Membaca Tagore, Melihat Kehidupan

Friday, 28 June 2013 0 komentar


SAYA diserang kagum luarbiasa ketika helai helai lembar buku karya sastrawan yang juga filosof ternama India, Rabindhranath Tagore kubacai. Sebuah karya yang menjadi puncak pencapaiannya berjudul ‘Gitanjali’ kubukai. Telah berulang-ulang saya membacai buku itu tetapi greget setrum dan daya kejutnya masih selalu terasa. Saya mereguk dan menikmati tiap kata dari tulisannya itu sebagai anggur yang memuas dahaga ruhuniah pencarian kearifan, dengannya tabir alam kehidupan dibuka dan cakrawala berpikir meluas tercerahkan.

Telah Hampir seabad lamanya berlampau ketika sang penulis yang bernama lengkap Rabindhranath Tagore pergi dibawa maut. Apa yang telah ditulisnya itu telah menjadi seperti lilin yang menerangi kegelapan, ia menjadi Pandora yang membukai rahasia cara mengurai sungsang runyamnya sengkarut menujui berpikir dan berlaku bijak. Dan ia telah meninggalkan sesuatu paling berharga itu bagi kemanusiaan—Cinta.

Apa yang telah ditulisnya dalam buku kecil tipis itu menguak kearifan teramat dalam dan begitu detail perihal cinta manusia pada alam, cinta manusia pada manusia, cinta manusia pada mahluk hidup selainnya, ujung akhir muara seluruhnya adalah cinta manusia pada kehidupan di bumi fana ini yang ia sebut sebagai wujud paling puncak dari cinta kepada Tuhan.  

Dia lah yang mengurai secara gamblang akan pelik sungsang dan rumitnya relasi sengkarut cinta manusia kepada Tuhan menjadi hanya sangat lugas dan sederhana. Bahwa cinta harus dimanifestasikan secara universal, masing-masing dari elemen kehidupan di bumi fana ini berhak mendapat perlakuan disertai cinta kasih, hanya dengan itulah dinamisasi harmoni kehidupan yang indah bisa dicapai. Dengan mencintai kehidupan, anda telah mencintai Tuhan.


Buku itulah yang kemudian membawanya berdiri di depan komite nobel Stockholm Swedia sebagai orang Asia pertama penerima hadiah nobel sastra di tahun 1913, sebuah penghargaan paling prestisius dan diidami seluruh penulis di dunia. Tak ada orang Indonesia pernah menerima hadiah serupa itu, kecuali seorang sastrawan individualis paling ‘keras kepala’ yang dinobatkan sebagai hanya kandidat saja. Ya sebagai hanya kandidat saja tetapi telah cukup membanggakan.

Dia si individualis ‘keras kepala’ yang kandidat itu adalah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka yang menulis dan menghabiskan hampir seluruh umur usianya di penjara rezim represif orde baru. Sayang sampai maut datang mengambilnya ia tak mampu bergeser menaik dari kandidat ke penerima, ia mentok dikandidat itu saja dan komite nobel tak pernah memberi hadiah kepada sastrawan yang telah meninggal dunia.

Bagaimanakah Tagore bisa mencapai lapis paling tinggi keadaban manusia itu? Bagaimana seorang biasa seperti Tagore yang hanya belajar mandiri dan bersekolah di rumah saja bisa mencapai lapis-lapis paling dalam pendaman tersembunyi kearifan yang terlabiri oleh banyak hijab dan terhalangi oleh banyak tantangan yang mewujud dalam ujian-ujian tak berkesudahan? Bagaimana ia menggali itu semua? 

Tagore bersama Gandhi
Banyak sekali pertanyaan bisa dikemukakan, tetapi sebagaimana juga kata sahabat sebangsanya Gandhi bahwa ketekunan dalam sabarlah kuncinya. Ia ‘menggali’ memakai tekun dan menunggu hasilnya dengan bersabar. Ketekunan membawa pada kerja kontinuitas yang tak putus dan pantang bersurut langkah, sedang sabar membawa pada keikhlasan menunggu apapun hasil yang diperjuangkan dalam kerja itu.

Banyak orang telah berjuang dengan tekun tetapi tak memiliki kesabaran sehingga pulang tak membawa hasil apapun kecuali hanya umpatan kesal sebagai lampiasan  dan tumpahan rasa kecewa karena merasai diri telah gagal. Padahal hasil yang diperjuangkannya itu telah hanya sejengkal lagi dari muka matanya. Ia telah tekun tetapi ketidakmampuannya bersabar membuyarkan segala yang sebenarnya mungkin bisa dicapainya.

Maka memang sabar itu adalah pasangan setianya tekun, jika keduanya tak bercerai dan selalu terus bersama-sama, pastilah moncong biduk  haluan akan mencapai sukses, biduk tumpangan akan mencapai ujung laut yang dinamai pantai dan bersandar di sana sebagai pelabuhan tujuan. Dari Tagore banyak belajar, belajar hikmah cinta dan mengasihi, belajar kesungguhan dan totalitas yang melahirkan ketekunan dan membiakkan kesabaran.

                                                                                                                                

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB