Kabanti Kaluku Panda: Rahasia Seks Orang Buton

Sunday, 19 April 2015 1 komentar

Perangkat Adat Rongi. Foto: La Yusrie
KABANTI adalah nyanyian rakyat di Buton yang digubah secara bebas oleh pekabantinya, baik untuk menghibur diri sendiri ataupun menghibur orang lain dengan menyebar nilai-nilai yang mengandung hikmah dalam syair lagu  lisan yang liris, miris, bahkan satir atau  jika ia dalam tulisan maka selalu muncul rupanya dalam bentuk kalimat-kalimat alegoris yang metaforis. Tema kabanti dapat dipilih secara bebas oleh pekabanti tetapi biasanya mengenai percintaan, nasihat (agama dan etika sosial) 

* * *

BANYAK orang menabukan seks—tentu yang berkaitan dengan esensinya dibicarakan di ruang publik yang umum sehingga menjadikan tema mengenai ini teronggok abai dari perhatian secara terang-terangan yang jelas. Ia tampak seperti seakan-akan sebagai mahluk aneh berwajah muram yang tak mendapat perhatian dan ruang tinggal di tempat umum yang dengan mudah bisa diakses siapapun.

Maka menjadilah ia dibahas dalam bisik diam-diam terus-terus di ruang-ruang gelap tertutup yang pengap. Dengan begitu abadilah pula ia sebagai hanya urusan privasi tertutup itu yang dipendam disembunyikan di tempat-tempat terjauh dari bisa diakses publik. Ia dikungkung sebagai hanya urusan rahasia dalaman yang akan dirasa sebagai tabu memalukan jika dipublis di luaran.

Orang Buton justru melihat seks—tentu yang halal dengan pandangan baik sekali. Ia tidak hanya dilihat sebagai hubungan badaniah dan pemenuhan kebutuhan melepaskan nafsu syahwat lahiriah yang dangkal dan sempit di antara pasangan telah menikah. Jika hanya sepele begitu, apalah pula bedanya manusia dengan binatang? Begitu kata beberapa orang tua arif di sana.

Maka itu seks dipublish memakai bahasa simbol yang konotatif, memakai tata makna semantis yang metaforis dan tersirat. Dalam perwujudannya yang seperti itu maka menafsirnyapun memerlukan ketekunan menukik memasuki hingga ke dalam-dalam sampai mendapatkan sari makna kandungannya sebenarnya. Memaknainya diperlukan upaya mendalami yang masif dan ketekunan fokus yang serius karena makna kandungan setiap yang disampaikannya terhijabi oleh labir lahir yang zahir.

Bagi orang Buton seks—tentu yang halal justru adalah media ‘memesrai’ dan kulminasi paling tinggi dalam relasi hamba yang dicipta dengan Tuhan yang sang pencipta. Bagi mereka hubungan seksual adalah kerja ‘membikin cahaya’. Tampaknya anak dari hasil berhubungan telah disimbolisasi sebagai “Cahaya” Maka karena ia adalah kerja ‘membikin cahaya’ itu tentu segala rambu aturan perintah dan pantangannya memerlukan diketahui dan wajib dipatuhi.

Bagi orang Buton, semakin banyak anak turunan semakin muka sipembikin ‘bercahaya’. Beberapa orang tua berpaham begitu yang saya tanyai dan temui memang tampak awet dan masih kuat fisiknya sekalipun usia mereka telah mencapai delapan puluhan tahun dengan anak cucu dan cicit berderet banyak sekali.

Maka seperti kata Muhammad Iqbal dalam syairnya yang menggugah syahdu sekali bahwa ketika Tuhan meletakkan nafsu birahi kedalam diri lelaki dan perempuan, maka dunia hanya bisa diselamatkan oleh persatuan keduanya. Masing-masing dari lelaki dan perempuan itu diibaratkan oleh penyair dan filosof ternama Pakistan itu sebagai seakan-akan hanya memiliki satu sayap dan mereka bisa terbang hanya kecuali dalam persatuan keduanya.

Persatuan dua manusia, lelaki dan perempuan itu ditafsiri tidak hanya sebagai upaya menyelamatkan dunia tetapi juga adalah bagian dari upaya melanggengkan kehidupan sebagai wujud tanggungjawab dan konsekuensi pengkhalifaan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ia adalah wujud pengabdian yang total kepada Tuhan. Tuhan yang pencipta memerlukan hamba yang dicipta untuk Dia diabdi. Dan tugas itu hanya diemban oleh manusia karena pada mereka diberi-Nya hal yang tidak diberikan-Nya pada mahluk ciptaan-Nya yang lain yaitu akal berpikir.

Maka itu sebagaimana bersembahyang, seks yang halal juga adalah ibadah yang di sana segala amal disebar dan pahala dituai disemai. Dalam prosesnya tidaklah boleh tergesa terburu-buru karena segala apapun yang terburu-buru dan tergesa itu adalah pekerjaan dan laku setan yang tentu adalah pantang dan dilarang-Nya.

Nafsu sebagai simbolisasi setan dalam diri manusia harus dikuasai dengan dikendalikan dan itu hanya bisa dilakukan dengan menguatkan sikap tidak terburu-buru dan terus kuat dalam bersabar itu. Sikap terburu-buru dan tergesa mendesak itu tanda nafsu menunggang mengendalikan diri, orang-orang tua melarang melakukan apapun jika dirasai tanda begitu karena akan membawakan hasil yang tidak baik.

Seseorang harus kuat bersabar dan perlu memerhatikan banyak tanda selama dalam berhubungan seksual itu. Jika tidak maka diyakini itu akan mempengaruhi kualitas hasil dari hubungan itu. Bagi mereka jika ‘menanamnya’ baik maka buah hasilnya juga akan baik. Bagi orang Buton sesi ‘menanam’ itu sangatlah penting diperhatikan pantang larangnya karena darilah sana semuanya bermula.

* * *

Kabanti Kaluku Panda Atuwu Incana Dempa karya La Kobu atau juga digelari sebagai Petapasi I Baadia, menyingkap tabir gulita dan rahasia gelap hubungan seksual yang baik menurut tatacara Islami. Ia sebagaimana Al-Quran, mengambil berkebun sebagai contoh beranalogi. Menulis ia begini dimula-mula pembuka kabantinya:
                        Podo saide boli ukaago-ago
                        Pembula yitu bolipo sau pembula
                        Ukamatapea wao molagi
                        Urango pea guntu rende ngkalelei

                        Pelan-pelan, jangan terburu-buru
                        “Menanam” itu jangan asal menanam
                        Lihat tanda hujan yang terus-menerus
Engkau dengarkan bunyi yang merata

Jangan katanya terburu-buru, “menanam” itu tidak asal menanam, segalanya memerlukan kesabaran dan ketekunan yang tak berkesudahan. Lihat tanda hujan yang terus-menerus dan dengarkan bunyi merata dimaksudkannya sebagai sebaran efek rangsangan agar dibuat dan dilakukan semerata mungkin ke seluruh badan/bagian tubuh pasangan,  hal yang tandanya bisa diketahui dari erangan (bunyi/suara) yang merata pula.

“Menanam” sebagaimana telah dituliskan di atas tidak memang hanya asal “menanam”, ada waktu-waktu tertentu yang memerlukan diperhatikan. Ini mutlak wajib ditaati, jika melanggarnya, orang-orang percaya bisa berdampak buruk terhadap anak turunan hasil dari berhubungan itu. Dampak buruk itu misalnya seperti si anak berumur pendek, berakhlak tak baik, atau segala hal tak baik yang tidak diingini lainnya.

Mengenai waktu-waktu yang baik dan buruk itu, dengan indah La Kobu menulis dalam syair Kabhantinya begini:
                        Eo malape jumaa te isinene
                        Temodhuka arabaa te hamisi
                        Temodhaki boli umpombulaiya
                        Temodhuka wakutu apepali
                        Sapotuu ahadhi te salasa
                        Osiitumo eo inda momalape

                        Waktu yang baik jumat dan senin
                        Juga rabu dan kamis
Hari yang jelek jangan menanam
Dan juga waktu yang terlarang
Sabtu, minggu dan selasa
Itulah hari yang tidak baik

Waktu-waktu yang baik dan buruk tidak hanya dalam hari tetapi juga  dituliskannya dalam saat-saat waktu shalat lima waktu seperti berikut:
                        Wakutu taluanguna motopenena
                        Osiytumo wakutu momulia
Wakutu subu te dhoro
Te isa kamondona talu angu
Wakutuuna asara te magaribi
Osiytumo wakutu apepali


Waktu yang tiga yang terbaik
Itulah waktu yang mulia
Waktu subuh dan dhuhur
Dengan isa genap menjadi tiga
Waktu ashar dan magrib
Waktu itulah yang terlarang

Orang Buton pada umumnya sangat memercayai segala yang berbau mistis religius dan patuh kepada petuah pemuka agama/ulama. Dalam perspektif etnografi dan keyakinan kolektif turun temurun mereka meyakini bahwa melakukan hubungan intim/seksual di waktu Subuh (setelah subuh, antara subuh dengan dhuhur) akan berdampak pada anak yang pendek umurnya sehingga untuk menghindari itu mereka melakukannya di waktu Isa, waktu yang dianggap paling baik.

Ada keyakinan bagi sebagian orang di sana bahwa seorang anak yang lahir dari hubungan intim yang dilakukan di waktu Isa (waktu antara Isa dengan Subuh) akan berumur panjang, dilimpahi akhlak yang baik, taat pada agama, juga kepada kedua orang tua dan segala kebaikan lainnya mengikut tercurah kepadanya. Sedangkan anak hasil hubungan intim diwaktu Dhuhur ditengarai akan berwatak keras, membangkang tak penurut, dan segala sikap buruk yang tak patuh lainnya.

Waktu-waktu seperti sedang terjadi gerhana bulan atau matahari, atau bulan sedang di purnama juga disebut sebagai pemali untuk melakukan hubungan intim. Mereka meyakini jika melakukan hubungan diwaktu-waktu seperti itu maka anak hasil dari hubungan itu akan cacat pada tubuhnya, sumbing pada bibirnya atau bahkan paling buruk adalah meninggal saat lahirnya.

Kejadian-kejadian alam bisa juga diambil sebagai hal dan pertanda baik untuk berhubungan intim/seksual, misalnya ketika air laut sedang menaik pasang, diyakini jika melakukan hubungan disaat seperti itu anak hasil hubungannya akan berlimpah rezekinya dan diberi kemudahan dalam segala hal. Ia akan tumbuh menjadi anak yang tercukupi secara mekonomi, terpuasi kebutuhan lahiriah materinya.

Inilah sebabnya dahulu setiap bakal calon pengantin di-Posuo—dipingit, tidak hanya itu untuk wadah pendewasaan dan uji kesucian diri bagi si gadis, tetapi juga adalah media pengajaran mengenai tatacara berhubungan seksual yang baik menurut agama dan adat tradisi kebiasaan orang Buton. Sesuatu yang kini telah hanya menjadi seremoni biasa yang miskin faedah dan jauh dari bisa disebut bermanfaat.


1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB