Sederhananya Jokowi

Tuesday, 29 October 2013 0 komentar

 
SAYA tidak tahu mengapa tiba-tiba tergerak menulis Jokowi, ada perasaan naik membuncah yang sekejap meluap memenuhi kepala karena kekaguman pada figur rendah hati ini. Saya melihat beliau melintas tanpa pengawalan, entah menuju kemana. Beberapa kendaraan tampak mengiringnya dari belakang, berjalan terseok merayapi macetnya jalan-jalan ibukota negara itu.

Ia membuka turun setengah kaca mobilnya sehingga tampak muka khasnya dengan tersenyum, tangannya melambai sebagai menyapa warganya. Ia berkendara ke Pedongkelan, daerah Pulogadung di timur Jakarta, kata orang-orang hendak ke waduk Ria-Rio meninjau tempat yang dulu kumuh dan jadi sarang penyamun itu. Ia akan memastikan pengerjaannya dengan melihat langsung lokasinya.

Saya memang telah lama berempati pada tokoh kurus sederhana itu, bersimpati pada keluwesan pribadinya dan pembawaannya yang kalem, pada tawa lepas dan kebanyolan setiap menjawabi tanyaan wartawan, pada kelembutannya yang alot, kuat khas Jawa yang kental, pada kesungguhannya bekerja dengan tidak berharap pamrih, pada segala-gala laku berbuatnya.

Saya tidak tahu apakah ketika telah jadi gubernur DKI Jakarta beliau masih tidak mengambil gajinya sebagaimana dahulu di Solo? Saya tidakpula tahu apakah beliau masih saja senang memakan tahu tempe saban pagi sebagai kebiasaan menu sarapannya? Banyak hal yang dilakukannya memang selalu memantik perhatian, membuatnya berbeda dari lainnya, menjadikannya istimewa.

Yang pasti tampaknya beliau masih saja tak lupa kebiasaannya di Solo: Blusukan ke pasar-pasar, ke gang-gang kumuh, turun berbaur merasai susah rakyatnya. Dengan itu ia belajar, lalu merumus langkah, dan mengambil aksi penyelesaian. Buahnya, Solo berkemas bangkit, lalu bertransformasi dari kota rawan tindak kriminal yang muram menjadi kota budaya yang adem, aman dan nyaman.

Jakarta tampaknya ia begitukan pula, lebih banyak waktunya tidak di balaikota, tidak di ruang be AC yang nyaman. Ia turun mendatangi warganya, menanyai langsung keluhan-keluhan mereka. Banyak dari programnya yang awalnya mentok mendapatkan penolakan sukses diterima setelah melalui diplomasi tatap muka itu.

Di tengah merosotnya moral politisi bangsa ini, Jokowi hadir bak oase perenggut dahaga yang melepas haus. Ia tidak hanya simbol pelawan yang hadir menampar muka dan perilaku munafik para politisi busuk yang bertopeng di balik kesederhanaan berpura-pura. Ia juga menelanjangi perilaku culas minta diperlakukan istimewa bagi umumnya pejabat.

Ia pernah mengusir foreijder yang membuntuti diam-diam mengawalnya ketika menyusuri jalan-jalan protokol kota Jakarta. Alasannya kemudian sederhana, ia tidak ingin dikawal karena itu hanya akan memberinya perlakuan istimewa. Ia ingin merasai sendiri bagaimana sesaknya kemacetan, bagaimana sumpeknya berjalan tersendat, dengan merasai begitu ia kemudian bisa berpikir menemukan solusi menyelesaikan.

Ia adalah godam yang turun memalu kepala-kepala politisi yang batok kepala mereka itu dipenuhi isi mengenai bagaimana memperkaya diri dengan korupsi, mengambil uang  rakyat tanpa harus bersalah perasaan, sekalipun dengan tangan terborgol, dengan baju bertulis sebagai tahanan koruptor terkenakan di badan mereka, masih pula mereka itu santai tertawa-tawa, cengigisan seperti sedang mengejeki rakyat saja. Jika telah kehilangan malu begini, apakah kelak nanti jadinya bangsa ini?

* * *

Pernah empat kali saya ketemu dengan Jokowi. Kali pertama ketika saya kebetulan melihatnya sedang melakukan peninjauan di pasar Klewer Solo, Surakarta ketika beliau masih jadi walikota Solo dahulu. Kali kedua ketika beliau meninjau pasar Tanah Abang di Jakarta, kali ketiga ketika beliau keluar dari tempatnya menginap di Inna Garuda Hotel, Jalan Malioboro Jogjakarta, dan kali keempat ketika beliau mengunjungi tanah daeng—Makassar beberapa waktu lalu.

Dua minggu yang lalu 4 Oktober 2013 ketika hunting sore hari di Pantai Losari Makassar, tiba-tiba kulihat orang-orang mengerumuni seseorang berkemeja putih dengan senyum terkulum mengembang terus. Awalnya saya tidak menyangka bahwa itu pak Jokowi, sampai ketika orang-orang berteriak-teriak memanggil dengan menyebut namanya.

Saya kemudian menyeret langkah mendekatinya, berdorongan dengan yang lain untuk bisa salaman dengannya. Dikerumuni banyak orang begitu, tampaknya beliau tidak terganggu dan rishi. Ia sabar meladeni satu-satu tangan yang banyak datang disorongkan kepadanya. Dan seperti biasa, beliau menyambut sodoran banyak tangan itu dengan terkekeh nyengir khas Jawa,

Banyak tokoh di negeri ini yang otak berpikirnya cerdas pintarnya luarbiasa, dan mereka-mereka itu telah bergiliran memimpin bangsa ini. Tetapi mengapa bangsa ini masih saja tersuruk jatuh di kubang kemiskinan dan melahirkan politisi-politisi bukan negarawan dengan ulah laku menyimpang dan bermoral buruk? Apa sebenarnya yang salah dengan bangsa “Tanah Surga” ini?

Banyak orang cerdas, banyak orang pandai, tetapi mengapa tak maju-maju ini bangsa? Apa sebab kecerdasan dan kepandaian itu tak mampu membawa bangsa ini dikemapanan secara ekonomi dan dikemuliaan secara moral? Mengapa orang-orang semakin pandai semakin pandir pula? Semakin mengenal agama semakin tak bermoral? Inikah zaman edan seperti yang diramalkan Ronggowarsito si pujangga besar Jawa itu?

Jokowi memang mungkin tidak begitu secerdas lainnya, tidak begitu sepandai lainnya. Tetapi beliau tidak culas sebagaimana lainnya itu, beliau tidak pandir sebagaimana lainnya itu.  Ia adalah tokoh bersih yang mentrasformasi segala pikirannya yang sederhana ke dalam kerja, kerja, kerja. Dengan itu, ia menjadi lokomotif perubahan dan ini yang dibutuhkan bangsa ini.

Maka jika kini beliau adalah bapak gubernur, sangat mungkin tahun depan beliau telah berganti dipanggil menjadi bapak presiden? Kewenangan itu ada di tangan seluruh rakyat. Tetapi jika melihat seluruh survei yang dilakukan lembaga-lembaga independen yang kredibel selama ini, nama beliau memuncaki polling sebagai paling tinggi elektabilitasnya.

Ah, pemimpin itu memang tak perlu cerdas nanti malah culas, tak perlu pandai nanti malah pandir, ia hanya cukup jujur saja, sederhana dalam tampilannya dan memiliki kesungguhan bekerja tulus, turun merasai yang diderita rakyatnya. Dan bagi saya sikap itu hanya ada dan melekat dimiliki Jokowi.

Jakarta, 20 Oktober 2013.




   




0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB