Mengapa Jokowi Jadi Sasar Serangan?

Friday, 21 March 2014 0 komentar


SEJAK mandat penunjukan Jokowi sebagai Calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan diumumkan ke publik, telah begitu bertubi serangan datang menohok si pakde yang kalem itu. Ia disasar dengan berbagai tudingan macam-macam, bahkan beberapa diantara tudingan itu  telah mengarah ke rumor yang bablas, dan bahkan menjurus ke fitnah. Mengapakah Jokowi telah dijadikan sebagai sasaran ditohok? Dan mengapapula tohokan itu tampak agresif ngotot sekali? 

Jokowi meskipun kurus kerempeng badannya adalah seorang yang besar dan kuat pengaruhnya. Ia memiliki elektabilitas paling tinggi dari lain-lainnya. Paling tidak survei terakhir yang dilakukan SSSG (Soegeng Sarjadi School of Government) menyebutkan persentase tingkat keterpilihan Jokowi mencapai angka 40%, jauh dari lainnya yang hanya mampu mencapai angka 10% ke bawah.

Maka ketika ia di dorong maju, bagi rival lawan politiknya itu dibaca sebagai “bencana” bagi mereka, segala-gala kemudian seperti tampak muram sehingga dengannya ketakutan menyertai, konsentrasi para pelawannya itu buyar sejenak karena kaget dan kekhawatiran yang besar akan kekalahan yang telah di muka mata, ini dengan cepat segera mengubah konstelasi, sejak deklarasi Marunda yang memastikan kesertaan Jokowi dalam pemilihan presiden 9 Juli 2014 mendatang, suhu politik nasional terkerek menaik. Maka dalam buyar karena panik yang kalap itu serangan yang serampangan terhadapnya dilayangkan.

Apa reaksi Jokowi terhadap semua serangan kalap itu? “Sudahlah, biar masyarakat yang menilai, saya ndak mau ikut mengomentari, nanti malah jadi panas”. Ia dengan kalem melanjutkan: “Saya kira nda mendukung (saya capres), ya nda apa-apalah. Kita tunjukan sopan santun kita, tidak baik saling mencemooh, saling mengejek, saling menyerang”.

Jokowi telah seperti pohon besar yang berdiri menjulang tinggi, dengan akar kokoh yang jauh rambatnya mencakar ke dasar tanah. Dan dalam keadaan seperti itu hanya angin yang keras jugalah yang mengenainya. Ia hanyalah badannya saja yang kurus kerempeng tetapi pengaruhnya segemuk banteng di gambar logo partainya.

Maka ketika ia tahu sedang mendapat serangan yang besar, saat itu pula ia pun tahu bahwa dirinya dilihat oleh lawan saingan penyerangnya itu sebagai lawan kompetitor tangguh yang berat. Inilah hebatnya seorang Jokowi, ia sabar berkarakter kuat, tidak meladeni cemoohan dengan cemoohan. Ia tahu bahwa makin ia dicemooh, ia akan makin diemongi.

Sulit memang dibantah kecuali bagi mereka yang “gelap mata” bahwa sejauh ini dalam kerja kepemimpinan yang sudah dan sedang diembannya, Jokowi berhasil membangun identitas, integritas, dan citra diri sebagai seorang pemimpin yang sederhana, berani, otentik, dan bersih. Setidaknya belum ada data yang secara telak membantah ini kecuali hanya segulungan rumor yang selama ini beredar memenuhi ruang-ruang maya media sosial.

Serang tohoklah Jokowi dengan apapun juga sekuatmu, ia adalah pedang, dan menyerangnya adalah mengasahnya. Ia hanya akan makin tajam mengilap.

Demangan Jogja, 17 Maret 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB