Membangun Identitas Kebutonan #1

Wednesday, 20 August 2014 0 komentar


DI TENGAH gemuruh laju derap kaki perubahan zaman yang datang melindas dengan cepat, perlahan dan pasti nilai-nilai kesesamaan sebagai yang selama ini mengikat satu orang Buton berjalan menemui samar gelapnya dan lalu lenyap, hilang dari penglihatan. Apa yang dahulu menjadi perekat yang kuat itu kini melempem kendur dan dengan segera diambil lupa, hilang dari ingatan kolektif nyaris pada semuanya orang Buton. Tangan waktu berkomplot dengan sikap abai kita, maka lenyaplah segalanya, tak bersisa, kecuali hanya sesuatu yang selalu datangnya belakangan: penyesalan.


Alih-alih menyemai keutuhan sebagai ‘sesama’ yang baik, petaka justru datang sebagai ‘bukan sesama’ yang memberaikan. Keragaman yang dulu turun sebagai rahmat itu, kini tampaknya telah bertukar rupa sebagai ‘laknat’. Ia tidak lagi sebagai yang mengayakan tetapi terjerembab jatuh sebagai hanya ‘memayahkan’. Memang begitulah, adagium ‘roda berputar’ menghamparlah terjadi, Buton yang dahulu pernah menggapai kegemilangan sebagai mencapai ‘atas’ kini harus merasai payahnya terjerembab jatuh ke ‘bawah’.

Dan umumnya generasi kini orang Buton memang sangatlah ‘payah’ dan tergagap-gagap gugup dalam mendefenisi hakikat keragaman yang plural itu. Banyak dari kita tak melek, dan lalu dengan serampangan melihat keragaman sebagai momok yang menakutkan, perbedaan dalam keragaman itu dilihat sebagai anomali, kelainan yang memecah dan bukannya sebagai rahmat yang mengayakan.

Ketika para pendatang dari semenanjung Melayu dan tanah Jawa kali pertama menginjakkan kaki di tanah pulau Buton apa yang sebenarnya mereka bawa sehingga manusia-manusia pribumi penghuni pulau Buton waktu itu bisa menerima mereka dengan tangan terbuka lapang? Bahkan tak pula hanya diterima, mereka pun diserahi kekuasaan?
 
Apa yang menjadi sebab manusia-manusia pribumi penghuni mula-mula pulau Buton merelakan diri mereka untuk hanya sebagai rakyat yang kemudian diidentifikasi sebagai Papara dan mengabdi dari para penguasa yang pendatang itu? Bagaimana para pendatang yang seharusnya menjadi pengikut (rakyat) tiba-tiba bisa menjadi penguasa dan tuan yang justru kemudian diikuti disembahi pula? Apa yang sebanarnya mereka bawa?

***

BANYAK pertanyaan yang bisa diajukan tetapi akan sangat sedikit jawaban yang bisa diberikan. Buton adalah keragaman, adalah kemajemukan, pluralitas adalah hakikat adanya. Di sana hidup berbagai suku, tumbuh berbagai bahasa, dan kaya ragam tradisi adat budaya. Di tengah keragaman yang plural itu, apa yang sebenarnya mengikat satu semuanya sehingga Buton bisa bertahan bahkan hingga dalam berpuluh abad lamanya?

Apakah sebenarnya identitas penyatu sebagai pengikat orang-orang Buton yang kemudian menjadi simpul kesesamaan sebagai sebuah suku bangsa dan mampu membuatnya bertahan bahkan ketika negeri ‘Bura Satongka’ ini ditimpa petaka intrik dan konflik internal dari dalam yang tajam terutama dalam masa negeri ini sebagai kesultanan? Inilah yang hilang dan kita generasinya kini seperti tak berkeinginan mencarinya, tak acuh!

Dalam masa dua abad lebih sebagai Kerajaan, 1311—1491, dan hampir mencapai lima abad lebih sebagai kesultanan 1491—1960 Buton telah dengan kokohnya berdiri. Paling tidak oleh banyak pupuh dan pararaton Jawa, Buton telah disebut tidak sekali sebagai sebuah kerajaan berdaulat (meskipun di bawah pengaruh kuasa Majapahit) dengan sistem keagamaan yang telah mencapai Brahmana—sebuah lapis pencapaian paling tinggi dalam keimanan Hindu-Buddha.

Kitab kuno Negarakretagama karya Mpu Prapanca menulis bahwa tanah pulau Buton dihuni oleh para Resi yang alim dengan lingga yang berdiri banyak sekali. Di sana disebut oleh mereka sebagai negeri para Resi, negeri tempat berdiam orang-orang alim yang taat. Terdapat aturan tata bermasyarakat yang pakem di sana, juga sistem kemasyarakatan yang melambangkan kemapanan tata sosial.

Tidak hanya mampu bertahan, bahkan Buton pernah berhasil menggapai lapis-lapis paling tinggi langit kemajuan peradaban dan teknologi maritime dalam perahu layar yang disebut sebagai “Lambo”. Keragaman tidak diambil sebagai kegamangan yang memberaikan, perbedaan tidak menjadi pemisah yang menyekat memecahkan. Banyak dari orang Buton membangun peradabannya memakai keragaman perbedaan yang mengayakan itu.

Di antara gumulan dua kekuatan besar: di barat—Gowa dan di timur—Ternate, Buton bisa survive bertahan dengan model defensive paling ampuh di masanya: “labu rope labu wana” meskipun kemudian kesultanan Buton tampak keteteran ketika Belanda masuk dan mulai menyebar kecemasan dari dalam: menghampar konflik sesama dalam apa yang disebut oleh mereka sebagai politik “adu domba”.

John Man—Seorang Travel Writer terkemuka dan sejarawan Inggris yang tulisan-tulisan reportasenya paling banyak dibaca orang di Inggris, menulis: dalam abad ke tujuh hanya orang-orang Sulawesi—sepertinya di kepulauan tenggara dengan perahu kecil berseliweran di perairan laut antara pulau Timor dan Australia mencari teripang dan lalu dengan perahu kecil pula teripang hasil tangkapan mereka dibawa ke China sebagai hasil laut yang paling digemari di sana.

Teripang adalah makanan khas kaum ‘elit’ dan paling disukai keluarga kerajaan di negeri Tirai Bambu itu. Jika saudagar-saudagar dan pesiar Arab, juga para pengelana Eropa telah melayari samudera lautan dengan Galey, dengan pasak tiang agung yang tinggi dan lambung kapal yang luas dan lebar, para pelaut Buton juga telah malarungi samudera dengan hanya berperahu Lambo.

Para pelaut Buton sebagaimana orang-orang Sama/Bajau/Bajo bisa meramal cuaca dan menerka arah datang angin dengan sangat akurat, mereka bisa menujum datang badai, bisa menerka bakal cuaca yang akan terjadi, bahkan bisa mengirakan waktu lama pelayaran dengan pasti dan sangat presisi. Dan kita kini bahkan mengeja identitas pengikat kesesamaan saja tergagap-gagap gugup tak mampu, lantas bisa apa? Apakah sebenarnya yang merupakan identitas kebutonan yang mengikat menyatukan kita semua itu? Ini yang hilang dan telah seharusnya bersama-sama kita cari!

Kalau, Keraton Buton 21 Agustus 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB