Epos Perang Gowa—Buton

Tuesday, 15 April 2014 0 komentar



i. Prolog
BAHKANPUN sejarah abai mencatatnya, kecuali hanya ada sedikit informasi lisan lokal dan beberapa naskah anonim yang menggambarkan bagaimana invasi armada Gowa ke Buton dalam tahun 1666 adalah sebuah awal mulai bencana dan petaka besar yang memantik runtuhnya hegemoni kesultanan Gowa di timur nusantara. Perang besar koalisi Gowa-Luwuk-Bima-Portugis VS Belanda-Buton-Bugis-Ternate di teluk Baubau adalah perang dengan panggung paling megah, melibatkan banyak tangan (negara) dan mengumbar angkara murka paling dahsyat.

Tak ada yang menyangka bahwa laut di muka teluk Baubau pulau Buton akan menjadi panggung dimana perang hebat dihamparkan tergelar di sana dengan congkak sangat angkuhnya. Golak semangat histeria dan teriakan-teriakan mendesis yang meraung, erangan kesakitan saat mencapai sekarat seusai ditebas telah seperti melihatkan kawasan itu sebagai tempat pejagalan raksasa. 

Sumber-sumber lisan lokal dan beberapa naskah anonim mengisahkan bagaimana warna biru laut teluk Baubau telah berubah memerah karena banyaknya darah yang tumpah dengan mayat banyak sekali bergelimpangan mengapung di permukaan laut teronggok di sana sini

Teriakan-teriakan membaung, lolongan memanggil maut karena tak kuat menahan sakit akibat hujaman tombak yang tandas dan tebasan pedang telah mengalahkan gemuruh gulungan ombak musim barat yang datang menggunung menghantam tebing-tebing cadas pinggir pantai tanah pulau Buton. Sisa jejak keganasan perang itu  bahkan masih dapat dilihat hingga kini: Waara (sebuah tanjung di ujung selatan pulau Muna) sebagai tempat mundur pasukan Gowa di utara dan Pulau Makassar (Puma)—tempat sebagian pasukan Gowa ditahan (menurut Stapel berjumlah 5000 orang lebih) di sisi timur nya.

Sebuah naskah anonim menggambarkan detail sekali jalan dahsyat kobar perang laut itu: “Perang pada hari itu bagaikan percikan gempa bumi dahsyat di darat dan bagaikan terjadinya badai gelap dengan guntur dan petir yang sambar menyambar di laut, alam seakan sedih dan matahari lambat laun redup tertutup asap tebal senapan dan meriam dan bau mesiu menerpa dari empat penjuru. Benteng keraton Buthuuni yang terkena peluru bedil dan meriam menimbulkan percikan-percikan api yang tiada henti, sedang setiap anggota pasukan terlihat kesetanan tidak memikirkan matinya lagi.”

Misi penyerangan Gowa ke Buton telah seperti drama epos paling sarkas yang membawa Gowa tidak pada pencapaian gemilangnya kemenangan sebagaimana yang diharap dan diimpikan tetapi malah tersuruk jatuh dalam kubang gelap kekalahan paling menyakitkan dengan dipaksa mereguk pahit racun dicundangi yang mematikan. Tak pernah sebelumnya kesultanan Gowa mengeruk dana kas kesultanan dan lalu menggelontorkannya dalam jumlah yang besar serta mengirim prajurit dalam puluhan ribu jumlahnya dengan tujuh ratus buah kapal dilayarkan untuk sebuah misi invasi penaklukan paling ambisius zaman itu.

Tapi alih-alih hendak menaklukan, Gowa justru tandas terkalah dan ditekuk tertaklukkan. Ekspansi agresif mereka yang ambisius itu malah hanya membawakan mereka petaka. Ribuan pasukan Bugis Bone dan Wajo bawaan mereka malah kemudian menyempal berbalik menjadi musuh dan melawan menyerang mereka ketika seluruh mata pasukan Bugis itu melihat dengan terang Arung Palakka bersama La Tumparina Arung Atakka Arung Pattojo—Dua pemimpin mereka dengan heroik berdiri memimpin  dari atas anjungan kapal VOC menyerukan perlawanan dan penyerangan kepada Gowa.

Maka seperti arus bah yang berbalik arah alirnya, mereka semua pasukan Bugis Bone dan sebagian Wajo itu menarik ujung tombak mereka, mengeluarkan keris badik pusaka mereka dari sarungnya dan dengan histeria ditelanjangkan dituding-tudingkan ke udara dan ke muka hadapan mata pasukan Gowa. Segera pasukan Gowa membaca gelagat buruk itu sebagai awal petaka, pasukan kawan bawaan mereka justru berbalik kini menjadi lawan. Koalisi Buton-Bugis-Ternate-Belanda sukses dengan cepat memukul mundur pasukan Gowa yang terberai lari mencari selamat.

Dalam keadaan panik yang memuncak, panglima perang Gowa Karaeng Bontomaranu dengan kesatria memerintahkah sisa pasukannya untuk memutar haluan berbalik  dan menarik langkah mundur menjauhi teluk Baubau dan merapat menuju ke utara—daerah ujung selatang pulau Muna untuk mengatur siasat dan mengupayakan perundingan. Dalam bahasa Makassar utara adalah “Wara”. Beberapa orang menyebut dari sinilah muasal nama kampung Waara sekarang.

Bersamaan dengan mundurnya pasukan Gowa itu, lima ribu lainnya dari pasukan mereka berhasil ditawan oleh Speelman dan dengan kasar diseret ke sebuah pulau kecil bernama Liwuto di muka teluk Baubau. Di sana  mereka sebagiannya dijagal dengan bengalnya tanpa ampun dan mendapat perlakuan yang tidak patut. Oleh karena pejagalan itu, Belanda menyebut pulau Makassar di muka teluk Baubau itu sebagai “Makassarsch Kerkhof” atau “Kuburan Makassar”

Sisa yang lolos dari pejagalan dibiarkan hidup dalam kelaparan dan tidak diberi makan minum sampai ketika Speelman meninggalkan Buton dan berlayar ke Amboina Maluku barulah sultan Buton berbaik hati memberi makan minum dan pengampunan. Sejak dipakai sebagai tempat pejagalan tawanan Gowa itu, pulau kecil Liwuto di muka Baubau itu bergantilah nama menjadi pulau Makassar.

* * *

TAK ada perang paling besar yang menyebabkan Gowa tersungkur kalah dengan kerugian tenaga dan materi yang besar pula selain perang dan kekalahan mereka di teluk Baubau pulau Buton dalam tahun 1666. Sejak kekalahan di teluk Baubau itu, kesultanan Gowa mulai menuruni jalan tapak kemundurannya, pada sisi yang lain VOC Belanda menapaki jalan naik memulai menghegemoni, cakar jemari kolonialisasi mereka mencengkeram dengan semakin dalam kuatnya, dan dalam padanya seorang yang dahulu diburu dan menjadi musuh kerajaan telah bertukar kedudukan sebagai malah menjadi seorang yang disanjung terhormat, dipuja sebagai penguasa baru, penguasa yang setelah satu dekade semenjak kenaikannya memikul kuasa, ia telah mampu menggenggam dalam kuasanya seluruh tanah di semenanjung selatan pulau Sulawesi. Dialah itu: Arung Palakka.

ii. Sebab Buton Menerima Arung Palakka
LA MAINDO Raja Tua Batauga adalah simpul muasal turunan Arung Palakka di Buton. Dalam diri bangsawan Bone paling berpengaruh itu mengalir pula darah bangsawan Buton yang menurun langsung dari salah seorang putera La Maindo bernama La Kabaura dan seterusnya kepada seorang lelaki yang bertugas mengawasi pelabuhan dan sekaligus kepala juru bahasa yang digelari “Sabandara I Bone”. Paling tidak begitulah yang dituliskan Zahari II:76—77, juga Zuhdi, 2010:169.

Maka atas kaitan itu, sebenarnya kedatangan Arung Palakka di Buton adalah kepulangannya di kampung leluhur sendiri. Sebagai yang sedarah seturunan, maka bagi Buton tentu adalah menjadi keharusan melindungi dan melayaninya. Selama dalam pelariannya di Buton, Arung Palakka tak hanya diberi perlindungan tetapi juga diberi jabatan mengepalai Kadie sebagai Lakina Holimombo daerah di timur pulau Buton.

Dari berbagai sumber lisan bahkan ia disebut sebagai seorang perkasa tak tertandingi yang namanya “wajib” disebut ketika dalam perang telah terdesak dan tanda-tanda kekalahan mulai tampak. Dalam keadaan gawat seperti itu ada satu senjata pamungkas dikeluarkan yang oleh orang Buton dinamai senjata itu sebagai “Baadilina La Toondu—Bedilnya La Toondu”.

Konon jika senjata bedil itu ditembakkan, musuh yang disasarnya akan lari tungganglanggang mencari selamat karena besarnya takutnya dan selalu pasti barikade musuh bisa ditembusnya seberapa kuat dan bagaimanapun kebal tebal kokoh barisannya. Bahkanpun dari cerita lisan, sampai sekarang keyakinan itu masih ada, kuat dipercaya sebagai kebanggaan kolektif klan turunan La Toondu—Arung Palakka di Buton

* * *

iii. Sebab-Sebab Pemantik Perang
KARAENG Gowa Sultan Hasanuddin murka. Ia memanggil panglima angkatan laut nya: Karaeng Bontomarannu ke Istana dan memerintahkan penyiapan armada laut yang besar untuk misi penyerangan ke Buton. Paling tidak ada dua sebab murkanya Karaeng Gowa itu kepada Buton yakni berkongsinya diam-diam antara Buton dengan VOC Belanda tanpa sepengetahuan karaeng Gowa dan perlindungan yang diberikan oleh sultan Buton La Simbata kepada bangsawan Bone buruan Gowa: Arung Palakka.

Tetapi jauh dari dua sebab itu, Gowa memang menganggap Buton sebagai negeri Palili—bawahannya dan menempatkannya sebagai sangat strategis dalam kerangka pelayaran ke negeri muasal rempah di timur nusantara: Mamluk atau Maluku. Maka karena letaknya yang sangat strategis itu, juga sekaitan dengan sumber daya tenaga manusianya yang potensial, terus menguasai, menggenggam dan menundukannya adalah sebuah keharusan. (Zuhdi, 2010:141).

Maka ketika kongsi kerja sama diam-diam Buton—VOC Belanda terdengar diketahui sampai ke Gowa, bukan main murkanya Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin, apalagi ditambahi berita pula bahwa bangsawan Bone buruan mereka: Arung Palakka, ternyata berlindung disembunyikan pula di sana. Langkah dan ulah melindungi Buton terhadap musuh buruan Gowa itu dilihat oleh Gowa sebagai sikap lancang yang lancung dan pembangkangan abdi terang-terangan yang ‘kurangajar’ pada tuannya. Dalam masa itu posisi Buton di mata Gowa sangat jelas, tegas bahwa Gowa adalah negeri atasan yang menjadi “Tuan” bagi Buton.

Maka murka dilampiaskanlah sejadi-jadinya, pasak angkara peperangan dikerek naik setingginya, dari bibir pantai Panakukkang hingga di ujung tanjung Barombong kapal-kapal yang sebagiannya didatangkan dari Bira berjenis Phinisi dengan lambung dipenuhi mesiu, senjata dan serdadu berderet siaga dilabuhkan sebagai tengah bersiap menerima perintah penyerangan.

Gelagat yang sangat gawat itu dibaca oleh VOC Belanda sebagai tanda makin dekatnya perang besar terbuka di wilayah timur nusantara. Bangsa kulit putih Eropa ini bergegas sigap dan mengambil langkah aman mendahului. Pada 29 Maret 1666—Sembilan  bulan sebelum perang besar terbuka terjadi, mereka mengeluarkan “Resolutie” VOC untuk mengirimkan sejumlah amunisi, termasuk 20.000 ton dinamit dan perbekalan ke Ambon untuk mendukung perlawanan VOC dan sekutunya (Buton dan Ternate) terhadap orang Gowa Makassar (Stapel, 1922:94). Misi pengiriman amunisi itu dimaksudkan sebagai gertakan agar Gowa surut dalam ambisinya terus mengganggu Buton dan Ternate, dua sekutu dekat VOC Belanda

Tapi Gowa memang bernyali besar dan kuat dalam berpendirian, bagi mereka sekali layar terkembang pantang kapal surut ke pantai, sekali niat terkerek pantang utas ditarik turun . Pagi sekali, 26 Desember 1666, saat matahari baru menaik sejengkalan dari puncak gunung Lompobatang, pasak tiang agung kapal-kapal mereka didirikan, mereka telah mengerek menaikan layar pula. Tujuh ratus kapal dengan dua puluh ribu lebih prajurit bersiap untuk arakan berjalan dalam iringan serupa parade, menggaris lautan di selatan Makassar menuju arah naik matahari: di timur.

Kota pantai Jumpandang penuh sesak dengan orang-orang yang datang berbondong menyaksikan pelepasan pasukan Gowa itu. Ujung tanah batas di utara dan Panambungang batas di selatan. Sepanjang dari Ujung Tanah di utara itu sampai Panambungang di selatan tak ada sela karena begitu dempet rapatnya orang-orang. Laki-laki dan perempuan semuanya merasa sedih sambil meneteskan air mata. Bagaikan bunyi lebah suara dengung tangis mereka, bagaikan hujan lebat gemuruhnya suara orang yang meraung. Semua-mua orang seperti berkoor dalam tangis, serentak meraung di pinggir pantai yang landai itu. 

Belum benar terik matahari, mengembunglah kain layar kapal-kapal mereka, mulai berjalan membelakangi pulau Lae-Lae, lewat di Tanjung Bunga dan melintasi Barombong, setelah Barombong dibelakangi, moncong haluan seluruh kapal mengarah ke Sampuluangan dan Soreang, terus menuju Sawakung, melintas di Borikcekla, menghadapi Tamassongok menuju Galessong melintas di Sanrobengi, lalu berganti-ganti dilewati: Tanrinnata, Popo, Kalulu Bodoa, Mangindarak, Pammandongang, Kantingan, Sanrobone, Takalar di Selat Tanakeke, Topejawa, Cikoang, Kassikbumbung, Punaga, Barugaya, Tamalakba, dan Ujung Laikang.

Kapal-kapal layar yang lambungnya dipenuhi mesiu, senjata dan prajurit itu terus berlayar menuju muasal naik matahari di timur tempat tanah pulau Buton sasartujuan mereka. Mereka melewati pesisir Lembang Cina, Pasorongi, Ujung Batu, Pallammassang, Danuang, Ujung Lemo-Lemo, Liukang Loe, sampai di Selat Ujung Bira disaat terbenam matahari. Angin musim barat yang bertiup dari buritan melajukan kapal-kapal mereka itu hingga membawa mereka mencapai perairan tanah pulau Buton dalam hanya tigaharmal (tigahari tigamalam).

Arakan kapal-kapal pasukan Gowa itu dipimpin oleh Laksamana Karaeng Bontomarannu bersama Datu Luwu bernama Sethiaraja Alimuddin dan mengikut pula beserta mereka sekutu setia paling loyal, Sultan Bima (Lightvoet, 1880:125) juga (Patunru, 1993:43)

Banyak orang tidak mengetahui dan bahkanpun sejarah abai mencatatnya bahwa serbuan Gowa ke Buton itu adalah sebuah epos perang dengan panggung paling megah dan kobar amarah paling dahsyat dengan kesertaan prajurit dan kapal terbesar paling canggih di masanya. Perang hebat itu melibatkan banyak negara/kerajaan yang pada akhirnya hanya membawa Gowa ke dalam kekalahan paling menyakitkan dan kerugian materi paling besar.

Lebih lima ribu dari sisa pasukan Gowa dalam perang itu takluk ditawan dan lalu diseret dengan paksa ke sebuah pulau kecil di muka teluk Baubau yang kelak kemudian pulau itu dinamai pulau Makassar. Sepulang dari kekalahan perang di teluk Baubau pulau Buton itu, kekuatan pengaruh dan besar luas  kekuasaan kesultanan Gowa ikut melempem ciut, meriut surut pelan-pelan sebelum kemudian pada akhirnya padam. Negeri-negeri “Palili”—Bawahan Gowa di luar tanah selatan Sulawesi sejak perjanjian Bungaya diteken telah lepas merdeka, bebas dari pengaruh kesultanan Gowa.

Ini dilihat oleh Belanda sebagai tanda baik untuk memulai menguatkan cengkeraman dan mengeraskan tekanan atas Gowa. Benar saja, hanya tiga tahun setelah kekalahan di teluk Baubau pulau Buton itu, benteng Somba Opu dan Panakukang di Makassar jatuh dan Gowa sepenuhnya takluk. Legalitas runtuh takluknya Gowa itu disahkan dalam apa yang kemudian dinamai sebagai perjanjian Bungaya. Hasanuddin takluk dan berjalan turun menemui kejatuhannya disaat yang sama ketika Arung Palakka dengan sokongan Belanda meniti jalan menaiki puncak kuasa.

* * *

iv. Epos Pelarian Arung Palakka Dari Mata Orang Gowa
TANAH Lakiung Gowa—Makassar, awal Desember 1650. Langit di udara berawan hitam, seperti seluruh tanah negeri Gowa sedang ditutupi hitam kepak sayap besar burung rajawali raksasa. Tak tampak matahari, padahal telah siang hari, pun angin bertiup malas-malas, biarpun awan gelap menggelantung menutupi langit begitu, hujan enggan tak pula turun, dan hawa menyebar bukan main panasnya.

Sang raja mulia yang digelari Karaeng Tunisombaya itu duduk di pendapa dengan tak tenang hati, terlalu sering ia berdiri dan berjalan mondar mandir, sembari ia hanya berbicara dalam jurusan pikirannya sendiri, merenung-renung akan hal bakal terjadi, sesuatu hal buruk dirasainya telah dekat terjadi: Seseorang dari dalam istananya sendiri akan datang menghunuskan  badik menginginkan nyawanya dan naik merampas kuasanya.

Datanglah kemudian si ahli nujum, menghambur sujud sembah di kaki Karaeng yang mulia, Boto Lempangan nama ahli ramal itu. Ia adalah seorang ahli ramal paling terkenal di Lempangan, sebuah kampung di Utara Gowa. Berkata Karaeng Gowa: “Hai Boto (ahli nujum), masih adakah orang yang akan merebut kekuasaanku, membobolkan tanah Gowa, dan meruntuhkan benteng ini?”. Dengan tersenyum Boto Lempangan menjawab: “Ya Tuanku, ampun beribu ampun, Aku tidak mau berdusta Tuanku, masih ada.”

Kaget terperanjatlah Tunisombaya, merah padamlah rupa wajahnya karena sirapan darah yang naik ke muka. Di tatapnya baik-baik wajah Boto Lempangan dan yang ditatap gugup gelagapan bukan main. lalu kemudian balik bertanya Karaeng Tunisombaya: “Bagaimana tampan-tampannya orang yang akan merebut kekuasaan dan meruntuhkan kerajaannku?”. Dengan tergagap karena gugup, menjawablah Boto Lempangan: “Ibunya sekarang sementara mengidamkannya”.

Diumumkanlah kepada seluruh pembesar negara, bahwa siapapun saja perempuan dengan perut bunting dan sedang mengidam atau muntah-muntah harus dibunuh semuanya. Dengan perintah itu, dibunuhlah semuanya perempuan yang sementara bunting mengidam. Tak ada bersisa.

Enam bulan berselang setelah itu, dipanggillah lagi Boto Lempangan ke istana Karaeng Tunisombaya. Berkata karaeng Tunisombaya: “Hai Boto, masih adakah orang yang akan merebut kekuasaanku?”. Menjawab Boto Lempangan: “Beribu Ampun Tuanku, Masih ada. Sekarang ini sudah berumur enam bulan di dalam perut kandungan ibunya”. Diperintahkan lagi kepada seluruh pembesar kerajaan agar membunuh semua perempuan yang hamil mengandung enam bulan. Habis semua perempuan yang hamil enam bulan dibunuhi.

Dari dalam istana, permaisuri Karaeng yang juga sedang hamil mengandung datang bulan bersalinnya, tiba saat melahirkannya. Saat matahari baru sejengkal merangkaki bukit Cempalagi, ketubannya pecah, besertanya pecah pula tangis yang lengking. Ia melahirkan bayi lelaki dengan pipi kemerahan montok sekali, kepalan tangannya kuat, rupa bayi mungil itu digambarkan tampan sekali. Oleh Karaeng Tunisombaya dinamainya bayi dagingnya itu sebagai Andi Patunru.

* * *

PELARIAN Arung Palakka di Buton digambarkan dramatis apik sekali dalam epos Bugis Makassar berjudul “Sinrilikna Kappalak Tallumbatua”. Dalam epos ini Arung Palakka disebut sebagai Andi Patunru yang juga digelari Karaeng Tunicindea. Ia dikisahkan sebagai anak raja Gowa Karaeng Tunisombaya yang bersama saudaranya terusir dari istana Karaeng Gowa oleh sebab tuduhan bahwa mereka bersaudara itu akan membunuh Karaeng Gowa Tunisombaya—Ayah mereka sendiri untuk kemudian naik menduduki kuasanya. Saya mengutipkan dari epos itu beberapa paragrafnya  saja, hal yang sekaitan dengan ketibaannya di tanah Buton dan situasi kejadian selama dua tahun masa pelariannya di Buton.

* * *

PAGI-PAGI benar merapatlah perahu tiga buah itu di pelabuhan Butung. Layar telah tergulung dan jangkar pun sudah dilabuhkan. Gendang pun dipukullah (dibunyikan), bertepatan dengan bangunnya raja sultan Butung  yang bernama I Kannyongkali. (hal.203)

Beliau bersabda: “Hai Tumakkajannanngangku, surobangkeng bicaraku (penyambung lidahku) pergilah engkau menanyakan apa muatan perahu itu, periksalah apa dagangannya, tanyakan pula negeri yang akan dilayarinya dan teliti baik-baik negeri asalnya. Katakan perahu darimana ini, negeri mana yang akan dituju sehingga engkau datang kemari ini ke pelabuhan kediaman Raja Sultan Butung. Kalau engkau datang untuk membeli, di sini tidak ada penjual. Kalau datang untuk menjual, di sini tidak ada pembeli. Kalau datang untuk tinggal menetap, katakana sudah tidak ada lagi negeri yang mungkin ditinggali. Kalau datang untuk bertamu, kita tak dapat menjamunya. Kalau datang sebagai kawan, kita tak dapat membantu. Kalau datang untuk melihat perempuan, tidak ada orang putih, karena kita ini di Butung melulu orang hitam semuanya. Katakana pula padanya, Engkau datang berlabuh di pelabuhan Tunisombaya, lalu engkau tidak membayar cukai pelabuhan. (hal.203)

Bangkitlah utusan Raja Sultan Butung langsung berjalan turun menuju pohon dendedendea (nama pohon di pinggir laut) mendorong sampannya. Kemudian naiklah dia di sampannya dan mengayuhnya dengan tergopoh-gopoh. Beberapa saat kemudian sampailah dia ke perahu yang ditumpangi Karaeng Tunicindea. Utusan itu disapa dengan hormat. Setelah duduk dengan baik di belakang tempat kemudi, ditanyailah seperti berikut: “Utusan! Apa maksudmu kemari, di perahu yang kutumpangi?” (hal.204)

Berkatalah utusan: “Ini adalah perintah Raja Sultan Butung. Perahu darimana gerangan sampai berlabuh di pelabuhan raja Sutan Butung di pagi buta ini? Apa muatannya, apapula dagangannya. Kalau Tuan datang untuk membeli, kita kurang barang, kalau datang untuk menjual, kita kekurangan uang. Kalau tuan datang sebagai tamu, kita tidak mampu menjamu. Kalau Tuan datang untuk tinggal menetap, tidak ada negeri yang mungkin ditinggali. Kalau Tuan datang untuk berperang, tidak mampu untuk dihalangi (dilawan). Kalau Tuan datang untuk melamar perempuan katanya, tidak ada orang putih di sini, semuanya orang-orang hitam. Tidak ada gerangan bea Tuan, tidak ada tempat berlabuh Tuan, sedangkan ini teluk dan pelabuhan raja yang dipertuan!” (hal.204)

Menjawablah Karaeng Tunicindea, yang dikucilkan di Lakiung: “Perahu ini datang dari Bira, putra Tunisombaya di Gowa yang menumpang ke timur, ke sini karena aku mau menemui Sultan Butung. Kedatanganku kemari dengan maksud yang baik saja, hati yang senang kubawa. Pulanglah ke darat dan beritahukan rajamu bahwa keturunan Gowa ada di bawah, cucu Somba Barombong, anak kandung Karaeng Tunisombaya, anak yang dilahirkan  dari perkawinan bersama I Bajira Karaengta di Paranggi” (hal. 204)

Pulanglah utusan turun di sampannya dengan tergopoh-gopoh mengayuh. Tak lama kemudian sampailah ia ke istana di hadapan sultan Butung. Setelah duduk dengan baik, ia segera ditegur oleh raja Sultan Butung: “Perahu dari mana, Utusan?”

Menjawablah utusan: “Perahu dari Bira, ditumpangi oleh anak Tunisombaya di Gowa, cucu kandung dari Karaeng Somba Barombong, anak yang dilahirkan dari perkawinan bersama I Bajira Karaenta di Paranggi”.(hal.205)

Berkatalah Sultan Butung: “Kembali lagi engkau ke sana, utusan. Bujuk dan katakana kepadanya, bagaika intan katanya disenangimu, bagaikan zamrud disenangimu, bagaikan emas engkau disimpan di dalam hati. Sudah lama sultan Butung mengharapkan kedatangan Tuan. Beliau sangat menginginkan agar tuan sudi menginjak  pekarangannya, duduk di istananya!” Bangkitlah utusan menuju pinggir pantai  lalu mendorong sampannya. (hal.205)

Berkatalah sultan Butung: “Hai sekalian penghuni istana, pakailah semua pakaian kemuliaanmu. Perbaiki sisir rambutmu. Kira-kira begitu empat puluh orang. Jika tiba ke mari anak Tunisombaya pergilah engkau semuanya menghadap kepadanya. Hendaklah kalian menghormati dan membesarkanya. Jangan engkau sepelekan aku (raja Butung) yang kebesaranku ada pada Gowa”(hal.205)

Berpakaianlah semua penghuni istana, tidak ada yang hitam, semuanya dipilih yang putih dan cantik yang akan pergi menghadap untuk menyabut. Sesampainya utusan sultan Butung di hadapan kemuliaan Karaeng Tunicindea di Gowa, ia pun disambut dengan pertanyaan: “Utusan, apa hajatmu sehingga dua kali engkau menghadap dalam waktu yang sesaat?”.

Menjawablah utusan sultan: “Penyampaian sultan Butung ialah bagaikan intan, katanya disenangimu, zamrud dicintaimu, bagaikan emas disimpanmu di dalam hati. Beliau sangat mengharapkan kedatangan Tuan. Beliau ingin sekali diinjak pekarangannya, dan dimasuki istananya. Sudah lama katanya Butung tidak diperhatikan oleh Gowa, dan baru kali ini ada orang Gowa datang ke mari.”

Berkatalah Karaeng Andi Patundru: “Ya kembailah engkau ke atas, aku berpakaian lebih dahulu baru aku naik. Baru saja aku meninggalkan Gowa, memang Butunglah yang akan kudatangi.” Kembalilah utusan sultan Butung dengan mendayung bergegas-gegas. Tidak lama kemudian sampailah di hadapan sultan Butung. Diperiksalah utusan itu: “Bagaimana tanggapan raja yang baru tiba itu?”

Menjawablah utusan: “Begitu katanya meninggalkan Gowa memang Butunglah yang ditujunya.” Beberapa saat kemudian selesailah bersiap Karaeng Andi Patundru dan juga Karaeng Petta Bello, Gallarang Bira, dan karaeng Bira. Naiklah di sampannya, mendayunglah ke atas (di pinggir pantai). Di atas sudah ada raja Sultan Butung menunggu di pohon dendedendea. Di sebelah kanannya adalah para pembesarnya dan di sebelah kirinya adalah rakyatnya, diiringi oleh abdinya yang setia, di belakangnya adalah raja-raja bawahan semua. (206)

Dijemputlah Karaeng Tunicindea, dipegang tangannya, dikawal pula oleh panritaiya (guru agama atau ulama) di sebelah kirinya. Lalu dipeluk lehernya dan dicium pipinya di kanan kirinya. Dituntunlah tangan kanannya oleh sultan Butung, dan dituntun pula tangan kirinya oleh pengapit sultan Butung terus masuk di kaki tangga istana.

Muncullah dari dalam rumah istri kesayangan sultan, keluarga rumah tangga sultan Butung diiringi oleh kepala dayang-dayang dan pengiring lainnya yang berjumlah tiga puluh orang. Sesampainya di bawah dipegangnyalah tangan kiri karaeng Tunicindea di gowa oleh istri sultan Butung. Dituntunlah naik (berjalan di tangga) diiringi hati gembira. Di atas (ruang tamu) sudah dipasang (dihampar) tikar permadani. Setelah Karaeng Tunicindea, Karaeng Patta Bello, dan semua temannya (rombongan) duduk dengan baik, diangkatlah sirih pinang yang sudah berlipat ditarus di atas talam emas murni. (206)

Tak lama kemudian diangkatlah hidangan, dihadaplah bersantap oleh sultan Butung, dikelilingi oleh abdi penghuni istananya. Sehabis bersantap diangkatkan lagi air anas disertai dengan kue-kue yang bermacam-macam. Sesudah makan kue, berkatalah Sultan Butung: “Hai Nak, apa gerangan maksudmu sehingga engkau kemari?”

Menjawablah Karaeng Andi Patunru: “Tiada juga apa-apa, hanya saja aku datang kemari hendak melihat negeri Butung, begitu juga sultan dengan istananya sehingga ada yang bisa kujadikan bahan pembicaraan kalau kembali ke Gowa.”

Ketika malam tiba ia pun bermalam bahkan diajak tinggal menetap di Butung. Sultan Butung ini mempunyai dua orang gadis, yang seorang bernama  Sitti Bayang Rijeknek dan yang seorangnya lagi bernama Sitti Bayang Rikilak. Keduanya juga ikut duduk  menghadap Karaeng Tunicindea dari Gowa itu.

Berkatalah Sultan Butung: “Lebih baik engkau tinggal menetap di sini, di Butung. Salah satu di antara anakku yang dua itu engkau senangi (ingini) apakah Sitti Bayang Rijeknek ataukah Sitti Bayang Rikilak dapat engkau persunting. Aku ingin juga mendapatkan emas yang berasal dari Gowa. Mudah-mudahan ada keturunanmu menjadi “Pattola” dan menjadi raja di Butung ini.”

Menjawablah Karaeng Andi Patunru: “Aku bersedia tinggal di Butung dan mempersunting anak sultan Butung asal Tuan bersedia mengantarkan aku kembali ke Gowa sebab aku pergi meninggalkan tanah Gowa dengan membawa hati yang pedih. Kalau sampai kuingat dan kurenungkan di dalam hati terasa sangat berat. Bagaikan Guntur yang menggelugut berputar di kepalaku, karena tidak ada kesalahanku, tidak ada pelanggaran adat yang kuperbuat, tidak ada larangan yang kulanggar, sampai aku diusir dari Gowa ditolak di Lakiung akibat ulah Karaeng Boto Lempangang. Karena itu aku sangat mengharapkan bantuan sultan. Besar Butung tetapi lebih besar lagi kegembiraanku kalau tuan bersedia mengantar aku kembali ke Gowa membopong hidupku untuk berjumpa dengan ibu kandung yang melahirkan aku dan juga adikku yang masil kecil-kecil; juga orang tua yang memelihara aku; dan orang tua yang menyusukanku. Kalau sampai kuhitung jerih payah ibuku yang empat itu dalam memelihara aku amatlah menderitanya. Ibuku sangat menderita sewaktu aku dalam kandungan, begitu juga sewaktu dia melahirkan aku. Demikian juga ibu piaraku yang selalu berdoa demi kebaikanku sehingga aku bertambah besar. Aku digendongnya ke mana-mana naik turun. Begitu pula ibu yang menyusukanku meskipun di saat tengah malam  kalau aku sedang menangis, mereka bangun dan duduk walaupun dalam keadaan sangat mengantuk. Dijadikannya sandaran bulu matanya, penghujung subuh, dia jadikan waktu tidur. Itulah yang selalu kuingat, itulah yang kubawa dari Gowa, Moncong-Moncong, Mamampang, dan Bisei.”

Menjawablah Sultan Butung: “Aku terharu mendengar tutur katamu, Nak. Namun apa hendak dikata, aku hanya berkemauan tetapi tidak berkemampuan. Lagi pula bukan semacam Butung yang bisa melangkahi tanah Gowa. Pertama karena tidak ada senjataku, kedua aku kekurangan rakyat di Butung, ketiga tidak ada pemberani yang bisa menghadapi Gowa, keempat tidak perongkosanku, kelima durhaka bagi orang Buton untuk menyebut-nyebut Gowa, lebih-lebih kalau berupa tindakan kekerasan sebab Butung bertuan kepada Gowa.”

Tiba-tiba berkatalah Karaeng Andi Patunru: “Kira-kira di mana ada yang dapat memerangi Gowa, yang bisa menggulingkan Barombong, dan yang bisa menggulingkan Mamampang?”

Berkatalah Sultan Butung: “Ada baiknya kalau engkau pergi ke negeri Bima, mudah-mudahan ada kemampuannya.”

Tinggallah Karaeng Andi Patunru di Butung tiga hari tiga malam. Hadirlah semua anak keturunan raja Butung, hadirlah juga sekalian raja-raja bawahan, berkumpul pulalah Gallarrang Bate Batea, pemangku adat, dan orang pemutus bicara (pengambil keputusan). Berkumpul pula guru agama (ulama) dan para pegawai syara untuk menghormati Karaeng Tunicindea bersama Sultan Butung.

Setelah cukup tujuh hari tujuh malam pamitlah untuk kembali Karaeng Bira dan Gallarrang Bira, Berkata: “Kami sudah mau kembali sebab Tuan sudah jauh kutitipkan, sudah tidak ketahuan ini oleh Karaeng Tunisombaya. Tinggallah tuan di sini untuk menenangkan hati satu bulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun, mudah-mudahan Tuan dapat melupakan Gowa.”

Berangkatlah Karaeng Bira, diiringi oleh Karaeng Tunicindea di Gowa bersama saudaranya Patta Bello. Teruslah turun di pinggir pantai menaiki sampan menuju ke perahu yang akan ditumpanginya. Memanggillah dua kali karaeng Bira, berkata: “Hati-hatilah Nak di Butung karena aku sudah mau kembali.”

Karaeng Andi Patunru dua bersaudara menghempaskan dirinya di tempat menjalarnya “Lekleria”—sejenis pohon di pinggir laut. Barulah mereka sadar dan mengucapkan kalimah syahadat bahwa mereka terusir dari negerinya. Sejak dari nenek moyangnya tidak ada yang diperlakukan demikian, tiba-tiba mereka harus menerima kenyataan yang demikian.

Berkatalah Sultan Butung: “Aku tahu kesusahanmu Nak, tapi apa mau dikata, serahkan kepada yang punya dan janganlah sekali-kali engkau lupa kepada Allah Taala. Mudah-mudahan dikemudian hari ada keturunanmu muncul dan berkuasa di tanah Gowa, di Moncong-Moncong.”

Berkatalah karaeng Tunicindea di Gowa: “Hai Sultan Butung!, mudah-mudahan benar ucapanmu dan dikabulkan doamu agar pada suatu saat nanti engkau akan kembali ke Gowa, ke Moncong-Moncong, guna mempertaruhkan hayatku. “Kukawarui kotaya” kerbau hitam “ammassukanga patompok”, “camara”, bertanduk emas murni. Rantai “manila” yang dijadikan tali pengikat yang dipegang, emas “nipeppek bayang” dililit di kepalanya. Emas murni nanti dibikinkan baginya “kakkalu”, “passikkik” sajalah mengikutinya dari belakang. Dia nanti membikin terbangun pagaduk, dan aku mengelilingi tujuh kali berturut-turut, sambil bersenang-senang hati. Aku akan berjaga juga di gunung Lonjokboko. Aku akan berpesta pora tujuh hari tujuh malam dan membangun tenda tujuh buah untuk bersenang-senang hati. Kemudian kukumpulkan familiku yang tidak senang kepadaku “sangrangkakna”—sebaya, sederajat tanah Gowa begitu juga Bate Salapanna Gowa.”

Berkatalah Sultan Butung: “Mudah-mudahan diterima doamu Nak, oleh Allah Taala dan dikabulkan kesungguhan hatimu.”

Kini mereka sudah cukup satu tahun tinggal di Butung. Duduklah anak Tunisombaya diadat disanjung, dihadap duduk oleh seorang terhormat. Sampai cukup dua tiga tahun dihormati di Butung. Mendengarlah berita Karaeng Tunisombaya tentang kehadiran Karaeng Tunicindea di Butung, bahkan sudah bertahun-tahun mendapat lindungan di sana.

Pedagang Rampegading ini ke Butung membeli “karokok”—kain layar dan rotan untuk diperdagangkan. Disitulah dilihat karaeng Andi Patunru. Dan memang ada penyampaian Karaeng Andi Patunru yang mengatakan: “Wahai pedagang, kalau engkau nanti kembali ke Gowa jangan sekali-kali engkau membicarakan aku, jangan sampai aku ketahuan oleh Sombaya begitu juga Bate Sallapanna Gowa sehingga ia mendatangi aku di sini.”

Menjawablah pedagang Rampegading: “Walaupun dua kepalaku Karaeng, aku tidak berani bercerita tentang kehadiran Karaengku di tanah Butung.”

Selanjutnya pesan Karaeng Andi Patunru: “Hai pedagang, peliharalah keselamatanku, dan aku juga memelihara keselamatanmu. Mudah-mudahan pada suatu saat aku dapat kembali ke tempat kelahiranku, pulang ke kampung halamanku.”

Berkatalah pedagang Rampegading: “Ya, Karaeng satu kali berkata, maka aku sepuluh kali.”

Nahkodanya bernama I nyanggak, jurumudinya bernama I Luklung, jurubatunya bernama I Manynyambeang. Kemudian berangkatlah pedagang Rampegading itu sesudah minta permisi pulang.

Dalam perjalanan pulang ke Gowa terjadilah pembicaraan serius antara nahkoda, jurumudi, dan jurubatu tentang kehadiran Karaeng Andi Patunru dan sudaranya di Butung. Ada yang mau menyembunyikan berita itu, tetapi I Nyanggak (nahkoda) ingin membongkar rahasia itu.

Kemudian berkata Karaeng Tunisombaya: “Apa betul pengetahuanmu tentang Karaeng Andi Patunru?”

Menjawablah I Nyanggak: “Ya Karaeng, baik sekali pengetahuanku karena akulah yang ditemani bercakapcakap.”

Berkatalah Sombaya: “Baiklah, kalau dia tidak ada di Butung aku akan membunuhmu. Kuhancurkan rumahmu, kurampas barang-barangmu, dan akan kubunuh sekalian familimu kalau dia tidak ada di Butung.”

“Potonglah aku dengan parang sampai hancur, seperti pasir kecilnya kalau memang dia tidak ada di Butung sebab dia bercakap-cakap denganku. Mulutnya berkata kepadaku Karaeng.”

Berkatalah karaeng Tunisombaya: “Bagaimana dengan kakaknya apakah engkau melihatnya juga?”

I Nyanggak menjawab: “Ada juga aku lihat Sombangku.”

Kembalilah I Nyanggak kemudian dipukullah gendang kebesaran Gowa, sebagai tanda supaya masyarakat berkumpul. Dibunyikan jugalah lesung kembarnya untuk memanggil masyarakat.

Berdatanganlah masyarakat dari semua penjuru Gowa. Sudah hadir Karaeng Bate-Batea yang teguh pada kebenaran, sudah hadir juga Bate Sallapanna Gowa, orang yang kuat pada adat, yang berdiri pada kebenaran.

Kemudian berkatalah Bate Sallapanna Gowa: “Sombangku, apa gerangan sebabnya sampai dikumpulkan orang banyak?”

Berkatalah Karaeng Tunisombaya: “Hai engkau sekalian Bate Sallapanna Gowa yang teguh pada kebenaran, begitu juga Karaeng bate-Batea. Ada Andi Patunru bersama Petta Bello sekarang di Butung. Berpakaianlah dan datangi mereka di timur. Bumi hanguskan Butung kalau betul ada di timur dan ikat dengan rantai besi rajanya. Jangan engkau membunuhnya tapi ikatlah bersama dengan istrinya, anaknya bawalah ke mari. Rampas barang-barangnya kalau memang dia ada di sana. Kalau dia tidak ada maka janganlah bertindak apa-apa.”

Setelah genap dua hari bersiaplah Bate Sallapanna Gowa, Karaengta Pattunga, Karaenta di Burakne, panglima perang Gowa. Sudah siaplah Karaenta di Pattekne, “Kalimalolo”—lalat di Gowa. Diambilkanlah orang terhormat, pemimpin adat empat puluh. Semua pemberani dicari, pertama tobo Leklenna Barombong, kedua Cambang toana paropo, ketiga Cambang toa di manngasa, keempat Batu Naparaknya Songkolok, kelima Cambang Tinggi di Mamuju, keenam Cambang Raulo, ketujuh Cambang Tinggi di Sapaya, kedelapan Cambang Bissolorok.

Begitu lengkap persiapannya tersedia pulalah perahunya. Empat puluh dua perahu memuat orang banyak, seratus limapuluh orang dimuat oleh sebuah perahu. Palu palu, “kanjaiya”, keris, tombak, “salaka”,  “pammuluka”, “sorobaya”, masing-masing sama banyaknya. (212)

Tiga hari tiga malam sesudah meninggalkan Bira, merapatlah masuk di pelabuhan Raja Butung pada saat menjelang terbit matahari. Berkatalah Raja Butung kepada Karaeng Tunicindea: “Ada perahu empat puluh dua buah jumlahnya. Bagaimana penglihatanmu, perahu darimana gerangan?”

Berkatalah Karaeng Tunicindea: “Menurut penglihatanku, perahu itu dari Gowa. Sudah pasti aku yang dicari. Pukullah gendang agar semua orang berkumpul kemudian kita berperang dengan orang Gowa, sebab aku sudah jauh, namun tetap mereka mencari-cari aku.”

Berkatalah Raja Butung: “Lebih baik engkau disembunyikan, engkau dimasukan saja ke dalam sumur kemudian ditimbuni tanah lalu diberi lagi sampah di atasnya.” Menjawablah Karaeng Andi Patunru: “Apa yang dianggap baik itulah yang kami turuti.”

Diratakanlah tanah bagian atas pada sumur itu dan ditimbuni dengan sampah. Setelah perahu yang empat puluh dua itu merapat di tempat kediaman Raja Butung, layarnya digulung dan jangkar diturunkan. Mendaratlah prajurit Karaenta di Burakne, Karaenta di Pattekne, Karaenta Pattung, Karaenta Jarannika, Karaenta Lekokbokdong, Karaenta di Mamampang, dan Bate Salapang Gowa, lalu dikepung tempat kediaman Raja Butung.

Berkatalah penjaga pintu istana yang dua puluh empat orang: “Orang dari mana gerangan yang sedang mengepung istana rajaku di Butung ini?” Berkatalah mereka yang sementara mengepung itu: “Cepat panggil rajamu.” Naiklah penjaga pintu istana mencari Raja Butung, namun tidak diketemukan karena dia ketika itu berada di dalam biliknya. Berkatalah permaisuri raja: “Hai penjaga pintu, perahu dari mana memuat orang banyak sekali lengkap dengan persenjataannya?” Berkatalah penjaga pintu: “Perahu dari Gowa, perahu Karaeng Tunisombaya di Gowa untuk menemui Raja Butung.”

Masuklah permaisuri ke dalam bilik membangunkan suaminya sambil berkata: “Bangunlah! Sudah ada Sombaya di Gowa dan istana kita sudah dikepung.” Bangunlah Raja Butung memakai songkok kerajaannya, memakai celana kekuasaannya, baju singgasananya, keris kerajaannya. Pendek kata lengkaplah pakaiannya. Turunlah di kaki tangga istana menyambut tangan Karaenta di Burakne dan berkata: “Apa maksud kedatangan Tuan, begitu bersusah payah ke tempat yang begini jauh dan lengkap dengan senjata?”

Berkatalah Karaenta di Burakne: “Ini perintah Karaeng Tunisombaya di Gowa. Karena ada katanya di sini Karaeng Andi Patunru. Dialah yang disuruh diambil. Berbicaralah dengan sebenar-benarnya untuk kubawa pulang. Menurut penyampaian Karaeng Tunisombaya, dia ada di sini. Dia akan dinobatkan. Mengapa ia enggan menduduki kedudukannya padahal dia sudah menjadi “Patimatarang”—Pangeran, bapaknya nisomba (dipertuan) dan kalau dia mangkat, harus dia yang menggantikannya. Mengapa dia bertindak sebodoh itu, pergi ke mana-mana. Katakanlah sejujurnya, di mana dia sekarang. Kalau engkau mengatakan dia tidak ada, maka aku akan membumihanguskan negeri Butung. Kurampas barang-barangmu, engkau kubunuh, kucincang bagaikan pasir di pantai. Kuambil pula anak istrimu, kalau engkau tidak berkata sejujurnya.”

Menjawablah Raja Butung: “Aku tidak mau mengaku karena memang dia tidak ada di sini. Walaupun engkau tidak memotong leherku, kalau dia tidak ada di Butung aku akan memberitahu juga, karena takutku kepada Raja Gowa dan aku tidak mau dikotori oleh kerbau yang bermandi lumpur.”

Berkatalah Karaenta di Burakne: “Lebih baik ita cari jejaknya, dicari sampai didapat.” Maka pergilah orang mencarinya di mana-mana. Tiga hari tiga malam dicari ke mana-mana hingga sampai lima hari mencari jejak orang-orang yang pemberani. Sudah sampai tujuh hari berkeliling mencari jejak secara bersungguh-sungguh. Semua hutan telah dimasukinya, hutan besar hutan kecil, tidak ada lagi yang tidak dirambah.

Dicarinya lagi di gunung Butung, di sela-sela batu, namun tetap tidak diketemukan. Kembalilah sekalian orang pemberani itu. Berkatalah Bate Salapang bersama pemberani: “Tidak ada hutan yang tidak kita jejaki, besar ataupun kecil. Tidak ada juga gunung yang tidak kita daki, tinggi ataupu rendah. Tidak ada liang batu yang tidak kita masuki, yang dalam ataupun yang dangkal namun tetap tidak diketemukan.”

Dicarilah nahkoda I Nyanggak yang pernah mengemukakan hal ini. Setelah nahoda itu hadir  maka ditanyailah oleh Karaenta di Mamampang: “Omong kosong saja yang engkau katakana, karena dia tidak ada di Butung padahal engkau mengatakan dia ada.”

“Bagaimana mungkin tidak ada Karaenta, aku sendiri yang bicara dengannya.” Ditunjukan tempat duduk yang pernah diduduki Patta Bello dan tempat yang pernah diduduki Raja Butung. Berkatalah karaneta di Mamampang: “Omong kosong saja yang engkau katakana, karena dia tidak ada di Butung.” Kemudian berkatalah Raja Butung: “Aku rela diruntuhi gunung kalau Karaeng Andi Patunru ada  di atas tanah Butung ini.”

Berkatalah Karaenta di Mamampang: “Lebih baik kalau engkau bersumpah.” Maka disumpahlah Raja Butung seperti berikut: “Aku akan ditimpa purujawa (penyakit kulit), akan bengkak dan luka leherku, dan aku berjalan pincang kalau dia ada di atas tanah Butung.” Maka berkatalah Karaenta di Mamampang: “Apa lagi?” Berkatalah Raja Butung: “Aku akan ditimpa penyakit “pogek”—penyakit bengkak pada mulut, akan robek mulutku sampai ke telinga kalau dia ada di atas tanah Butung.”

Berkatalah Karaenta di Mamampang, Karaenta di Bisei: “Engkau semua pemberaniku, engkau semua sederajatku, anak Pattolaya semua, dan engkau semua Bate Salapang Gowa marilah kita pulang ke Gowa.”

Kembalilah mereka pada hari yang kedelapan. Tiga hari setelah rombongan orang Gowa itu pergi, barulah Karaeng Andi Patunru diangkat dari dalam sumur beserta saudaranya. Karaeng Tunicindea berkata kepada Raja Butung: “Kira-kira kapan engkau bawa aku pergi?” Berkatalah Raja Butung: “Hari Jumat subuh. Begitu tiga hari kemudian di pagi hari Jumat berangkatlah Karaeng Andi Patunru bersama Raja Butung.

Ketika hendak meninggalkan Butung, menyanyilah Karaeng Tunicindea di Gowa: “Kalau nanti kita berpisah jangan engkau membicarakan aku dengan tidak baik tetapi bicarakanlah aku bagaikan gula dan aku membicarakan engkau bagaikan kelapa.” Bersiaplah perahu yang akan ditumpanginya dua buah beriringan. Berlayarlah keluar, meninggalkan tanah Butung bersama Karaeng disertai dengan Gallarang Bate-Batea, pemangku adat dan hakimnya. Lajulah perahunya dibawa angin timur laut.

* * *

v. Epilog
TAK ada kedamaian sebelum perang datang menghampar sebagaimana lautan yang teduh setelah badai datang mengiriminya gelumbang. Segala-gala peperangan sebenarnya adalah pangkal jalan mula-mula menuju ke kedamaian. Semakin ganas perang, semakin lapang jalan damai karena dalam apapun keburukan yang ganas sebenarnya di baliknya tersembunyi kebaikan yang besar pula. Dan kita yang manusia, memiliki keduanya sisi berian Tuhan itu: baik dan buruk

Dan perang, dari mana-mana pun dilihat adalah tentu hal yang buruk sekalipun dalam padanya ada terkandung hal yang baik: kedamaian—tetapi itu baru bisa direguk setelah usainya perang itu. Seperti laut yang tenang setelah badai datang melewati, hubungan Gowa—Buton nyaris tak lagi pernah berseteru secara frontal sejak usai perang itu. Kedamaian menghampar tercipta di sana dengan sangat mahalnya karena harus ditumbalkan ribuan orang korban dari kedua belah pihak.

Sebuah kutipan sastra klasik Wolio dari Kabanti “Bunga Malati” karya La Ode Kobu Yarona Labuandiri menutup catatan ini:
            mincuanapo isarongi amasega
            ne sabutuna atalo sabara lipu
            tabeana isarongi amasega
            atalomea hawa nafusuuna

            belum disebut pemberani
bila hanya mengalahkan segala negeri
kecuali yang disebut pemberani
telah bisa mengalahkan hawa nafsunya.
           

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB