UMBUNOWULU: YANG DIBUAL, YANG DIBUANG

Friday, 17 April 2015 0 komentar

Tradisi Pokalapa di Benteng Kota Umbunowulu (Foto: La Yusrie)

KARENA membangkang dan melawan, Umbunowulu dibual dan lalu dibuang dari roda putar sejarah kesultanan Buton. Karena disebut menyempal maka orang-orangnya disumpal dengan sumpah yang tulahnya amat menakutkan jika saja siapapun dalam rumpun suku mereka berani membuka mulut untuk membicarakan dan menceritakan sebenar-benarnya jalan sejarah kehidupan mereka. Maka dengan terpaksa dikulumlah saja cerita sejarah mereka sendiri itu, dikubur sedalamnya dalam kubang nista kelam yang lalu itu dikunci serapatnya memakai “Cunda” yang menakutkan. 

Tak ada yang berani melawan Cunda, tak ada yang berani melanggar sumpah, sebab tulah telah menganga dengan lebar siap menelan siapa saja yang berani berlaku melawan dan melanggar. Padahal Umbunowulu adalah tempat datang Murhum La Kilaponto, dan menjadi yang menengahi setiap kali Buton (Wolio) dan Muna (Tongkuno) ribut berkonflik dalam urusan kontestasi rebut kuasa dan politik. (Diskusi dengan Prof. La Niampe di Gedung Margono UGM, 8 April 2015). Tetapi mengapa sekarang kita begitu sulit menemukan dan mendengar cerita mengenainya padahal situs peninggalan benteng kota mereka masih berdiri kokoh dengan ritus tradisi yang hidup dan kuat bertahan hingga kini?

* * *

1. Prolog
BUNYI gong dipukul bertalu, membahanalah seirama bunyi hentak “Katepa” yang ditabuh seorang tua bersongkok. Muka lelaki tua pemukul  gendang Katepa dari kulit rusa itu dengan cepat membalik ke arahku dan matanya tajam melotot ke mataku. Aku meriut serupa keong memasuki cangkangnya  dan mataku ciut sebagai menghormatinya. Mataku memang kalah dari matanya, tetapi tidak dengan mata kameraku, aku menangkap mata tajamnya itu dan lalu memerangkapnya dalam gambar diam ilustratif yang unik. 

Mempersiapkan Sesajen
Bau arak “Konau” tersembul menyeruak, menguap keluar dari mulut-mulut para tetua berpeci yang dikepul ke udara bercampur asap rokok kretek gulungan tangan sendiri. Tradisi meminum arak konau sebagai perjamuan memang masih lumrah dan lazim di sini, minuman yang diambil dari sari nira itu disebut sebagai minuman “penghormatan” dan menyehatkan badan. Dalam setiap prosesi ritual adat, minuman memabukan ini wajib ada disertakan.


Ini di benteng kota Umbunowulu dalam ritual tradisi tahunan “Bongka’a Ta’u”. Banyak orang datang berduyun dalam arakan dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor menaiki bukit-bukit gunung menuju situs peninggalan leluhur mereka, selain untuk napaktilas juga sebagai pengenangan pada situs kebanggaan peninggalan moyang leluhur mereka itu

“Bongka’a Ta’ U” adalah tradisi tahunan sebagai ritual menutup musim panen sekaligus memulai musim panen baru bagi warga yang masuk dalam rumpun suku Umbunowulu di Buton Tengah. Segala hasil panen dari kebun-kebun warga dalam rumpun masyarakat “suku tua” di Selatan Muna itu dibawa dengan dipikul ke benteng kota_sebuah kampung lama di pegunungan dengan berjarak sekira 8 kilometer dari kampung terdekat di Lombe atau hanya berjarak 5 kilometer jika mengambil jalan dari Wongko Lakudo.

Ritual Memantrai Injelai

Aku beruntung bisa datang menyaksikan tradisi tahunan ini, sekalipun melewatkan beberapa ritual sakral yang mistis, tetapi aku mendapatkan beberapa tradisi unik yang masih terus lestari dilaksanakan. Adalah tradisi Pokalapa yang memakai batang-batang injelai sebagai media bermainnya. Sebelum dipakai bermain, batang-batang injelai itu terlebih dahulu dikumpulsatukan untuk dimanterai, meskipun ikut duduk dalam prosesi memanterai itu saya tidak begitu jelas mendengar isi ucap menteranya karena dirapalkan dalam ucapan komat kamit seperti berkumur-kumur

Setelah prosesi pemanteraan itu usai, para tetua kemudian akan berdiri saling berhadapan dengan memegangi saling menyilangkan batang-batang injelai itu. Beberapa orang kemudian akan bergiliran melempar memakai pula sebatang injelai. Diyakini oleh mereka bahwa lemparan yang tepat mengenai sasaran adalah sebagai tanda baik: kebun sipelempar akan melimpah berhasil dan berezeki baik dalam tahun mendatang.

Sesajen yang telah rapi disusun

2. Sebuah Epos yang Dikenang Hingga Kini.
DESA Balasuna (secara etimologi bermakna batang kemaluan) di Kaledupa kepulauan Wakatobi menyimpan  kisah mengenai Umbunowulu. Pada ingatan kolektif masyarakat di sana Umbunowulu dikenal—disamakan sebagai Muna/Wuna dengan rajanya yang membangkang kepada pusat kuasa kesultanan Buton di Wolio. Raja pembangkang itu terkenal saktinya dan sangatlah sulit ditaklukkan bahkan sekalipun telah hampir seluruh pasukan kesultanan dikerahkan melawannya .

Sampailah raja Kaledupa turun tangan barulah pusat kuasa kesultanan lega. Raja Umbunowulu bertekuk takluk di bawah kesaktian raja Kaledupa. Konon ketika pulang ke Kaledupa, raja Kaledupa tidak hanya membawa kepala dan potongan kemaluan raja Umbunowulu untuk dipersembahkan kepada sultan Buton sebagai bukti bahwa ia telah membunuhnya  tetapi juga membawa seni menari kebiasaan di Umbunowulu yang kemudian dikenal di Kaledupa dan Wolio sebagai tarian Galangi. Karena berhasil membunuh raja Umbunowulu itulah orang-orang Kaledupa terkenal sebagai jawara yang sakti atau dalam bahasa lokal mereka sebagai “Kakado”, dengan itu serta merta mereka tidak hanya memperoleh penghormatan tetapi juga mendapatkan keseganan dari Barata lainnya dan Kadie-kadie di Kesultanan Buton.

Di pusat kuasa kesultanan Buton—terutama dalam literature tulisnya, pembangkangan Umbunowulu dicatat naskah dalam hanya satu episode saja. Tidak diketahui mengapa dalam tulisan susah ditemukan mengenai kisah pembangkangan Umbunowulu padahal dalam ingatan kolektif yang disampaikan secara lisan turun temurun, cerita-cerita mengenai pembangkangan itu sangatlah banyak dan mudah ditemukan. Mungkinkah Umbunowulu telah dibual dan lalu dibuang dari alur arus jalan sejarah sebagai konsekuensi dari sikap melawannya kepada pusat kuasa kesultanan?

3. Guana Umbunowulu
TAK terhitung sekali Bombonawulu melakukan pembangkangan (GUA) kepada pusat kesultanan Buton di Wolio. Dalam masa sultan Muhammad Umar Kaimuddin—klan Tanailandu ke-15 yang naik memerintah sebagai sultan ke-32 dalam tahun 1885—1904, dicatat oleh sejarah bagaimana pertempuran antara pasukan kesultanan dengan Umbunowulu terjadi dengan sengitnya dan memakan jatuh korban yang banyak sekali dari kedua belah pihak.

Dalam perang itu disebutkan kesultanan mengirim Bontona Wandailolo dan Bontona Melai, dibantu oleh Bontona Baaluwu untuk melakukan invasi penyerangan dan sekaligus pendudukan, sedangkan dari pihak Umbunowulu dibantu oleh Lakina/raja Wasilomata. Pasukan kiriman pusat kuasa kesultanan itu dikabarkan pulang tanpa membawa kemenangan.

Bahkan salah seorang pembesar mereka menjadi korban, ia adalah pembesar kesultanan yang menjabat sebagai Bontona Baaluwu, ia terkenai tembak di kepalanya. Konon menurut cucu turunannya kini itulah sebabnya mereka bahkan sampai kini masih selalu merasai sakit di kepala. Ilmu apa yang dipakai Umbunowulu  sehingga sakit luka tembak itu tidak hanya mengenai kepada Bontona Baaluwu itu saja tetapi juga sakitnya ditanggung dirasai sampai anak cucu turunannya?

“Itulah sampai sekarang kami masih selalu merasai sakit di kepala, konon sebabnya karena kakek kami Bontona Baaluwu terkenai tembak di kepalanya saat berperang melawan Umbunowulu” Demikian kata cucu turunan Bontona Baaluwu (Wawancara dengan Al Mujazi Mulku Zahari di Kamali Baadia, Januari 2015).

Penyambutan kepulangan pasukan kesultanan dari berperang melawan Umbunowulu diceritakan dalam naskah yang ditulis oleh Maa Ujiza La Wunga. Naskah ini bertahun 1312 Hijriah dengan kondisi kertas kekuning-kuningan dan sobek pada satu sisinya tetapi secara umum masih baik dan tulisannya masih dengan jelas terbaca. Isi teks naskah selain penyambutan tentara kesultanan dari berperang melawan Umbunowulu juga adalah mengenai upacara adat keramaian. Berikut awal teks naskah:

“Okanina I baruga ombulinamo apotimbeaka Obombonawulu. O Lakina Bombonawulu te Lakina Wasilomata, O Bontona Wandailolo te Bontona Melai. Oeona ahadi otaawimo arabaa walueo bula haji apakamatana mata”

“Telah berpulang di Baruga dari berperang melawan Bangsawan Umbunowulu dan Bangsawan Wasilomata, Menteri Wandailolo dan Menteri Melai hari Minggu takwim Arba’a delapan hari bulan haji”

Teks naskah itu diakhiri dengan kalimat: “Hijarati Nabi 1312 SAW sarewu talu atu sapulu rua tao incana zamanina sulutani Qaimuddin Muhammad Umara atau dapat dimaknai kira-kira sebagai berikut: “Tahun 1312 Hijriah pada zaman Sultan Qaimuddin Muhammad Umara”
* * *

4. Epilog
SULTAN Buton ke-32 Qaimuddin Muhammad Umar alias Oputa I Baria, alias Sangia I Baria adalah sebenarnya anak dari Muhammad Kubra Alias La Ode Guru__Dalam naskah silsilah turunan bangsawan Buton ia ditulis sebagai La Ode Goro Kapitalao Umbonowulu. Jika dirunut berturut sampai paling atas, maka turunan La Ode Goro Kapitalao Umbonowulu ini akan sampai kepada Raja kesatu Buton Wa Kaa Kaa. Berikut saya runutkan silsilah turunannya:

1.   La Ode Abdul Muisu Kepala Distrik Gu bersaudara dengan La Ode Muhammad Idris (Yarona Imam Bariya) dan La Ode BaE Lakina Kondowa, Bin
2.     La Ode Muhammad Umar Qaimuddin Khalifatul Khamis (Sultan Buton ke-32), Bin
3.     Muhammad Kubra alias La Ode Goro Kapitalao Bombonawulu, Bin
4.     Haji Abdul Ganiyu Kenepulu Bula, Bin
5.     La Ode Fajara Raja Wasilomata, Bin
6.     Kenepulu La Ode Abdul Rahman Yarona Burukene, Bin
7.     Lakina/Raja Batauga Panda (yang buta dan tuli), Bin
8.     La Ihi La Sadhaha Syamsuddin Kaimuddin Khalifatul khamis Sultan Buton ke-16, 1702—1709, Bin
9.     La Tumpana Ncili-Ncili Zainuddin Qaimuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton ke-12, 1678—1687, Bin
10.  La Elangi Dayanu Ikhsanuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton ke-4, 1597—1631, Bin
11.  La Siridhatu (menikah dengan Paramasuni puteri Murhum), Bin
12.  La Maindo Raja Tua Batauga, Bin
13.  La Kasituri Raja/Lakina Bhola, Bin
14.  Raja Manguntu, Bin
15.  Banca Patola Bataraguru Raja Buton ke-3, 1411—1460, Binti
16.  Bulawambona Ratu/Raja ke-2 Buton 1365—1411, Binti
17.  Wa Kaa Kaa Ratu/Raja ke-1 Buton 1332—1365 .
___________

                                                                               Demangan, Yogyakarta 17 April 2015

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB