Ritual Sinkretis Orang Buton

Wednesday, 10 February 2016 0 komentar

Ritual Tuturiangana Andala di Buton. Foto: Yusran Darmawan
KETIKA Johannes Elbert penulis buku Die Sunda Expedition  datang di Buton dalam tahun 1909 untuk melakukan penelitian, ia terperangah kaget mendapati kenyataan di hadapannya bahwa beberapa kelompok Islam tradisional di sana masih melakukan ritual-ritual dan laku tradisi budaya lama yang animis. Mereka tampaknya membaurkan saling mengisi beberapa kepercayaan lama dengan kepercayaan kontemporer (Islam) yang datangnya belakangan.

Sepertinya ada upaya penyesuaian, atau tepatnya “mengawinkan” terutama dalam rapal mantera yang mengambil ayat-ayat suci Al Quran sebagai media pemberkatan dan permohonan diberikan segala-gala kebaikan dan penolakan apapun bala keburukan, bahkan pun juga permohonan keselamatan akhirat yang bersifat eskatologis kepada apa yang dinamai Ompu, Opu atau Kawasana Opu, Tuhan penguasa alam semesta.

Penyesuaian saling mengisi inilah yang disebut sinkretisasi. Dalam nominanya disebut Sinkretisme yang dalam pengertiannya bisa dijelaskan sebagai paham baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham yang berbeda untuk mencari keserasian dan keseimbangan. Maka kemudian membaurlah monoteis islamis yang kukuh dan kebatinan animis yang kuat dalam apa yang dinamai—Sinkretisme itu.

Jauh setelah kedatangan Johannes Elbert di Buton itu, ketika tahun telah memasuki era baru dan berubah ke millennium yang dunia dilumuri pragmatisme dan cara berpikir logis yang menuntut segala-gala dikatakan ada hanya ketika ia dalam cakupan realitas materiil yang nampak dan dapat ditangkap mata serta bisa di jangkau akal berpikir, sinkretisme itu pun masih hidup dan bahkan berurat mengakar dengan kuat.

Di sebuah desa di selatan Muna, desa Lolibu Kecamatan Lakudo, Buton Tengah bahkan hingga kini praktek ritual buah sinkretisme itu masih rutin dilaksanakan. Adalah ritual tolak bala dengan larungan sesajen ke laut. Tahun lalu di bulan Februari saya menyaksikan ritual itu, prosesinya berlangsung sakral, khusyu dan hikmat. Beberapa tradisi budaya ditampilkan sebagai selingan dan penambah riuh kemagisan yang melarutkan diri setiap yang menyaksikannya dalam ritus sakral mistis yang kental.

Dalam ritual adat tahunan itu, beberapa kaum tua dalam pakaian jubah khas Wolio dengan sarung yang menjuntai berkibar ditiup angin dan keris yang dihunuskan telanjang melompat turun berjingrak menari sebagai tari yang dinamai “Mangaru”. Kesemua petari itu seperti telah disurupi gaib sehingga mata mereka jalang, nelangsa melotot liar dan melihat lawan tari dan ujung mata pisau sebagai seakan hanya mainan belaka yang tidak menakutkan.

Mata para penari itu tak surut melorot ciut melihat ujung mata pisau, malah tajam menatap menantang datang mata pisau yang gesit ditusukan menyasar badan mereka. Kulit daging mereka tak bergidik merinding sebagai tanda takut. Mereka semua itu kebal badan tubuh bereka, senjata dari besi itu lantak jatuh ke tanah, atau majal tak mempan ketika menyentuh kulit daging mereka. Ritual Makanu sepertinya telah menjadikan mereka seperti itu, ritual yang dalam prosesinya mengambil sebagian isi kitab suci Al-Quran sebagai mantera rapalnya.

Jauh di pedalaman timur pulau Buton, sebuah gunung yang dinamai Siontapina ritual napaktilas seorang yang ditokohkan di sana rutin setiap tahun dalam bulan September dilaksanakan. Adalah La Karambau, bernama lain Oputa Yi Koo, alias Sultan Himayatuddin Sultan Buton ke-20 dan 23. La Karambau telah menjadi seorang yang paling dihormati, bahkan dikultuskan oleh mereka itu.

Berbagai ritual dipersembahkan sebagai bentuk mengingatnya, bahkan kemudian tampak beberapa orang dalam pakaian berwarna kontras dengan berkacamata hitam akan berbicara sendiri dalam monolog yang aneh padahal menurut beberapa tokoh adat sesungguhnya mereka itu sedang melakukan dialog dengan mahluk yang gaib. Mereka terkenai disurupi roh halus. Begitu keyakinan orang-orang di sana.  

Di Waborobo, sebuah desa bukit di atas Baadia Keraton Buton kota Baubau saya melihat bagaimana seorang tua meramalkan sesuatu dengan hasil sangat tepat presisi, atau ia mengecek penyakit dengan hanya merabai kulit tangan. Juga ia mengobati dengan hanya mengirim doa melalui angin. Dari mantera yang diucapkannya dan komat kamit merapalnya sayup sekelebat kudengar beberapa kata dalam Wolio dan Arab (Al-Quran) juga beberapa kali menyebut junjungan umat Muslim sedunia, Rasulullah Muhammad SAW.

Di daerah Sula a, sebuah desa sekira 5 km di selatan Kota Baubau, ritual tolak balanya lain lagi. Seorang pemuka agama yang disebut Lebe memimpin prosesi yang dinamai ritual Kapalanto. Ritual Kapalanto adalah ritual larung penyakit ke laut memakai media perahu kecil yang dinamai Katibo. Ritual ini diyakini dapat menyembuhkan si sakit dan mengusir pergi semua bala bencana yang merusak.

Sebuah wadah berbentuk kapal kecil yang dinamai Katibo  itu dibuat dari pelepah pohon pinang. Lambung perahu kecil itu dipenuhi dengan isi sesajen sebagai persembahan berupa kue-kue khas Buton seperti Baruasa, Waje, Kalo-Kalo, Cucuru dan lain sejenisnya. Kapal kecil yang dinamai Katibo itu kemudian dilarung lepas ke laut disertai mantera sebagai juga simbol pergi lepasnya penyakit mengikut larungan kapal kecil itu.

Usai itu, Lebe memimpin arakan, berjalan menuju air disucikan yang dinamai Uwe Yi Topa. Sesampai di sana setimba air dinaikan, dan Lebe berkomat kamit memantrai air itu, ketika rapal manteranya mencapai ujung doa, terdengar ia mengucap kata dalam Arab “Amiin”. Air yang telah dimanterainya itu kemudian dipercikkan ke muka anak yang sakit itu, menyusul kemudian seluruh badannya disapuinya dengan air doa itu. Saya tidak tahu setelahnya apakah anak itu benar-benar sembuh dari sakitnya atau tidak. Hanya saja umumnya masyarakat di sana meyakini ritual Kapalanto itu sebagai media melindungkan diri  dan mengusir pergi segala marabahaya.

Saya juga pernah melihat pada sebuah rumah yang anggota keluarganya tiba-tiba seperti tanpa sebab jatuh terkenai tulah penyakit. Seorang Bhisa—Dukun kemudian dipanggilkan datang, dan ia segera memulai prosesi ritual penghalauan bala (penyakit). Ia memerintahkan tuan rumah menyiapkan beberapa bahan sebagai kelengkapan sesajen untuk ritual itu.

Maka kulihatlah di sana berbaris didudukan; nasi kuning yang dilumuri minyak, telur, kain warna-warni, beberapa gulung tembakau. Kesemua itu disimpan sebagai isi persembahan dalam wadah yang dibuat dari anyaman janur kuning. Wadah yang dianyam dari daun muda kelapa itu kemudian disimpan di samping rumah dan dibuatkan atap serupa rumah-rumah kecil yang ditiangi kayu pada keempat sisinya, pada sisi kanannya diikatkan janur sebagai hiasannya. Belakangan tahulah saya, bahwa inilah yang dinamai ritual memberi makan Jin, atau orang orang-orang Buton menamainya Pakande Jini.  

Ada kepercayaan pada sebagian masyarakat di sana bahwa beberapa jenis penyakit tertentu sebab datangnya dari Jin, mahluk lain yang dicipta Tuhan yang digaibkan badan tubuhnya. Bahkan banyak lagi ritual berbaur sinkretisme lainnya yang hingga kini masih dilaksanakan. Sebuah akulturasi dan kekayaan budaya yang memerlukan dilihat  sebagai keagungan pada pencapaian langit peradaban yang luhur, dan dari sana generasi kini memerlukannya untuk belajar dan mengambil hikmah kehidupan

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB