Mengenang Guru-Guruku

Sunday, 24 November 2013 0 komentar


INI HARI GURU, dan Ayahku adalah guru, Ibu ku juga adalah guru. Ini hari adalah hari mereka. Telah hampir empat puluh tahun mengabdi, sepenuh hati mendidik, mengajari moral beretika, memanusiakan orang-orang. Murid-murid ayah ibuku  telah banyak yang sukses berhasil, menjadi manusia bermanfaat sebab beliau berdua mengajari murid dengan mendidik, mengajari murid dengan budi pekerti. 


Sebab mereka tak ada pengetahuan sain juga miskin wawasan ilmu sosial lainnya, mereka nihil, minim penguasaan banyak bidang ilmu. Mereka itu diambil sebagai guru hanya karena telah pandai baca tulis saja. Maka karena tak ada pengetahuan lain selain hanya pandai baca tulis itu mengajarlah mereka dengan teladan, mengajar hal paling fundamental dalam diri setiap murid sebagai bekal bertumbuh kembang mereka. Bagaimanapun cemerlangnya otak pikiran, jika hati berkarat  gelap, maka hanyalah itu akan mencelakakan.

Kata mereka, pendidikan sebenarnya adalah mengasah hati untuk terus peka sehingga berempati lalu lahirlah bersimpati pada sesama, karena hakikatnya pendidikan yang sempurna ialah membangkitkan sifat-sifat diri kita sendiri yang terbaik. Mana ada buku yang lebih baik daripada buku umat manusia itu sendiri?  Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, begitu kata banyak orang bijak.

Sebab banyak manusia yang berlaku tidak manusiawi, melabrak kelaziman azalinya, melanggar norma takdir kemanusiaannya. Merusaknya dengan berlaku anomali, abudaya, melanggar budi, melenceng dari pekerti. Padahal pada nama mereka itu berderat titel tanda berpendidikan. 

Orang-orang macam begini ini mungkin memang telah berhasil sukses mencapai derajat tertinggi bangku sekolah, tetapi isi sari dan ruh tujuan bersekolah secuilpun tak mereka dapatkan. Mereka melambung mencapai lapis paling tinggi langit bangku sekolah tetapi kedalaman nilai ruh dari bersekolah itu nihil tidak mereka dapatkan

Tujuan akhir bersekolah tidaklah hanya mengasah otak saja sehingga mengilap cerdas, tidak hanya melatih akal agar kuat mengingat sehingga dengan itu seluruh isi bumi tersimpan dalam lingkup pengetahuan di kepala, tetapi yang jauh lebih penting adalah mengasah hati sehingga mengilap peka dalam cahaya berpekerti, dalam laku berempati yang kemudian menyemai simpatik. 

Banyak orang berotak cerdas tetapi berkelakuan buruk mencuri dengan korupsi. Ini jelas letak masalahnya bukan pada otak di kepalanya itu tetapi ada pada hati nuraninya yang miskin budi dan nihil pekerti. Paling tidak contoh membentang banyak sekali di bangsa ini, para koruptor besar yang ditangkapi itu adalah mereka-mereka yang juga bersekolah besar, berpendidikan tinggi dengan otak cerdas bukan main cemerlangnya.

Ayah ibuku adalah guru yang beliau-beliau sendiri tak merasai bangku sekolah pendidikan guru. Beliau berdua hanyalah menamatkan sekolah di Sekolah Rakyat__Sekarang Sekolah Dasar, diambil guru hanya karena beliau berdua telah bisa baca tulis. 

Dahulu di kampung kami ini, mereka-mereka yang bisa baca tulis serta merta langsung diambil menjadi guru mengajari murid sekawanan mereka perihal baca tulis. Mula-mula hanya mengajar di teman sekelasnya, karena memang kurang guru, tak kepalang tanggung mereka berdua diperintah berkelilinglah mengajar disemua kelas. 

Di kampung kami dahulu, guru begitu disanjung-sanjung, dipuji dihormati sebagai katanya pekerjaan mulia. Mau bagaimana lagi, adakah yang lebih mulia dari kerja memanusiakan manusia itu? Adakah yang lebih mulia dari kerja mencerahkan yang gelap? Adakah yang lebih mulia dari kerja membimbing orang keluar dari jalan sesat yang salah keliru? 

Adakah yang lebih mulia dari kerja mengulur tangan untuk menggamit tangan orang-orang yang membutuhkan pertolongan? Kita semua datang dari muasal yang sama sebagai manusia yang sesaudara olehnya itu setiap yang memerlukan pertolongan harus mendapatkan pertolongan. Kualitas kemanusiaan kita__bahkan oleh agama diukur dari seberapa bermanfaatnya kita bagi manusia lainnya 

Dan saya berbangga hati luar biasa berayahibukan guru. Bagaimana tidak, karena perlakuan dihormati itu saya kecipratan pula ikut-ikutan dihormati.  Sebagai anak yang ayah ibu nya guru, saya menanggung di pundak tanggung jawab besar, bertaruh menjaga diri berlaku terus baik agar tak memalukan ayah ibuku yang guru itu. 

Ayah ibuku adalah guru, guru yang mengabdi tanpa berpamrih, guru yang mengabdi tak kenal berkeluh. Bagaimana tidak, otak dengkul kami yang tumpul berkaratnya luarbiasa minta ampun parahnya, sabar mereka hadapi dalam mendidik? Bagaimana tidak gulitanya pengetahuan kami tanpa berkesah mereka tuntun terus membawakan cahaya agar kelak kami tak tersesat salah jalan?

Tanpa buku-buku pelajaran yang memadai dengan bangku seadanya, lantai yang debunya beterbangan jika dihembus angin, juga papan tulis hitam yang berdiri doyong berkerait jika angin datang meniup, kapur putih yang ujung sisanya  jika telah sumpek dipake itu oleh guru melempari kami yang ngantuk tertidur di jam-jam akhir sekolah, tentu tak bisa itu dilupa. 

Guru adalah bak oase di tengah tandus keringnya padang gurun Sahara pengetahuan kami, pembawa cahaya di tengah gulitanya gelap menuju jalan menggapai ilmu pengetahuan dan cita-cita. Guru tak lekang di zaman, tak lapuk di waktu. Mereka semua telah seperti ayah ibu kami sendiri, tak bisa dilupa, akan terus terkenang-kenang dalam selamanya usia.  

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2013.


Gu, 25 November 2013
______ 
*ini catatan untuk guru-guruku tempat kali pertama dididik budi pekerti di sdn 4 gu semoga beliau-beliau dalam kesehatan selalu, dalam lindungan Tuhan Maha pengasih. Amiin.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB