Bukit Wantiro dan Dongeng Landoke-Ndoke

Monday, 29 July 2013 0 komentar


SAYA melihat matahari turun mendekati ujung tepi laut di Bukit Wantiro. Nun jauh di barat semburat cahaya berwarna kesumba berkilau menimpa laut, memerahkan tepi langit dan ujung laut. Sore hari di Bukit Wantiro, kulihat perahu-perahu nelayan pulang dari melaut. Juga beberapa speed fiber dan jarangka berseliweran mondar-mandir saling melalui, ada yang ke hilir ada yang ke hulu, mengangkut orang-orang yang juga sibuk berseliweran menyeberangi laut antarpulau.

Kulihat kapal roro, feri Baubau—Waara berjalan terseok lamban, kapal ‘berdaging’ besi pengangkut kendaraan itu seperti tampak malas melayari laut teluk Baubau yang teduh. Di pelabuhan Murhum tampak ramai pula, orang-orang berjibaku saling dorong, turun dan menaiki kapal KM Lambelu yang bersandar sedari siang. Sampai malam menjelang datang kapal negara yang namanya diambilkan dari sebuah gunung di utara pulau Buton itu tak juga menarik sauh, tampaknya ada keterlambatan beberapa jam.

* * *
Malam turun dari langit, membawa gelap pada datangnya. Udara gunung yang semilir berganti angin laut yang sepoi, bertiup pelan. Di bukit Kolema Wantiro warung-warung khas kaki lima telah buka berjejer-jejer seperti bersiap menyambut tamu yang datang berkunjung. Saya duduk menghadap laut dan menghirup udara gunung yang segar. Tampak dikejauhan lampu-lampu kota Bau-Bau berkelip menyala benderang memantul di laut sinar cahayanya. Indah bukan main, segala penat terlepas, segala sumpek teruraikan

Jika sedang di Bau-Bau saya memang tidak melewatkan berkunjung ke Bukit Kolema. Menikmati sunset yang jika langit cerah sore hari sungguh menakjubkan indahnya. Tidak main-main jingga memerah memenuhi langit ufuk barat sebelum kemudian berubah kesumba ketika lautan mengambil setengah badan matahari untuk kemudian membenamkannya dalam rengkuh peluknya.


Bulan merangkak naik, mengerek angin makin kuat berhembus. Udara malam yang dingin berhembus turun dari gunung, hembusnya menusuk kulit, menggidikkan daging tulang, menggoyang kibarkan kerak baju kaos rombengan saya yang kubeli di Wameo. Segelas Sarabba panas kugamit dan kuseruput puas-puas, uap dingin dari mulutku bertubrukan dengan uap panas dari mulut gelas berisi Sarabba panas itu.

Wuihh, panas air beradon santan kelapa, sedikit gula merah, juga susu telor dan hangat jahe ampuh mengusir dingin udara malam. Angine Bablas seketika. Dan kuarasai dadaku hangat oleh aliran Sarabba yang turun kutumpah dari mulutku. Pisang dan ubi yang digoreng, berlumur kucolekkan lombok  berganti-ganti memenuhi mulutku, sesekali aku meniup niup dan mengipasi mulut dan bibir sendiri karena kepedisan yang panas.

Oh, langit tampak cerah, dan bergelantunganlah bintang-bintang di angkasa, hanya saja kelipnya kalah terang, redup oleh bulan yang memurnama. Sesekali awan tipis lewat pula menyapui wajah bulan. Dan ketika bulan di purnama itu melintas berseliweranlah memenuhi kepala dongeng-dongeng indah kampung saya.

Dahulu setiap kali bulan di purnama, di serambi depan rumah, kami duduk didongengi oleh kakek  sampai suntuk, sampai kantuk mematuk-matuk mata kami. Ketika kami telah terkulai lunglai diambil tidur, kakek baik hati itu akan menggendongi kami dengan lembut sepenuh kasih sayang, membawa ke tempat tidur sendiri-sendiri. Dan terlalu sering dongeng yang diceritakannya di serambi depan rumah itu terbawa hingga ke dalam kamar tidur, hadir masuk di mimpi kami. 


Paling sering diceritakannya adalah dongeng tentang Landoke-Ndoke (Kera) yang duduk di ujung jembatan pantai kampung kami berkhayal dan bergumam dalam hati pikirannya sendiri bahwa bulan purnama sama seputih wajahnya sehingga ia diejeki oleh gurita: “Bagaimana muka serupa hitam bokong kuali mau dikatai sama putihnya rembulan?”.

Marahnya bukan main Landoke-Ndoke (kera) itu. Ia naik pitam, muka hitamnya berubah merah karena darah yang tersirap menaik. Di tendangnya gurita sekuatnya memakai kaki kirinya, tapi malah kakinya itu keselek meleset salah sasar. Ditariknya kembali kakinya itu tapi tak bisa, seperti ada yang menahannya di bawah, rupanya kakinya itu telah dililiti gurita, dihisap sekuatnya oleh tangan gurita

Ia kalap dan bertambah-tambah marahnya, kaki kanannya melayang turun, menyusul kemudian juga tangan kirinya. Berkata: “Hai gurita yang tak bertulang, berhentilah sok melawan Ndoke yang bertulang kuat dan perkasa ini. Lekas lepas dua kaki dan satu tanganku itu, jika tidak tangan kananku yang kuat ini akan kulayangkan memukulmu sampai lumat”. Seloroh Landoke-Ndoke (Kera) dengan suara tinggi mengancam.

Tapi gurita malah menyemburkan air di muka Landoke-Ndoke (Kera), Landoke-Ndoke (Kera) berbalik mundur mengambil langkah siaga dan ancangan. Tak dinyana, dalam emosi yang memuncak di ubun-ubun dia layangkannyalah kemudian tangan pamungkasnya itu. Tapi Ia malah tak berdaya, lemas dikepit Gurita, Ketika air laut menaik pasang, bangkainya tampak terapung dipukul-pukul gelumbang. Ia mati sebab lupa diri dan oleh kesombongannya sendiri.

Saya tak habis pikir bahwa hampir seluruhnya dongeng di Buton, Landoke-Ndoke (Kera) selalu mendapatkan nasib naas, apes dan berkarakter buruk antagonis. Padahal di India hewan ini sangat dipuja dan dimuliakan. Jika tidak sebagai yang sombong, maka ia akan disemati berperangai serakah, rakus, egois, dan segala buruk laku lainnya. Ujung akhirnya bisa ditebak, ia akan menjadi korban mati terbunuh dan kalah karena dalam dongeng keburukan tidak pernah menang mengalahkan kebaikan.

                                                                                                Gu, 30 Juli 2013

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB