Baubau yang "Sumirbak"

Wednesday, 3 September 2014 0 komentar

foto: www.balibackpacker.net
KOTA mungil nan permai ini tak lagi semerbak, dalam seketika telah berganti rupa menjadi ‘Sumirbak’. Banyak yang memang sumir belakangan ini terjadi di sini, dan kita warganya seperti tak acuh, pemerintahnya pun selalu urung turun tangan dan tampak lamban dalam menangani, gerak mereka seperti gerak kaku kakek yang telah renta usianya, dan pula para aparat yang bertanggungjawab pada keamanan dan kenyamanan warga selalu saja kalah cepat dari para peracau, baru datang setelah kejadiannya, langkah preventif menjadi barang langka. Pada kotaku ini, apa bakal nanti jadinya jika terus begini ini?

***

PUASA Ramadhan baru saja berlalu, dan lebaran yang fitri usainya belum sebulan. Tapi kesucian Ramadhan dan kedamaian idul fitri rupanya tak menjalar mencapai hati terdalam masing-masing orang di kota yang banyak masjidnya ini. Dua kejadian pembunuhan berantaian terjadi. Pembunuhan yang bukan biasa, dengan sebabnya yang juga masalah bukan biasa. Apa sebab sehingga begitu mudah darah tersirap naik ke ubun dan lalu kalap sehingga berani dengan entengnya melayangkan nyawa orang?

Hanya sebab yang sepele, beberapa orang ‘gila tak waras’ di kota ini menebas dengan parang dan lalu membakar setengah badan mayat korbannya. Seorang lainnya dibunuh pula dengan keji, badan kirinya ditusuk pisau dengan tiga belas lubang di perut dan dadanya tembus hingga merobek jantungnya, mayatnya dibiarkan dirubungi lalat, terkapar kaku di muka pantai Kamali sebelum kemudian ditemukan warga

***
SAYA sungguh tidak memahami mengapa nyawa manusia begitu mudah dilayangkan di sini, diambil oleh yang sesama manusia dengan begitu sangat kejinya dan tidak berperasaan pula oleh sebab masalah yang hanya sepele?. Saya sungguh tidak mengerti mengapa darah begitu mudah ditumpahkan di sini, Apakah kita telah kehilangan humanitas, sisi terdalam kemanusiaan yang menjadikan kita sebagai sebenar-benarnya manusia, lantas di mana 'kepomaasian' kita?

Sejak kapan di kota semerbak yang katanya beragama ini hak mengambil nyawa yang adalah otoritas Tuhan itu mudah sekali dicuri para manusia lancung yang amoral itu? Dua berita sadis pembunuhan menyebar dengan cepat disusul oleh desus yang juga menyebutkan pembunuhan lanjutan berantai seusainya, kota ini pun panik dan lalu malam-malam jalan-jalannya melompong sunyi padahal jam baru menunjuk pukul 22.00. Ya baru pukul 22.00 dan saya tak menemukan satupun Hotspot wifi yang buka untuk hanya sekadar memosting catatan ini, padahal di hari-hari biasanya mereka selalu buka sampai pukul 24.00.

Dan pemerintah mengapa hanya diam? Apa yang bisa diselesaikan dengan hanya berdiam diri sedang isu ulah lancung yang biadab itu telah berseliweran menyebar dengan cepat sekali dan telah berjalan tak terkendali? Sebagai desus yang sas sus ia memang telah berjalan dengan sangat cepatnya dan menakutkan masyarakat, pemerintah telah seharusnya aktif turun tangan, jangan melulu pasif urung tangan.

Tadi malam di sebuah gerai koran di seputaran pantai Kamali saya terkejut oleh informasi yang katanya ditemukan lagi seorang mayat perempuan dengan tanpa busana teronggok mengapung di laut muka pelabuhan Murhum. Terlepas dari benar tidaknya, berita itu telah cukup sangat menganggu dan saya melihat muka-muka terkejut dan meringis pada perempuan-perempuan ABG yang kebetulan lewat dan mendengarnya.

Ah, kota ini sepertinya telah menjadi kota sas sus, kota yang segala gossip bisa menyebar cepat dengan dianggap sebagai benar. Dan mereka yang punya otoritas dan kewajiban meluruskan malah enggan mengambil langkah itu dan tak pula mampu menghadirkan keamanan dan kenyamanan seluruh warga. Jika tidak berubah dengan segera turun tangan, perlahan dan pasti kota ini sedang meniti di jalan menuju kota yang “Sumirbak”, kota yang dipenuhi hal yang sumir, segala-gala yang sas sus buru-buru diterima sebagai benar dan lalu kemudian disebarlah tanpa seorangpun menghentikannya bahkan sekalipun oleh yang punya kuasa dan otoritas untuk menghentikannya.

Baubau, 4 September 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB