Mosi untuk Morsi

Friday, 5 July 2013 0 komentar

Mesir tersuruk jatuh, Morsi digulingkan. Oleh militer negeri itu, kendali diambil alih dan kemudian kuasa sementara diberikan kepada ketua Mahkamah Konstitusi negeri piramida itu. Segera setelah itu, polisi dibekingi militer bergerak cepat sekali menangkapi seluruhnya terkait partai penguasa yang dimakzulkan itu.

Maka kemudian drama rebut paksa kuasa membentanglah, rakyat disaling berhadap-hadapkan untuk kemudian disalingtubrukkan. Di atas semua itu, para elit berjoget bersukaria, menari genit di atas luka rakyat yang digoresi oleh belati dari tangan mereka sendiri. Elit di atas saling sikut menggeser, rakyat di bawah korban tumbalnya. Darah tumpah di jalanan banyak sekali. Darah itu darah rakyat

Sesudah penggulingan itu, organisasi Ikhwanul Muslimin disasar menjadi target, kantor-kantor perwakilan mereka diseluruh Mesir digeruduk dengan kasar tidak hanya oleh militer dan polisi tetapi juga oleh para pendukung militer dan partai oposisi. Semua orang di dalamnya diseret ditangkapi, dan seperti kerbau yang hidungnya kena cucuk mereka beringsut berjalan dengan mengangkat kedua tangan. Dalam todongan moncong senapan mesin otomatis seperti itu, tak ada memang pilihan lain selain menurutkan seluruh keinginan para penangkap itu.

Media-media yang berafiliasi ke pemerintah ditutup, seluruh stafnya ditahan lalu kemudian dibebaskan setelah mereka dimintai bertandatangan untuk tidak melakukan siaran. Sejak itu udara Mesir kehilangan TV pro Moersi dan semua media layar kaca di seluruh negeri Cleopatra itu dipenuhi gambar bersorak gembira dari para pendukung oposisi dan militer yang memenuhi jalan-jalan dan lapangan Tahrir.

Dari tanah Arab, raja negeri tanah suci itu melayangkan ucapan selamat sekaligus mengikut pemberian dukungan atas kudeta itu. Bagaimana bisa seorang terdidik seperti raja yang mulia itu bisa menerima perilaku yang menyimpang dari kelaziman dan melabrak tata demokrasi yang baru mulai di bangun bangsa Mesir dalam setahun ini?

Suara satire penolakan hanya datang dari Turki, belakangan ketahuan pula bahwa selama Mesir dalam kendali Moersi, Erdogan yang pemimpin Turki itu adalah mitra sangat dekatnya. Suriah di bawah Assad juga bertepuk tangan dan bergembira atas kejatuhan Moersi. Padahal dalam isu di negerinya sendiri ia berseberangan dengan Arab Saudi, negara yang justru paling bernafsu, ngotot agresif memasok dan mengirimi gerilyawan pemberontak bantuan senjata mutakhir. Selama masa Moersi, relasi Mesir—Suriah berdiri diametral saling bertolak. Di Suriah organisasi Ikhwanul Muslimin dicap sebagai terlarang dan orang-orang yang diketahui menjadi pengikutnya bisa dikenai hukuman dan diseret ke penjara tanpa melalui pengadilan

Hampir dari seluruhnya gerilyawan dan senjata pemberontak di Suriah dipasok oleh Amerika dan Israel melalui Saudi, bahkan desain penjatuhan Assad juga dikerek di Saudi. Pangkal soalnya mengemuka telanjang, hanya karena sektarianisme akut yang sempit. Saudi yang merengkuh Sunni sedang Suriah mengikut Iran adalah penganut Syiah yang taat. Hanya karena beda aliran itu, senjata begitu mudahnya dikokang untuk kemudian dipakai saling membunuh, menembaki dan memuntahkan darah saudara sendiri.  Oh umat Islam, mengapa begini pelik jalan hidup, bukankah seharusnya umat Islam itu dalam pengandaiannya seperti satu tubuh? Jika yang lainnya sakit, bagian yang lainnya akan merasai sakit itu?

Sulit memang memahami politik bagi awam seperti saya. Dalam politik terlalu sering yang tampak di permukaan tidaklah menunjukan isi sebenarnya di dalamnya. Bahkan para alim sekalipun yang telah menyimpan isi kitab suci di dalam kepalanya tak bisa menghindarkan diri dari cabikan cakar tajam politik. Politik melenakan mereka  hingga kemudian tampil bermuka ganda dan mengumbar aura kemunafikan, padahal di kepala mereka melilit pula sorban kafiyeh dan isi-isi kitab suci dinukil disertakan dalam setiap kata-kata yang diucapkan.

Politik adalah bagaimana permukaan lahiriah dipoles secantiknya, sekalipun batiniah di dalam busuknya bukan main menusuk hidung. Maka tahulah saya, bahwa memang kepentinganlah yang menjadi tuan dan tujuan dalam politik, bahkan agama sekalipun tak mampu menggeser kedudukannya, ia hanyalah tunggangan yang dipakai sebagai topeng, tameng pemulus langkah mencapai puncak kuasa.

* * *

Dan kini di Tahrir Square, orang-orang penolak Morsi berkumpul dalam jumlah puluhan bahkan ratusan ribu jumlahnya, sedang hanya beberapa kilometer jauhnya dari itu di Universitas Kairo, Giza namanya, orang-orang pendukung Morsi berkumpul pula dalam sebanyak itu pula jumlah mereka sembari berzikir-zikir dan mengumandangkan takbir.

Bagaimana ini ya Allah sesama orang-orang yang di mulut mereka melafazkan nama-Mu kini diambang saling bunuh menumpah darah. Baru hanya sehari setelah kudeta, tercatat telah mendekati seratus orang meregang nyawa di jalanan karena demonstrasi, dan dipastikan jika tidak segera ditemukan jalan damai kesepahaman jumlah korban masih akan terus tambah berjatuhan.

Ini tangan siapa yang memainkan mereka? Ini ulah siapa yang menjadikan mereka sehingga begini nyinyir dan saling melihat memakai ujung mata bahkan kepada sesama saudara mereka sendiri? bagaimana bisa sesama mereka saling bunuh menumpahkan darah hanya karena meributkan dan merebutkan kuasa? Cukuplah Irak, cukuplah Libya, cukuplah Lebanon, cukuplah Suriah. Jangan lagi medan saling bunuh sesama umat Islam itu di pindah ke negeri Musa itu ya Allah. Semoga kedamaian tersemai di Mesir dan Allah SWT menolong umat Islam.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB