Setelah Bertemu Yusran Darmawan

Saturday, 23 November 2013 1 komentar

 
PERTEMUAN yang lama terencanakan akhirnya datang terwujud. Di sebuah warkop di kota Baubau, Mangga Dua namanya, kami duduk semeja berdua saja. Setelah menjulur tangan untuk saling menyalami, larutlah kemudian kami dalam bincang akrab yang santai. Maka saya mencatat seluruh detail pertemuan kami itu, sejak dari datang sendiri-sendiri, hingga kami berpisah pulang sendiri-sendiri pula.

Sebelumnya telah banyak janji kami layangkan untuk ketemu dan sharing__berbagi pengetahuan. Saya tidak tahu apakah beliau menginginkan sebenarnya pertemuan untuk diskusi sebagaimana saya yang sangat menginginkannya? Kepastian dan kesan yang saya tangkap dari beberapa kontak dengannya meyakinkan saya bahwa ia juga menginginkannya.

Pernah ketika di Makassar kami telah janjian dan memintanya datang untuk memberi dan berbagi pengetahuan, tapi kemudian akhirnya mentok tak jadi bertemu pula, padahal beberapa adik-adik Mahasiswa Buton di sana telah saya kumpulkan menunggunya. Maka tak kepalang tanggung, karena ia tak datang, saya pun maju dengan gagap menggantikannya bicara seadanya mengenai budaya, sejarah, dan sedikit mengenai menulis

Ia tampaknya adalah ayah yang baik untuk seorang anak dan istri yang baik pula. Saat tidak hadir itu, beliau melayangkan permohonan maaf melalui sms disertai alasan sedang menemani istri dan anaknya bermain-main ke mall, dan dengan cepat saya pun memafuminya. Lalu janji dilayangkan lagi untuk nanti bertemu di Jogja saja, sesuatu yang juga akhirnya tak tercapai karena kesibukan yang banyak dari masing-masing.

Tapi kemudian kesempatan justru datang di kampung sendiri, di kota Baubau. Pesan darinya masuk sebagai inboks di kotak pesan facebook saya ketika baru saja membuka situs jejaring sosial bikinan Zuckenberg itu. Ia  menanyakan apakah saya sedang di Baubau? Saya dengan cepat mengiyakannya. Setelah meminta waktu kesediaan bertemu, Maka meluncurlah saya ke TKP: Warkop Mangga Dua Baubau.

Pertemuan tidak berlangsung lama, tetapi mengesankan. Ide dan gagasan bersemburat keluar banyak sekali. Ini kali pertama saya bertemu muka secara langsung dengan bung Yusran Darmawan setelah sebelumnya diskusi dan komunikasi dengannya hanya melalui kanal jejaring sosial di dunia maya. Saya mengikuti dan menjadi pembaca setia catatan-catatan di blognya dan di kompasiana

Sebagai yang masih belajar menulis saya ikut-ikutlah masuk membikin blog, di sana segala-gala apapun saya tulis, tentu dengan itu kemudian saya memerlukan tempat belajar dan sekaligus figur pengajar. Di antara banyak blogger dan penulis, Yusran Darmawan menjadi seorang yang catatan-catatannya terus kuamati, mempelajari gaya menulisnya, dan tentu menyerap setiap inspirasi hikmah dari catatan-catatannya itu, saya mereguk semuanya itu sebagai sari hikmah yang meluaskan pengetahuan dan mengayakan pahaman.

Ketika kemarin kami bertemu, tampak benar ia seorang yang cerdas. Tak hanya dalam menulis, dalam bicarapun ia runtun teratur sebagaimana biasa bicara orang terpelajar. Jika bukan karena tampang muka dan kulitnya yang gelap, sungguh saya bisa-bisa tidak akan mengenalinya sebagai orang Buton. Ia bicara dalam logat yang mengesankan sebagai Jawa, saya memahami ini karena beliau memang lama di Jawa dan berkawan dengan banyak orang Jawa.

Ia bicara banyak hal, dari yang berat-berat sampai yang ringan remeh-temeh. Ia bicara mengenai bukunya yang akan diterbitkan oleh penerbit bonafit ternama negeri ini, atau mengenai obsesinya yang telanjang sederhana, juga keinginannya yang “aneh”__tinggal menetap saja di kampung karena dengan begitu ia bisa bebas dan punya luang waktu yang banyak untuk menulis. Baginya kampung menjaganya untuk terus konsisten menulis, menjaga semangat menulisnya terus dalam bara menyala.

Ia bicara mengenai bagaimana melahirkan, merawat, sampai menerbitkan karya. Bahwa kini katanya banyak penerbit yang mencari penulis, sebabnya tak lain karena keuntungan yang besar di sana. Bisa dibayangkan bagaimana harta penghasilan mereka tidak terdongkrak naik jika penulis hanya diberi jatah 10% dari omset hasil penjualan buku yang diterbitkan itu?

Ia juga bicara mengenai tawaran mengajar yang datang dari Universitas Paramadina Jakarta, umumnya memang alumni-alumni Amerika ditawari dan dengan mudah bisa masuk mengajar di sana. Bukan soal karena Universitas ternama yang didirikan Ahmad Tirtosudiro itu dipimpin oleh sesama alumnus Amerika, hal lainnya adalah karena kualitas memadai dan kompetensi yang baik dari para alumni Amerika itu

Ia bicara pula mengenai peluang menerima beasiswa luar negeri yang besar, disertai semuanya dengan dorongan menguasai bahasa Inggris tidaklah serumit yang dibayangkan banyak orang. Ia bahkan meyakinkan bahwa jika fokus dan serius, bahkan saya yang bloon pun dan sungguh keteteran dalam pengetahuan bahasa Inggris ini bisa menguasainya hanya dalam waktu enam bulan saja.

Bicara kami bahkan sampai sedikit menyinggung PKI tahun 1969 di Buton. Ia bercerita pengalamannya melakukan penelitian mengenai ini, bahkan oleh penerbit Ombak Jogjakarta, tesisnya mengenai tema PKI di Buton itu akan diterbitkan sebagai buku. Di antara semua itu, sayapun sesekali menyelingi bicara terutama mengenai sisi gelap kebutonan yang mestinya juga dibukakan ruang untuk dibahas dan didiskusikan. Tampaknya pada soal ini kami berdua sepakat bersetuju.

Sisi-sisi gelap dan kelam itu tidak untuk maksud menghinakan apatah lagi merendahkan orang Buton, semata-mata itu hanya sebagai cermin mengingatkan bahwa kita juga pernah gelap, punya sisi-sisi kelam yang memerlukan diketahui. Dari pengetahuan itu kita kemudian bisa belajar dan menyerap mengambil hikmah untuk ke depan tidak lagi mengulanginya

Kami memang hanya sebentar bertemu dan baru hanya sekali, tetapi semburat inspirasi keluar memercik banyak sekali, dan saya yang dahaga akan ilmu dan miskin pengetahuan hanya menyerap semua sampaiannya itu sebagai anggur hikmah yang mengayakan hati dan meluaskan cakrawala berpikir, sungguh adalah ini pertemuan berbagi yang mencerahkan.

Terima kasih atas waktu, kesediaan bertemu, dan kemauannya berbagi pengalaman dan pengetahuan bung Yusran Darmawan, tentu saya terus berharap akan nanti ada lagi pertemuan berikutnya dengan waktu lebih lama dan konten diskusi menarik lainnya yang mengayakan dan menginspirasi .

Oh ya, Saya menyampaikan ucapan selamat atas sesuatu yang membanggakan ini: terpilihnya Anda sebagai Kompasianer of The Year 2013, juga sebagai Reporter Warga Terbaik 2013 di Kompasiana. Saya tahu bagaimana ketat dan sulitnya seleksi untuk sampai ke puncak dan terpilih, dan Anda kini telah dipuncak itu. Selamat.

Gu, 24 November 2013

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB