Dongeng Dari Gu: La Kadandio

Thursday, 25 February 2016 0 komentar

Sumber Foto: Brilio.net
TUJUH perempuan turun dari langit kahyangan. Cantik elok semua rupa mereka itu. Rambut mereka panjang, jatuh menjuntai lurus hingga ke mata kaki. Badan kesemuanya semampai langsing, tinggi menjulang kokoh bak tiang gading yang menopangi kuil megah Parthenon di Akropolis Yunani kuno.

Kulit mereka semua langsat, putih seperti susu. Mata mereka biru, bening berkilat teduh. Mereka semua itu adalah peri bidadari, mahkluk penghuni langit kahyangan. Mungkin mereka merasai bosan menikmati keindahan surga langit kahyangan. Maka diam-diam mereka melayanglah turun ke bumi fana.

Adalah sebuah telaga yang memantik dahaga, berair biru dan berkilau tenang telaga itu, sesekali kecibak air tampias oleh kibasan ekor dan sayap angsa yang berenang ke hilir dan hulu. Turunlah mereka perlahan di telaga itu. Kain yang menutupi badan mereka, dan selendang yang dipakai sebagai sayap segera lepas ditanggalkan, dikaitkan menggantung di ranting dahan pohonan. Mereka kemudian mencebur diri yang telah telanjang itu ke  dalam telaga. Mereka girang bukan kepalang mendapati badan tubuh mereka basah terkenai dingin air telaga itu.

Air telaga jernih yang biru itu sesekali dikibas memakai tangan, air kemudian tampias terpercik karena kibasan lentik jemari mereka. Mereka saling bersiram air telaga itu sembari tertawa-tawa kegirangan. Tak henti mereka bersenda gurau di sana, bermain-main dengan air telaga, saling menyiram sesama mereka sendiri. Air dipercik memakai lentik jemari mereka, sesekali mereka menyelam benamkan kepala ke dalam telaga sehingga tampak rambut mereka memenuhi permukaan telaga.

Dalam kegirangan tertawa-tawa selama mandi di telaga itu, tidak mereka sadari seseorang tengah berjalan lindap dengan awas, mengendap diantara semak, diam-diam merayap mengintai mereka. Ia berjalan lindap seperti langkah endap harimau yang mengintai mangsa, sesekali tangannya menyingkirkan dedaunan yang menghalangi pandanganya dari melihat mahluk indah yang seumur-umur baru sekali itu dilihatnya.
***
Matahari turun mendekati terbenamnya, ujung tepi laut di barat telah menganga bersiap menelannya, di langit ufuk barat bersemburat kesumba. Sebentar lagi gelap yang menggandeng gulita akan datang, merengkuh alam raya dalam peluk sayap dekapannya. Para bidadari itu berlumba naik ke pinggir telaga, hendak mengambil kain dan selendangnya masing-masing. Mereka sudah harus kembali ke kahyangan sebelum matahari membenam diri, hilang dari alam raya.

Ketika yang lain telah mendapatkan kain selendangnya, seorang dari mereka malah nelangsa kebingungan, matanya liar, awas memeriksa ke setiap tempat, tak ia temukan kain nya. Ia lalu terkulai, duduk terisak dalam tangis, bulir matanya mengalir turun berkilat-kilat menyeberangi pipinya seperti buliran biji mutiara. Ia menangis karena tak menemukan kain selendangnya. Sepertinya seseorang telah mengambil dan menyembunyikan kain selendangnya itu. Karena gelap mulai datang, Ia lalu ditinggal pergi oleh para bidadari kawanannya yang naik ke langit, pulang kembali ke kahyangan, rumah tempat mereka berdiam tinggal.

***

SESEORANG yang sedari tadi berjalan merayap sembunyi-sembunyi, kini datang memunculkan muka. Segera Si Bidadari terhenyak melompat menghindar karena kaget. Malunya ia bukan main karena seluruh rahasianya tampak terlihat. Ia telanjang di hadapan seseorang yang asing baginya. Selembar daun pohon jati yang teronggok di tanah cepat ia gamit, dipakai itu menutupi dada dan rahasia kemaluannya.

Berkata  dalam tunduk dengan menghardik, sembari mata melotot siaga mengawasi: “Siapa kau? Menjauhlah dari hadapku!”. Si lelaki asing itu tak menurut, malah ia selangkah merangsek maju. Berkata: “Jangan takut, saya adalah Omputo raja penguasa negeri ini” Jawab seseorang itu dalam terbata-bata karena tak kuat menahan darah yang menggelora tersetrum pesona cantik dan indah lekuk tubuh si Bidadari.

“Jangan takut”. Ia mengulang meyakinkan, sekali ini agak tenang. Melanjutkan: “Ini mulai gelap, sebentar lagi gulita datang. Ikutlah denganku, kau boleh tinggal dan berlaku sesukamu di rumah ku seperti di rumah mu sendiri. Segala-gala bisa kau ambil, segala-gala bisa kau buat, tanpa perlu sungkan malu-malu”. Pinta Omputo dengan memohon sopan.

“Tidak! Saya tidak mengenalimu, kaupun tidak mengenal saya, kita tidak saling mengenali, bagaimana kemudian saling ber ikut disetujuan? Bagaimana saya bisa mempercayai seseorang yang baru sekali ini saya lihat temui? Bagaimana saya bisa ikut seorang asing yang samasekali tidak saya kenali?” Si Bidadari berontak, ia meronta dengan melontar banyak tanya.

***

MALAM turun dari langit, membawa gelap pada datangnya, angin berhembus kuat, turun dari gunung dengan dinginnya. Pohonan di kejauhan tak lagi terlihat, dibaluti oleh gulita, hanya siuh bunyi desahnya terdengar berdesis ditiup angin. Suara jangkrik dan hewan malam saling sahut bersiutan balas membalas, ditimpali suara anjing yang membaung tak henti di kejauhan.

Si Bidadari tampak tak punya pilihan lain selain memang harus mengikuti Omputo. Tak mungkin ia tinggal di hutan belantara yang dihuni hewan-hewan buas ini sendirian, apalagi ini alam yang asing baginya, alam yang baru sekali ini datang dikunjunginya. Maka sebelum malam mencapai larut dan baung anjing makin dekat dengannya, mengiyalah ia untuk turut ikut serta. Pulanglah kemudian mereka beriringan, Omputo  di depan memandukan jalan, dan si Bidadari berjalan memangku tangan mengikut di belakangnya.

Hari berganti bulan, bulan mencapailah tahun. Dalam setahun mereka telah hidup bersama-sama. Benih cinta kemudian tumbuh membiak di hati keduanya. Maka setelah mengikat tekad dan menyepakati janji naik menikahlah mereka berdua itu. Kenduri diadakan sebulan penuh lamanya sebagai syukur atas pernikahan itu. Orang-orang ramai berdatangan menghadiri kenduri itu, pesta rakyat gempita dimulailah, gong dan gendang dipukul bertalu sepanjang malam tak henti-henti.

Mulut warga ternganga semua karena kagum melihat kecantikan si Bidadari yang tiada bertara. Mata mereka melongo dalam lotot, terbelalak enggan berkedip menatapi wajah yang keanggunannya mengalahkan rembulan itu. Serta merta semua kemudian menaruh hormat pada mahkluk yang sebenarnya adalah peri bidadari penghuni langit kahyangan itu.

Setelah bercampur darah, Si Bidadari kemudian buntinglah. Ia hamil, mengandung darah daging Omputo pada rahimnya. Bukan main girang berbahagianya keduanya. Mereka akan mendapatkan anak turunan. Mereka berkasih saling menyayangi, rukun harmonis saja selalu. Hari-hari dilalui penuh tawa, diisi canda dan gurau, penuh kebahagiaan bersukacita. Tak pernah bidadari merasai sebahagia dan sesukacita begini. Di kahyangan, kelamin mereka semua sama sejenis saja, tak ada lelaki di sana, tak ada Bidadara. Tak ada cinta bersilang dari atau ke lain jenis sebagaimana di bumi fana ini

Setelah bulannya sampai, anak dari buah berkasih mereka lahirlah ke bumi fana, berkelamin lelaki anak mereka itu, dinamailah ia Lakadandio. Disayangi betul anaknya itu, tak pernah ia lepas dari dekap pangkunya. Makan dipangkunya. Bahkan tidurpun juga dipangkunya. Ia sapih terus anaknya sebagai besarnya kasih sayangnya pada buah hatinya itu, sampai anak itu kemudian diusia lima tahun, datang menghamparlah petaka dan sesuatu yang buruk bakal mulai terjadi.

Janji dimula-mula kemudian terkhianati di tengah jalan. Omputo melanggar sumpah janji yang diucapkannya sendiri di awal mula pertemuan. Itulah yang menjadi sebab Si Bidadari hilang tuah kesaktiannya. Segala-gala sakti kelebihannya sebagai peri bidadari yang melekat padanya terlepas lantak dan hilang seperti buih  diambil gelumbang lautan.

Ketika Omputo lalai dari mematuhi janjinya, tuah kesaktian peri bidadari seketika hilang lenyap. Karena khianat dari suaminya ia kini tak berbeda manusia biasa, tak lagi ada sakti yang melebihkannya dari manusia-manusia penghuni bumi fana. Sejak khianat itu, ia mulai bekerja sebagaimana manusia umumnya: menumpah keringat dan membanting tulang, sesuatu yang tidak pernah sebelumnya dilakukannya.

Karena khianat suaminya itu, ia marahnya luarbiasa. Ia meronta dan lalu bangkit berontak. Dicarinya kain selendang yang disembunyikan suaminya. Ia girang bukan kepalang ketika mendapatkannya tergantung di ambin dekat ‘bale-bale’ tempat suaminya biasa mengaso menyandarkan badan. Di tengah kegirangannya yang meluap itu, perasaan sedih tiba-tiba datang memenuhi dadanya. Sesak pada nafasnya karena sedih yang besar. Ia akan berpisah dan meninggalkan anak sematawayang yang dikasihinya, anak yang tumbuh besar digendong pangkuannya. Air dari matanya kemudian jatuh bergulungan menyeberangi pipi beningnya. Dadanya tersedak oleh tangis haru yang bergelora menggemuruh. 

Si Bidadari kemudian bangkit. Ia melayang terbang hendak pulang ke alamnya, di langit kahyangan. Ia kibaskan selendangnya dan sekali kibas melayang naiklah ia perlahan. Anak nya terus memanggilnya dalam rengek dan lambai tangan dalam tangis yang menyayat hati. Si Bidadari pun tak kuat hati. Ia menangis sesenggukkan.

Selendang dan kainnya telah ia dapat temukan, tak bisa lagi ia tinggal menetap di bumi, ia harus pulang kembali ke langit kahyangan, ke alam tempat muasalnya datang. Maka karena rasa pilu berpisah, menaiklah tangisnya yang sesenggukan jadi raungan, air matanya berlinang deras, jatuh ditiup angin menjadi rinai hujan. Bumi basah oleh airmatanya yang turun melebat sebagai hujan.

Di bawah kelam langit dan rintik hujan yang turun merinai itu, anak dan suaminya meratap sedih menatapi kepergiannya. Hati mereka sobek diiris kesedihan sembilu dan rasa pilu yang teramat dalam. Mereka meratap dalam tatap mengiba penuh sesal. Tak pernah dibayangkannya perpisahan serupa ini bakal terjadi. Ia menyesali telah tak patuh pada janji. Ia mengutuki dirinya sendiri yang telah melakukan khianat. Tapi semuanya telah terjadi. Tak ada bisa dilakukan selain hanya kuat menerimanya.

Si Bidadari menari di udara menghibur anaknya yang terus menangis. Dalam tari itu, dia mendendangkan nasihat, mengirimi petuah untuk anaknya melalui lagu agar ia tabah dan kelak nanti menjadi lelaki dewasa yang gagah perkasa. Tak lama kemudian pelangi muncul menggaris langit dengan warnanya yang indah. Memakai pelangi itu ia menaiki langit, pulang kembali ke negeri asalnya—Kahyangan.

Lakadandio merasai sepi semenjak ibunya pergi. Segala-gala upaya dilakukan ayahnya untuk menghiburnya tetapi tak mampu melepaskan kesedihan dari hatinya. Ia mendamba belai kasih ibunya. Sehalus lembutnya tangan dan perlakuan ayahnya tak mampu menyamai perlakuan dan lembut kasih belai dari tangan ibunya. Ia masih lima tahun usia umurnya, saat dimana kasih ibu dibutuh didambakan. Maka rindunya membuncah memenuhi seluruh hatinya. Ia tampak selalu termenung, duduk seorang diri di tempat ketika ibunya dahulu pergi meninggalkannya, pulang kembali ke langit kahyangan.

Suatu hari, matahari telah di tengah langit, hawa bukan main panas sekali.  terik seperti menusuki kulit. Ia tak peduli dan seakan tak merasai panas itu. Ia duduk memandangi langit. Sepertinya rindu pada ibunya membakar lebih panas daripada panas terik matahari yang telah tepat di ubun-ubunnya itu. Di sana, di bawah pohon tempat ibunya melayang terbang naik ke langit kahyangan, ia tiba-tiba meliukkan badannya, berlenggok mengayunkan badan dalam gerak gemulai indah sekali.

Ia mengingat gerak itu sebagai gerak ibunya ketika dahulu pergi meninggalkannya pulang kembali ke langit kahyangan, saat kali terakhir dilihatnya. Orang-orang yang melihatnya segera datang berkerumun merubunginya, seperti Laron yang menyerbu pijar lampu. Seketika mereka telah diserang rasa kagum, tak pernah mereka melihat gerak lenggok seindah itu, tak pernah mereka melihat gerak badan yang segemulai alot begitu. Gerak indah inilah yang kemudian disebut sebagai Linda, tari Linda.

Lakadandio terus menari, menirukan gerak tari ibunya ketika naik melayang terbang, pulang ke langit kahyangan. Ia dimabuk rindu pada ibunya, rindu yang membuncah meluap-luap memenuhi dadanya. Ia tak peduli pada tatapan orang-orang dan terus saja larut dalam menari itu, rindunya yang besar menjadikan ia lupa bahwa orang-orang sedang memerhatikannya dengan terpesona.

Ia tenggelam larut dalam tarinya, tenggelam dalam fantasi yang melenakannya. Dalam menari itu ia bersenandung lirih, bernyanyi-nyanyi mengikut gerak lihai tarinya. Lagunya sungguh menyayat hati, dan banyak kini dijadikan sebagai mantera pengasihan. Begini isi lagunya itu:
Yo Lakadandio
Dandio Lakadandio
Ladadimaka
Rimana Lakadandio
Kamboi Ngkuku
Neruru Rondano Uwe
Silono Mata
Nefopati Losua


_________
*Catatan: Dongeng ini diceritakan di Gu oleh dua informan saya: Wa Anandae (Wa Ina Dhoodhoone) dan Wa Ina La Gena. Sebagai terima kasih sebagian honor yang saya dapatkan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional dalam Proyek Gerakan Literasi Bangsa yang menerima dongeng (cerita rakyat) ini untuk ditulis dan  dibukukan akan saya berikan ke mereka berdua.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB