Tragedi 1967 di Benteng Kota Bombonawulu

Saturday, 29 November 2014 0 komentar


TAHUN 1967 adalah tahun yang kelam bagi seluruhnya orang-orang Bombonawulu. Dalam tahun yang naas itu keriuhan yang memantik kepanikan terjadi di dalam benteng Kota Bombonawulu, ada huru hara menegangkan yang menimbulkan keributan di sana. Setelah perintah peringatan diabaikan oleh warga, sepasukan tentara dari kodim 1413 Baubau Buton bergerak dengan sigap dan cepat, datang menyerbu memaksa warga benteng kota Bombonawulu untuk dengan segera keluar meninggalkan benteng dan turun tinggal mendekati pantai (kampung lombe sekarang)

Waktu itu pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan aneh yang disebut oleh mereka sebagai proyek restlemen desa atau penyatuan desa. Desa-desa di hutan pegunungan yang sepi diminta dipindahkan turun ke pantai yang desa-desa dan warganya lebih ramai. Tujuan proyek ini adalah untuk memudahkan akses pemerintah dalam melakukan sensus pendataan jumlah penduduk nasional.

Tetapi beberapa sumber lain memberi informasi berbeda bahwa serbuan tentara ke Benteng Kota Bombonawulu itu disebabkan oleh hal yang politis yaitu adanya tuduhan sebagai anggota PKI kepada beberapa tokoh warga di sana.  Maka penangkapan-penangkapan kepada yang dituduh itu dimulailah, dan dengan tanpa dahulu melalui sidang pengadilan mereka telah mendapatkan tudingan bersalah dan dihukum.

Maka masaker yang tragis kembali terulang, terjadilah itu tragedi, menghamparlah itu kekerasan oleh negara. warga benteng kota Bombonawulu menolak turun dipindahkan, apalagi disebut sebagai PKI. Terjadilah pemaksaan dengan kekasaran yang keras di bawah todongan senapan AK dan sepakan kaki berlaras pantovel yang keras dari para prajurit, ratusan orang diseret dengan kasar dipaksa pergi dengan cepat, turun meninggalkan Benteng Kota Bombonawulu.

Banyak dari warga Bombonawulu yang ngotot bertahan karena tak mau meninggalkan kampung yang di situ terdapat situs peninggalan moyang leluhur yang telah dihuni mereka dalam ratusan tahun lamanya itu, karena sikap menolak dan penentangannya itu, mereka mendapatkan kekerasan dari tentara. Dan sekuat-kuatnya dalam melawan dan bertahan, warga yang tak bersenjata itu tak mungkin bisa kuat melawan aparat bersenjata yang dengan angkuhnya datang melibas melindas mereka.

Karena kalah kuat dan takut kena tembak, perlahan warga mulai  kedodoran dan lalu kendur sebelum kemudian sebagian dari mereka memilih mengalah dan mundur. Tetapi ada sebagian dari merekapun yang kukuh bertahan, sekalipun kalah kuat dan terus ditodongi senapan bikinan Rusia itu mereka tak takut, tak pula surut nyali. Sampai tentara kemudian kehabisan kesabaran, yang kukuh bertahan itu diambil satu-satu dengan dipaksa dan dikasari.

Tanpa lagi memakai peringatan yang ngotot bertahan itu dilototi satu-satu lalu diangkut memakai truk tentara dipaksa pergi meninggalkan benteng kota Bombonawulu. Bahkan tak hanya orang-orang yang diangkuti memakai truk itu, aparat tentara juga membawa pergi patung-patung sesembahan peninggalan leluhur dan benda-benda pusaka warisan yang konon katanya dibuat memakai balutan emas murni sebagai material bahannya.

Betapa pedih memerihkannya mendapati diri diusir dengan kasar memakai kekerasan dari tanah leluhur moyang sendiri, bahkanpula tak cukup hanya dibegitukan, barang-barang berharga, pusaka tak ternilai peninggalan moyang leluhur diambil dibawa pergi dan kita hanya melihatnya dengan melongo tanpa ada daya untuk menghalangi dan mempertahankannya. Oh, sungguh memilukan dan itulah yang disebut sebagai sebenar-benarnya tragedi.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB