Kudeta Merangkak Ala Buton

Thursday, 5 September 2013 0 komentar

TANAH Jawa, 1182 Masehi, bocah hasil hubungan gelap itu lahir. Suaranya lantang memecah sunyi, tangannya mengepal kuat memukul udara dingin bumi fana. Karena tak diketahui ayah yang membuahinya, ibunya yang bunga dusun Pangkur itu kalap, lalu panik. Mengendap ia berjalan lindap di tengah malam yang gelap, dan diam-diam ia membuang bayi dagingnya sendiri itu di semak belukar tengah pekuburan.

Seorang rampok bukan main girangnya mendapati ujung semak yang bergerak-gerak menggoyang belukar. Ia berjalan lindap merayap, serupa langkah mengendap harimau yang mengintai mangsa, dikiranya hewan apa yang bergerak-gerak itu. Rupanya bayi sedang merengek dalam tangis terseduk kehabisan suara. Rampok bengis bernama Limbong itu masih berhati juga rupanya, digendongnya bayi yang masih berdarah itu, dibawanya pulang ke rumah kediamannya, diambilnya kemudian sebagai anak.

Dialah Arok bayi itu, seorang sudra yang kelak menjadi kesatria dan brahmana penurun raja-raja Jawa. Ia naik memangku kuasa dengan cara aneh yang tidak biasa. Tidak dengan kekerasan yang frontal, tidak dengan tangannya sendiri. Ia memukul memakai tangan orang lain. Ia tak tersentuh pengadilan akuwu di Tumapel karena bukti mentah tak mengenainya. Ia menaiki kuasa dengan sembah merangkak, bersujud-sujud sebagai muslihat bertaktik menaklukkan. Itu memang licik tetapi sekaligus juga cerdik.

Karena muslihatnya itu, tak hanya tahta mulus direngkuhnya, wanitapun juga kesensem didekapnya. Ia mengambil Dedes dari tangan Tunggul Ametung, dari wanita si pemilik betis indah dan pada aurat kewanitaanya mengilap cahaya bertanda sebagai nareswari itulah Arok menurunkan trah penguasa raja-raja Jawa hingga salah seorang dari buyut turunannya melayari lautan ke timur  dan terdampar di Buton sebagai Sibatara suami raja kesatu Buton, Wakaakaa.

Arok rupanya menurunkan juga sifat kebiasaanya itu pada turunannya nun jauh di timur nusantara. Ketika Singhasari tumbang, Majapahit bangun. Dan wangsa Rajasa yang adalah turunan Arok Dedes menjadi penguasa di sana. Setelah melalui masa kejayaan yang gemilang, datanglah kemudian masa suram yang kelam. Konflik dan pemberontakan dari dalam terjadi massif sekali dan berjalan tak terkendali berbuah intrik saling sikut yang tajam diantara sesama mereka sendiri, tak berselang lama setelah itu, tumbanglahpula kemudian Majapahit.

Majapahit yang Hindu-Buddha itu runtuh, Demak Bintoro yang Islam bangun, seluruh Jawa terkenai pengaruh Islam oleh syiar Wali Songo yang intens. Tahun-tahun itu juga di Buton datang seorang ulama, Syeh Abdul Wahid namanya, ia mengislamkan Buton dan mengubah wujud pemerintahannya dari kerajaan menjadi kesultanan. Maka seperti juga di Jawa, Hindu Buddha runtuh di Buton, Islam terkerek naik meluas. Sultan kesatu Lakilaponto memerintah selama 28 tahun lamanya, seusainya anak turunannya turun temurun mewarisi meneruskan memerintah.

Sampai ketika di masa Sultan Laelangi yang bergelar Dayanu Ikhsanuddin sebuah peraturan diundangkan mengubah seluruhnya wajah dan sistem memerintah di kesultanan Buton. Putra mahkota dihapus, tak dibolehkan seorang sultan menurunkan jabatan pada anaknya kecuali setelah melalui sidang pemilihan oleh majelis sara yang dinamai Siolimbona. Sejak itu membiaklah bibit bersaing tak sehat yang kelak mengambil tumbal dan memakan korban.

***

TANAH Buton, 21 Agustus 2013, di Acara Sail Komodo yang singgah di Pasarwajo, ibukota Kabupaten Buton, saya bertemu salah seorang Siolimbona. Ia tampaknya mengingat saya karena pernah beberapa kali ketemu di acara ritual kesultanan di keraton Buton. Ketika matanya bertatap mataku, bibirnya terkembang senyum ramah, saya merangsek maju menyalaminya dan seketika kami larutlah dalam bincang akrab yang santai.

Banyak hal dibincangkan tetapi yang menjadikan saya terperangah kaget adalah ketika ia mengajak hadir di keraton pada hari jumat 23 agustus 2013. Saya menanyai adakah acara di tanggal itu? “Iya, ritual sokaiyana pau akan digelar di sana”, jawabnya tegas. Lantas saya memberondongnya dengan banyak tanya, “Mengapa sultan di ganti?” “Apakah salah yang telah dilakukannya?” “Siapa yang akan menggantikannya?” Saya tak mendapatkan jawaban kecuali hanya kata “Rahasia” keluar dari mulutnya. “Datanglah di sana, yang masih rahasia hari ini akan terbuka diketahui umum” Katanya sembari pamit hendak duduk

Maka melanglanglah saya mencari tahu dari orang-orang dalam yang mengetahui. Dari sana segala yang sumir keluar, ada yang mengatakan sebabnya karena sultan tak pernah menghadiri undangan acara pemerintah, ada yang mengatakan karena sultan tidak seklan turunan kamboru-mboru dengan penguasa pemerintah sekarang, banyak dari orang yang saya tanyai beranggapan bahwa ini adalah sebenar-benarnya gerak politis yang ditutup memakai alasan uzurnisme.

Karena alasan politis itulah, maka kunamailah penggantian itu sebagai KUDETA, kudeta yang merangkak bersungut-sungut menyembah pura-pura dengan tangan terlipat ke belakang sebagai seakan-akan menghormati, padahal pada jemarinya terselip sebilah pisau siap dihunus dihujamkan.

Sebab jika hanya karena usia yang uzur dipakai sebagai dasar alasan penggantian/pemecatan sultan, bukankah ketika dipilih juga setahun lalu beliau yang mulia ini memang telah uzur usianya? Jika alasan keuzuran itu tidak diambil sebagai masalah pada ketika dahulu penaikannya, mengapa kemudian mengambil alasan itu ketika menurunkannya?

Memang telah sebagaimana dicatat sejarah, negeri ini tak sepi dari kudeta. Sejak Belanda campurtangan dan membungkus campurtangannya itu dalam apa yang dinamai “Sekutu Abadi”, Buton tercabik, tersuruk jatuh dalam kubang persaingan saling membunuhi sesama sendiri. Dan sejak itu tak lagi bebas menentukan sendiri jalannya.

Jabatan sultan diributkan dan direbutkan secara tak sehat oleh tiga klan bangsawan yang menamai diri mereka sebagai “Kamboru-mboru”. Dan para klan rakyat (papara) di bawahnya hanya mendongak menonton saja, tak bisa berbuat apapun karena mereka telah disekat, diikat dalam batas kaku aturan perundangan yang memakai agama sebagai doktrin peyakin yang menakuti.

Pengundangan Murtabat Tujuh sebagai sebenarnya politik pelanggengan kuasa yang dibungkus agama, bahkan juga tak lepas dari intervensi pengaruh Belanda. Pembagian klan dalam tiga kelompok kamboru-mboru, ditengarai sebagai pengaruh paling terlihat dan ulah dari kerja campur tangan Belanda itu sebagai bagian dari politik memecah belah “Devide It Impera”.

Tak dinyana, memang benarlah persaingan tiga klan kamboru-mboru itu mewarnai jalan pemerintahan kesultanan yang di sana ada intrik yang kuat, konflik rebut kuasa yang massif, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya ketika Buton dalam masa kerajaan yang jalan dan sistem memerintahnya bersifat monarki absolut.

Selama dalam masa kesultanan, terutama setelah Undang Undang Murtabat Tujuh diundangkan/disahkan yang disana pengklanan dan lapis sosial diatur dan ditetapkan haknya sendiri-sendiri, ia telah mengambil tumbal banyak sekali. tercatat 1 sapati digantung, 3 sultan di bunuh (salah seorangnya digantung), dan 12 lainnya di kudeta/dimakzulkan, bahkan ada beberapa sultan yang memerintah hanya dalam hitungan hari. Pemakzulan itu memakai gaya merangkak ala Arok itu yaitu dengan penjebakan, membangun perkubuan lalu melepas syak wasangka, meniup isu dan menyebar kebohongan yang menohok memukul lawan diam-diam.

Pengklanan itu justru memicu konflik dan memacu perpecahan yang tajam dan tak berkesudahan tidak hanya diantara sesama bangsawan (kaomu dan kaomu dalam kamboru-mboru, atau kaomu dan walaka dalam sara/perangkat kesultanan) tetapi juga merambat menjalari kaum kelas sosial yang di bawahnya (papara dan batua atau rakyat biasa dan budak).

Maka tak ada yang aneh dari yang terjadi ini, telah memang dari dulu rebutan jabatan sultan ini diributkan, sebagai yang hanya papara (rakyat biasa) saya bisanya hanya mendongak saja, mengamati dengan mulut ternganga sembari menghayalkan dan membatin “Kelak nanti Papara akan naik merebut kuasa dengan kudeta sebagaimana Arok yang sudra di Jawa.

Bisakah? Tiba-tiba seseorang yang berpangkat dengan pakaian jubah hitam yang pada dada kiri kanannya menjuntai bergelantungan manik-manik emas kekuningan menggamit saya dan seperti membaca batinan saya, berkata setengah membisiki: “Tidak bisa, kau kualat nanti, tanah yang diberkati ini akan menelanmu jika bicara serampangan mengenai ini tanah”. Mulut saya yang ternganga surut kutarik merapat, seperti susut daun putri malu yang terkenai sentuhan.

Berlanjut…

                                                                                    Pasarwajo, 21 Agustus 2013

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB