Dokter Lie, Dokter Penolong Kaum Miskin

Saturday, 8 March 2014 0 komentar


MASIH tak lekang dari ingatan, bagaimana pada 20 januari 2014 lalu seorang bernama Suparman yang biasa dipangili Mbah Edi, kakek renta pasien miskin berusia 63 tahun di Lampung  dibuang di sebuah rumah gubuk pinggir jalan desa yang sepi oleh rumah sakit yang seharusnya secara kemanusiaan berkewajiban menampung dan bahkan merawatnya.

Kakek renta miskin yang malang itu nekat datang sekarat di rumah sakit berharap dapat ditolong tapi malah ia ditolak bahkan dibuang pula dan lalu kemudian tewas mengenaskan ketika dalam perjalanan ke rumah sakit untuk dengan terpaksa mendapatkan pertolongan.

Tampaknya uang masih kuasa di atas segala-gala bahkan dalam sisi kemanusiaan sekalipun. Apa yang terjadi itu makin kuat menegaskan benarnya “kabar angin” bahwa rumah sakit hanya untuk kaum yang kaya berduit, dan tidak ada ruang bagi kaum yang miskin. Tentu ini memiriskan.

Dan sebenarnya dengan begitu itu, tanpa sadar atau bahkan memang disadari kita telah memasuki sebuah praktik yang kita sendiri hanya mengutuknya di muka keramaian banyak orang, sedangkan di belakang yang sepi dan senyap kita justru adalah pendukung dan penyokongnya: Kapitalisme.

* * *

DI TENGAH gemuruh laju derap kaki dan cengkeraman tangan kapitalisme yang kuat mengerangkeng dan menguasai watak birokrasi pelayanan medis rumah sakit tanah air, seseorang justru mengambil jalan berlawanan yang berlainan dari lainnya itu. Ia memilih melakukan sesuatu yang banyak tidak dilakukan oleh kawan dan sahabat seprofesinya, hal yang oleh mereka bahkan langkah itu disebut sebagai hal “gila”.

Adalah dr. Lie A. Dharmawan, seorang ahli bedah berketurunan Tionghoa membangun kapal rumah sakit dari receh dana sendiri untuk kemudian dengan kapalnya itu ia berlayar mendatangi warga miskin di seluruh pelosok tanah  air yang didera sakit dan mengobati dengan tanpa pula memungut biaya dari mereka.  

Apa yang ia semai adalah apa yang ia tuai. Ia menyebar membagi kasih juga balik mendapatkan kasih. Ia dengan mudah berempati, sebagaimana juga dengan mudahnya simpati kemudian mengalir datang padanya. Ribuan orang miskin diselamatkannya dan dari mereka ia mendapatkan berkat didoakan untuk pula selamat, dan dalam seperti itu, uang menjadi tak bernilai, tak ada apa-apanya, jasa budi yang luhur di atas mengalahkan segala-gala.

Bagi beberapa kaum miskin yang didatanginya dan telah berhasil ditangani dan disembuhkannya, dokter murah senyum itu adalah seperti malaikat penyelamat yang datang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolong mereka. Banyak dari pasiennya yang kaum miskin itu tak berhenti berterima kasih padanya bahkan sekalipun ia sendiri mengatakan: “Berterima kasihlah pada Tuhan”.

Dia telah berusia lawas, telah 67 tahun umurnya, tetapi semangat menolongnya dan nurani kemanusiaannya terus berbara menyala tak padam. Apa yang dilakukannya menohok ulah laku kawan seprofesinya yang selama ini tunduk mempraktekan berlaku kapitalis yang melihat uang sebagai di atas segala-galanya dan menempatkan rumah sakit sebagai ruang “mahal” dan mengesani sebagai “hanya untuk orang kaya” saja. Dengan “mata uang” seperti itu, tak peduli seberapa gawat kondisi dan parahnya sakit pasien. Uanglah yang akan mengantarnya ke kamar perawatan.

dr. Lie A. Dharmawan, PhD., memang mungkin tak mendapat materi melimpah dari kerja kemanusiaannya itu tetapi ia dilimpahi simpati, empati, dan jasa budi yang luhur, sesuatu yang tak ternilai tinggi harganya. Jasa materi bisa balas diganti, jasa budi yang luhur bagaimanalah pula balas menggantikannya? Dan yang tidak bisa digantikan oleh manusia, akan digantikan oleh Tuhan.

Demangan, Jogja, 8 Maret 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB