Mengurai Sengkarut Relasi Pelik Buton—Muna #2

Thursday, 30 January 2014 1 komentar
 
#Dari Mata Orang Muna

SEBELUM Ts’ai Lun menemukan kertas dan Johan Gutenberg menemukan mesin percetakan, dunia dibangun memakai segulungan kisah dongeng, mitos, dan segala yang melisan lainnya. Segala-gala pengetahuan dan peradaban dimajukan dengan sebaran yang melisan melalui bisik cerita dari mulut ke mulut.

Dalam ilmu susastra, dongeng dan mitos-mitos itu dianggap sebagai ada kebenarannya yang diselip tersembunyi dari balik kalimat-kalimat bersayap yang alegoris, metaforis, dan terlampau ambigu pemaknaannya, sesuatu yang kini itu ditolak oleh para pemikir rasionalis.

Maka karena tersembunyi itu mengambil makna sebenarnya haruslah dengan menukik, masuk ke dalam yang tersirat. serta merta menyebut dongeng, mitos sebagai kebohongan dan fantasia belaka adalah tentu tidak tepat, berlebihan dan terlalu dangkal. Maka dua mitos yang terus hidup dalam pengetahuan kolektif orang-orang Muna dan Buton akan diambil sebagai pembanding, dan karena ini dari mata orang Muna, maka zooman dan fokus catatan ini akan banyak berdiri dan diarahkan melihat Buton dari sana.

* * *

BAHKAN sebagaimana di Buton, Muna, negeri yang juga disebut Pancana atau oleh Belanda, Gowa dan Ternate dilafal sebagai Pansiano ini membangun kisah mula-mula keberadan negeri mereka memakai sebuah mitos persis sama dengan mitos serupa yang juga dibangun oleh orang Buton. Hanya saja mitos kedua negeri berjiran itu dibedakan oleh dua tokoh sentral pembangun ceritanya.

Di Muna, manusia bambu dalam mitos kisahan turun temurun itu adalah seorang berkelamin lelaki dengan rupa muka digambarkan tampan sekali, ia dideskripsi nyaris sempurna sebagai manusia pemimpin dan tampaknya bertanda klan bangsawan pada dirinya. Lelaki dari dalam bambu itu kemudian diidentifikasi dengan nama La Eli atau bernama alias Baidudhamani bergelar Mobeteno ne Tombula.

Kelak La Eli atau Baidudhamani atau Mobeteno ne Tombula ini kemudian dinikahkan dengan seorang puteri yang juga manusia asing yang konon datang terdampar di sebuah bukit berbunga__’Kontu Kowuna’ bernama Bahutara__Mungkinkah Bahtera? yang waktu itu disitu masih lautan.

Puteri asing yang terdampar itu sama misteriusnya dengan La Eli. Konon dia adalah puteri buangan Luwu. Ia dihukum oleh ayahnya yang adalah raja Luwu atas tuduhan telah berzina dan memalukan klan bangsawan tanah Luwu. Ia hamil, mengandung janin di rahimnya tanpa diketahui lelaki yang membenihinya. Tidak hanya disempal dari tanah Luwu, ia juga dilepas seluruh gelar dan status kebangsawanannya. Puteri itu di Muna dikenal Watandiabe

Maka untuk membuktikan tidak bersalah, dilarunglah ia ke laut lepas, ke samudera nan luas, tradisi seperti ini sampai sekarang kukuh dipegang orang Luwu, laut dianggap sebagai media melepas noda dosa, bahwa jika memang benar tidak bersalah maka laut akan menolong menyelamatkannya tetapi jika benar bersalah maka segala mahluk ganas lautan akan memangsa menelannya.

* * *

TETAPI sebaliknya di Buton, manusia dari dalam bambu itu adalah berkelamin wanita dengan muka rupa cantik sekali, berkulit langsat, mata sipit dengan rambut panjang lurus menjuntai turun hingga mata kaki, konon ketika ia ditemukan tak sehelaipun ia berpakaian, seluruh badannya ditutupinya memakai juntaian lebat bulu rambutnya. Wanita yang rupawan itu kemudian dinamai Wa Kaa Kaa dengan gelar puteri Mobetena Yi Tombula, beberapa orang menyebutnya bernama alias Mussarafatul Izzati (Lihat Djarudju, 12:1995)

Ia disebut dalam beberapa literature sebagai puteri Kubilai Raja Mongol berwangsa Khan, seorang paling digadaya yang ikut dalam misi pelayaran menyerang Jawa untuk menghukum Raja Singhasari Prabu Kertanegara karena penolakan ketundukannya pada Kubilai Khan dengan bahkan melukai muka utusan ayahnya itu.

Tapi misi itu gagal total, mereka datang bermaksud menaklukkan, malah akhirnya merekalah yang tertaklukkan. Adalah Raden Wijaya seorang bangsawan Jawa ambisius yang juga menaruh dendam pada Kertanegara, ia  ikut menumpangi mereka. Datang sebagai kawan dan menawarkan jasa kesertaan dalam misi penaklukkan itu, setelah kemenangan digenggam dan Singhasari jatuh, berbalik diam-diam, ia serong menjadi lawan.

Di tengah euphoria mabuk kemenangan pasukan Mongol, Ia dengan bengis membantai nyaris seluruh pasukan Kubilai itu. Tunggang langgang sisa pasukan berlarian mencari selamat, takut murka Kubilai jatuh mengenai mereka, mereka memilih tak pulang ke Mongol, mereka mengerek layar kapal, melarungi lautan berarak membelakangi barat tempat asal datang mereka imperium Kubilai di semenanjung Mongolia, mereka semua mengarahkan kemudi menuju Timur, sampailah akhirnya terdampar di Buton. begitulah umumnya dikisahkan orang-orang, tentu memerlukan riset mendalam memastikan kebenarannya.

* * *

DARI cerita mitos yang legendaris itu, orang Muna kemudian membangun anggapan dan klaim sepihak bahwa sebenarnya merekalah lelakinya dan Buton adalah wanitanya. Dalam perspektif ilmu semiotika ini bisa ditafsir mudah sekali yakni  pengesanan bahwa merekalah yang di atas sebagai pewakil simbol tanda ke‘lelaki’an itu.

Bahkan sampai sekarang pada umumnya orang Muna menganggap diri sebagai samasetara dengan Buton dan tidak merupakan bagian apalagi pernah berada di bawahnya sampai kemudian masa suram yang kelam datang dari pusat kuasa Buton di Wolio turun seperti bah mencaplok memberangus memaksakan ketundukan bagi mereka memakai dan menggandeng di tangan asing bangsa kulit putih: Belanda.

Ketika putera raja Muna ke VI Sugi Manuru bernama Lakilaponto secara mengejutkan naik tahta di Buton menggantikan raja Mulae Sangia Yi Gola dalam tahun 1419, ia melakukan hal revolusioner yang tidak pernah bisa dilakukan oleh raja-raja ‘dari dalam’ sebelumnya. Orang-orang Muna, bahkan sampai sekarang menganggap Lakilaponto sebagai pewakil dan kepanjangan tangan mereka

Ia dengan berani melakukan hal radikal dengan memperkenalkan dan bahkan menerima Islam serta mengubah bentuk negara dari kerajaan ke kesultanan dan menurunkan klan turunanya terus berkuasa dalam lebih tiga abad lamanya setelahnya.  Ini tentu sesuatu pencapaian yang luarbiasa pada masa itu

Pencapaian Lakilaponto yang luarbiasa itu lagi-lagi menguatkan anggapan dan sekaligus dilihat oleh orang Muna sebagai ‘pembenaran’ atas di ‘atas’nya mereka itu. Mereka melihat bagaimana posisi sangat sentral dan pentingnya serta besar kontribusinya orang Muna terhadap pasak naik kemajuan peradaban  dan pencapaian-pencapaian gemilang orang Buton.

Bagi umumnya mereka, Buton tak bisa mencapai apa-apa tanpa kesertaan Muna di dalamnya. Penggambaran Barata sebagai ‘Jarangka’ oleh Buton tampaknya sedikit membenarkan ini. Jarangka tanpa rangka capit penjaga keseimbangan akan berjalan kempang dan kisut, oleng, sekali dihempas gelombang bisa dengan mudah tenggelam sebelum sampai mencapai akhir tujuan.

2 Agustus 1918 pakta Korte Verklaring diteken antara wakil Buton Asyikin dengan wakil Belanda Brugman dengan penolakan di pihak Muna. Isi perjanjian itu adalah Belanda hanya mengakui dua pemerintahan setingkat swapraja di Sulawesi Tenggara yaitu swapraja Laiwoi dan swapraja Buton. dengan begitu maka secara otomatis Muna masuklah sebagai bagian/underafdeling daerah swapraja Kesultanan Buton.

La Ode Pulu, 1914—1918 raja Muna ke-34 menolak perjanjian yang disebutnya sebagai ‘pengangkangan’ itu. Ia melakukan perlawanan dan menuntut hak kesetaraan Muna dengan Buton. karena dilihat manuvernya berbahaya, Belanda—Buton kemudian mengirim pasukan menangkapnya, ia disekap lalu dibawa ke pengasingan di Nusa Kambangan.

Sepeninggal La Ode Pulu, Belanda menguasai Muna hampir selama dua tahun lamanya sebelum kemudian pada 1920 mengintervensi Sarano Wuna agar mengangkat boneka mereka La Ode Afiuddin sebagai raja Muna yang baru. Tapi tampaknya Belanda Kecele, karena akhirnya raja yang baru diangkat ini bersikap sama dengan pendahulunya, ia menolak perjanjian Korte Verklaring dan menyerukan perlawanan kepada koalisi Belanda dan Buton.

Sampai dua raja Muna setelahnya (La Ode Rere, 1926—1928), (La Ode Dika, 1930—1938) sikap melawan pada kongsi Belanda—Buton masih saja terus berlanjut, dan tampaknya itu tidak dan belum berhenti sampai sekarang, sikap melawan itu tidak memang dalam konfrontasi fisik tetapi lebih dalam mind berpikir, mereka umumnya meskipun secara diam-diam melihat Buton sebagai “bukan jiran yang baik”

Baubau, 30 Januari 2014

______
Catatan:
Supaya tidak disebut provokator, gau-gau, mengigau, berfantasia dan segala tuduhan dangkal yang picik lainnya, saya menyertakan beberapa catatan yang saya rujuk selain kemudian saya lengkapi dengan mewawancarai beberapa tokoh Muna:

1.     Ali Hanafi, La Ode, Kaura La Ode gelar Aro Ntiarasi. Tanpa tahun. Muna dalam Sejarah.

2.   Nasrun, Muhammad. 1989. Kerajaan Muna dan Sistem Kemasyarakatannya. Bandung Jawa Barat. PT Indah Jaya

3.     J. Couvreur. 2001. Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna. Kupang; Artha Wacana Press

4.     Batoa, La Kimi. Sejarah Muna, Raha. Jaya Press

5.     Silsilah Raja-Raja Muna Koleksi Museum KTVL Belanda

6.     Djarudju, 1995. Peranan Haluoleo Dalam Kerajaan dan Kesultanan Buton. Kendari. Makalah.

7.  Hamundu, Mahmud.2005. Sultan Murhum Tokoh Pemersatu Kerajaan-Kerajaan Tradisional Di Sulawesi Tenggara. Makalah Stensilan.


1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB