Posuo, Ritual Menguji Kesucian Gadis Buton #2

Friday, 11 April 2014 1 komentar


GADIS itu merunduk tunduk, mengulaikan kepala pada atas dadanya. Dalam duduk bersila, ia khusyu memelas meratapi lantai, tangannya meremasi jemarinya sendiri, tampaknya ia terseduk dalam tangis sembunyi diam-diam. Tak lama tangis diam-diam yang tertahan itu menaiklah tak tertahan menjadi tangis ronta yang meraung. Diselangi bunyi gong dan gendang yang bertalu seikut seirama, bertangis-tangisannlah semua mereka itu karena mengingat banyaknya dosa telah dibuat, mengingat banyaknya salah telah dilakukan.

“Kalian para Kabua-bua (gadis remaja) yang sebentar lagi akan memasuki status baru sebagai Kalambe (gadis dewasa) sudah harus memiliki rasa malu yang besar, sudah harus bisa membedakan laku baik dan buruk, sudah harus bisa memilah mana laku yang buruk untuk memilih laku yang baik. Kalian semua harus melalui waktu dengan berbuat hal bermanfaat, jangan melewatkan waktu dengan percuma, Sayangi ibu bapak kalian dalam selamanya jalan waktu, pada mereka keduanyalah letak kebaikan dunia akhirat, segala-gala kesuksesan bermula dan berpangkal dari restu doa keduanya, maka muliakan selalu mereka berdua itu” Seorang Bhisa menitah dengan tegasnya, semua gadis yang diposuo menyimak dalam tunduk dengan hikmatnya, mata mereka semua sebak, basah berkaca-kaca.

Inilah Malona Tangia--Malam Isak Tangis dalam ritual Posuo, malam ketika tangis diluapkan sejadi-jadi yang dimau, malam ketika airmata ditumpah sebanyak laku dosa yang telah dibuat. Biasanya tangis bermula dengan sesenggukan sebelum kemudian menaik menjadi rengek meraung yang memilukan.

Bahkan beberapa di antara mereka ada yang menggulingkan diri karena merasai sesal yang mendalam atau menumbuki lantai memakai tumit ujung kaki sebagai melampiaskan penyesalan telah banyak berbuat dosa. Karena tangis itu, muka para gadis posuo yang dibedaki tampak bergaris-garis, tercoreng belepotan oleh bedak dari beras tumbuk dihaluskan yang luruh karena dikenai air mata yang bergulungan jatuh.

Malona Tangia atau malam isak tangis adalah malam mengingat dosa, malam ketika seluruh laku berbuat selama umur hidup dibentang ditelanjangkan. Di situlah segala-gala dosa yang pernah dibuat datang membayang memenuhi kepala seluruh gadis yang diposuo. Banyak dari mereka kemudian tak kuasa mengendalikan diri, sesak dada mereka oleh sesal karena merasa telah melakukan dosa yang banyak, dalam tangis merengek bak anak kecil mereka memanggili ibu bapak mereka.


* * *

Asap dupa masih mengepul bergulungan, meliuk berkelok menaiki langit-langit kamar Suo. Bau kemenyan semerbak menyebar harum memenuhi ruang Suo. Pun gendang yang dipukul para Bhisa masih pula bertalu, ditabuh mengiring ritual tanpa henti terus-terus. Malam mendekati suntuk, angin telah bisa didengar desis hembusnya. Para gadis dalam gulitanya ruang Suo sedang khusyu dalam tapa berzikir mengeja nama yang Maha Suci melalui lingkar biji-biji tasbih, mereka semua larut dalam mengeja nama Tuhan pencipta.

Mereka saban malam berlaku begitu, melakukan doa tirakat bertafakur diri setelah ditinggal Bhisanya pergi, pulang beristirahat ke rumah kediamannya. Ketika Bhisa mereka telah diambil  lelap dalam buai tidur nyenyak yang melenakan, mereka semua gadis yang diposuo itu justru larut menghikmati lekuk liku makna kehidupan duniawi, meluruhinya dan lalu mengambil hikmah sari daripadanya. Memakai kesepian malam yang gelap dalam kamar Suo yang pengap, mereka mengkhidmati hakikat kehidupan, menyelaminya sampai di lapis paling dalam  

Di tengah sunyi gulitanya malam, di tengah senyap gelapnya ruang kamar Suo, mereka semua itu larut dalam ibadah menggumuli yang maha kuasa, memesrai yang maha pengasih, mereka ‘mengencani’ Tuhan. Maka ketika pagi harinya Bhisa datang, mereka semua itu telah dirasai suci, siap ‘disuapi’ dan menerima wejangan adat terkait tatahidup yang baik sebagai Kalambe—gadis dewasa Buton.

Bagaimana mereka berlaku di masyarakat, menjaga kesucian kehormatannya. Bagi Kalambe—Gadis dewasa yang hendak menikah bahkan ia diajarkan cara merawat alat genital kewanitaannya, juga bagaimana melayani ‘membetahkan’ suami. Isi syair kabhanti Kaluku Panda--Kelapa Pendek nya Lakobu yang berisi mengenai ajaran rahasia ‘berhubungan’ dibeber di sini. Maka itulah ada ungkapan bahwa perempuan Buton yang telah menikah dan mengetahui rahasia adat selalulah ia akan perawan terus, seperti kembang bunga Wijaya Kusuma yang mengatup rapat kembali setelah mekar melepas wangi semerbaknya.

Dalam ritual Posuo pula keperawanan seorang gadis Buton diuji kesuciannya melalui talu bunyi gendang yang dipukul memakai mistis. Jika salah satu gendang yang dipukul itu sobek kulit dindingnya maka Bhisa membaca itu sebagai tanda bahwa ada di antara gadis yang diposuo yang tidak lagi perawan, tidak lagi suci. Informasi mengenai ini hanya menjadi rahasia para Bhisa saja dan tidak dibawa diumumkan keluar.

Bagi perempuan Buton, kesucian memang menjadi syarat mutlak menerima seluruh rahasia pengetahuan adat. Banyak dari mereka yang tidak suci hanya punya kemampuan menggamit kulit luar saja tanpa kuat menyelami dan menerima seluruhnya rahasia isi dalamnya, maka itu tampak bagi mereka ritual ini hanya seperti seremoni pengenangan belaka, mereka malas-malasan mengikuti setiap sesi ritualnya dan merasai seluruh prosesinya sebagai pengekangan yang menyiksa dan membosankan.

Bagi seorang yang suci, ritual Posuo justru dilihat baik sekali dan memanglah dirasai sebagai media menggumuli ‘memesrai’ Tuhan dan wadah yang dipakai sebagai media untuk membukai labir rahasia yang menabiri substansi isi adat terutama terkait laku hidup yang baik bagi wanita dewasa. Tampaknya pesan ajaran tasawuf yang kuat di Buton ikut menulari juga ritual ini, bahwa segala-segala rahasia paling dalam hanya mampu diselami oleh hati suci yang bersih dan diterima oleh tangan-tangan mereka yang memiliki kesucian hati berperilaku.

Maka ketika kita menoleh menelisik, melihat jauh ke zaman dahulu bagaimana tanah Buton di bangun memakai fondasi adat agama yang kuat dengan tradisi berbudaya yang kokoh, ada nilai sakralitas religius mistis yang positif terbangun di sana, sesuatu yang kini itu tak terlihat lagi.

* * *

Dan kini ritual ini teronggok abai dan dilaksanakan sebagai hanya seremoni pengenangan belaka saja. Banyak Kabua-bua—Gadis Remaja beranjak naik jadi Kalambe—Gadis Dewasa tanpa lagi melalui ritual ini, mereka tak lagi berminat mengikuti ritual ini karena merasa selama prosesinya dikekang kebebasan mereka, dikungkung kreatifitas mereka. Juga arus kuat modernitas yang datang seperti bah menggerus kecintaan pada budaya daerah sendiri. Banyak kemudian kaum muda mudi melihat ini dengan nyinyir dan menyebutnya sebagai hal yang kolot yang katro.

Diperlukan kesadaran yang besar untuk menggaungkan semangat pelestarian setiap tradisi leluhur. Banyak budaya daerah yang memiliki nasib miris tersuruk jatuh menemui kematiannya oleh sebab keabaian dari masyarakat pendukungnya sendiri. Padahal budaya tradisi itu adalah kekayaan tak ternilai dari setiap bangsa/daerah yang di sana identitas jati diri sebagai bangsa/daerah itu terbangun. Maka kehilangan tradisi budaya samahalnya dengan kehilangan identitas jati diri sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah daerah, sesuatu yang tentu memiriskan.  

Solo, 12 April 2014

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB