Mengenang Imam Hussain as

Saturday, 16 November 2013 0 komentar

MUHARRAM datang, nestapa menghampar dengan angkuhnya. Bagi kaum bersekte Syiah, ini bulan paling memilukan dari seluruh bulan. Bulan yang perih dan lukanya masih terasa hingga kini. Perihnya itu pedis, melebihi perih luka yang terkenai air garam, melebihi pedih luka sayatan dari belati seusai ia diolesi tirisan air jeruk. Perihnya melebihi segala-gala perih karena di bulan inilah, di hari ke sepuluh, manusia suci cucu terkasih Rasulullah terbunuh syahid di Karbala.

Lima puluh tahun berlalu sejak manusia suci nan mulia Rasulullah Muhammad Saw dibaringkan jasadnya di samping Masjid Nabawi Madinah, Islam ajarannya telah menguasai dan diimani umat manusia yang terbentang meliputi hampir setengah wilayah bumi. Pasukan-pasukan militan kavaleri Islam telah menjejak langkah jauh sekali, kuda-kuda mereka terus menderap tanpa lelah hingga mencapai tanah-tanah terjauh.

Mereka kemudian menaklukkan Persia, sebelum kemudian menyusul Romawi ditumbangkan. Dua imperium paling kuat dimasa itu. Maka bergemalah azan di sana, mengumandanglah panggilan nan suci itu dari langit udara Alexandria di Mesir sampai ke dusun-dusun kecil di Azerbaijan, wilayah di timur Asia.

Berkat perjuangan Rasulullah Muhammad Saw, bangsa Arab yang sebelumnya tersisih kisut sembunyi dalam padang-padang tandus Sahara yang panas, tenggelam dimarginalkan oleh kuatnya peradaban dan kemajuan bangsa-bangsa Romawi dan Persia, kini bangkit dari gulita itu, dan kemudian justru bergeliat menjadi penentu sejarah umat manusia selanjutnya diseluruh bumi.

Atas pencapaian yang gemilang itu, banyak pemimpin umat yang kemudian lupa diri, pencapaian dengan mudah dan cepat segala kemegahan duniawi itu melenakan mereka. Perselisihan kerap mulai terjadi, saling ribut merebut pengaruh dan kuasa. Istana-istana megah dibangun, dan dalam gemerlap istana megah penguasa itu cahaya Islam telah meredup padam.

Di mimbar-mimbar masjid mulut-mulut para pencela yang berkedok khatib, menghina-hina dan melaknat Imam Ali as, dituduh ia sebagai telah berkhianat dan murtad. Imam Ali as yang dengan gagah berani maju meruntuhkan benteng Khaibar yang kokoh, yang memenangkan perang Badar kini malah didapati anak dan pengikutnya di caci maki dan dihinakan

Imam Ali as yang mulia dan istimewa, suami dari Fatimah Azzahra putri terkasih kesayangan Rasulullah Saw, ayah dari dua cucu terkasih Rasulullah Saw, Hassan dan Hussein. Imam Ali as, yang tidur di ranjang nabi ketika nabi dalam bahaya hendak dibunuh Quraisy, Imam Ali as yang mengantarkan keluarga nabi berhijrah dengan berjalan kaki sampai ratusan kilometer jauhnya hingga melepuh kedua telapak kakinya. Kini manusia mulia itu malah dihina dimusuhi kaum muslimin

Imam Hassan tak tega mendengar ayahnya dihina-hina dilecehkan begitu. Ia menghamparkan jalan damai bagi Muawiyah asalkan saja hinaan dan pelecehan pada ayahnya itu dihentikan segera. Uluran berdamai itu awalnya diterima Muawiyah, tetapi kemudian diakhirnya mereka ingkar melanggar janji, Imam Hassan dikhianati sebelum kemudian dibunuh dengan diracun.

Dalam sebuah perjalanan, lelaki suci cucu Rasulullah Saw penghulu surga ini diserang dengan kejamnya di atas kendaraannya. Seorang paling dekat dengannya ditugasi Muawiyah meracuninya, seketika syahidlah ia ketika bisa racun itu menyetop dengan cepat jalan darah ke jantungnya. Bahkan juga pengikut-pengikutnya dizalimi luar biasa, dikejar-kejar dan dianiaya tanpa berperasaan kasihan, beberapa diantara mereka dikubur hidup-hidup.

Di Kufah, kezaliman merajalela, penguasa memakai agama sebagai hanya topeng saja. Banyak dari ayat-ayat kitab suci diselewengkan, ditafsir sempit semau enak kepentingan mereka saja. Kota itu dipimpin seorang bernama Ibnu Ziyad, Gubernur keparcayaan Yazid Bin Muawiyah.
Ribuan surat keluhan kemudian dilayangkan ke Imam Hussain, orang-orang berharap bimbingan ruhani dari cucu terkasih Rasulullah itu dan sebagai balasnya mereka menjanjikan baiat dan kesetiaan atasnya. Seusai menunaikan ibadah haji, rombongan kecil Imam Hussain bergerak menuju Kufah untuk memenuhi permintaan rakyat Kufah itu.

Belakangan ternyata Imam Hussain dikhianati pula, tak seorangpun di Kufah yang berdiri membelanya saat keadaan dalam darurat, bahkan orang-orang Kufah malah berdiri bersama pasukan Yazid Bin Muawiyah dan berperan dalam membunuh Imam Hussain.

Darah suci beliau menetes tumpah di Karbala, sebuah padang 70 kilometer sebelum sampai di Kufah. Badannya seperti berbaju bulu babi karena ditancapi anak panah yang ribuan dihujankan kepadanya. Dadanya bolong oleh tombak yang dihujamkan dengan tandas, beliau tersungkur jatuh mencium tanah dengan bersimbah darah sebelum kemudian kepalanya dipenggal untuk dibawakan ke muka Yazid Bin Muawiyah.

Sampailah beliau mencapai syahidnya, menggapai kemuliaan dan derajat paling tinggi surga akhirat di hari kesepuluh dalam bulan Muharram, hari Asyura kemudian dinamai hari itu, hari yang juga dimuliakan oleh kaum Yahudi sebagai hari kemenangan Musa atas Firaun. Maka sebagaimana telah dilihat kakeknya saat lahirnya, saat ditimang dipangkuannya beliau menangis tersedu, ketika pembatunya menanyai beliau mengapakah menangis, dengan terisak manusia suci itu berkata: “Wahai Fulanah, tadi Jibril datang kepadaku, dia mengatakan bahwa putraku ini, yang baru lahir sekarang ini nanti akan dibunuh oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutku”.

Beliau menangis, meratapi nasib cucu terkasihnya itu, beliau sebutkan bahwa cucunya itu akan dibunuh di padang Karbala. Rasululullah Saw sudah meratapi, memperingati apa yang akan dialami oleh cucunya itu, lalu nabi bertanya kepada Ali as: “Wahai Ali apakah Anda telah menamainya?” Ali as menjawab: “Aku tidak mendahuluimu dalam memberinya nama. Nabi menjawab: “Namailah Hussain”.
***

Saya mengenang Imam Hussain, cucu terkasih Rasulullah Saw yang tewas terbunuh di Karbala. Saya mengenang keteguhannya menggenggam kebenaran, menjaga marwah kesucian ajaran kakek dan ayahnya. Ia tak gentar sekalipun maut datang dengan ganasnya melalui derap puluhan ribu kaki kuda pasukan Yazid Bin Muawiyah yang kemudian memakan menelan tak hanya dirinya tetapi juga nyaris seluruh keluarga dan pengikutnya.

Saya mengenang Imam Hussain, putra terkasih Imam Ali as yang syahid membela kebenaran keyakinannya di Karbala, membela kehormatan dan kemuliaan kakek dan ayahandanya. Ia yang wajahnya paling mirip wajah suci Rasulullah itu harus menerima kenyataan__wafat sebagai martir dari ganas serakahnya manusia-manusia yang gila kedudukan dan haus harta kuasa duniawi.

Saya mengenang mu wahai putera dari suami puteri terkasih Rasulullah Saw Fatimah Azzahra. Saya mengenang besarnya pengorbanan mu dan kemuliaan perangai sifatmu. Saya mengenang keteguhan hatimu disaat yang lain lemah berjalan terseok lalu tersuruk jatuh dalam kubang keraguan dangkal akidah     

Saya mengenangmu wahai manusia suci yang mengambil wajah Rasulullah Saw. Saya mengenang kekuatan dan semangatmu yang membaja, juga keberanian yang terus berkobar tanpa padam bahkan sekalipun musuh dalam ribuan dan kau hanya dalam puluhan saja jumlahnya. Tak surut engkau menarik langkah mundur sebagai tanda takut menghadapi semua mereka itu. Kau telah mengajarkan bagaimana keberanian harus terus dijaga selama dalam kebenaran berpegang.

Oh Hussain, Oh mata hati kasih Rasulullah Saw, sungguh kau telah berkorban melebihi pengorbanan orang-orang suci sebelum dan setelahmu. Dan surga menyambut datangmu dengan bidadari berjejer-jejer tersenyum di sepanjang jalan menuju pintu surga-Nya. Kau terbunuh, kalah di muka mata hadapan manusia, tetapi menang mulia dan terhormat di muka mata hadapan Tuhan maha kuasa.

Baubau, 14 November 2013

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB