Cerita Puteri Duyung dan Pantai Katembe

Monday, 3 February 2014 0 komentar


CERITA mengenai Puteri Duyung kali pertama muncul di Assiria Suriah dalam tahun 1000 SM. Adalah ibu dari ratu Assiria, Semiramis bernama Dewi Atargatis jatuh hati dan menyimpan perasaan cinta pada lelaki gembala miskin yang papa dan jelata. Lelaki gembala yang malang itu kemudian didapatinya mati terbunuh oleh sebab hubungan ‘tidak lazim’ mereka yang ditentang adat itu.

Dewi Atargatis merasa terpukul dan sangat malu atas diketahuinya hubungan mereka yang membawa kematian kekasihnya itu, ia merasa dialah penyebab kemalangannya itu datang. Iapun lari meninggalkan gemerlap megah istana dan mencebur diri ke telaga berlumpur sembari berharap dirinya berubah menjelma ikan saja karena besarnya malu dan rasa bersalahnya itu.

Tetapi air telaga itu tampaknya segan pula, pesona kecantikan sang dewi Atargatis mengerlip berpendaran memenuhi telaga, menjelmalah ia ikan sebagaimana ingin harapnya, tetapi hanya setengah badannya saja. Kedua kakinya bersatu menjadi ekor dengan sisik berkilau sampai pinggulnya. Muka cantik dan mulus montok dadanya telanjang bersih tak terkenai sisik.

Cerita mengenai Puteri Duyung melanglanglah sampai ke Yunani. Di negeri kaum Sparta ini, Puteri Duyung dikenali sebagai Darketo. Ia adalah adik Alexander Agung Tessalonike yang menjelma puteri duyung setelah kematiannya.

Ia berdiam tinggal di laut Aegea dan selalu bergentayangan mencegat kapal-kapal pelaut yang melintas dengan pertanyaan yang jika salah dijawab akan menyebabkan murkanya dengan mendatangkan badai, membuat laut bergolak dengan gelumbang, dan mengutuki para pelaut itu sehingga tidak dapat selamat.

Dalam versi yang lain, orang-orang Yunani kuno mengenali mahluk manusia sepenggal ikan ini sebagai bernama Siren atau Seirenes. Ia hidup dan tinggal di lautan dengan karang-karang besar dan tebing yang cadas. Pulau tempat mereka berdiam tinggal dinamai Sirenum Scopuli.

Para siren atau Seirenes ini akan menyanyikan lagu-lagu yang memikat hati dan melenakan para pelaut yang melintas sehingga kapal mereka menabrak karang dan tenggelam. Jika telah melewati laut tempat para Siren berdiam tinggal, biasanya para pelayar akan menyumpal telinga mereka agar tidak mendengar nyanyian para Siren yang membuai dan melenakan itu.

* * *


ADA pula dongeng serupa di kampung kami, dongeng yang berkisah mengenai manusia yang menjelma ikan duyung. Dongeng itu adalah dongeng Si Puteri Duyung atau di kampung kami dikenal sebagai Wandiu-Diu. Ia Wandiu-Diu itu adalah perempuan berparas cantik nan jelita dengan dua anak, lelaki kelamin kedua anaknya itu. Anaknya yang sulung dinamainya Lacurungkoleo dan si bungsu dinamainya Lambata-Mbata.


Dia  Wandiu-Diu si Puteri Duyung itu adalah ibu dari dua anak lelaki yang sangat dikasihinya. Karena besar kasih kepada dua anak yang dicintainya itu, ia merelakan dirinya, badan tubuhnya menjadi sasar tampar pukul tangan kasar suaminya. Ia ikhlas dipukuli asalkan jangan anak-anaknya yang disentuh dan kenai tampar pukul tangan kasar suaminya itu. Telah tak terhitung kali ia dikasari, ia dikerasi sampai ia sendiri lupa bagaimana rasa perih dikenai pukul dan tampar tangan.

Ia mendorongkan badannya dengan rela untuk dipukuli saja suaminya asal jangan badan anak-anaknya yang kecil mungil imut itu dikenai tampar kasar tangan suaminya. Suatu kali ketika batas sabarnya meriut habis dan kebenciannya menaik jadi amarah, ia linglung panik dan akhirnya bangkit melawan, ditantangnya mata pandang tajam suaminya dengan lototan yang sama tajamnya.

Ketika sebilah dayung dari kayu yang keras patah berantakan mengenai punggungnya, ia beringsut mundur, lalu melompat turun dari serambi belakang gubuk reot mereka. Dengan sekuatnya tenaga ia lari segesitnya menujui tepi pantai yang lautnya bergemuruh oleh hempas dahsyat gulungan ombak laut musim barat.

Setibanya di sana, di bibir pantai yang landai, diceburkannya dirinya sendiri ke dalam gulungan gelumbang laut musim barat itu, dan sekali gulung, badan imutnya itu terseret tenggelam tak muncul lagi, gulungan ombak laut musim barat yang menggunung itu seperti menelannya. Sejak itu meyatimlah Lacurungkoleo dan Lambata-mbata.

* * *


LANGIT cerah, angin bertiup pelan dengan sepoi. Laut teduh, hanya ada riak kecil-kecil memukul-mukul tepi perahu yang ditambatkan. Sinar matahari berkilat kilau mengenai riak lautan itu. Di kejauhan perahu-perahu nelayan dengan kain layar mengembung busung dikenai tiup angin saling kejar berburuan mencapai tepi pantai. Ini musim timur, musim ketika langit cerah, musim ketika laut teduh tanpa gulungan ombak, musim ketika angin datang bertiup dari tempat matahari merangkak naik


Siang-siang, matahari di langit bersinar dengan terik mengangkangi bumi yang kerontang oleh panas, dua bersaudara berjalan menyusur pantai, menujui ujung pantai, angin laut menyapui muka mereka, dan rambut keduanya berkibar ditiup angin laut. Di sana mereka melagukan nyanyian menghadap ke laut, melarungnya sebagai sesaji pada arwah ibu terkasih mereka

Bertuah benar nyanyian itu, baru sekali lantun ia telah bisa memanggil datang ibu mereka. Ibu mereka datang dengan kaki telah berbentuk ekor ikan dan seluruh badannya bersisik. Ia telah menjelma ikan duyung. Mereka melepaslah rindu di situ, bersuka ria Wandiu-Diu mengemongi dua anaknya, membelai-belai rambut mereka dengan berlinang air matanya. Konon latar tempat segalanya itu terjadi di Pantai Katembe.

* * *


14 JANUARI bulan lalu, satu scene shooting sebuah film berlatar Buton dilakukan di Pantai Katembe. Beberapa bintang film/sinetron nasional hadir di sana. Saya melihat antusiasme tidak hanya datang dari warga kampung sekitar yang berbondong datang menonton prosesi pengambilan gambar itu tetapi juga dari para pekerja seni/artis nasional yang sedang tampil memamer tampang berakting disitu.


Saya menanyai salah seorang dari mereka dan betapa saya kaget sekali pantai yang di mata kami biasa saja itu dipujinya setinggi langit sebagai pantai yang menyimpan potensi besar jika dikelola dengan benar. Garis pantai yang panjang dengan pasir putih bersih yang halus memang tak pelak menciptakan pesona.

Pantai di tanjung Madongka ini dinamai Katembe sebab hanya beberapa meter dari mulut pantai terdapat beberapa buah sumur berair tawar. Memang ini agak mengherankan banyak orang sebab sangat jarang ditemukan air tawar di muka bibir laut. Katembe adalah bahasa daerah lokal yang berarti ‘tawar’ atau ‘yang tawar’. Ia menjadi saksi latar tempat kisah dongeng puteri duyung yang melegenda dan bahkan sampai kini itu terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat kampung kami yang melihat pantai Katembe sebagai Pantai Puteri Duyung.

Pantai Katembe, 2 Februari 2014

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB