Sepenggal Kisah Kampung Pantai

Wednesday, 20 March 2013 1 komentar


INI adalah bagian mula-mula dari buku yang mudah-mudahan bisa nanti terbit. Semacam halaman pembuka. Saya telah mencapai halaman ke-273 dan rasanya belum ada tanda mengakhirinya. Kisah masih terus mengalir dalam alur yang terus menaik memburu klimaks. Segala ide menumpuk di kepala, menunggu ditumpah untuk dibentang lalu diikat masuk dalam tulisan supaya tak hilang diambil lupa, tak lekang dibawa waktu, abadi dalam kisah untuk dibaca, diingat-ingat sebagai pelajaran.

Ini berkisah mengenai laut, pantai, dan kehidupan para nelayan di kampung pantai yang berjuang hidup menafkahi keluarga. Kisah para wanita kuat pedagang ikan pindang di sebuah kampung pantai Gu.  Mereka saban subuh menumpang mobil truk mendatangi pedalaman Muna untuk menjual ikan pindang. Sore mendekati matahari terbenam baru mereka pulang ke rumah. Dan di antara para wanita kuat pemindang ikan itu ada seseorang yang kupanggili Ibu. Dia adalah nenek saya sendiri, namanya  Wa Karamaguna.

Ia kini telah tua umurnya, mungkin telah mendekati seratus tahun usianya. Kerja memindangnya turun diwariskan kepada anak wanitanya yang lain. Dan berita mengenainya kudapati dari orang lain, kawan wanitanya sesama pemindang ikan. Maka dari berita orang lain itu, ditambahi sedikit imajinasi dan daya khayal, beginilah ia mula-mula kugambarkan.

***

Ia berbadan semampai, kulitnya langsat. Hidung menyeruak alakadarnya. Mukanya bulat pipih serupa buah labu kesukaannya. Rambutnya gimbal lurus menjuntai hingga pinggul, helai bulu rambutnya pirang memerah karena dipanggang hawa laut. Sering kalau melaut, rambutnya itu disanggulnya ke belakang, atau diikat memakai kain sobekan.

Usia 16 tahun ia naik menikah dengan lelaki nelayan yang dibawakan orang tuanya. Ia hidup bahagia dengan lelaki nelayan bawaan orang tuanya itu. Buah berkasih dari kedua mereka itu, lahirlah kami berenam dalam jarak yang rapat mepet sekali. Saya adalah anak lelaki kedua yang nyelonong melihat bumi keluar dari rahim kandungannya.

Tapi takdir jatuh terlampau cepat, nasib digaris terlampau dini. Kami bersaudara enam. Dua berkelamin perempuan dan empat lainnya adalah lelaki kelaminnya. Kami masih kecil-kecil waktu itu, ayah telah dipanggil pulang menghadap-Nya. Seekor ikan Saku meloncat terbang menyambarnya, tak sigap mengelak badannya disasar, mulut ikan bermoncong panjang itu membenam masuk menghujam di dada kirinya, tepat di jantungnya. Darah muncrat, tumpah memenuhi lambung perahunya. Ia bersimbah darah. Cepat-cepat ia menggamit dayung  dan mengayuhnya sebisa sekuatnya sembari berteriak meminta tolong. Nelayan kawanannya kemudian datang merubungi menolongnya. Segera ia dibawa pulang.

Tapi lukanya terlampau parah, darahnya terlampu banyak keluar. Tak mencapai pantai ia telah melepas napas terakhirnya. Badannya meregang kaku melepas jiwanya yang melayang naik ke langit. Ia mati di atas perahu. Badan kakunya kemudian dibopong naik ke rumah. Ibu menyambut di serambi muka rumah dengan kaki gemetar dan muka pucat diserang kalut dan kaget. Karena tak kuat mengendalikan diri, ia kemudian jatuh ke lantai, rubuh terkulai lemas tak sadarkan diri.

***

Nasib memang jatuh menimpa tak bisa ditolak, takdir datang menubruk tak bisa dielak, maka meyatimlah kami diusia sedini umur jagung. Semua-mua pekerjaan dialih jatuh ke pundak ibu kami. Ia hanya dibantu kakak tertua. Berdua mereka melarungi ganas laut. Mereka ke Lamena, terus mendayung ke Mapalenda, bahkan kalau angin selatan bertiup kencang mereka akan menaikan layar menujui Wulu di Kabaena, atau bahkan ke Baubau jika angin datang dari utara.

Oleh sebab kehilangan yang tiba-tiba itu, maka seorang wanita muda lugu polos sekali menggulung lengan baju, mengambil tanggungjawab melakukan kerja-kerja yang ditinggal ayah kami. Ia berjibaku dengan para lelaki nelayan yang berotot kekar kuat-kuat berlomba merebutkan ikan yang dibawa nelayan dari seberang pulau. Ia melarungi laut, melawan gelumbang arus laut yang keras.

Pernah beberapa kali karena saling dorong ia terjerembab menubruk ikan yang ditumpuk di lambung perahu, atau kali lain ia terseret tak kuat melawan arus dan angin laut yang bertiup keras. Tapi ia tak kapok, terus saja melaut. Dimula-mula mengayuh dayung, ia memang tampak kaku, tak mampu dikendalikannya moncong perahu agar terus lurus di tujuan. Maka ia mendayung silih saling ganti—kiri dan kanan.

Baginya itulah tantangan, dan setiap tantangan memerlukan keberanian ditaklukkan. Pernah pula, ketika laut surut, ia memikul sekeranjang ikan dari dermaga tempat perahunya ditambatkan, sampai di rumah ia tergeletak kecapekan dan menjatuhkan keranjang ikan itu dengan kasar. Tapi lagi-lagi ia tak kapok. “Apa bakal dimakan jika tak bekerja?” Selalu begitu jawabnya kalau kami menyuruhnya beristirahat.

Tak dinyana apa memang kelak bakal jadinya jika wanita muda lugu polos itu tak menyingsing lengan baju dan turun bergegas melarungi laut. Ia mengayuh perahu berdayung ke tengah laut menyambut datang para nelayan dari pulau seberang. Dari para nelayan itu ia membeli ikan untuk dibawanya pulang, dipindang lalu kemudian dijual ke pasar-pasar pedalaman pulau Muna. Ke Lasehao, Labasa, Bone, Lamaeyo, Wakuru, Wakumoro. Semua pasar itu digilirnya dan di sana ia mendapatkan pembeli langganan yang kemudian dinamainya Kedha.

***

Wanita muda lugu polos itu adalah Ibu kami sendiri, wanita yang dari rahimnya kami berasal datang. Saya ingat betul, waktu itu malam telah mendekati larut, ia masih saja bergelut kerja. Badan tubuhnya digerayangi asap yang menguap dari kayu yang meringkik dimakan api. Ia sabar menunggui pindangannya hingga masak. Ia sabar melawan kantuk.

Semalam menunggui itu, peluh mengucur dari badannya karena hawa panas dipanggang api. Ia duduk menjagai pindangannya. Tengah malam ia naik istirahat, merentangkan tikar pandannya, mengambil bantal dari potongan bokong kayu jati kesukaannya. Ia taruh bantal kayu keras itu di kepalanya dan tidur pulas nyenyak sekali. 

Pagi masih buta, alam masih gelap. Fajar naik merangkaki ufuk timur langit. Sayup-sayup suara azan subuh mendayu dilantunkan dari menara masjid tak bercorong. Ayam berkokok saling sahut. Kami masih tergolek bercumbu mimpi, ia telah bergegas bangkit, menggulung tikar pandannya. Setelah bersuci dan menunaikan kewajibannya, ia turun mengangkati periuk ikan pindangnya yang masih hangat, membawanya ke pinggir jalan menunggu mobil truk yang akan mengangkut membawanya berkeliling ke pasar-pasar pedalaman Muna. Selama ia pergi itu, kami dititipkan, tinggal bersama kakek

Dari hasil menjual ikan pindang itulah kami dinafkahi sehingga bertahan hidup bahkan terus bisa sekolah. Sekarang kami telah mencapai pendidikan tinggi, di tanah Jawa pula menjalaninya. Sekonyong-konyong saya dan kakak tertua tak pernah mengimpikan bakal menginjak tanah Jawa untuk keperluan menimba ilmu pula.

Dua saudara lelaki lainnya berlayar merantau mengais rezeki. Mula-mula ke Lampung di selatan Sumatera sebelum kemudian pindah menyeberang ke negeri Jiran Malaysia, menjadi buruh tani dan bangunan di sana. Dari surat yang selalu mereka kirimkan, tertulis di sana mereka tinggal di Sungai Besar, Darul Ehsan Selangor Malaysia. Saban tahun mereka mengirim uang dalam rupiah, kadang juga dalam ringgit atau emas berbentuk kalung, gelang dan cincin.

Dan setiap kali menerima kiriman itu Ibu bukan main girang senangnya. Tangannya bergetar memegangi semua kiriman itu. Tak dirasainya gulungan air mata jatuh menyeberangi pipi keriputnya. Matanya berkaca-kaca sebak, ia menangis bahagia. Baginya kiriman itu adalah tanda bahwa anak-anaknya di negeri rantau itu baik-baik saja dan berkecukupan ekonominya. Tak kekurangan makan minumnya.

Padahal selalu biasa ia seperti tak enak makan. Biarpun makanan telah ditenggorokan selalu saja ia tersedak, tercekat makanan itu di lehernya jika muka-muka dua anak lelaki perantaunya itu muncul membayang dalam benak pikirannya. Matanya jalang. dilepaskan pandangnya ke laut lepas nun jauh: “Telah makankah mereka hari ini?” Batinnya.

***

Sungguh semangat kerja dan kasih ibu yang besar sangat menginspirasi. Dan bagi kami inilah sukses itu, sukses adalah ketika kita menggapai sesuatu yang sebelumnya di luar yang diangankan. Semangat, kerja keras dan doa ibulah yang membuat semuanya begitu mudah datang mewujud nyata, menjadi pelangi di langit cakrawala keluarga kami.

Ia selalu memberi dorongan, jangan berputus asa, selalulah bersemangat dalam setiap melakukan kerja karena semangat membangkitkan cinta dan cinta akan membawamu meraih langit apapun keinginan maumu. Cintalah yang menjadikan sukses datang begitu mudahnya. Bangkitkan cinta, sukses akan nanti datang kau rengkuh.

Ketika saya hendak ke tanah Jawa, ia mengelus menasihati untuk kuat dan mengambilkan dirinya sebagai contoh. Berkata: “Kau kira saya bisa kuat melarungi laut? Melawan angin laut yang kadang-kadang berubah tak tentu arah dalam sekejap tiba-tiba? Kau kira saya bisa mengayuh dayung menerobos ombak laut musim barat yang ganas jika bukan karena cinta? cinta saya pada kalianlah sebabnya. Jika muka kalian berenam datang membayang memenuhi pikiranku, seperti ada tenaga didorongkan masuk memenuhi badan tubuhku. Sehingga selalu setelah itu, gulungan ombak musim barat kulihat sebagai hanya buih saja, tak takut kuterobos, tak segan kularungi”.

Ia melanjutkan: “Saya berpikir biarlah diri saya yang berkalung susah derita, dihina direndahkan orang-orang karena kemiskinan asal jangan kalian anak-anakku yang merasainya. Hukum dari-Nya telah memang begitulah, tak kan kau dapati senang jika tidak merasai susah dahulu, tak kau gapai bahagia jika tak kau pakai derita sebagai jalan jembatannya. Ingat-ingatlah kalian, menggapai sukses bahagia melalui jalan berkalung susah derita itu nikmat hikmahnya jauh berkali lipat dahsyat rasanya daripada melalui jalan selainnya”.

Ia menutup nasihatnya dengan memeluk dan menciumi kening saya, saya membalasnya dengan mengecup tangannya. Tak lupa ia kemudian membaringkan saya terlentang tengadah di muka pintu keluar rumah lalu ia berjalan melangkahi dengan mengucap sesuatu sumpah: “Kau pergi dengan hidup, pulang pula dengan hidup”. Tampaknya ini semacam ritual yang lazim bagi anak yang hendak pergi jauh merantau. Ia kemudian membangunkan saya dan menyuruh pergi: “Kau pergilah, berjalan luruskan pandang ke muka, jangan menoleh balik melihat ke belakang, tak boleh, itu pemali dan dilarang adat. Kau lelaki harus berani dan kuat”.

Saya menurut saja, sekalipun hati berontak tak ingin. Maka berjalanlah saya dalam tunduk karena menangis tak bisa balik menoleh melihat muka ibu, sesekali bangun melihat memastikan tak salah mengambil jalan. Saya rasai punggungku dilihatnya terus-terus, mungkin dalam menangis pula. Ia terus mengamati melihatku sampai jauh, sampai jarak mengambilku dari pandangannya.

***

Dan kini diusia tuanya ia tersenyum bangga melihat kami dengan gelar berderet di belakang nama. Juga hidup mandiri, tak menggantungkan nasib pada orang lain. Apa yang lebih membahagiakan di bumi fana ini selain hanyalah bisa makan dari keringat hasil kerja sendiri? Begitu selalu nasihatnya.

Di tengah keterbatasan ekonomi yang mengekang, ia bisa membawa kami merasai bangku sekolah tinggi dan membawa anak-anaknya berhasil sukses di rantau, dan itu telah cukup. Baginya itulah sukses terbesar yang diberikan Tuhan dalam selamanya umur hidupnya. Ia berkata dalam selalu nasihatnya: “Tuhan memang selalu adil, ia mengambil dini ayah kalian tetapi kemudian memberi kemudahan hidup, memurahkan rezeki kalian. Ia tidak tidur. Selalulah bersyukur dan berdoa memuji-Nya”.

***

Inilah sepenggal cerita, sebagai hanya sinopsis saja. Segala-gala isi yang tertulis, dituang memakai daya khayal dari apa yang saya lihat, alami, rasai. Juga informasi mengenainya dari berita orang lain, saya kumpul satukan dalam ingatan semua itu, menuliskannya dalam sebuah buku sebagai kado pengabdian dan penghormatan saya padanya. Dia perempuan paling saya cintai kasihi—Ibuku.  


1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB