Pakandena Ana Ana Maelu, Refleksi Duka di Karbala yang Sampai di Buton

Saturday, 22 September 2018 0 komentar
Foto: Bardin

SETIAP Asyura, hari kesepuluh dalam bulan Muharram di Buton, khususnya dalam komunitas orang-orang Wolio, nyanyi lagu Maludhu dilantunkan sepenuh penghayatan sampai begitu syahdu dalam ritual memberi makan anak-anak yatim atau Pakandena Ana-Ana Maelu. Menurut tradisi lisan, ritual Pakandena Ana-Ana Maelu adalah sebenarnya refleksi dari nestapa di Karbala ketika Hussain putera Ali dibunuh dengan dibantai yang menyebabkan keyatiman Ali Zainal Abidin.

***

"Saya belajar dari Hussain bagaimana meraih kemenangan saat ditindas"_Mohandas Karamchad Gandhi-Mahatma Gandhi

***

MUHARRAM datang, di hari kesepuluh, nestapa menghampar dengan angkuhnya. Bagi kaum bersekte Syiah, inilah bulan paling memilukan dari seluruh bulan. Bulan yang perih dan lukanya masih terasa hingga kini. Perihnya itu pedis, melebihi perih luka yang terpercik air garam, melebihi pedih luka sayatan dari belati seusai ia diolesi tirisan air jeruk. Perihnya melebihi segala-gala perih karena di bulan inilah, di hari ke sepuluh, manusia suci cucu terkasih Rasulullah terbunuh syahid di Karbala.

Lima puluh tahun berlalu sejak manusia suci nan mulia Rasulullah Muhammad Saw dibaringkan jasadnya di samping Masjid Nabawi Madinah, Islam, agama ajarannya telah menguasai dan diimani umat manusia yang terbentang meliputi hampir setengah wilayah bumi. 

Pasukan-pasukan militan kavaleri Islam telah menjejak langkah jauh sekali, kuda-kuda mereka terus menderap tanpa lelah hingga mencapai tanah-tanah terjauh di belahan barat dan timur bumi

Mereka menaklukkan Persia, sebelum kemudian menyusul Romawi jatuh ditumbangkan. Dua imperium raksasa dan paling kuat dimasa itu. Maka bergemalah azan di sana, mengumandanglah panggilan nan suci itu dari langit udara Alexandria di Mesir sampai ke dusun-dusun kecil terpencil di Azerbaijan, wilayah di timur Asia.

Berkat perjuangan Rasulullah Muhammad Saw, bangsa Arab yang sebelumnya tersisih sembunyi dalam padang-padang tandus Sahara yang panas, tersuruk dimarginalkan oleh kuatnya peradaban dan kemajuan bangsa-bangsa Romawi dan Persia, kini bangkit dari gulita itu, dan kemudian justru bergeliat menjadi penentu sejarah umat manusia selanjutnya diseluruh bumi.

Atas pencapaian yang gemilang itu, banyak pemimpin umat yang kemudian lupa diri, pencapaian dengan mudah dan cepat segala kemegahan duniawi itu melenakan mereka. Perselisihan kerap mulai terjadi, saling ribut berebut pengaruh dan kekuasaan. Istana-istana megah dibangun, dan dalam gemerlap istana megah penguasa itu cahaya Islam telah mulai meredup padam.

Di mimbar-mimbar masjid mulut-mulut para pencela yang berkedok khatib, menghina-hina dan melaknat Imam Ali, ia dituduh sebagai telah berkhianat dan bahkan murtad. 

Imam Ali yang dengan gagah berani maju meruntuhkan benteng Khaibar yang kokoh, yang memenangkan perang Badar kini malah didapati anak dan pengikutnya di caci maki, dinista dihinakan

Imam Ali yang mulia dan istimewa, suami dari Fatimah Azzahra putri terkasih kesayangan Rasulullah Saw, ayah dari dua cucu terkasih Rasulullah Saw, Hassan dan Hussein. 

Imam Ali yang tidur di ranjang nabi ketika nabi dalam bahaya hendak dibunuh Quraisy, Imam Ali yang mengantarkan keluarga nabi berhijrah dengan berjalan kaki sampai ratusan kilometer jauhnya hingga melepuh kedua telapak kakinya. Kini manusia mulia itu malah dihina dimusuhi oleh kaumnya sendiri: mereka yang mengaku muslimin

Imam Hassan tak tega mendengar ayahnya terus dihina-hina dan dilecehkan begitu. Ia menghamparkan jalan damai bagi Muawiyah asalkan saja hinaan dan pelecehan pada ayahnya itu dihentikan segera. 

Uluran berdamai itu awalnya diterima lapang oleh Muawiyah, tetapi kemudian diakhirnya mereka ingkar melanggar janji, Imam Hassan dikhianati, ia dibunuh secara keji dengan diracun.

Dalam sebuah perjalanan, lelaki suci cucu Rasulullah Saw penghulu surga ini diserang dengan kejamnya di atas kendaraannya. Seorang paling dekat dengannya ditugasi Muawiyah meracuninya, seketika syahidlah ia saat bisa racun itu merayap di badannya dan menyetop dengan cepat jalan darah ke jantungnya. 

Bahkan juga pengikut-pengikutnya kemudian dizalimi luar biasa, dikejar-kejar dan dianiaya tanpa berperasaan kasihan, beberapa diantara mereka bahkan dikubur hidup-hidup.

Di Kufah, kezaliman merajalela dengan masifnya, penguasa memakai agama sebagai hanya topeng belaka. Banyak dari ayat-ayat kitab suci diselewengkan, ditafsir sempit semau enak kepentingan mereka saja. Kota itu dipimpin seorang bernama Ibnu Ziyad, Gubernur kepercayaan Yazid bin Muawiyah.

Ribuan surat keluhan kemudian dilayangkan ke Imam Hussain, orang-orang berharap bimbingan ruhani dari cucu terkasih Rasulullah itu dan sebagai balasnya mereka menjanjikan baiat dan kesetiaan atasnya. 

Seusai menunaikan ibadah haji, rombongan kecil Imam Hussain bergerak menuju Kufah untuk memenuhi permintaan rakyat Kufah itu. Rombongan kecil imam Hussain itu adalah seluruhnya kerabat dan pengikut setianya.

Belakangan ternyata Imam Hussain dikhianati pula, ia ditelikung di ujung jalan. tak seorangpun di Kufah yang berdiri membelanya saat keadaan dalam darurat, bahkan orang-orang Kufah justru memunggunginya, membuang muka dan berdiri bersama pasukan Yazid Bin Muawiyah, ikut berperan dalam perang tak berimbang itu, membunuh Imam Hussain.

Darah suci beliau menetes tumpah di Karbala, sebuah padang nan luas sekira 70 kilometer jauhnya sebelum sampai di Kufah. Badannya seperti berbaju bulu babi karena dipenuhi tancapan anak panah yang ribuan telah dihujankan kepadanya. 

Tak puas sampai dipanahi, dadanyapun bolong oleh tombak yang dihujamkan dengan tandas, beliau tersungkur jatuh mencium tanah dengan bersimbah darah sebelum kemudian kepalanya dipenggal lalu diseret sampai sejauh 1.300 kilometer untuk dibawakan ke muka hadapan Yazid Bin Muawiyah.

Sampailah beliau mencapai syahidnya, menggapai kemuliaan dan derajat paling tinggi surga akhirat di hari kesepuluh dalam bulan Muharram, hari Asyura kemudian dinamai hari itu, hari yang juga dimuliakan oleh kaum Yahudi sebagai hari kemenangan Musa atas Firaun. 

Maka sebagaimana telah dilihat kakeknya saat lahirnya, saat ditimang dipangkuannya beliau menangis tersedu, ketika pembatunya menanyai beliau mengapakah Rasulullah menangis, dengan terisak manusia suci itu berkata: “Wahai Fulanah, tadi Jibril datang kepadaku, dia mengatakan bahwa putraku ini, yang baru lahir sekarang ini nanti akan dibunuh oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutku”.

Beliau menangis, meratapi nasib cucu terkasihnya itu, beliau sebutkan bahwa cucunya itu akan dibunuh di padang Karbala. Rasululullah Saw sudah meratapi, memperingati apa yang akan dialami oleh cucunya itu, lalu nabi bertanya kepada Ali: “Wahai Ali apakah kau telah menamainya?” Ali menjawab: “Aku tidak mendahuluimu dalam memberinya nama. Nabi menjawab: “Namailah ia Hussain”.
***

Saya mengenang Imam Hussain, cucu terkasih Rasulullah Saw yang syahid terbunuh di Karbala. Saya mengenang keteguhannya dalam menggenggam kebenaran, menjaga marwah kesucian ajaran kakek dan ayahnya. 

Ia tak gentar sekalipun maut datang dengan ganasnya melalui derap puluhan ribu kaki kuda pasukan Yazid Bin Muawiyah yang kemudian memakan dan menelan tak hanya dirinya tetapi juga nyaris seluruh keluarga dan pengikutnya.

Saya mengenang Imam Hussain, putra terkasih Imam Ali yang syahid membela kebenaran keyakinannya di Karbala, membela kehormatan dan kemuliaan kakek dan ayahandanya. Ia yang wajahnya paling mirip wajah suci Rasulullah itu harus menerima kenyataan__wafat sebagai martir dari ganas serakahnya manusia-manusia yang gila kedudukan dan haus harta kuasa duniawi.

Saya mengenang mu wahai putera dari suami puteri terkasih Rasulullah Saw Fatimah Azzahra. Saya mengenang besarnya pengorbanan mu dan kemuliaan perangai sifatmu. Saya mengenang keteguhan hatimu disaat yang lain lemah berjalan dalam terseok lalu tersuruk jatuh dalam kubang keraguan dangkal akidah teologia 

Saya mengenangmu wahai manusia suci yang mengambil wajah Rasulullah Saw. Saya mengenang kekuatan dan semangatmu yang membaja, juga keberanian yang terus berkobar tanpa padam bahkan sekalipun musuh dalam ribuan dan kau hanya dalam puluhan saja jumlahnya. 

Tak surut engkau menarik langkah mundur sebagai tanda takut menghadapi semua mereka itu. Kau telah mengajarkan bagaimana keberanian harus terus dijaga selama dalam kebenaran berpegang.

Oh Hussain, Oh mata hati kasih Rasulullah Saw, sungguh kau telah berkorban melebihi pengorbanan orang-orang suci sebelum dan setelahmu. Kau terbunuh, kalah di muka mata hadapan manusia, tetapi menang mulia dan terhormat di muka mata hadapan Tuhan maha kuasa.
                                         ***
Surah Al Maun mengalun syahdu dalam langgam ngaji Wolio yang lembut, surah dari kitab suci AlQuran itu memberi pesan dan peringatan bagi yang melalaikan salat, anak yatim dan fakir miskin

Maka ketika Puuna Gau menyambut datang para anak yatim itu, ia berlaku dengan sangat ramah, senyum terbaiknya ia terus lepas kembangkan sebagai gambaran keriangan dan kesenangannya atas kedatangan para anak yatim itu.

Biasanya seluruhnya anak yatim itu berjumlah empat puluh orang, Mereka dimandikan dan lalu diberi pakaian terbaik oleh Puuna Gau. Pakaian yang dikenakan dari rumah disimpan dalam tas yang memang telah mereka persiapkan.

Satu-satu para anak yatim disuapi, sembari sesekali rambut kepalanya dielus sebagai  sepenuhnya mengasihi. Setiap suapan adalah juga setiap elusan dari seorang Puuna Gau, atau semacam tuan rumah penyelenggara hajat itu.

Tradisi ini dinamai Pakandena Ana-Ana Maelu, atau memberi makan anak-anak yatim, adalah pengungkapan duka paling dalam atas keyatiman imam Ali Zainal Abidin, putra imam Hussain yang terbunuh dengan dibantai di Karbala.

Dalam tradisi tasawuf dan bahkan mistis religi di Buton, imam Ali Zainal Abidin putra Hussain memang menempati maqam tertinggi dari lainnya, bahkan terhadap kakeknya sekalipun: Imam Ali bin Abu Thalib.

Ia dipuja sebagai alim yang maksum, suci, dan berkaromah. Ia disanjung setingginya sebab dari sulbinyalah, para manusia suci ahlul bait turunan Rasulullah tumbuh dan menyebar ke seluruh bumi, membagi rahmat dan menyalakan cahaya Islam.

Maka ketika duka menghampar di Karbala, tanah dimana darah suci imam Hussain ditumpahkan, luka dan perihnya terasa sampai di Buton, Orang-orang berduka tidak hanya pada kematian imam Hussain ditangan yang mengaku sekeyakinan dalam iman dengannya tetapi sekaligus pada keyatiman imam Ali Zainal Abidin.

Tradisi Pakandena Ana Ana Maelu di Buton ,khususnya bagi orang Wolio adalah sebenarnya refleksi dari duka yang menimpa ahlulbait, seluruh prosesi dalam tradisi itu adalah penggambaran dan semacam napaktilas mengenang nestapa paling memiriskan itu.

Lagu Maludhu yang dinyanyikan semalaman jelang puncak tradisi Pakandena Ana Ana Maelu sepenuhnya berisi pujian terhadap kesucian dan kemuliaan nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB