Kudeta Paling Mula Di Kerajaan Buton

Monday, 18 May 2015 1 komentar


KEBENARAN tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas; pada mulanya ia terjadi tanpa alasan tapi kemudian menjadi masuk akal. Kita harus memastikan bahwa kebenaran itu dianggap sah dan abadi; adapun asal muasalnya sendiri harus disembunyikan, jika kita tidak ingin kebenaran itu cepat berakhir—Blaise Pascal, Pensees (1670) dalam John Roosa, 2008: 29.

* * *

1. Prolog
KONTESTASI perebutan kuasa di Buton dalam selamanya negeri itu menjadi negara baik ketika sebagai kerajaan hingga menjadi kesultanan adalah kontestasi antara sesama penguasa yang ternyata seklan dan jika dirunut memakai genealogi bahasa adalah sebahasa sebagai berbahasa Pancana. Sebagaimana lazimnya dahulu Raja ketiga Buton Bataraguru—Banca Patola menikah tidak dengan hanya seorang wanita yang lalu itu menjadi permaisuri tetapi juga dengan beberapa selir ia pergundik. Dan rupanya pangkal musabab dari seluruh masalah itu dari sinilah mula berasalnya.

Dari rahim permaisurinya yang adalah puteri raja Tobe-Tobe Dungku Cangia bernama Waeloncugi Bataraguru menurunkan tiga anak lelaki: Tua Rade (raja ketiga Buton), Tua Marudju, dan Raja Manguntu, sedangkan pada selir gundiknya yang adalah puteri Kalaotoa di kepulauan selatan Sulawesi ia menurunkan juga lelaki bernama Kiyjula. Kiyjula kemudian menikahi Wa Randea puteri dari Raja Tiworo Mobetena Yi Paria dengan Wa Sitao Puteri Raja Konawe yang kemudian melahirkan Wa Tubapala ibunda La Kilaponto/Murhum.

Kontestasi saling rebut kuasa di kerajaan sampai kesultanan Buton kemudian memperhadapkan anak cucu Raja Manguntu yang muasal garis turunannya dari permaisuri Bataraguru dengan para cucu Kiyjula yang adalah bergaris turunan dari wanita selir gundik Bataraguru. Seteru itu berjalan alot dan telah mengambil jatuh banyak korban sebagai tumbalnya.

Karena Tua Rade (raja keempat Buton) tidak berketurunan, maka ia menunjuk Mulae anak Tua Marudju saudara bungsunya  untuk naik menggantikannya sebagai raja Buton kelima. Sesuatu yang itu menimbulkan kekecewaan pada saudaranya yang lain: Raja Manguntu. Raja Manguntu merasa seharusnya anaknyalah yang paling berhak dan pantas naik menjadi raja kelima di Buton: La Kasituri.

Karena sebab itulah dalam diam-diam kemudian mereka saling  berseteru. Inilah juga yang menjadi pangkal mengapa raja Mulae lebih memilih mempersiapkan La Kilaponto kemanakannya dari pihak selir gundik kakeknya untuk menggantikannya daripada La Maindo yang adalah kemanakan langsung dan sedarahnya yang turun dari kakaknya bernama La Kasituri.

Tapi La Maindo (raja tua Batauga) bukan sembarang orang, ia adalah seorang yang cerdas. Karena jika dengan jalan biasa ia tak bisa mengambil kuasa, maka ia menyerong, mengambil jalan yang tidak biasa. Ia mengirim seluruh putera-puteranya untuk menikahi seluruh puteri-puteri La Kilaponto/Murhum dari ibu mereka yang bernama Wa Sameka.

Puteranya yang bernama La Siridatu menikahi puteri Murhum bernama Paramasuni dan dari sanalah lahir si pembaharu La Elangi (bakal kaomu Tanailandu—Sultan Buton keempat). Puteranya yang lain bernama La Kabhaura menikahi puteri Murhum saudara sekandungan Paramasuni bernama Wa Bunganila dan melahirkan dua anak lelaki yang kemudian menjadi bakal kaomu Tapi-Tapi dan Kumbewaha: La Singga—kelak menjadi Sapati dan La Bula—menjadi Kenepulu.

Dan ketika semua dirasanya telah mapan dan siap, sepenuhnya kuasa diambil dan segala-gala dalam kontrol kendali klan turunan langsung mereka. Melalui tangan La Elangi putra La Siridatu bin La Maindo dengan Paramasuni bin La Kilaponto kuasa Buton dialih dalam genggam tangan klan mereka dan lalu terus dimonopoli dalam hegemoni hingga tumbang berakhirnya kesultanan Buton dalam tahun 1960.

Undang-Undang kemudian dibuat dengan menyertakan tamsil pengiasan kepada agama sebagai pengesah kuat legalitasnya, maka langgenglah terus-terus itu kuasa Buton dalam monopoli genggam tangan anak cucu turunan langsung La Maindo. Lalu setelahnya kudeta dan saling seteru berhentikah? Tidak, justru makin tajam meruncing, sengkarutnya makin runyam, medan dan wajah kontestasi berganti rupa dan bergeser ke seteru di antara sesama mereka sendiri dalam apa yang oleh mereka sendiri menamainya sebagai Kamboru-Mboru Talu Palena.

* * *

2. Samarnya Kudeta Sumir Paling Mula itu
SANGAT sulit untuk tidak menyebut gerakan La Kilaponto/Murhum/Sultan Muhammad Yisa Qaimuddin dalam proses naiknya ia menjadi raja keenam dan sekaligus sultan kesatu di Buton sebagai bukan kudeta. Hal yang paling masuk akal untuk alasan itu adalah bahwa dia bukanlah putera mahkota, seorang terbuang dari klan keluarganya dan bahkan adalah pesakitan. Tetapi arus balik membalik dengan cepat, mengubah segala-gala nasib sial keburukan yang menimpanya itu bertukarganti dengan cepat menjadi kebaikan yang membahagiakan.

Dari pengasingannya di Selayar ia bergegas pergi ke Buton untuk misi mengabdi menumpas bajak kiriman Tobelo: La Bolontio. Misinya itu tandas mencapai sukses, ia dengan hanya segenggam buliran pasir tanah laut Boneatiro di ujung tanjung Kapoluka berhasil membunuh La Bolontio bajak rompak ganas perkasa yang wilayah kuasanya berderet memanjang dari Moro di Utara Sulawesi hingga Bungku dan Kepulauan Talaud.

Itulah yang melenggangkannya dengan gagah menaiki tangga kuasa tanpa satu faksi bangsawanpun berani menentangnya secara terbuka. Ia kemudian memegang kuasa dalam empat puluh enam tahun lamanya, dua puluh dua tahun sebagai raja, dan dua puluh empat tahun sebagai sultan. Setelahnya turunan langsungnya bergiliran menggantikannya dengan sistem pewarisan tahta tidak dengan melalui pemilihan. Puteranya dari pernikahannya dengan puteri Jampea bernama La Tumparasi Sangia Boleko sebagai sultan Buton kedua dan lalu diteruskan oleh puteranya dari istri lainnya yang adalah puteri Opu Manjawari raja Selayar  bernama La Sangaji Sangia Makengkuna sebagai sultan Buton ketiga.

Begitu rapi tersembunyinya gerakan coup yang merangkak itu sehingga bahkan sampai kini kita masih mengiranya sebagai seakan-akan berproses lazim sewajarnya yang biasa saja. Bahkan yang paling unik adalah raja yang hendak dikudeta seperti ikut juga bermain-main dalam konspirasi itu: ia justru berdiri sepihak dengan kelompok yang mengkudetanya. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan raja kelima Buton Mulae yang oleh rakyatnya digelari Sangia Yi Gola itu?

* * *

INFORMASI mengenai kontestasi rebut kuasa di kerajaan/kesultanan Buton adalah serupa timbunan ketidakjelasan yang menumpuk rapi dan lalu nyaris kemudian teronggok abai dilupakan. Hampir seluruh buku yang telah di tulis dan terbit mengenai sejarah Buton tidak dengan gamblang menjelaskan mengenai tema paling sumir yang samar ini.

Padahal jika saja berani objektif ditulis dan seluruh fakta historis itu dihampar dengan tanpa pretensi maka kita tidak akan tergagap-gagap kesulitan menemukan benang merah yang menjadi penyebab sengkarut berlarut relasi pelik disharmonis yang selama ini menjadi sekat yang mengarali Buton—Muna, Buton—Ternate, dan bahkan Buton—Gowa. 

Apa yang menjadi sebab hubungan Muna—Buton tampak muram dan diam-diam sebenarnya berjalan kisut dalam selalu bersaingan dengan tidak sehat? Dari mana dan sejak kapan bermula sebenarnya relasi aneh yang disharmonis ini? Apa-apa yang menjadi penyebabnya dan siapa para dalang di balik semuanya yang bekerja dalam gerak diam yang senyap dan sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana agama bisa ikutserta diseret menggandeng di dalamnya dipakai sebagai penguat legitimasi?

* * *

3. Pertautan Agama dan Kuasa
KIRA-KIRA dalam tahun 1526 (lihat La Niampe) Syech Abdul Wahid kali pertama datang mengunjungi Buton. Ia tiba di Burangasi, daerah pantai di selatan pulau Buton. Karena berpenampilan aneh dengan bersorban dan jubbah juga dengan praktek ibadah yang tidak lazim sebagaimana cara ibadah biasanya bagi warga lokal, maka dengan cepat berita kedatangannya itu  menyebar dan menjadi pembicaraan banyak orang. Kerajaan pun turun tangan, dan karena animisme masih cukup kuat waktu itu ulama dari Pattani (sebagian mengatakan dari Johor) itupun ditolak tinggal berlama-lama di Buton.

Maka segera ia menaikan pasak tiang agung, mengerekbentangkan layar kapalnya dan meneruskan berlayar ke Adonara, daerah di timur pulau Flores  kepulauan Nusa Tenggara. Hanya sebentar ia singgah di situ sebelum kemudian meneruskan pelayarannya dan menetap tinggal di Ternate. Ternate adalah kesultanan besar Islam yang paling mula di timur nusantara dalam masa itu. Maka bagaimana kita tidak berpikir bahwa dalam masa tinggalnya di istana Baabullah itu sebenarnya adalah bekerja sedang menyusun strategi pengislaman atas Buton?

Lalu bagaimana Muna bisa terseret ikut serta? Itu adalah hal niscaya yang lazim. Jauh sebelum Buton membharatakan Muna, Ternate telah lebih dahulu mengambil Muna sebagai wilayah bawahannya, pengaruhnya bahkan sangat kuat di sana. Dalam urusan klaim kuasa kepada Muna, Ternate berkejaran dengan Gowa dan saling melempar klaim sebagai yang paling punya otoritas atas Muna. Fakta bahwa Gowa pernah melakukan operasi dengan memungut pajak kepada Muna tanpa penolakan dan keberatan dari pihak Buton menguatkan klaim otoritas Gowa atas Muna itu (lihat Andaya, 1999: 88)


* * *

3. Bagaimana Kudeta Itu Dilakukan?
SEBAGAIMANA isi dalam pasal ke-17 perjanjian Bongaya yang di sana tersurat bahwa Muna/Pansiano sebagai pernah dimiliki kesultanan Ternate maka tak lagi disangsikan bahwa sebelum terbangun hubungan dengan Buton, Muna terlebih dahulu berkongsi dekat dengan Ternate. Apalagi bahkan hingga kini para tua di Muna lebih bisa menerima disebut sebagai bagian bawahan Ternate ketimbang sebagai bawahan Buton.

Resistensi Muna yang tidak mau disebut sebagai “di bawahi” Buton itu memang sangatlah kuat dan beralasan sebab mereka beranggapan bahwa dari merekalah datang berasal seorang pahlawan yang menyelamatkan Buton dari “hampir saja” direbut seorang bajak rompak bermata satu yang bernama La Bolontio. Padahal cerita mengenai La Bolontio sendiri itu ditengarai sebenarnya adalah bentuk dari gerak intrik yang politis dan merupakan bagian dari kerja merebut kuasa di Buton oleh koalisi tersembunyi yang diam-diam dibangun oleh Ternate (La Bolontio)—Muna (La Kilaponto) dan bahkan mungkin dengan raja kelima Buton: Mulae Sangia Yi Gola.

Ternate berkepentingan kepada mengislamkan Buton sedangkan La Kilaponto kepada merebut tahta kuasanya setelah ia dengan hina didepak/terbuang dari kota Muna. Lalu raja Mulae Sangia Yi Gola bagaimana bisa ia ikut serta dalam konspirasi desainan Ternate itu dan bahkan berani rela menaruhkan tahta kuasanya? Beberapa sumber lisan menyebutkan bahwa pernah beberapa kali ia bertemu dengan sultan Ternate di Gresik Jawa Timur dan konon ia telah mengikuti keimanan sultan Ternate itu. Ia berislam pula di sana dalam bimbingan para wali tanah Jawa.

Gresik waktu itu memang menjadi pusat siar Islam di Jawa dan tempat bermukim para Wali Jawa yang dihormati. Maka baginya atas nama agama Islam segala apapun bisa ditaruhkan bahkanpun nyawa jika diperlukan, apalagi hanya yang sekecil tahta kuasa? Raja Mulae sepertinya telah tersirap hulul dan bergumul terkenai “mabuk” dalam syuluk jalan tasawuf. Seseorang yang telah mencapai itu memang akan membuang dalam dirinya apapun yang menghalanginya dari jalan bertemu DIA. Dia akan mau melakukan apapun yang itu asal hanya untuk DIA.

Maka gerak senyap politis itu di mulailah, menumpang di belakang Ternate dengan memakai kedok bajak rompak La Bolontio, Muna melalui tangan La Kilaponto merangsek dengan merangkak, mengendap dalam jalan lindap tiarap merayap-rayap dan lalu dengan cerdik dan lihai mengambil dengan cepat kuasa dan tahta sepenuhnya dari tangan raja Mulae dengan tanpa setitikpun menumpahkan darah. Bagaimana mau menumpahkan darah jika sebenarnya mereka adalah sekawanan?

La Kilaponto dengan mulus naik tahta di Buton, padahal ia bukanlah putera mahkota, raja Mulae turun tahta dan meninggalkan Buton pergi ke Ternate—negeri yang ikut andil dalam upaya penurunannya sampai beliau wafatnya di sana. Setelah dua puluh dua tahun La Kilaponto memerintah di Buton, maka datanglah kembali Syech Abdul Wahid dan ia mendapatkan perlakuan berbeda dari ketika pertama kali ia datang. Ia diterima La Kilaponto dengan sepenuhnya penghormatan bahkan oleh kerajaaan ia diberi ruang seluasnya untuk menyebarkan ajarannya. Sejak itu hijrah bergantilah rupa wajah Buton dari kerajaan animisme yang politeis menjadi kesultanan Islam yang monoteis.

***

BAHKAN pun juga tidak hanya tahta kuasa, untuk memuluskan langkah kudeta yang politis itu wanita pun ia rengkuh didapatkannya. Adalah Wa Tampaidongi yang digelari Borokomalanga puteri ayu jelita anak kesayangan semata wayang raja Mulae Sangia Yi Gola ia sunting peristri sekalipun setelah beberapa waktu lamanya mereka bercerai dan ia tak mendapatkan keturunan dari rahim wanita jelita berleher panjang itu. Selama dalam dua generasi paska La Kilaponto, tahta Buton dalam hegemoni kuasa orang Muna dengan sistem pewarisan tahta yang turun temurun.

Tetapi petaka kemudian menghampar terjadilah, ketika generasi kedua La Kilaponto naik memikul amanah. Dalam masa La Sangaji, sultan Buton ketiga gonjang ganjing mulai terjadi, dan pada beberapa klan elit bangsawan semakin berani memulai unjuk diri dan menunjukan semangat keinginannya berkuasa. Tetapi karena begitu kuatnya pengaruh La Kilaponto sehingga ia baru bisa sepenuhnya dienyahkan setelah dua generasi turunannya berkuasa atau setelah tiga belas tahun mangkatnya.

Lagi-lagi sejarah datang berulang, arus balik membalik. La Kilaponto melalui anak turunan langsungnya dikudeta dengan taktik merangkak pula oleh seorang yang dalam darahnya mengalir dan terkait langsung ke Wa Kaa Kaa raja kesatu di negeri yang oleh Mpu Prapanca disebutnya sebagai negeri tempat samadi para resi. Dia yang membalas dengan strategi serupa itu adalah La Maindo raja tua Batauga bin La Kasituri bin Raja manguntu, bin Bataraguru binti Bulawambona, binti Wa Kaa Kaa

* * *

Arus balik memang membalik dengan cepat, menyapu tak bersisa seluruh yang berkait secara langsung dengan La Kilaponto.  Hal yang serupa cerdik lihainya seperti taktik La Kilaponto baru bisa dibalas oleh La Maindo raja tua Batauga setelah dalam dua generasi tahta kuasa di Buton dalam monopoli kuasa orang Muna melalui tangan turunan langsung La Kilaponto. Sebagaimana ditulis di atas La Maindo adalah raja tua Batauga, ia adalah putera La Kasituri bin raja Manguntu bin Bataraguru binti Bulawambona binti Wa Kaa Kaa.

La Maindo dengan langkah cerdik mengirim anak-anaknya untuk menikahi para puteri Murhum (La Kilaponto) dari ibu mereka yang bernama Wa Sameka puteri La Ngunjaraji Sangia Yi Tete untuk meretas membuka jalan dan melapangkan ruang mengambil kembali kuasa ke dalam genggam tangan trah turunan mereka. Kelak setelah misi itu sukses tercapai, Wa Sameka diberilah gelar sebagai Ibu dari ketiga bangsawan atau dalam Wolio disebut: Inana Talu Labuana.

Bagi mereka mengambil kembali kuasa dari La Kilaponto dan turunan langsungnya tidak hanya adalah sebuah keharusan tetapi menjadi misi utama sebagai bagian dari tugas “mengembalikan” kuasa Buton dalam sebagaimana mula-mula ia adanya, yaitu dalam genggam kuasa trah turunan sedarah langsung  Wa Kaa Kaa raja kesatu Buton yang ditarik dari Bataraguru. 

Kontestasi dalam masa itu berlangsung alot, penuh intrik dan bahkan frontal. Sekalipun La Kilaponto juga masih berdarah Bataraguru (raja ketiga Buton) yang mengalir dari diri kakeknya bernama Kiyjula (Raja/Lakina Tiworo Mancuana) ayah dari ibunya Watubapala tetaplah saja tidak itu diakui sebab nasab garis darah turunan ditarik dari garis ayah, bukan garis ibu.  Apalagi Kiyjula bukan pula putra Bataraguru dengan permaisuri sahnya melainkan dari selir gundiknya. Lalu setelah seluruh episode kolosal itu menghampar terjadi bagaimanakah sebenarnya Buton melihat Muna?

* * *

BAB kedelapan pasal ketujuh belas Undang-Undang Murtabat Tujuh kesultanan Buton dengan tegas menyebut Muna sebagai  wilayah vassal bawahan Buton yang diberikan otonomi seluasnya mengatur sendiri wilayahnya tetapi sepenuhnya bertanggungjawab kepada Buton. Pihak Buton menyebut Muna sebagai Bharata, daerah yang setingkat lebih rendah di bawah mereka. Tetapi  alih-alih mendapatkan pengakuan, pasal itu dengan tegas ditolak oleh Muna dan disebut dengan nyinyir oleh mereka sebagai “Pencaplokan” sepihak yang sewenang-wenang.

Silang sengkarut relasi pelik Muna-Buton menghampar bermulalah dari situ. Benih dendam tertanam mulai membiak sejak itu. Keduanya pulau berjiran ini saling melihat dengan sorot melototkan ujung mata yang tajam. Mula semuanya itu terjadi dalam masa sultan Buton keempat Laelangi yang digelari Dayanu Ikhsanuddin naik berkuasa di Buton dan mengundangkan sebuah aturan yang disebut oleh pihak Muna sebagai berbau anyir amis politis sebab beberapa isinya telah mengangkangi hak kesertaan mereka dalam setiap kontestasi perebutan kuasa di pusat kesultanan Buton—Wolio.

Sekalipun ditolak oleh Muna itu, Buton kukuh berpegang dalam pandangannya. Jika sebelum undang-undang itu diundangkan, bangsawan Muna (terutama dari klan turunan langsung La Kilaponto) memiliki hak untuk maju dipilih sebagai sultan di Buton—bahkan dengan tidak melalui pemilihan, sejak itu jalan mereka ke tampuk kuasa di pusat kesultanan dipotong, paska pengundangan Murtabat tujuh, tidak lagi ada ruang bagi bangsawan Muna (turunan langsung La Kilaponto) untuk mendapatkan kuasa di Wolio—daerah elit paling berprestise dimana pemerintahan kesultanan Buton berpusat.

* * *

4. Epilog
DENDAM lalu menaik jadi kesumat, disuluh serupa api dengan disemburkan minyak gas bumi, nyalanya menyembul menjadi kobar, dan rupanya tak padam-padam hingga kini. Kesumat itu dibiakkan oleh perasaan saling curiga, dibentuk oleh jalan sejarah kontestasi perebutan kuasa masa lalu yang tidak sehat, alot, dan bahkan intriknya vulgar frontal sekali, sesuatu yang memang sulit hilang dalam ingatan sekalipun telah ditutupi disembunyikan dengan rapi dalam lipatan abadi roda putar sejarah kesultanan Buton masa lalu. Lalu mau sampai kapan akan terus begitu itu?

Baubau, 18 Mei 2015

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB