Insiden Jelang Pelantikan Sultan Buton ke-40

Saturday, 14 December 2013 0 komentar


DUA La Ode datang, masuk tergesa ke dalam Masjid Agung Keraton Buton ketika beduk tanda jumat baru akan ditalukan. Mereka berdua itu bergegas dengan cepat sekali, sigap menuju lurus tepat ke syaf paling muka, di sebelah kanan dari tempat imam berdiri. Tempat itu memang dikhususkan hanya untuk diduduki pejabat sultan. Di sana mereka berdiri tanpa segan, menghampar bentangkan sajadah.

Bentang hamparan sajadah itu memantik reaksi sangat keras dari beberapa perangkat kesultanan di sana, terutama dari barata Kaledupa yang memang sengaja bersiap menjaga sultan terpilih ke-40 di sana. Beberapa yang saya tanyai menyebut gelar sajadah itu sebagai tidak pantas karena rupanya sajadah itu dibawa sebagai pewakilan sultan ke-39, sultan yang menurut klaim mereka telah dimakzulkan karena melanggar etik norma aturan sara kesultanan.

Telah memang sebagaimana biasa diadatkan sebelum memasuki waktu salat Jumat segala-gala kebutuhan sultan di dalam masjid sudah harus disiapkan, salah satu dari kebutuhannya itu adalah dibentang hamparkan sajadah untuknya. Hanya saja sekali ini itu disoalkan karena memang di internal kesultanan sendiri tampak tidak kompak, beberapa dari mereka kukuh mendukung sultan yang oleh sebagian kawan-kawannya telah dimakzulkan, pun para pendukung sultan termakzul itu menolak pelantikan sultan Buton ke-40. Sara Kidina yang diawal menolak, ujung akhirnya pun mengikutlah menerima juga, maka terlaksanalah pelantikan itu, ritual pemutaran payung dilakukanlah dengan hikmat di Batu Popaua, resmilah Buton mempunyai sultan baru yang ke-40.

* * *
  
KARENA politik itu tak hanya melulu kekuasaan, maka iapun sebenarnya adalah pengabdian yang mewujud dalam kesungguhan berbuat membaikan nasib rakyat di bawah kuasanya. Tetapi jabatan sultan sekarang hanyalah sebagai simbol budaya saja, tidak punya kuasa politik pemerintahan, tidak punya kuasa menguasai dan memerintah, tetapi mengapakah direbutkan sampai harus diributkan pula dengan sengitnya seperti saja ia jabatan kuasa yang politis? Inikah tandanya bahwa feodalisme akut masih kuat mengekang dan menggerogoti?

Jika saja seluruh orang Buton memahami makna filosofi kuasa sebagai “Sodha” atau “Memikul”, tak akan adalah itu perebutan kuasa, tak akan adalah itu keributan kuasa. Segala-gala keriuhan dan bising bisik politik mencelakai akan luluh hilang, meluruh larut dalam apa yang dinamai Pomaamaasiaka__Saling kasih mengasihi.

Tetapi nafsu kuasa__Sekalipun hanya sebagai itu simbol budaya, jika telah menunggangi bisa membutakan segala-gala, bahkan sekalipun nurani religiusitas digerusnya. Bayangkan saja, di tempat suci ibadah paling sakral sekalipun juga, kesumat serakah kuasa itu bisa diumbar telanjang vulgar norak sekali semau-mau tanpa harus malu dan bersalah perasaan?

Kadang-kadang saya tak habis pikir, mengapa ritus budaya dikangkangi sebegitu hina dinanya oleh para mereka yang mengaku budayawan sendiri? Sultan dan seluruh perangkatnya yang adalah para Laode itu sebenarnya sebagai ikon simbol budaya dan berbudaya saja tetapi mengapakah laku berbuat pada sebagiannya tidak menunjukan ciri sebagai budaya dan berbudaya itu, mengapakah para Laode itu tidak Laode?

Kita jauh terpuruk lalu jatuh  tersuruk dan terjerembab masuk ke dalam kubang gelap kenistaan feodalisme akut yang memilukan sekaligus juga memalukan. Bagaimana tidak disebut kenistaan feodal yang akut itu jika budaya hanya melangit dikata-kata lalu tersuruk digeletakkan ke lantai dipurukkan dalam praktek laku kenyataannya?

Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dua orang dengan berani tiba-tiba masuk dengan tergesa dan seperti hendak berontak tak memedulikan orang-orang yang menghalangi mereka, juga tak ambil pusing dan tak sedikitpun memiliki keseganan pada ruang suci dan situs sakral paling dihormati seluruh orang Buton ini?

Di Masjid Agung Keraton Buton sebuah insiden abudaya sangat berani terjadi. Dua orang Laode masuk merangsek hingga mencapai tempat duduk sultan bersyaf di baris paling muka. Di sana mereka menggelar menghamparkan sajadah untuk sultan yang oleh sebagian Sara kesultanan disebut telah termakzulkan.

Maka nyaris saja ulah rebut gelar hampar sajadah itu berubah menaik menjadi keributan yang kalut ketika seseorang berdiri dan bersuara keras menyuruh__tampaknya seperti mengusir kedua orang penggelar sajadah itu agar keluar dari masjid. Seorang yang berteriak itu mengaku bernama La Nibari, perangkat adat dari Barata Kaledupa.

Bersama Bapak La Nibari
  
Tampaknya kedua orang penggelar sajadah yang waktu tadi masuknya sangat berani itu, keselek kisut juga, tampak diam kedua mereka itu, seluruh orangpun ikut terdiam semua disitu. Tak berselang lama mereka berdua kemudian menarik langkah mundur, meriut keluar masjid dengan dikawal beberapa polisi, baru usai itu situasi bisa terkendali.

Dalam perspektif adat, penggelaran sajadah seperti itu adalah bentuk penghormatan dan loyalitas, penegasan kesetiaan kepada sultan yang telah dimakzulkan oleh Sara Kesultanan. Dalam mata adat, penggelaran sajadah untuk sultan termakzulkan seperti itu adalah bentuk penolakan pada pemakzulannya, bentuk penolakan kepada sultan terpilih yang menggantikannya.

Mereka para penolak itu melawan memakai simbol dengan menghamparkan sajadah di tempat sultan biasa bersyaf untuk salat. Maka ketika sajadah itu dihampar dibentangkan sertamerta pembangkangan dan penolakan mereka pada sultan terpilih yang akan dilantik terikut pula menghampar di sana. Maka di depan nanti masalah akan menghampar membentang pula, kita masih akan terus melihat konflik, keributan yang tak tampak ujung usainya karena silang sengkarut dari ini masalah Porempu kumal terlalu sulit diurai.

Maka masihkah perlu meneruskan kegaduhan sultan-sultanan ini? Apa perlunya kalau hanya membikinkan perpecahan dan menimbulkan dendam luka lama berdarah digoresi kembali? Oh sungguh sebagai orang Buton saya teramat dalam rasa prihatinnya. Saya melihat dengan terang dalam khayalan, ruh-ruh moyang leluhur mengutuk insiden dalam masjid suci itu, semoga itu mula sekaligus juga akhirnya, jangan terulang!

Baubau, 14 Desember 2013

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB