Selamat Jalan Hugo Chaves

Thursday, 7 March 2013 0 komentar


IA masih kecil waktu itu, tetapi telah selalu menjadi bintang. Orang tuanya yang guru berharap ia menjadi pendeta di rumah Tuhan. Tetapi nasibnya di gereja hanya mencapai putra altar. Di sana ia menjadi bintang pula. Caranya mendentangkan lonceng sungguh berbeda dari anak-anak putera altar umumnya lainnya.

Ia membunyikan lonceng gereja dengan indah sekali sehingga setiap ia bertugas orang-orang dapat mengetahui dari cara dan bunyi lonceng berdentang. Ia tumbuh sebagai anak religius, melayani gereja dalam serba kekurangan sebagai anak dari keluarga guru yang sederhana.

Ketika masih kecilnya itu,  pernah beberapa hari orang tuanya tidak mempunyai makanan. Maka mereka sekeluarga tidak makan dalam beberapa hari itu. Sungguh ia benar-benar merasai penderitaan hidup. Kelak penderitaannya itulah yang mengasahnya untuk peka, membiakkan kesumatnya membenci kapitalisme, sebuah ideologi yang diyakininya sebagai sebab semua menjadikan mereka miskin.


Ia menyukai Baseball, kesandung benar ia pada olahraga itu. Maka ia masuk militer bukan ia becita-cita jadi tentara, hanya karena dimasanya jalan paling cepat menjadi pemain Basebal utama adalah bergabung dengan akademi militer Barinas. Tak dinyana, justru kemudian disanalah ia menempa diri, ia belajar ilmu politik dan sejarah. Ia belajar bagaimana membangun sebuah pencapaian maksimal. Ia belajar mengambil kuasa. Ia membaca karya Chomsky Hegemonia O Supervivancia, membaca segala buku yang bisa memberinya pengetahuan menggapai mimpinya.

Ketika ia lulus dari akademi militer, ia lagi-lagi menjadi bintang, membawanya  menerima pedang kehormatan dari Presiden Carlos Andres Peres, seseorang yang dua puluh tahun kemudian dikudetanya.

***

Tahun itu 1982, ia masih sangat muda waktu itu, pangkatnya masih hanya Kapten tetapi ia telah membangun gerakan revolusioner yang besar sekali. Ia meluaskan pengaruh dengan melakukan agitasi kepada kawan-kawan tentaranya di barak. Ia meniupkan semangat melawan dengan mengambilkan kemiskinan sebagai contoh gagal bobroknya pemerintahan.

Ia mengambilkan sebagai contoh rakyat yang berkalung derita dan berkubang sengsara dalam hidup yang melarat papa padahal di tanah mereka minyak meluap melimpah ruah. Ketika simpati mengalir datang padanya dan ia rasai semua telah cukup siap, ia kemudian melakukan kudeta. Kudeta yang pada kenyataannya gagal dan malah membawanya ke penjara yang gelap. 


Tuhan memang menghendakinya naik memimpin. Setelah dua tahun ia menjalani hukuman penjara, surat pengampunan amnesti tiba-tiba dilayangkan oleh Presiden Rafael Caldera dari Caracas. Memakai surat itu ia bebas melenggang keluar penjara.

Penguasa memang mungkin bisa memenjarakan badan raganya tetapi tidak jiwa pikirannya. Jiwa pikirannya tetaplah seorang pejuang melayang bebas tanpa bisa disekat, disekap dipenjarakan. Ia tak kapok dan kemurahan hari presidennya itu tak menyurutkan semangat berjuangnya. Ia memulai lagi membangun kekuatan dalam kelompok.

Setelah bebas itu, bukannya melempem kendor semangatnya, ia malah makin garang menyuarakan kesewenangan penguasa. Ia mendirikan sebuah partai politik baru yang ia namai Partai Gerakan Republik Kelima. Partai inilah yang menjadi jembatannya merengkuh kuasa di negeri telenovela itu. Ia memimpin negeri kaya minyak itu tiga belas tahun lamanya, tiga belas tahun itu pula ia tanpa keder melawan kapitalis, mengejeki kepongahan Amerika.

***

Tapi kuasanya harus diambil oleh yang maha kuasa. Beberapa virus mematikan tanpa diketahuinya masuk menyerang badannya, merusak sirkulasi bernapasnya. Ia diserang kanker yang menyebabkannya terkulai tanpa daya. Sahabatnya Castro di Havana memanggilnya ke Kuba dan memberinya dokter-dokter terbaik negeri komunis itu.

Tapi ia tak bisa diselamatkan, penyakitnya terlampau cepat menyebar dan berbiak tak terhentikan merusaki sel-sel tubuhnya. Maut kemudian datang mengambilnya melalui infeksi pada saluran bernapasnya. Ia dinyatakan meninggal dan pengumuman kematiannya itu disampaikan penuh haru berkaca-kaca  oleh Nicolas Maduro, seorang yang ditunjuknya sebagai wakilnya dipemerintahan.

  
Dan Caracas hujan tangis, seluruh warga miskin berbondong dalam tangis haru menuju rumah sakit tempat mendiang Hugo Chaves melepas napas terakhirnya, mereka datang untuk menyampaikan duka belasungkawa. Bagi mereka Hugo Chaves telah seperti dewa. Tak ada pemimpin mereka sebelumnya yang memberi mereka perhatian lebih selain hanya Hugo Chaves, tak ada pemimpin mereka sebelumnya yang seberani Hugo Chaves.

Ia lahir dari kaum miskin, ia rasai bagaimana susah menderitanya menjadi miskin. Maka ia melawan kemiskinan dengan menguluri mereka tangan diselamatkan pada rakyatnya yang miskin. Ia mendesain program pemerintah yang berpihak ke kaum miskin. Tiga belas tahun dalam kuasa, ia masih saja sederhana. Itulah yang menyebabkannya dicintai rakyatnya sekalipun dibenci lawan politik dan para pegiat kapitalisme. Damailah di sana Hugo. Selamat jalan  El Commandante


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB