Mereguk Pesan Kemanusiaan Mendiang Nelson Mandela

Monday, 9 December 2013 0 komentar

SELALU ada cahaya di balik gulitanya gelap, selalu ada orang-orang baik di balik telikung hinanya orang-orang jahat. Selalu ada cinta di balik pekat kesumatnya benci, selalu ada kasih mengasihi di balik mumet peliknya musuh memusuhi. Begitulah ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada lelaki ada perempuan. Dan kehidupan digesek terus berjalan oleh dua arus yang saling berlainan itu, berlainan tetapi tidak berlawanan.

Jika Iqbal mengatakan bahwa ketika Tuhan meletakkan nafsu birahi pada diri lelaki dan perempuan dunia hanya bisa diselamatkan oleh persatuan keduanya, maka keselamatan manusia adalah hanya dari persatuan segala perbedaan beragam duniawi itu. Pelangi dikatakan indah hanya karena ada keragaman warna yang menyatu di sana, saya tidak bisa membayangkan bisakah sebuah keindahan dalam lukisan hadir dari hanya tinta yang sewarna?

Ketika Tuhan mencipta langit bumi, Ia menyertakan berpasang-pasang segalanya, Ia meletakan keragaman yang unik pada masing-masingnya, di situlah letak keindahannya sebenarnya. Dan di sana, di belahan bumi bernama Afrika, lahir seorang yang kulitnya hitam tetapi berhati selembut putih kapas. Berambut keriting ikal tetapi berpikiran lurus dalam kebaikan kemanusiaan. Ia yang oleh klan sukunya dipanggili sebagai Madiba__Nama dari seorang pemimpin suku Thembu yang memerintah di Transkei  Afrika pada abad ke -18, atau juga biasa disapa sebagai Tata, dalam bahasa Xhosa di Afrika itu berarti sebagai “Ayah”.

* * *

KAMIS, 5 Desember 2013 lalu, kabar duka melayang dari Johannesburg Afrika Selatan, dunia berduka oleh berpulangnya seorang lagi tokoh besar pejuang kemanusiaan, bapak bangsa-bangsa yang berjiwa negarawan dan rendah hati. Ia yang dipuji dunia sebagai tokoh pejuang revolusioner anti apartheid, ia yang menjadikan seluruh kepala para penindasnya terdongak mengangkat muka dan terperangah lalu terkagum-kagum memerhatikan dan mendapatkan keluhuran pekertinya dan keluasan budi hatinya. Dia penakluk para penindas dengan tidak menindas itu adalah Nelson Rolihlahla Mandela.

Kepergiannya telah membuat berduka banyak orang di dunia, jutaan mata sembab oleh tangis kehilangan yang pedih. Duka dan tangis itu bukan sebabnya karena ia bekas orang terhormat sebagai presiden kulit hitam pertama negeri di benua hitam itu, bukan karena ia seorang yang dimuliakan karena jabatannya itu. Orang-orang berduka lalu larut dalam tangis ratap karena kehilangan seorang tokoh besar revolusioner di zaman modern ini, seorang sahabat yang dari kepalanya bersemburat keluar segala ide, laku dan bicara yang inspiratif mengilhami.

Dia dimuliakan karena kemuliaan budi hatinya. Ia yang merelakan kekelaman hidup masa lalunya oleh sebab dari kerakusan kuasa yang datang dengan angkuh  melindasnya, penghinaan yang didapatkannnya selama dalam puluhan tahun penjara rezim apartheid tak membuatnya menyimpan dendam.

Ia hanya berkulit hitam dan berambut ikal keriting tetapi berhati seputih kapas nan lembut dan bepikiran lurus pada kebaikan manusia universal. Ia percaya bahwa menyimpan dendam hanya akan mencelakakan, baginya dendam itu sama seperti sedang meminum racun lalu berharap racun itu bisa membunuh musuhmu.

Ketika kakinya kali pertama melangkah keluar dari penjara pengap yang mengungkungnya di pulau Robben dan ia menghirup udara kebebasan di sana, segalanya menguap ia tanggalkan. Kehinaan dikencingi selama masa delapan belas tahun penjara yang ia jalani tergeletak ia lepaskan di tanah penjara pulau itu, ia tak membawa keluar dendam pada seorang yang ditugasi untuk tiap hari mengencinginya itu. Ia tak menyimpan kebencian pada siapapun yang telah menghinakannya

Ia keluar melangkah dengan berjalan tegak. Di muka gerbang pembatas penjara ia berdiri tertegun melepaskan pandangannya ke langit, ke alam luas nan bebas sembari bergumam mantab: “Ketika saya berjalan menuju gerbang kebebasan, saya menyadari bahwa jika saya tidak membuang perasaan pahit dan kebencian, maka saya akan selamanya ada di penjara”. Maka ia lepaskan dirinya dari kungkungan penjara, ia lepaskan kebencian, ia tanggalkan semua kepahitan yang pernah dialaminya selama dalam puluhan tahun ditahanan.

Bahkan ketika telah menjadi presiden melalui keterwakilan penuh di pemilu multiras pertama yang demokratis, ia mendatangi orang-orang yang telah memenjarakannya dan terutama yang mengencinginya itu. Dan yang didatangi itu bukan main takutnya mereka, dikiranya mereka akan dikenai hukuman sebagai balasan perlakuan sewenang-wenang mereka.

Tetapi ternyata tidak, Mandela yang rendah hati itu justru datang menghambur diri sesenggukkan memeluk mereka, ia menyampaikan permintaan maafnya karena telah keluar penjara tanpa pamit. Dan para penindas itu terkulai kisut, malu kepada kelakuan dan diri sendiri, mereka mengutuki diri sendiri dan menyesal telah memperlakukan sewenang-wenang seorang yang berhati mulia nan agung itu. Orang yang dulu nyinyir menjijikkan di mata mereka ini sehingga seperti berdosa jika tidak saban hari menghinakannya sontak menjadi seperti nabi yang kemuliaannya tampak pada mukanya bersemburat keluar memerciki mereka

Ketika di banyak negeri lain, orang-orang berebut kuasa dengan kuatnya lalu saling sikut memurukkan dalam perang berkepanjangan kemudian setelah kuasa didapat, kekuasaan itu terus dimonopoli untuk tetap tinggal dalam genggaman tangan mereka, Mandela datang memanggul obor pelita yang mencerahkan. Ia lalu berhenti ketika hanya naik meletakaan dasar jalan dan tujuan bernegara bagi negerinya

Ia tidak gila kuasa, ia tidak serakah dengan terus menggenggam kekuasaan itu hanya dalam tangannya saja terus-terus. Begitu periode pertama pemerintahannya selesai, ia lepas tanggalkan semuanya dan memilih menjadi bapak bangsa, ia membangun yayasan amal dan dengan yayasannya itu ia konsen mengurusi kemanusiaan.

Pesan-pesan damai kemanusiaannya telah menginspirasi dan mengilhami banyak orang untuk tak berhenti menebarkan kebaikan. Ia rela melepaskan kekuasannya setelah hanya kekuasaan itu didudukinya satu periode pemerintahan saja. Ia  lengser dan memilih menjadi bapak bangsa. Ia tidak mau terjebak dalam cengkeraman tangan kuasa yang melenakan yang bagi sebagian orang sikapnya itu mungkin akan dilihat dengan nyinyir sebagai kebodohan yang munafik.

Ia melawan hegemoni dengan mengemongi, ia melawan musuhnya dengan tidak memusuhi mereka tetapi mengawani mereka dan dengan itu ia menggerus perlakuan sewenang-wenang  kaum kulit putih penindas atas kulit hitam yang tertindas. Ia melawan penghinaan dengan penerimaan yang total pada hinaan itu, sekali waktu ia menitah kepada para penindasnya: “Silahkan katanya lakukan apapun sesuka hati kalian, hinakanlah!”.

Sebagaimana Gandhi di India, Mandela di Afrika adalah seorang yang berhati selapang luas dan dalam laut samudera, sebagaimana bunda Theresa, Mandela adalah seorang yang berjiwa selapang tinggi jarak langit cakrawala di angkasa. Dan kehilangannya adalah kehilangan bagi kemanusiaan, duka yang tak terperikan dalamnya untuknya.

Selamat jalan Nelson Mandela, selamat jalan Madiba, selamat jalan Tata

Baubau, 9 Desember 2013

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB