La Ode Oh La Ode

Friday, 7 November 2014 0 komentar


LA ODE adalah simbolitas penanda kemuliaan paling tinggi dalam perspektif masyarakat buton masa lalu (bahkan mungkin hingga kini ya?). Ia adalah penanda tidak hanya sebagai berketurunan bangsawan, tetapi juga berkelakuan mulia sebagaimana lazimnya laku kaum ningrat beradab.

Maka karena laode adalah sebagai penanda keturunan itu jangan kemudian mencarinya kepada penurun yang ditandakannya, gak akan itu pernah ketemu, bahkan jikapun seluruh naskah mengenainya dibuka dari gulungannya.

Tidak ada laode yang laode, sebagaimana tidak ada raja yang raja atau tidak ada sultan yang sultan. Ketika seorang Kaomu telah ditunjuk/dipilih oleh Walaka (Siolimbona) untuk duduk memikul (sodha) jabatan sultan/raja maka gelar laode sertamerta mengikut luruh larut dalam gelar sultan/raja yang didudukinya itu, maka apa perlunya lagi menyeret sematkan laode pada muka namanya?
Tentu bisa saja begitu: menyematkan laode pada muka namanya, tetapi itu hanya akan menjadi bahan tertawaan karena justru akan melihatkan ketidaklaodeannya. Jangankan kepada sultan yang tanpa laode pada muka namanya, bahkan kepada sesama laode pun jika bertemu dan saling sapa tidak lazim jika saling memanggili laode, sebab panggilan dengan gelar seperti itu hanya diharuskan bagi mereka yang berderajat status sosialnya lebih rendah.
Maka jika terus ngotot mencari sultan yang pada namanya ada gelar laodenya tersemat, maka itu akan sama seperti mencari jarum di jerami, bahkan sampai bji mata keluarpun itu tidak akan ditemukan. Tetapi jika pun ternyata ada ditemukan, maka mungkin itu hanya sultan gau-gau.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB