Ulama Binongko di Gu

Saturday, 7 September 2013 0 komentar


BAHKAN paling tidak sampai tahun 1990-an banyak desa di Buton meskipun mengaku telah beragama Islam belumlah keberislaman itu meluruh terbawa larut dalam laku berbuat mereka. Banyak dari mereka masih menenggak arak sebagai dianggap kebiasaan yang lumrah, lazim dan seperti tak bertentangan agama. Mereka menjamu tamu dengan minuman memabukan dari sari nira itu.

Juga maksiat mewabah masif tanpa jalannya bisa dikendalikan. Ia seperti virus penyakit ganas ditingkat akut yang sebarannya sulit dihentikan. Sampai kemudian seseorang dari pulau terujung di timur Buton—Binongko, datang dan melakukan perbaikan di sana. Ia mengajar dengan teladan, ia menyuruh dengan menghimbau, sungguh beliau adalah sebenar-benarnya guru yang baik.

Ia seperti oase di tengah gurun kerontang dan miskinnya pahaman Islami orang-orang Gu. Di tengah gulita dan minimnya pengetahuan agama Islam orang Gu, beliau datang sebagai pelita yang menerangi, sebagai cahaya yang mencerahkan. Ia adalah guru yang sampai kini ajarannya terus dikenang dan hidup di tengah masyarakat Gu

Mulanya ia ditolak, diperolok dan mendapat banyak penantang. Memakai sihir beberapa kali ulama kharismatis itu diserang tetapi selalu bisa ia mengelak bahkan dihalaunya sihir itu kembali pada pembikinnya. Sehingga kemudian mereka para penyihir itu keok terkulai dalam duduk memelas, mereka semua bertekuk takluk lalu datang mengaku taubat meminta berguru dan mengaji padanya.

***

Seseorang yang datang itu adalah ulama pedagang dari Binongko. Ia datang dan tinggal menetap di Gu. Ia dibawa oleh para pedagang orang Gu yang bertemu dan berguru ngaji pada beliau di Boepinang, daerah di Utara Kasipute. Saya tidak sekalipun bertemu beliau, hanya dari berita orang lain saja saya mendengarnya. Maka catatan pendek ini dibangun hanya dari berita dan cerita orang lain itu, orang lain itu adalah orang-orang yang mengenal beliau, orang-orang yang pernah berguru kepadanya.

KH. Abdul Syukur nama ulama itu, beliau adalah seorang kiyai kharismatis yang mengajar dengan memberi teladan. Beliau lahir di Binongko Wakatobi pada tahun 1886. Tahun 1924 beliau ke tanah suci Mekkah menunaikan ibadah haji. Di tanah haram itu beliau bertemu ulama setanah air bernama KH. Arsyad Banten. Pada ulama asal Banten itulah beliau berguru dan memperdalam pengetahuan agamanya.

Beliaulah yang menghidupkan Islam di Gu. Ketika agama yang dibawa Muhammad itu redup nyaris padam oleh gerusan pengaruh Hindu dan kepercayaan animis yang kuat, beliaulah yang menyulut nyala cahaya pencerahan. Beliau datang sebagai pelita yang menyebar cahaya dan melakukan dakwah mencerahkan di sana. Beliau adalah tokoh sekaligus juga ulama teladan yang dipanuti dan wibawanya tak pernah pudar bahkan sekalipun hingga kini dan nanti.

Dan seperti terbebas dari gumulan dan kekang kuat kesyirikan yang telah mengakar dianuti, orang-orang Gu mulai ‘Melihat’ Tuhan melalui agama yang di bawa ulama sederhana itu, sejak itu dimulailah kehidupan islami di sana, rumah-rumah banyak dibuka pengajian dan beliau bergiliran mengunjungi saban malam untuk membimbing pengajian itu.

Satu tahun setelah beliau tinggal menetap di Gu, pada 1946 beliau bersama masyarakat membangun tempat ibadah. Masjid yang awalnya sangat sederhana itu kemudian menjadi pusat siar Islam di sana. Setiap kali usai salat berjamaah magrib dan subuh beliau berdiri menyampaikan dakwah dan seluruh jamaah patuh tenang mendengarkan. Masjid itu kini tampak megah dan menjadi kebanggaan orang-orang Gu. Untuk menghormati jasa-jasanya, kini dinamailah masjid itu sebagai Masjid Nurul Huda KH. Abdul Syukur Gu.

Masjid Nurul Huda KH. Abdul Syukur Gu

Jauh sebelum kedatangannya, Islam sebenarnya telah dianuti seluruhnya orang Gu, hanya saja penganutan itu sebatas sampai hanya disandangan saja, ia belum terejawantah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Gu. Laku berbuat orang-orang di sana masih Hinduis, animis memuja setan dan jin sebagai dianggap Tuhan. Baju pakaian luar memang telah berislam tetapi isi dalaman masih hindu yang animis.

Sampai tahun 1970-an masih banyak ditemukan upacara-upacara berbau Hindu animis yang kental seperti melarung sesajen ke laut sebagai ritual tolak bala. Juga pada masa itu masih ditemukan sobek bentangan kain putih pada setiap sisi rumah yang pada kain itu diisi penuh berbagai macam rupa bunga berbau semerbak, nasi yang dikuningkan, seonggok tembakau, itu sebagai katanya pelindung jaga rumah dan penghuninya dari segala mara bala bahaya dan tulah penyakit.

Sejak kedatangannya, segala yang bertentangan Islam itu diberangus dan budaya tradisi Islami pelan-pelan dibangun dihidupkan. Ia pertama kali datang di Gu pada tahun 1936 untuk memulai melakukan syiar agama Rahmatan Lil Alamin itu. Tahun 1945—1976 beliau tinggal menetap di Gu dan dalam masa tinggalnya itu, Gu diubahnya dari kampung kecil yang miskin menjadi kampung maju yang makmur.

Tahun 1965 beliau mendirikan koperasi dan mengenalkan sistem berdagang yang baik menurut agama Islam. Koperasi itu dinamainya KGM atau Koperasi Gu Makmur, beliau sendiri yang mengetuainya dan mengambil kakek saya La Sailan sebagai bendaharanya, juru tulisnya adalah seorang dari keraton bernama Mahdi, atau orang-orang Gu memanggilnya sebagai “Juru Ngkapute” karena berkulit putih. Tampaknya dari sinilah mulai membiak bakat terampil dan semangat berdagang pada orang-orang Gu.

Tahun 1967 beliau mendirikan pula Sekolah Pendidikan Guru Agama 4 tahun dan pada tahun 1971 meneruskannya dengan mendirikan Sekolah Dasar Islam yang dinamainya Madrasah Ibtidayah Gu. Sekolah-sekolah Islami yang dibangunnya itu menjadi cikal bakal sekolah-sekolah Islam di Gu sekarang.

***

Jumat pagi hari, 3 Ramadhan 1976 Masehi, ketika matahari baru hanya sejengkalan menaiki langit, beliau wafat dengan tenang di rumahnya yang sederhana di Wale Baubau, wasiatnya untuk dimakamkan di Gu, tepat di sisi mihrab tempat imam bersujud di masjid yang dibangunnya tak terkabul karena Bupati KDH TK II Buton Zainal Arifin Sugianto tak meluluskan mayat beliau dibawa keluar dari Baubau, maka dimakamkanlah beliau di daerah yang kini kita kenal sebagai Kuburan Islam.

Dari Gu melayangpula kabar duka, kakek saya La Sailan telah wafat pula. Dua sahabat ini seperti telah saling janji untuk menghadap-Nya sama-sama. Maka betapa orang Gu saat itu tercabik sedih merasa kehilangan, dua tokoh yang dipanuti mereka dipanggil-Nya dan pergi menghadap-Nya di hari dan waktu yang  bersamaan. Semoga Tuhan melapangkan dan meluaskan makam keduanya. Amiinn

                                                Gu, 10 Agustus 2013
sepulang dari kuburan Kakek

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB