Berhentilah Menzalimi Rakyat Bangsa Sendiri

Friday, 13 September 2013 0 komentar

Sangat sulit bBerhentilah Menzalimi Rakyat Bangsa Sendiriagi kita yang awam ini untuk memahami reaksi dan perilaku sigap aparat yang bertindak brutal berlebihan terhadap rakyat/sipil tak bersenjata pada setiap kali menangani unjuk rasa damai. Seperti teletubies penindasan pada rakyat sendiri itu norak telanjang sekali terjadinya dan bersambungan tak henti dari Aceh di Utara Sumatera hingga Papua di Timur Nusantara. Yang kini hangat dibincangkan media mulai dari Mesuji di Selatan Sumatera dan Lampung hingga yang baru beberapa bulan kemarin terjadi di Sape Bima Nusa Tenggara Barat. Dan di depan nanti, pada 1 April 2012 mendatang ketika BBM dinaikan, tanda-tanda anomali mulai nampak kelihatan, demonstrasi penolakan telah digolakan mulai merata oleh kaum muda diseluruh daerah di negeri ini. Gelagat ini disambut aparat dengan bersiap dan siaga. Maka hampir dapat dipastikan kita nanti masih akan melihat lagi perilaku paling purba dari serakah tamaknya manusia; penzaliman dan kesewenangan yang diumbar dipamer-pamer sebagai seakan-akan biasa saja. Keras kasar pada rakyat bangsa sendiri, melempem lembek ciut nyali pada bangsa lain yang menyobek harga diri dan menginjak kedaulatan bangsa sendiri

Berkaca dari Mesuji dan Sape
Sungguh benar-benar memiriskan melihat rakyat tak berdaya dikasari sebegitu sewenang-wenangnya. Dipukuli memakai pantat senjata yang keras itu, ditendangi seluruh badan tubuh mereka memakai pangkal laras yang kuat, keras dan kasar itu. ini Negara macam apa? Seperti lalai dari tugas kewajiban tanggung jawabnya menjaga dan melindungi rakyatnya sendiri. Ironisnya ulah seronok itu justru dilakukan oleh alat Negara yang berslogan begitu manis indahnya Melindungi, Melayani, dan Mengayomi.

Ini Negara centeng kata Professor Tomagola (Sosiolog UI), Negara yang membudak pada pemodal. Negara yang tanpa daya tunduk patuh menurut pada mau kaum borjuasi pemodal berduit, sekalipun harus membunuhi rakyatnya sendiri. Lihat bagaimana mereka begitu sigap mengokang senapan otomatis untuk kemudian memuntahkan isi pelurunya di perut rakyat sendiri yang sebenarnya dari uang rakyat senapan yang mengangkuhkan aparat itu dibeli. Lihat bagaimana mereka begitu buas merangsek teratur dalam barisan seperti hendak tak mau membiarkan seorangpun para warga awam pemblokade itu lolos dari gerebekan serbuan mereka. Bukan main tangguh tangkas lincahnya pada rakyat sendiri. Pada bangsa tetangga yang berulah menginjak kedaulatan, Negara ini meriut seperti keong nyalinya, ciut tak berkutik. Hmmmm…

Sebuah blokade ala kampung di pelabuhan Sape Bima Nusa Tenggara Barat tanpa organisasi dan pengaturan yang baik diserbu aparat dalam pakaian tameng lengkap bersandang senapan serbu otomatis seperti sedang dalam perang saja. Maka yang diduga terjadilah, senapan serbu otomatis itu menyalak bersahutan diluar kendali komando dan melayangkan paling tidak dua nyawa warga pemblokade yang tak berdosa itu(versi aparat), belakangan Walhi melansir lima orang meninggal dunia. Rakyat pendemo yang lainnya panik, berlarian menyelamatkan diri. Sebagiannya lompat menceburkan diri ke laut, mencari selamat. Yang tak kuat lari ditangkap lalu kemudian diseret digarukkan pada tanah badan tubuhnya. Selama dalam seretan itu badan tubuh yang telah lemah lunglai itu diinjak ditendang-tendang pula. Perlakuan yang disebut Johnson Panjaitan sebagai primitif, atau Profesor Tomagola sebagai katanya lebih rendah dari ulah Polisi Pamong Praja.

Polisi yang berslogan melindungi, melayani, dan mengayomi itu harus benar-benar mengimplementasi slogan tulis itu dalam perilaku mengemban tugas mereka. Jangan sampai slogan yang aduhai manis itu berkontras dan malah mereka tampil sangar pada setiap kali operasi pendamaian. Maka jika begitu akan selalu tujuan tak menemui akhir yang baik, maksud beroperasi mendamaikan yang tejadi justru malah menambah kacau.

Berhentilah menzalimi rakyat bangsa sendiri
Negara harus berdiri membela dan melindungi rakyatnya sendiri
Negara harus maju tak gentar membela yang benar
Bukan maju tak gentar membela yang bayar.

maka untuk alasan kemanusiaan 
sebagai bentuk melawan penzaliman
dan melabrak kesewenangan penguasa
saya rakyat biasa yang papa
menolak penaikan harga BBM!

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB