhadapnya aku hanya tersipu dan tentu aku mengalah dalam bertatapan pandang itu, aku menarik melorotkan mata dan menjatuhkan pandang ke lantai, dan aku rasai dia masih saja terus melihat saya. Dia secara fisik tidaklah begitu menarik, berperawakan tinggi dan agak kurus dengan sedikit kumis melintang tipis pada atas bibirnya. Mukanya tirus dan tampak pipinya menjorok ke dalam. Tapi ia terpelajar dan terdidik secara baik, sesuatu yang itu menjadikannya lebih dari mana-manapun lelaki di Buton waktu itu.

Karena terdidik itu, ia memperlakukan saya dengan sepenuh hormat sebagaimana layaknya tabiat seorang yang terdidik, tak sekalipun, ia berlaku kasar, baik dalam perkataan apalagi dalam perbuatan, bahkan akulah yang paling sering mengkasarinya. Dia mengerti jiwa kanak masih menguasai sehingga menerima saja setiap kali saya kasari itu, coba anda bayangkan wanita mana tidak melayang ke langit diperlakukan baik dan mulia terhormat begitu? Maka ketika ia melayangkan lamarannya terhadapku, dengan tanpa tedeng aling-aling aku segera menerimanya.

Aku dipinangnya ketika baru berumur 16 tahun dan menaiki pelaminan diusia itu juga. Kami naik menikah tanggal 5 Maret 1956 dalam sebuah prosesi sederhana dan hanya disaksikan kerabat keluarga terdekat. Aku ingat betul, ia hanya di dampingi ayah ibunya disertai beberapa kerabat terdekat. Mengembang terus ia tersenyum selama duduk di pelaminan itu sebagai mungkin tanda ia berbahagia, sedang saya lebih sering tertunduk gelagapan malu-malu. Aku memang sudah lama menaruh segan terhadapnya, bahkan sekalipun aku sudah diambilnya sebagai istri, perasaan segan itu tidak juga hilang-hilang.

Dalam selama tiga belas tahun kami berumah tangga, tidak sekalipun ia berlaku kasar kepada saya bahkan dalam kata-kata sekalipun tidak, maka ketika ia wafat dalam penjara dan saya telah menjadi janda dalam usia 29 tahun, tak lagi berpikir saya akan naik menikah lagi, padahal ada banyak lelaki berpangkat yang datang terang-terangan menyampaikan lamarannya terhadapku, bahkanpun juga adalah seorang Bupati.

Apa yang mau saya cari? Anak-anak sudah kupunya dan seorang suami yang meskipun telah wafat tetapi ia terus hidup di dalam hatiku. Dia terlalu baik, tak ada yang bisa menggantikannya, bahkan oleh juga seorang Bupati sekalipun.

***

SUBUH dini hari, kira-kira pukul 02.30 wita, petaka naas itu menghamparlah terjadi, sepasukan tentara dengan menumpang tiga truk militer mendatangi rumah jabatan Bupati Buton yang kami tinggali. Semuanya mereka menenteng senjata dan tak melepas laras ketika memasuki rumah. Mereka mengetuk pintu dengan keras memakai bokong senjata. Anak-anak tinggal yang tidur di selasar ruang depan rumah jabatan semua terkesiap bangun tapi tak berani membukakan pintu.

Dari luar, suara ketuk bokong senjata yang mengenai daun pintu makin keras ditumbukan disertai suara lantang seperti baung lolong anjing: “Mana Kasim!” teriak mereka dari luar. Karena tak mendapatkan sahutan dari dalam, teriak dan poporan bokong senjata makin keras dihantamkan ke pintu, diulangi berteriak memanggil dengan suara makin meninggi: “Mana Kasim, Keluar!”

Bapak keluar dengan cepat tergopoh tanpa dahulu mengganti kimononya, aku bangkit mengikutinya dari belakang tetapi sebuah isyarat tangannya menyuruh saya agar tidak usah mengikutinya, ia membisiki: “Ibu di kamar saja, jangan keluar, jaga tenangkan anak-anak jika terbangun”. Aku menurut tapi dengan perasaan khawatir memenuhi ruang dada, duduk tak tenang di dalam ruang kamar.   

Bunyi pintu luar berkerait ketika bapak membukanya, dan dari balik tirai jendela kamar aku melihat ke luar dengan setengah mengintip: “Subhanallah, mereka semua memanggul senjata, banyak sekali. Ada apa ini?” Batinku. Aku melihat bapak dirubungi, seperti bohlam yang digerayangi Laron, seseorang dari mereka, mungkin komandannya berbicara dengan kasar dan keras sembari menunjuk-nunjuk ke atas tepat berhadapan Bapak, sedang anggotanya yang lain dengan tanpa melepas sepatu berlumba memasuki ruang tengah rumah jabatan dengan mata yang nanar liar sekali melihat lekat-lekat seisi rumah, mencari apapun barang yang berharga untuk diambil.

Dari balik dinding kamar aku hanya mendengar gerak kaki yang seperti saling berburu mendekat di ruang kamar kami. Tak kuat menahan khawatir yang menggelora aku terpaksa beranikan diri keluar menerobos ketakutan. Tepat di hadapan saya mereka mengambili apa-apa yang berharga. Aku katai mereka: “Rupanya kalian semua maling!” Aku melihat reaksi yang dingin pada muka mereka. Tanpa saya diapa-apain mereka keluar ke ruang depan dengan membawa barang berharga milik kami.

Sejak itu saya tak hanya kehilangan suami, tetapi juga besertanya harta barang berharga turut pula hilang. Sekalungan mutiara dari Lawele yang disiapkan Bapak untuk ole-ole presiden Soeharto yang direncanakan berkunjung ke Buton, raib mereka malingi, di muka mata saya mereka melakukan itu dengan tanpa malu, tampaknya benar-benar mereka telah kehilangan kesungkanan.

Malam itu Bapak dibawa dengan paksa tanpa kami dibolehkan ikut serta mendampingi, tak ada baju yang dibawanya kecuali hanya yang terkenakan di badan nya saja. Dalam ditangkap itu tak pernah ditunjukan surat perintah penangkapannya apalagi penahanannya kecuali hanyalah bentakan dan hentakan laras disertai todong moncong senapan setiap kali kami menanyakannya. Dengan tanpa kesertaan kami mereka meninggalkan rumah jabatan yang kami tinggali dengan membawa Bapak pergi entah ke mana.

Saya tak lagi tidur semalam itu, gundah bercampur lara yang bukan main menyesak, gelisah menunggu datangnya pagi yang terasa lama sekali. Matahari belum naik, aku sudah bergegas mencari tahu di mana Bapak dibawa pergi. Dari sumber terpercaya aku diberitahu bahwa Bapak ditahan di sebuah ruang kantor militer dan akan segera dibawa ke Kendari pagi-pagi itu juga.

Aku bergegas mendatangi kantor militer itu, di sana bersimpuh memohon belas dikasihi agar bisa ikut serta mendampingi suami saya tapi tidak diberi. Hati mereka semua keras kaku serupa batu, mati tak berbelas, kasip tak berkasih. Maka pagi itu bapak dibawa ke Kendari dengan lagi-lagi tanpa kesertaan kami  sebagai istri dan keluarganya.

Bersambung.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB