Sembah Mongol, Jawa, dan Buton

Tuesday, 5 March 2013 0 komentar


BUDAYA selalu terkait dengan perilaku. Keberbudayaan suatu bangsa akan terang terlihat dalam perilaku masyarakatnya. Sejarah mencatatkan kita banyak hal. Pasang surut dan naik turun maju peradaban suatu bangsa ditentukan oleh bagaimana perlakuan mulia seorang rajanya juga tentu bagaimana raja yang mulia itu disembahi rakyatnya.

Tercatat dalam literature bangsa Mongol bagaimana seorang pengelana dari Eropa nyaris dibunuh hanya karena mendongak mengangkat muka ketika ia menghadap kaisar Dinasti Yuan China Kubilai Khan. Ia diseret ke gaol dengan tuduhan menginjak kemuliaan Kubilai. Kubilai yang mulia kemudian mengampuni si lancang itu dan bahkan mengambilnya sebagai sahabat

Kelak pengelana lancang dari Italia itu justru malah diangkat oleh Kubilai sebagai gubernur di wilayahnya. Dia pengelana itu adalah Marcopolo. Dari dia inilah pula Eropa terbelalak matanya mengetahui bahwa di timur belahan bumi ada sebuah negeri yang jauh lebih maju, makmur dan beradab dari mereka. Negeri dimana sutera disulam, dipakai sebagai kain, dengan emas yang melimpah pula—China.

Marcopolo
Ia menulis dalam buku hasil kelananya segala hal terkait bangsa Mongol dan China, kemajuan peradaban mereka, cara menyembah mereka yang disebutnya tidak lazim. Ketundukan sepenuhnya rakyatnya kepada raja penguasanya. Mereka menyembah Kubilai seperti menyembah Tuhan, tunduk serendahnya serata datar tanah. Tidak dibolehkan seorang siapapun melihat muka Kubilai, bahkan sekalipun dengan tidak sengaja, penghukumanlah didapatkan jika melakukan itu. Hukumannya juga tak tertanggung berat sekali, dibawa kepenjagalan lalu dibunuh dengan dipenggal atau dipancung.

***

Di Jawa seorang raja atau sultan dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Apa-apa kalimat yang keluar dari mulut raja/sultan adalah sesuatu yang wajib patuh diikuti, kata-kata itu seperti sabda yang turun dari langit. Ia tak boleh disela, haram dibantah. Itulah pula cara mereka menyembah seperti benar-benar menyembah Tuhan nya.

Jika maju menghadap raja atau sultan, muka ditundukan meratapi lantai, tak boleh bangun  mendongak, apalagi bangkit menatap menantang pandang sultan. Bahkan jika yang menghadap adalah rakyat biasa, ia telah harus berjalan ngesot kira-kira beberapa meter dari muka singgasana raja atau sultan. Dalam ngesot itu, ia harus pula menundukan kepala, menggaruk lantai memakai bokongnya

Dari jarak kira-kira 20 meter dari hadapan muka singgasana tempat raja duduk, si penghadap sudah harus berjalan merangkak ngesot dengan kedua tangan memegangi lantai sebagai tongkangan. Gerak maju juga harus gemulai lembut, diatur seperti berirama, tak boleh sembarang langkah diambil yang mengesani terburu-buru dan mengurangi penghormatan kepada raja atau sultan.

Jarak perhentian dalam merangkak itu diukur memakai perasaan. Maka kemudian saya membayangkan, pantas saja Jawa orang-orangnya begitu sangat perasa karena telah dalam adat segala-gala diukur memakai perasaan.

Bangsal Mangunturtangkil Kraton Jogja
 
Di bangsal kepatihan Siti Hinggil Kraton Yogyakarta saya melihat replika tatacara menghadap dan posisi duduk singgasana Sultan. Ada kursi kuning emas tempat sultan duduk. Ia tempatnya berundak sedikit lebih tinggi dari lantai penghadapan, maka ketika para penghadap mencapai undakan itu pertanda mereka sudah harus menghentikan bergerak maju, menarik sembah dan menghambur tunduk tepat di sisi undakan itu. Segala sembah itu dihambur dengan menunduk. Kena kualat kalau mendongak mengangkat muka.

***

Di Buton tatacara menyembah agak berbeda dari Jawa, jauh tak sama dari Mongol. Sekalipun sultan dilihatpula sebagai wakil Tuhan di bumi, tetapi tatacara sembahnya biasa saja. Sultan pun tidak punya singgasana, duduknya samasetara dengan para penghadapnya. Tidak ada gerak ngesot, tidak ada gerak merangkak. Bahkan sipenghadap bisa menyalami, menjabat tangan sultan. 


Tanggal 25 Mei tahun lalu di Masjid Agung Keraton Buton Baubau, saya mengikuti ritual Bulilingiyana Pau (Pemutaran Payung Kemuliaan) bagi Sultan Buton terpilih. Saya melihat di situ bagaimana setiap pimpinan Kadie dan pejabat kesultanan maju menghadap mengenalkan diri dan memberi selamat kepada sultan terpilih tidak dengan berjalan merangkak. Tidak dengan berjalan ngesot.

Para Bonto, Lakina, Siolimbona dan seluruh perangkat kesultanan maju dengan jalan biasa. Kira-kira dalam jarak sangat dekat, hanya satu meter dari muka sultan mereka berhenti dan merebahkan diri duduk bersila Paseba. Sembah dihambur tidak dengan menundukan kepala dan mengikutkan badan yang rendahnya nyaris menciumi lantai.


Sembah yang dipersembahkan hanya dengan mempertemukan kedua telapan tangan, mengangkatnya ke dada naik hingga tepat setara di muka hidung dan sedikit kepala ditundukkan. Tapi mata tidak mengikut tunduk. Mata tak boleh tunduk melihat ke lantai karena itu dianggap menghinakan sultan. Mata harus terus lurus melihat pandang ke depan, ke diri Sultan.

Pun sultan duduk tidak memakai singgasana. Tak ada kursi berbahan emas. Atau kain penghijab bertabur baiduri sebagaimana singgasana raja-raja lainnya. Ia hanya duduk melantai. Lantainya tidak berundak yang mengesani ia lebih tinggi derajat kedudukannya. Ia melantai, tinggi lantai duduknya samasetara dengan para penghadapnya. Ia duduk melantai yang diri badannya hanya dikelilingi bantal bersarung kain putih ditiap sisi sampingnya. 


Dari cara menyembah dapat kelihatan bagaimana seorang Sultan di Buton sebenarnya adalah seseorang yang tidak memerlukan diperlakukan istimewa, apalagi dikultuskan. Ia memang adalah wakil Tuhan yang memerlukan dihormati juga disembahi dalam batas-batas kadarnya yang tentu tidak melebihi sembah ketundukan kita kepada Tuhan Maha Kuasa.

Di Buton jabatan Sultan dinamai Sodha atau memikul, bukan Uncura atau menduduki. Maka itulah seorang Sultan dalam hakikat pengertian sebenarnya adalah seorang wakil kuasa yang sekaligus juga adalah hamba. Sebagai wakil Tuhan di bumi maka ia mewakili kuasa Tuhan, tetapi pewakilan itu tidak melenakannya untuk lupa diri bahwa ia juga adalah hamba-Nya. Pengetahuan kehambaannya itulah yang menjadi sebab ia tidak pula mau memperhambakan sesamanya. Ia tidak mau disembahi melebihi kadar kemanusiaannya karena sembah yang lebih seperti itu mutlak hanya milik dan ditujukan kepada Tuhan Maha Kuasa

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB