Mantra Kaasi Orang Buton

Sunday, 28 July 2013 1 komentar


TIGA tahun yang lalu ketika hendak ke tanah Jawa, ibu saya datang mengajarkan beberapa kata dirapalkan yang tak kumengerti maknanya, salah satu dari yang banyak diberikannya adalah yang saya tuliskan di atas itu. Ia menegaskan dan terus-terus mengingatkan saya agar yang diberikannya itu selalu kupakai dengan membacanya setiap kali hendak keluar berurusan.

Sebagai orang kampung yang kental lugu polosnya dan memercayai segala yang mistis dan mitos saya menerima begitu saja semua yang diajarkan itu. Maka menjadilah saya keranjang sampah yang duduk ternganga menerima apapun saja yang ditumpahkannya. Berkata: “Itu jika diyakini dan diucap dengan kesungguhan hati Insya Allah akan berguna memuluskan dan meluluskan urusan” Tegasnya meyakinkan. Melanjutkan: “Lihat kakekmu itu, jelek mukanya bukan main tetapi dapatkan nenekmu yang bunga di kampung ini”.

Karena saya memang penurut maka saya turutkan keinginan ibu itu, jadilah saya saban hari membaca itu, merapalkan diam-diam dengan kesungguhan dalam hati ketika hendak keluar rumah. Saya merasai dalam beberapa hal memang urusan berlalu begitu mulus, lulus kulalui sekalipun aral melintangi jalannya. Saya tidak tahu apakah itu tuah dari yang selalu kubacai itu atau memang karena buah dari usaha dan kerja keras yang saya lakukan?

Tetapi entahlah mungkin hanya kebetulan, beberapa urusan yang memerlukan kesungguhan kerja mulus lulus dilalui dan turun direngkuh begitu saja dengan hanya usaha yang setengah hati. Karena itulah kemudian jauh dilubuk hati terdalam, diam-diam membiak perasaan bangga sebagai orang Buton, bagaimana tidak hanya berkata-kata dalam bahasa daerah itu yang diucap dengan keyakinan bersungguh-sungguh bisa membawa daya mempengaruhi yang besar bahkan tidak dan bukan hanya kepada orang Buton sekalipun?.

Pernah beberapa kali di Pantai Kuta Bali seorang gadis bule dari Jerman tiba-tiba datang menyodorkan tangannya untuk disalami dan berseloroh menyebut saya ganteng dan beraura baik sembari mengedipkan mata kanan dengan binalnya.  Seketika saya terperanjat kaget, dada membuncah busung dan kepala telah sebesar balon raksasa rasanya. Saya girang sekaligus juga geram, ini si Bule menghina ataukah benar tuduhannya itu?

Saya kemudian membatin: “Gila ini bule cantik, muka jelek begini kok dibilang ganteng dan beraura baik?” Saya mengulum senyum dan menelan ludah sendiri di muka cermin, lalu menanyai hati dan menemukan jawabannya di sana, rupanya dan pastilah ini tidak lain dan tak bukan, kata-kata rapalan itulah muasal sumber sebabnya. Sejak itu saya berhenti merapalkannya. Sebab jika diteruskan bisa berbahaya, mungkin di mata orang bule saya tampak seperti Brad Pitt pesohor Holliwood yang ketampanannya selangit itu. Saya selalu tertawa mengingat itu.

* * *

Dari orang-orang kemudian tahulah saya bahwa yang dulu saban hari saya bacai dan rapalkan itu adalah sebuah mantera. Mantera pengasihan yang oleh orang Buton dinamai sebagai "Kaasi". Mantera begini ini masih diyakini sebagai bermagis bisa menolong dan memudahkan mendapatkan segala yang diingini terutama gadis/lelaki yang diidami atau memantik dikagumi seluruh orang.

Kearifan lokal serupa ini tidak hanya bagi orang Buton tetapi juga ditemukan ada di banyak suku di Indonesia, bahkan dunia. Ia terpelihara sebagai Genius Local yang mengayakan keadaban manusia modern. Ia adalah yang tersisa dari gerusan kemajuan zaman yang berjalan angkuh menggilas cepat sekali dan tanpa ampun.

"Kaasi" telah menjelma magnet yang menarik mendekatkan dan memantik tertumpahnya rasa kagum simpati bagi siapapun pemakai yang mempercayai dan meyakininya. Hanya dalam diyakini dan dipercayai itulah mantera bisa berdaya tarik dan hidup bertenaga menyebar magis. Ia berjalan tanpa dilihat tetapi kemudian efeknya bisa dirasai. Ia seperti angin, datangnya dalam hembus yang dirasai tetapi tanpa terlihat oleh mata   

Tetapi mantera hanya akan menjadi kata-kata mati tanpa tenaga dan miskin daya magis jika tidak disertai keyakinan dalam mengucapkannya atau jika dirapal dengan hanya bermain-main. Kebertenagaan mantera hanya dimungkinkan oleh seberapa kuat keyakinan kita dalam mengucapkannya, kemagisannya hanya bisa terjadi dari seberapa sungguh-sungguh kita merapalkannya.

Maka itu berhati-hatilah merapalkan sesuatu dengan bersungguh sungguh dan sepenuh keyakinan hati karena bisa-bisa ia dapat berubah menjadi mantera bermagis. Pun jika hendak mengingini sesuatu, apapun itu yang baik-baik lakukanlah dengan sepenuhnya keyakinan hati sebagaimana mengucap dan merapal mantera, tetapi jangan lupa tetaplah saja barengi ia dengan usaha.

"Anda semua yang membaca ini, percayakah pada mantera?"
                                                                                                            
                                                                                          Baubau, 29 Juli 2013

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB