Orang Buton: Kasar Dari Luar, Lembut Dari Dalam

Thursday, 13 February 2014 0 komentar


BAHKAN seorang Giles Milton dalam Nathaniel’s Nutmeg, 2000: 149—150 menulis dengan naratif sekali mengenai watak karakter pemimpin orang Butung__Buton dalam masa-masa eksplorasi ekpansif paling ambisius yang dilakukan oleh orang-orang barat di belahan dunia timur nusantara. Tidak hanya kontur tanah pulau Buton—Muna yang berbatu, keras, dan cadas, manusia-manusianya yang berkulit legam hitam dengan sorot mata cekung yang tajam menegaskan kekerasan yang tampak dari luar itu.

Dituliskannya, seorang raja Butung__Buton menyambut dan kemudian mendampingi beberapa pelaut dari perusahaan Hindia Timur Britania__East India Company (EIC) dengan sesuatu yang dirasai oleh para tamunya itu sebagai hal ‘aneh’. Para tamu kulit putih dari Eropa itu dijamu dengan sajian daging setengah mentah yang amis dan dibubuhi rempah yang manis sekali, sesuatu yang itu tidak biasa bagi mereka.

Itu tampaknya berasa aneh di lidah orang-orang barat itu, sekalipun nyinyir dan tampak menjijikan, sebagai menghargai mereka terus saja melahap daging sajian itu dengan tersenyum dipaksakan. Di sebuah kamar dalam rumah raja itu dipenuhi dengan jejeran tengkorak batok kepala manusia yang bergelantungan membanjar bersisian. Tidak ada yang bertanya mengenai batok tengkorak siapa yang dipajangi dideretkan begitu, mungkin bagi mereka itu adalah semacam tempat samadi

Pun tidak ada yang mengetahui maksud menempatkan batok tengkorak kepala manusia di salah satu kamar rumah raja itu, sesuatu yang pasti bahwa tempat itu bagi para pelaut bangsa Eropa itu tampak menyeramkan, menyebar mistis, dan tentu menggidikkan bulu kulit. Terlepas dari kesan luar yang tampak kasar menyeramkan itu, orang-orang barat dari Eropa itu menyebut sambutan raja Butung__Buton itu sebagai sangat ramah dan paling berkesan.

2 Mei 1608, kapal dagang Britania Raya Consent yang ditumpangi Middleton mengirim salvo ke udara Baubau sebagai tembakan penghormatan kepada Raja Buton, tertekenlah kemudian pakta dagang saling menguntungkan antara Buton dan East Indie Company (EIC). Para awak kapal dagang Consent bekerja sepenuh semangat memenuhi lambung kapal mereka dengan cengkeh, pala, dan bunga pala.

Semua rempah hasil bumi nusantara itu dibawa dilayarkan ke Inggris selama dalam enam bulan lamanya di lautan. Di sana ia bak permata, direbutkan dengan larisnya. Dibeli murah di Buton dengan hanya seharga 3000 poundsterling dan dijual mahal disana dengan kenaikan berkali lipat seharga 36000 poundsterling. Dari keuntungan yang berlipat-lipat itu pasak niat kolonialisme dikerek menaik. Banyak orang Eropa tergerak niatnya untuk mengkoloni negeri-negeri di timur nusantara karena melihat keuntungan yang besar dan masa depan yang cerah di sana.  

Tentu inilah penghilang kesumpekkan dari selama enam bulan lamanya terlunta di lautan dengan resiko karam dihempas ganas gelumbang atau meram digasak galak para bajak rompak. Keuntungan yang melimpah itu, menghapus keletihan selama dalam masa pelayaran dan memantik menaikan semangat untuk kembali berlayar melarungi lautan

Keuntungan yang melimpah berlipat ganda dari kongsi dagang dengan Buton itu membuat Middleton kesensem hendak kembali berlayar ke timur nusantara. Hanya tiga bulan setelah kedatangannya di Inggris, ia memanggil semua awak kapalnya untuk kembali menaikan pasak tiang agung dan mengerek layar menuju ke Buton.

Awal tahun 1610, memakai kapal yang lebih besar dari sebelumnya bernama Ekspedition ia larungilah lautan menyusuri pantai barat Afrika hingga sampai di Tanjung Harapan, menyeberangi benua Asia untuk mencapai selat Sunda sebelum kemudian sampai di Banten dan meneruskan pelayarannya ke Buton. Sayang sekali persediaan cengkeh, pala, dan bunga pala yang sebelumnya telah disimpankan raja Buton terbakar hangus oleh sebab perang saudara Buton dengan kerajaan tetangganya (Key, 1993:37).

***

AWAL Desember 1612 VOC memasuki selat Baubau yang sempit dengan cemas. Tidak tampak di mata mereka ‘kehidupan’ berdenyut di pulau ini selain hanya geliat kekerasan saja. Di depan muka mata mereka, ratusan orang dihardik dengan kasar, diperintah kerjapaksa dengan cambukan cemeti layaknya binatang. Atau sebagian lainnya digiring kasar berjalan dengan kaki dirantai dan tangan diikat, diangkut dinaikan di atas kapal yang entah akan membawa mereka ke mana

Itu adalah budak-budak culikan yang didapatkan dari ekspedisi dan penyerbuan di daerah pesisir Filipina Tengah, Indonesia bagian Timur, Papua New Guinea, Arekan atau Delta Mekong (Coppenger, 2012:41). Reid, 1983:29—31 bahkan dengan tegas menyebutkan bahwa orang-orang Sulu, Buton, dan Tidore paling terkenal dan sangat ahli dalam hal  melakukan ekspedisi penyerbuan dan penculikan budak-budak tersebut.

Kesan luar yang tampak ‘kasar’ itu mentah terbantahkan ketika pimpinan armada VOC Appolonius Schotte diterima dengan penuh ramah tamah oleh sultan Buton La Elangi. Rupanya apa yang tampak dari luar itu jauh tidak sama dari yang terlihat dari dalam. Bahkan usai pertemuan itu, Schotte memuji selangit sultan Buton sebagai seorang yang berdedikasi dan berhati mulia. Setelahnya, bahkan Speellman pun menyanjung orang-orang Buton seluruhnya sebagai pejuang-pejuang paling tangguh (Reid, 1983:170)

Ketika kapal dagang VOC karam tenggelam di perairan Sagori Kabaena, sultan Buton memerintahkan agar dilakukan evakuasi penyelamatan bagi seluruh awak dan barang angkutannya, hal yang kemudian itu terus dikenang oleh Belanda sebagai ‘kelembutan’ orang Buton pada sahabatnya. Belanda kemudian membalas kebaikan orang Buton itu dengan memberi bantuan militer dalam menghadapi ekspansi agresif kerajaan Gowa di Barat dan okupasi aneksatif Kesultanan Ternate di Timur.

Hubungan ‘mesra’ Buton—Belanda itu berjalan cukup lama melintasi hampir empat abad lamanya berselang dengan dinamika sekutu dan seteru yang massif sekali. Dalam bersekutu, oleh Belanda, Buton disebut sebagai ‘anak’ sebagaimanapula Buton memanggil ‘ayah’ pada Belanda. Ketika sesekali Buton—Belanda pecah kongsi dan berseteru, itu dilihat oleh Belanda sebagai hanya ‘kenakalan’ anak-anak pada ayahnya, atau oleh Buton sebagai hanya mencari perhatian atau ‘protes’ pada keangkuhan ayahnya.  

Bahkan sampai tahun 1947 ketika bangsa Indonesia telah dua tahun mengumumkan kemerdekaannya bendera merah putih biru milik Belanda masih berkibar di Kasulana Tombi kesultanan Buton. sebuah relasi tak putus yang berpaut sangat dekat. Nantilah ketika Soekarno mengumpulkan para raja se-Nusantara di Makassar dalam tahun 1950, Buton baru berafiliasi masuk ke dalam NKRI dan seketika melucuti semua terkait simbol-simbol Belanda di Buton. Sejak itu, tandaslah usai segala-galanya.

Sebait syair dari Kabanti Kanturuna Mohelana__Lampunya Orang Berlayar yang berisi pengakuan  kedigdayaan bangsa barat dalam paruh kedua abad ke-17 menutup catatan ini:

            hee komiu manlinguaka jinisi
            rua bandera bangusa momaoge
mokopangkana amboresiy duniya
tangkanapo Inggirisi tee Walanda
ikuasana obangusaa walanda
imasyariki akamatea inciya
imagaribi ajaganiya inggirisi

wahai kalian segala jenis
dua bendera bangsa yang besar
yang berpangkat menempati dunia
hanya inggris dan belanda
yang kuasa bangsa belanda
di masyrik dia yang tahu
dan di magrib dijaga inggris
           
Rawamangun, 12 Februari 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB